
"Jadi,,,," Namira duduk bersila di atas brangkar, di hadapannya ada Emil yang duduk di tepian brangkar menyuapi dirinya makan.
"Makanlah, kau harus segera pulih, jangan terlalu banyak bicara," Emil menyuapkan satu sendok sup untuk Namira yang langsung dilahapnya.
Namira sangat senang, meski Emil malu mengatakan ulang ungkapan perasaannya pada Namira, namun Namira sudah sangat senang karena ia akhirnya mengetahui perasaan pria yang dicintai ternyata juga mencintainya.
"Well, kau menghubungiku waktu itu karena kau mencemaskanku? Karena kau takut aku pergi meninggalkanmu dan kehilangan diriku?" Namira sangat senang mengulang kalimat-kalimat yang Emil katakan pada dirinya tadi.
'Tapi ada hal lain yang belum bisa aku katakan padamu, Namira, alasan utama aku terus menghubungimu waktu itu, tentang kematian ayahmu.'
Emil sebelumya bicara dengan Dokter yang menangani Namira, Dokter menyarankan agar pikiran Namira tenang dan tidak stres, apalagi merasa tertekan, karena dia baru saja mengalami benturan sangat keras pada bagian kepala yang mengakibatkan shock berat pasca kecelakaan dan juga trauma. Supaya Namira bisa lekas sembuh dan pulih.
Selain itu, Polisi juga melarang mereka keluar dari kota Paris selama kasus belum terpecahkan, jadi percuma Emil memberitahu Namira sekarang tentang kematian ayahnya sedang dia tidak bisa membawa Namira pergi, yang ada Namira hanya akan terus bersedih dan itu menghambat penyembuhan.
"Emil,,,," Namira menggoyang lengan Emil, menyadarkan pria tercintanya dari lamunan.
"Oh," Emil tersenyum lalu menyuapkan makanan Namira lagi. Namira membalas senyum Emil lebar dan makan dengan lahap.
"Emil, sampai kapan kita berada dalam pengawasan pihak kepolisian?" tanya Namira sedikit risau.
"Sampai kasus ditutup atau terpecahkan, tapi untuk tetap berada di kota Paris, aku mendapat keringanan setelah berdiskusi dengan pihak polisi, kita bisa pergi ke mana pun termasuk Indonesia setelah kau sembuh dan kakimu benar-benar pulih."
Namira semakin senang mendengar jawaban yang Emil berikan.
'Aku harus segera mebawamu pulang, Namira. Jadi kau harus cepat sembuh. Aku tidak tahu, apa kau akan marah padaku nanti jika kau mengetahui aku menyembunyikan kematian ayahmu, tapi aku tidak mempunyai pilihan lain.'
"Emil,"
"Hem?"
"Bisakah kita membuat perjanjian baru?"
"Apa?"
"Berjanjilah, kita akan saling terbuka dan tidak pernah menyembunyikan apapun, agar kita tidak pernah salah faham sepeti kemarin, itu sangat menyakitkan dan menyiksa. Aku sungguh hidup dalam derita."
Emil mengecup pipi Namira. Lalu berbisik di telinga istrinya.
"Tentu, apapun akan kulakukan untukmu, Cupp!"
Namira mengulum senyum, hari ini adalah hari terindah baginya, hari penuh cinta dan kasih sayang, jika dengan sakit dia bisa mendapat perhatian sepenuhnya dari Emil, rasanya Namira ingin sakit saja setiap hari.
"Nami,"
"Hem?"
"Jangan pernah minum lagi, jika tidak bersama denganku," ucap Emil saat menyodorkan gelas berisi air putih, Namira sudah selesai makan.
"Aku tidak akan minum, aku belum bisa berjanji, tapi aku akan berusaha, aku ingin berubah lebih baik, aku ingin memantaskan diri menjadi menantu keluarga O'clan." Emil tersenyum mendengar ucapan Namira, sambil mengelus pipi Namira, lantas mengecup hangat kening istrinya.
"Itu akan sangat berat, kurasa kau tidak akan sanggup."
"Kenapa tidak? Aku bisa melewati apapun, selama kau menggenggam tanganku," celoteh Namira membuat hati Emil menghangat.
__ADS_1
"Maafkan aku. Aku salah!" Emil memeluk Namira, dan Namira membalas pelukannya.
"Jadi, benarkah jika kecelakaan yang aku alami bukan sebuah kecelakaan biasa?" Namira mendorong pelan tubuh Emil melepas pelukan mereka untuk kembali membicarakan hal yang serius.
"Polisi mengatakan, jika kemungkinan itu adalah jaringan te.ro.ris, atau," Emil menjeda.
"Atau?" tanya Namira.
"Atau mungkin musuh O'clan Company. Entahlah, tapi aku ragu dengan kemungkinan yang kedua, karena selama ini O'clan Company tidak memiliki musuh."
"Tapi bisa saja, kita tidak pernah tahu kan siapa orang yang benar-benar baik, atau hanya pura-pura baik, dan juga ingin menghancurkan kita,"
"Iya, kau benar."
"Aku penasaran, siapa yang menolongku keluar dari mobil? Jika pelaku penabrakan, kenapa dia melakukan itu? Padahal dia meledakkan mobil yang kutumpangi? Ini sangat membingungkan."
'Itu juga yang tengah kupikirkan,'
"Sudahlah, jangan terlalu banyak berpikir, ada polisi yang akan mengurus semuanya. Fabrizio juga akan membantu memecahkan masalah. Dia akan datang, kau tenanglah, semua akan baik-baik saja."
Namira mengangguk menanggapi.
"Kapan kita pulang? Aku sangat bosan, lagi pula aku sudah lebih baik."
