
Sexyola lah yang datang menjemputku di Rumah Sakit, aku bisa saja langsung pulang setelah dinyatakan baik-baik saja, tapi entah mengapa langkah kakiku berat untuk pulang ke apartemen, aku merasa tidak berguna dan tak diharapkan oleh Namira, untuk apa aku pulang ke sana? Andai Sexyola tidak membujukku untuk memperjuangkan cintaku.
"Aku bangga melihatmu yang sekarang, kau lebih terlihat seperti,,,, manusia, dengan rasa cinta, Emil. Bukan lagi predator pemuas naf.su. Aku iri padamu, berharap jika suatu saat nanti aku juga akan bertemu dengan cinta sejatiku." ucap Sexyola saat kami dalam perjalanan pulang dari Rumah Sakit pagi hari itu.
"Asal jangan Patricia saja," ucapku yang membuat Sexyola terbahak.
"Aku tidak tahu, mungkin sejenis Patricia juga bukan masalah, tapi bukan yang sakit seperti dirinya, ah,,,, aku masih ingat dia hampir saja membunuhku malam itu andai aku tidak mengalahkannya, Ptricia benar-benar gila,"
Aku tersenyum, mengingat cerita Sexyola yang hampir ditembak Patricia karena mengakhiri hubungan mereka, Sexyola bahkan secara terang-terangan jika bermain dengan seorang pria itu lebih menyenangkan, dan dia bahkan meminta Patricia untuk mencobanya, hingga Patricia marah dan menodongnya senjata, sangat luar biasa.
***
Sampai di rumah, Sexyola langsung membawaku ke dapur, dia memasak dengan sisa bahan yang pernah kubeli waktu aku memasak untuk Namira, dan aku masih ingat bagaimana Namira mengabaikan masakanku waktu itu. Sakitnya bahkan masih terasa.
Seperti biasa, putri tidur itu bangun hampir siang, saat masakan Sexyola sudah matang, kau tahu bagaimana dia bersikap? Seolah semua baik-baik saja dan benar-benar tidak mempedulikanku yang baru pulang selamat dari sebuah kecelakaan. Tanpa Namira tahu aku seperti orang gila yang terus memikirkannya saat di Singapura, berlari cepat menuju bandara dan ingin segera terbang untuk segera pulang, lalu menyatakan perasaanku padanya, namun dia justru sama sekali tak peduli, bahkan meskipun aku mati.
Namira masuk ke dapur sedikit canggung, aku tahu itu mendengar dari caranya bicara dengan Sexyola, aku ingin meledak, melihatnya yang bersikap acuh padaku bahkan jelas sebuah perban melingkar di kepalaku membalut luka akibat kecelakaan, namun ia masih membisu seolah aku tidak ada di hadapannya. Percayalah, diabaikan itu adalah rasa yang luar biasa sakit.
"Kau bahkan tidak menanyakan kabarku, Nami, aku baru saja mengalami kecelakaan." aku tidak tahan terus diam, dan memilih membuka suara, menyerukan isi hatiku yang mengganjal. Kenapa Namira tidak datang ke Rumah Sakit? Bahkan sekedar menanyakan keadaanku saja tidak.
"Kau,,,, terlihat baik-baik saja. Apa kau terluka parah?" dengar jawaban yang Namira katakan? Itu terdengar seperti,,,, meremehkan. Entahlah, aku marah mendengar jawaban Namira dan tanpa dapat mengendalikan diri dengan penuh emosi aku menyapu bersih makanan yang ada di atas meja hingga semua jatuh berserakan di lantai.
"Prang,,,,!"
"Kita pergi, Sexy."
***
Aku memutuskan tinggal bersama Sexyola untuk menenangkan hati dan pikiran, meski hati ingin bertemu Namira karena rindu, namun rasa kecewa akibat sikap acuh dan tidak pedulinya masih menyisakan sakit yang luar biasa, dan aku memilih untuk menghindari bertemu Namira sampai aku merasa lebih baik.
Selain itu, dengan bodohnya aku berharap Namira akan datang mencariku jika aku tidak pulang, atau sekedar menghubungi Sexyola untuk menanyakan keadaanku, tapi aku sadar, dia sudah terlanjur membenciku dan aku tak memiliki kesempatan.
Baiklah, Namira sudah menghapus diriku dari hatinya, tidak ada lagi tempat untukku, aku menghela nafas kasar menyadari kebodohanku selama ini.
