
Saat pintu lift sudah hampir menutup, seseorang memasukkan tangan untuk mencegah tertutupnya pintu itu.
Namira yang terus bergelayut manja di lengan kekar Emil sontak membulatkan mata kala melihat pria yang baru saja memasuki lift, menjadi orang ketiga dari kebersamaannya dengan Emil.
"Namira,,,,"
"Ardhan,,,,"
Jangan tanya bagaimana suasana hati Emil saat ini, ia ingat betul wajah pria yang bersama dengan Namira siang itu, dan juga namanya yang sudah pernah Namira ceritakan.
Yang paling menyesakkan bagi Emil adalah, tangan Namira yang refleks melepas tautannya pada lengan Emil. Dan Namira nampak menegang karena terkejut.
'Ting,,,!' pintu lift menutup rapat dan lift berjalan ke lantai atas menuju apartemen mereka.
"Namira, kau terluka?" Ardhan hendak menyentuh kening Namira yang berbalutkan perban, dan dengan cepat Emil mencengkeram tangan Ardhan menghentikan gerakannya.
"Jauhkan tanganmu dari istriku, atau aku tidak akan segan untuk mematahkannya." Emil menepis kasar tangan Ardhan dan Ardhan hanya bisa pasrah menerima perlakuan Emil.
"Namira, kau kenapa? Ada apa denganmu? Kenapa kau bisa terluka? Terakhir kita bertemu kau baik-baik saja." Ardhan nampak sangat mencemaskan Namira, dan Namira hanya diam, menunduk tanpa memberikan jawaban.
Kesabaran Emil serasa diuji, mendengar penuturan Ardhan ketika mereka terakhir kali bertemu seakan menyiratkan jika mereka sudah sangat sering bertemu, meski Namira sudah menjelaskan semuanya sebelumnya, namun tetap saja, hati seseorang bisa sangat kacau karena cemburu.
"Berhenti mengajak bicara istriku, apa kau tidak takut malaikat maut mendekatimu? Karena aku tidak akan membiarkanmu tetap hidup jika kau tidak segera menjauh dari istriku, jaga batasanmu dan aku akan menganggap ini tidak pernah terjadi." peringat Emil sangat tegas.
'Ting,,,,'
Pintu lift terbuka, Emil menggendong tubuh Namira ala bridal, meski kaki Namira sudah mulai bisa berjalan, namun Emil tidak sabar untuk segera pergi dari sana.
Namira hanya diam memalingkan pandangan dari Ardhan, ia mengalungkan kedua tangannya ke belakang leher Emil.
Sedangkan Ardhan, tak ada yang bisa ia lakukan, hanya bisa mengikuti langkah mereka lalu masuk ke dalam apartemennya sendiri yang berada di sebelah kiri apartemen Emil.
***
Emil berusaha melupakan kejadian tidak menyenangkan sore tadi saat mereka menjumpai Ardhan di lift, ia mencairkan suasana dengan menghujani Namira penuh cinta serta kasih sayang.
Laurent memasakkan begitu banyak menu makanan Indonesia sebagai hidangan makan malam. Dan pasangan suami istri yang baru akur itu menikmati makan malam mereka berdua.
"Apa aku perlu menyuapimu?" tawar Emil.
__ADS_1
"Tidak, aku bisa sendiri. Selamat makan,"
"Selamat makan."
Hening, berganti dengan suara dentingan sendok dan garpu yang saling beradu dengan piring, sungguh bisa makan di rumah usai melewati beberapa hari di Rumah Sakit itu rasa nikmatnya bertambah, dan itulah yang kini dirasakan oleh Emil juga Namira.
"Laurent, terimakasih makan malamnya, ini sangat lezat, sepertinya aku akan merepotkanmu lagi besok, atau bahkan setiap hari," ujar Namira yang sudah berada di gendongan Emil, mereka memutuskan untuk memakai jasa Laurent sepenuhnya.
"Sama-sama Nyonya, saya juga merasa senang jika anda suka." mereka saling melempar senyum sebelum akhirnya Emil membawa Namira masuk ke dalam kamarnya.
"Emil, aku mau tidur di kamarku,"
Emil berhenti melangkah, mendengar celoteh Namira yang menolak dibawa masuk ke dalam kamar Emil.
"Okay, apapun untukmu, sayang!" Emil mengecup pipi Namira lalu membawa Namira masuk ke dalam kamar istrinya.
Emil membaringkan tubuh Namira perlahan di ranjang sisi kiri, lalu menarik selimut sampai batas dada, dan mengecup keningnya, diperlakukan sangat romantis membuat Namira ingin melompat saking bahagianya, andai kakinya sudah sembuh benar.
Emil berjalan menuju pintu, Namira pikir jika Emil akan keluar dan kembali ke kamarnya, namun Namira salah, Emil justru mengunci pintu kamar Namira dari dalam.
"Emil,,,,"
"Mulai sekarang dan seterusnya, kita akan terus tidur bersama dalam satu kamar satu ranjang, entah di kamarku, atau di kamarmu, atau di mana pun kita berada, aku tidak akan pernah lagi berada jauh darimu di malam hari, kita akan selalu bersama." ujar Emil saat ia menaiki ranjang, berbaring di sisi kanan namun terus mendekat ke arah Namira hingga ia bisa memeluk tubuh langsing nan seksi istrinya yang beraroma manis vanilla.