"Kau bisa pulang malam ini, setelah suamimu menyelesaikan semua urusan administrasi." Sexyola datang, membuat Namira langsung merasa kesal. Salah satu hal yang tak bisa seorang wanita tahan adalah rasa cemburu.
Namira mengalihkan pandangan, raut wajahnya berubah, menunjukkan ketidak sukaan.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Sexyola.
"Bukan kau, Namira. Aku bertanya pada Emil,"
Sial, wajah Namira merah seketika, menahan kesal dan malu bersamaan, sepertinya Sexyola bisa menangkap dengan jelas ketidak sukaan Namira pada dirinya. Sedikit pelajaran terasa menyenangkan.
"Apa kau bisa tidur semalam? Menjaga orang sakit di rumah sakit itu tidak mudah, apalagi sendirian, bisa-bisa kau sendiri yang jatuh sakit jika tidak menjaga kesehatan, makan dan minum yang teratur, juga jam tidur."
Telinga Namira semakin terbakar, mendengar ocehan Sexyola yang terdengar sangat peduli dan memperhatikan Emil. Yah, meskipun Emil hanya tersenyum dan diam.
"Dia sedang menjaga istrinya, dan kami menikmati waktu bersama andai kau tidak selalu mengganggu menjadi benalu, jadi kami Emil tidak akan sakit, justru kami telah bahagia karena bersama." tegas Namira menatap tajam Sexyola, tapi wanita seksi itu hanya menanggapi ocehan Namira dengan senyum tipis, dan Emil malah mengelus pipi Namira sayang.
"Well, kau berhasil mendapatkannya, Emil." beo Sexyola membuat Namira mengernyit.
"Aku sangat beruntung, terimakasih." jawab Emil sambil mengecup punggung tangan Namira, diperlakukan manis di hadapan Sexyola membuat Namira merasa terbang ke awang. Padahal ucapan terimakasih itu Emil berikan untuk Sexyola.
Terimakasih karena selalu mendukung dirinya selama ini, mendukung hubungannya dengan Namira, dan selalu ada saat Emil tak memiliki siapa pun untuk bersandar.
***
Emil mengendarai mobil menuju apartemen dengan kecepatan sedang, di belakang mereka ada mobil lain yang mengawasi, pihak polisi, mereka dalam pengawasan pihak berwajib sekarang, namun tersamarkan dengan berpenampilan layaknya warga sipil biasa.
Namira duduk di jok sebelah Emil, sedang Sexyola, dia tidak bisa ikut menemani karena ada urusan lain.
"Laurent sudah menunggu kita di rumah, dia akan membantumu sepenuhnya mulai sekarang," Emil bicara sambil menyetir, Namira mengangguk menanggapi.
__ADS_1
"Ada apa? Apa ada yang sedang kau pikirkan? Kau ingat perjanjian baru kita bukan? Harus saling terbuka dan tidak boleh menutupi apapun satu sama lain," tanya Emil saat melihat Namira tak banyak bicara.
"Aku tidak menyukai Sexyola," ucap Namira cepat.
"Apa?"
"Iya, aku tidak menyukai wanita itu, atau wanita manapun yang mendekatimu, aku tidak suka kau berdekatan dengan mereka, kau bilang kita harus saling jujur, bukan? Aku sudah mengatakannya, aku tidak menyukai Sexyola."
"Kau, Kau,,,, cemburu? Hahaha,,,,"
"Emil, itu tidak lucu, sudah kukatakan aku tidak menyukai Sexyola, bisakah kau menjauh darinya? Jika perlu, jangan lagi berdekatan dengannya."
Bukannya menanggapi dengan benar larangan yang Namira berikan, Emil justru semakin tertawa.
"Emil,,,," Teriak Namira.
"Okay okay, aku tidak tertawa, tapi, sungguh, aku merasa sangat senang jika kau cemburu dengan Sexyola, itu artinya kau memang mencintaiku, I love you."
Namira mengulum senyum, malu.
'Tapi tetap saja, kau harus menjauhi Sexyola.'
***
Flash back.
"Ada sebuah motor yang mengikuti mobil anda saat Nyonya Namira mengendarainya keluar dari area parkir Club. Kami tidak dapat menemukan pemiliknya karena nomor plat yang dipasang adalah palsu," ujar polisi pada Emil saat mereka bicara pada suatu ruangan tanpa diketahui Namira.
"Jadi, maksud anda, tersangka menargetkan saya? Mengira jika saya yang mengendarai mobil itu?"
"Yah, kemungkinan besar seperti itu,"
"Tapi kenapa dia menyelamatkan Namira? Meski korban bukanlah target utama mereka, tapi Namira juga istri saya,"
"Bukankah pernikahan anda ini rahasia?"
"Yah, meski begitu, apa tersangka itu begitu baik hati sehingga menyelamatkan seseorang yang mengendarai mobil orang yang ingin dibunuh?"
"Anda membuat saya ragu dengan teori saya, Mr. Emil."
"Anda juga mengatakan sebuah motor mengikuti mobil saya yang dikendarai istri saya waktu itu, lantas kenapa yang menabraknya justru sebuah mobil besar dari arah depan?"
"Itu karena istri anda sedang mabuk, dan dia tidak fokus berkendara, kemungkinan pengendara mobil itu tidaklah berkepentingan dan dia pergi meninggalkan lokasi kejadian."
"Jadi?" Emil nampak berpikir.
"Jika yang anda pikirkan sama dengan yang saya pikirkan," pungkas polisi.
"Pengendara motor yang mengeluarkan Namira dari dalam mobil."
"Pengendara motor yang menyelamatkan Namira,"
Ucap Emil dan polisi itu bersamaan.
__ADS_1
"Dan dialah tersangkanya."
***