"Mari kita jalankan perjanjian bodoh ini sampai selesai, lalu mengakhiri semuanya." sumpah demi apapun aku sangat menderita.
Setelah satu Minggu tinggal bersama Sexyola dan aku merasa percuma karena Namira tak ada mencariku, aku memutuskan untuk pulang nanti setelah pulang kerja, kembali menjalani hari dalam diam dan hawa dingin di dalam apartemen yang menjadi tempat tinggal kami berdua. Menjalani sisa perjanjian pernikahan kontrak 100 hari menikah yang kurang dari dua bulan lagi.
Namun apa yang kulihat siang ini? Namira bersama seorang pria di cafe, dan pria itu mencium tangannya, Namira tersenyum manis pada pria itu. Senyum yang tak pernah ia perlihatkan untukku.
__ADS_1
Jangan tanya bagaimana hatiku, karena aku sendiri tidak tahu harus bagaimana bereksperi, entah itu sekedar menyerukan sakit hatiku maupun kecemburuanku. Aku terlalu tertipu akan muslihat yang Namira mainkan.
Tentu saja dia tidak peduli padaku bahkan meskipun aku mati, karena dia memiliki pria lain di luar sana, seorang pria yang bisa menyentuh tubuhnya, mencium tangannya di tempat umum, dan aku begitu kesal membayangkan Namira mende.sah di bawah desakan pria Indonesia itu.
***
Aku masuk ke dalam apartemen setelah cukup lama aku berdiam diri di depan pintu, benarkah aku sanggup untuk bertemu Namira? Sedang aku dalam keadaan hancur sehancur-hancurnya, diabaikan, tidak dipedulikan, tidak diinginkan, dan di duakan. Hilang sudah semua harga diri juga jati diriku sebagai Emil O'clan sang Cassanova. Yang ada hanyalah Emil yang berhati hampa.
Pintu utama di buka tiba-tiba oleh Laurent padahal aku tak membunyikan bel, ternyata Laurent berniat untuk pulang. Dan aku masuk setelah Laurent pergi, mendapati Namira yang nampak bahagia tanpa mempedulikanku yang bahkan tadi sempat mendapati dirinya bersama pria lain di luar sana.
^^^"K-ka kau, kau pulang!"^^^
"Iya, kau tidak senang?"
"Aku kembali ke rumah untuk sekedar melihat suasana,"
"Tapi sepertinya aku tidak beruntung, atau kau yang bermain cukup pintar,"
^^^"Apa maksudmu?"^^^
"Kenapa? Kau berpura-pura menjadi wanita lugu di hadapanku sekarang?"
"Baiklah, kuakui kau memang bermain lebih baik dariku, Nami. Kau berkencan bebas di luar sana dan tidak membawa priamu pulang, apa kau menikmati permainannya? Apa dia lebih baik dariku?"
"Apa kau sangat menyukainya? Sampai kau tak bersedia untuk kusentuh? Apa miliknya lebih baik dariku?"
^^^"Diam, Emil!"^^^
^^^"Hentikan omong kosongmu, itu. Aku bukan wanita seperti itu."^^^
"Lantas kau wanita seperti apa?
"Bukankah kita berdua sama-sama tahu kau itu wanita seperti apa?"
"PLAK!"
Sebuah tamparan, aku tersenyum masam menikmati sedih hatiku.
"Tadinya aku ingin mengajakmu naik ke atas ranjang, dan kita bersenang-senang, tapi kurasa aku urung melakukannya, aku tidak mau menyentuhmu tanpa tahu apakah ada be.nih pria lain yang sudah tertanam di dalam rahimmu dan kau akan mengakui janin itu sebagai anakku nantinya."
__ADS_1
Aku tau aku keterlaluan karena mengatakan hal-hal rendah yang pasti melukai harga diri Namira, tapi aku tidak bisa menahan amarahku dan rasa sakit hatiku yang ia cipta, belum luluh hatiku perihal Namira yang mengabaikan kecelakaan pesawat yang menimpaku, aku sudah harus dihantam rasa cemburu, melihatnya bersama pria lain di luar sana padahal aku sengaja tidak pulang selama satu Minggu berharap ia mencariku, apa kau tahu bagaimana itu rasa sakitnya? Percayalah, kau tak akan sanggup.
***
Kami semua pergi ke rumah Utama, sebuah rumah besar milik keluarga besar O'clan yang dibangun sejak masa kakek buyut. Rumah besar bernuansa gold dan putih gading, tempat aku dan Zio tumbuh besar.