"Hem!" Ada ragu menyapa hati Namira, apakah perubahan dan pernyataan perasaan Emil terhadap dirinya semata hanya karena ini? Karena dia ingin menyentuhnya? Dan tidak ada ketulusan yang dilakuan Emil.
"Ada apa sayang? Kau ingin mengatakan sesuatu?"
Emil menopang kepala dengan telapak tangan dengan siku yang berada di atas bantal. Melihat lekat Namira penuh kasih dan cinta.
"Apa kau?" Namira menjeda, cukup ragu untuk bisa mengutarakanya secara gamblang, jika dirinya berpikir Emil melakukan semua ini hanya sebatas urusan ranjang.
"Nami? Ada apa?" Emil membelai wajah Namira, menyelipkan anak rambut ke belakang telinga, menatapnya lebih dalam.
"Aku takut," ucap namira bangun, duduk sambil menunduk.
"Takut?" Emil pun turut duduk, dahinya mengernyit seiring tanda tanya yang menyergap.
"Takut apa? Kenapa?" Emil memegang kedua tangan Namira, menggenggamnya erat meyakinkan jika dirinya akan selalu ada untuk Namira.
__ADS_1
"Kau, mengatakan mencintaiku, apa itu benar?" tanya Namira ragu.
"Ya Tuhan,,,, kau masih Tidka percaya? Kau meragukanku? Hemm?" Emil mengangkat dagu Namira agar mereka saling berhadapan. Kedua mata Namira sudah merah dan basah.
"Aku takut kamu tidak tulus, dan hanya ingin," Namira menjeda, bukankah itu sangat memalukan jika harus dikatakan secara frontal.
Emil mengulas senyum, membawa Namira kedalam pelukannya, lantas mengecup pucuk kepala Namira berulang kali.
"Aku memang menginginkanmu, sangat, kau sungguh membuatku gila hampir dua bulan ini. Tapi aku tidak main-main dengan perasaanku, aku mencintaimu, Namira. Sungguh, sangat, aku sangat mencintaimu, percayalah, dan jangan ada ragu."
Mendengar jawaban yang Emil berikan, Namira membalas pelukan Emil, ia mengeratkan kedua tangannya yang melingkari tubuh Emil.
"Kau tahu? Aku tidak pernah menyentuh wanita manapun semenjak kita menikah, karena aku tidak bisa melakukannya, aku hanya ingin dirimu, istriku, tidak yang lain,"
"Itukah sebabnya kamu selalu bermain dengan tisu-tisu itu?"
"Oh,,,, sial. Kau membuatku malu, jangan ingatkan aku tentang itu."
Namira tertawa, dan Emil pun mengulas senyum, mereka melepas pelukan mereka perlahan, saling menatap dalam penuh cinta. Dengan tatapan sendu dan hangat.
Emil mendekatkan kepalanya perlahan ke wajah Namira, dan Namira mulai memejamkan mata, Emil menyentuh dagu Namira, lantas ia menautkan bibir keduanya, sangat lembut, Namira berpegangan pada pinggang Emil, Emil membuka mulut Namira dengan mulutnya, melu.mat pelan dan sangat lembut, rasanya ini adalah ciuman terbaik mereka selama ini, sangat lembut dan basah.
Emil terus menggerakkan bibir dan lidahnya, bergerak indah menyapu, membelit, dan menyesap.
"Aahh,,,," de.sah Namira dengan nafas terengah saat tangan Emil mulai bergerilya masuk ke dalam bajunya dan menyentuh titik dada Namira yang padat menbu.sung. serta meremasnya perlahan, membuat gerakan erotis, menghantarkan gelanyar aneh pada seluruh saraf tubuh keduanya.
Kesempatan bagi Emil saat mulut Namira semakin terbuka dan Emil semakin menjelajah dalam. Hingga dirasa Namira hampir kehabisan nafas, barulah Emil melepasnya.
Namira terengah dengan mata yang masih terpejam, Emil melihatnya penuh cinta yang berselimut naf.su. Istri seksinya ini nampak lebih seksi di saat mereka tengah memadu kasih seperti ini.
Namira membuka mata perlahan, saling memandang dengan Emil yang tak mengalihkan sedikitpun netranya dari sang istri.
"Kau tahu, saat juniorku sudah sangat tegang, dia sudah bangun dan mengeras, itu senang menyiksa dan menyesakkan celanaku, tapi aku tidak bisa menyentuhmu jika kau masih ragu dan Tidka percaya padaku," ucap Emil dengan suara berat menahan naf.su.
Namira mengelus kedua pipi Emil, jari jempolnya mengusap bibir Emil.
"Lakukanlah, aku milikmu, dan aku percaya padamu," mendengar persetujuan dari Namira, tentu Emil merasa sangat senang, ia lantas kembali mematut bibir Namira, menautkannya dalam waktu cukup lama.
Emil membuka baju Namira ke atas dan Namira mengangkat kedua tangannya pasrah. Nampaklah keindahan dari tubuh Namira yang masih terbungkus br.a merah, dan Emil langsung menyerangnya.
__ADS_1
"Aahh,,,, engghh!" le.nguh Namira saat Emil mencium lehernya.
***