Dan karena kami akan bertemu keluarga besar, jadi, sandiwara harus kami mainkan.
Aku menggandeng mesra tangan Namira saat mulai memasuki rumah, hingga kami masuk ke dalam kamar lamaku.
Aku tahu, Namira terpesona saat tiba, dia terlihat menyukai kamar ini, andai dia mencintaiku dan hubungan kami layaknya pasangan suami-istri, aku akan mengajaknya tinggal di rumah ini dan memperlakukannya bak seorang Ratu kerajaan, membahagiakan Namira seutuhnya dan penuh cinta, entah kenapa memikirkan itu hatiku menghangat, rasa sakit dan cemburu yang membelenggu mulai terkikis melihat Namira menyukai semua yang ada di dalam kamarku, berharap ia juga akan menyukai pemiliknya. Yakni diriku. Andai saja.
Kami makan siang bersama di balkon kamar yang menyajikan pemandangan kota Paris yang megah. Di tengah makan siang kami, Namira buka suara, perihal pria yang bersama dengannya siang itu, yang memicu pertengkaran hebat kedua kami, yang membuatku semalaman tidak tidur dan tidak makan. Dan kurasa, itu juga sama terjadi dengan Namira. Atau entahlah, dia nampak sangat kacau pagi tadi.
"Ada yang ingin kukatakan," aku hanya diam membalas ketidak peduliannya padaku dengan bersikap acuh.
"Namanya Ardhan," Namira melanjutkan.
"Dia mantan pacarku, dulu kami hampir saja menikah, tapi dia pergi meninggalkanku karena suatu alasan," aku mulai benci mendengar ceritanya.
"Kami kembali bertemu dengan tidak sengaja beberapa hari yang lalu, dia,,,, tinggal di sebelah apartemen kita," Okay, baiklah, ternyata selama ini ada yang menemaninya, dan bahkan sangat dekat, pantas saja selama ini jika Namira tidak peduli padaku dan lebih suka menikmati waktu sendiri.
"Dia pria pertama dan satu-satunya yang menyentuh tubuhku, sebelum dirimu," aku tak lagi tahan, rasanya aku sangat kesal, aku hanya memalingkan pandangan tak ingin memancing keributan, sedangkan kami tengah berada di rumah besar dan ada keluarga besar bersama kami di sini. Aku menghela nafas kasar untuk mengurangi rasa sesak dalam dada.
"Aku berkata jujur jika aku tidur dengannya, tapi itu dulu, sebelum aku bertemu denganmu, terserah jika kau mau percaya, atau tidak, aku mengatakan yang sebenarnya." apa itu artinya Namira ingin mengatakan jika dirinya tidak tidur dengan pria breng.sek itu setelah menikah denganku? Lantas kenapa ia membiarkan si breng.sek mencium tangannya? Aku masih bisa mengingatnya dengan jelas.
"Kenapa kau tidak menemuiku di rumah sakit? Apa kau tidak peduli padaku bahkan jika kabar kematianku yang kau dapatkan?" aku kembali menanyakannya, berharap alasan yang Namira berikan bisa menyembuhkan sedikit luka hatiku.
"Aku datang, bahkan aku sudah berdiri di depan pintu ruang rawatmu, 307. Dan melihatmu baik-baik saja, mendapat perawatan terbaik dari Dokter seksi itu, dan aku tahu, kau tidak membutuhkan kehadiranku, karena Dokter itu sudah melayanimu lebih baik dari yang kau butuhkan." sial, bukan hanya obat penyembuh hatiku yang sakit yang kudapatkan, justru ini seperti sebuah bom Boomerang yang menyerangku balik, bukankah itu berarti Namira melihat saat Stevia menciumku? Begitukah maksudnya? Mendapat perawatan terbaik dari Dokter seksi itu.
Namira lekas pergi masuk ke dalam kamar, meninggalkanku yang masih mencerna semua ucapannya. Hey, bodoh. Kenapa aku merasa senang? Apa Namira cemburu? Namira cemburu padaku? Tanpa kusadari sebuah senyum tersungging di bibirku.
Sial, kurasa aku semakin mencintainya.
***
Kagak usah marah ye lu, Emil, Namira cuma dicium tangannya Ama Ardhan, apa kabar elu? Diem bae menikmati ciuman Stevia. Anjg lu. 😌
Lanjut besok ya..... 😁🙏
__ADS_1