
POV Namira.
Makan malam bersama, aku dan Emil duduk bersebelahan, semenjak pulang dari kantor, tak kudapati senyum Emil atau pun ia yang bertegur sapa dengan Mr. CEO, bahkan suasana canggung di meja makan saat ini sangat terasa kentalnya.
"Namira, bagaiamana hari pertama kerja?" Aretha bertanya, saat hidangan penutup disajikan oleh para maid.
Aku melirik Emil sesaat sebelum menjawabnya, dia diam, menatap lurus pada piring berisi roussillon.
"Baik, semuanya berjalan lancar," jawabku menyembunyikan fakta tentang suaminya dan suamiku yang hampir saja berkelahi.
'Dreekk!'
Aku kaget, mendongak melihat Emil yang tiba-tiba berdiri.
"Aku sudah selesai, permisi." Emil pergi, menaiki anak tangga berlari kecil dengan cepat menuju lantai atas, masuk ke kamarnya.
"Apa kalian ada masalah?" tanya Nenek saat punggung Emil sudah menghilang. Yeah, wajar jika nenek merasa seperti itu, karena biasanya kami selalu terlihat mesra, meski hanya sandiwara.
"T-ti tidak, nek. Kami baik-baik saja, mungkin Emil merasa lelah, itu saja," aku sedikit gugup menjawab pertanyaan nenek.
Entah mengapa saat Emil tak ada, berada di tengah keluarga O'clan serasa seperti sebuah tekanan, padahal mereka semua baik, mungkin karena aku yang tak bisa membaurkan diri seperti Aretha, atau mungkin karena aku yang selalu merasa tak pantas menjadi menantu mereka.
"Masalah maupun pertengkaran dalam rumah tangga itu hal yang wajar, menantuku, kalian harus membicarakannya bersama untuk mendapat jalan keluar," pesan Daddy, ayah mertuaku.
"Iya, Dad," jawabku lirih, Aretha menatapku kasihan, sedangkan Mr. CEO nampak sibuk bermain dengan Tita yang berada di pangkuannya.
Mommy dan Carol sedang keluar, memenuhi undangan.
"Aku sudah selesai, aku permisi," aku berdiri, menghampiri Tita terlebih dulu yang berada di pangkuan Mr. CEO, si kecil yang cantik itu tengah disuapi roti oleh Daddynya. Penyejuk hati setiap kali hatiku gundah, lucunya memiliki seorang bayi.
"Sayang, aunty pamit dulu, ya! Tita cepet tidur, jangan nakal, Hem? Ummuaachh ummuachh ummuach..." aku berjongkok di depan Mr. CEO yang duduk di kursi, Aretha melihat interaksi kami, Tita berceloteh seakan meminta aku untuk menggendongnya, tapi aku malah menghadiahinya banyak kecupan di tangan pipi dan lututnya, sebagai salam perpisahan.
"Selamat malam," ujarku ceria.
"Ntie,,,, ntie,,,," panggil Tita yang mulai bisa menyebutku aunty.
"Maaf, soal yang tadi," ucap Mr. CEO setengah berbisik, aku melihat Aretha yang sudah tak lagi memperhatikan kami, ia mengobrol dengan nenek.
"Saya juga minta maaf," balasku, setelah itu aku cepat berdiri. Pergi dari meja makan, menaiki anak tangga ke lantai atas menuju kamar Emil.
Emil, apa yang sedang ia lakukan sekarang?
Aku membuka pintu perlahan, lalu menguncinya dari dalam.
Tempat tidur kosong, di balkon juga sepi, aku melangkah ke arah kamar mandi, terdengar air shower yang dinyalakan dari dalam, mungkin dia sedang mandi. Semoga dia baik-baik saja, berselisih dengan saudaranya pasti membuat Emil merasa sangat tidak enak.
Aku meraih tas kerja, mengeluarkan berkas-berkas yang harus diselesaikan dalam waktu tiga hari, ralat, tersisa dua hari lagi. Juga menyalakan laptop.
Ranjang tidur berantakan oleh berkas yang berserakan, saat Emil keluar dari kamar mandi dan hanya melilitkan handuk sepinggang.
"Jangan terlalu memforsir dirimu, kita tinggalkan saja semuanya, aku sudah memikirkannya,"
Aku mendongak, terkejut dengan apa yang Emil katakan, ia berdiri di depan cermin, mengacak rambut basahnya dengan tangan lalu memakai krim wajah dan parfum badan khas tubuhnya yang beraroma bvlgary. Sangat tampan dan seksi.
"Ini hanya tiga hari lagi, kalau kau tidak bersedia membantuku, aku akan mengerjakannya sendiri, aku pasti bisa menyelesaikannya."
"Ini bukan tentang menyelesaikan tugas tiga hari, tapi ini tentang harga diri," Emil naik ke atas ranjang tiba-tiba, mendekatkan wajahnya pada wajahku, aku sampai kaget dibuatnya. Kami sangat dekat setelah cukup lama rasanya kami tak saling ber.cinta. Membuatku gugup.
Ya Tuhan,,,, Emil sangat tampan, dia benar-benar tampan, wajahnya, badannya, aromanya, dia sempurna di mataku, lebih indah dari dewa Zeus, Apollo, maupun Quora, dewa-dewa yang digambarkan sangat tampan dalam mitologi Romawi.
__ADS_1
Stop, jangan tergoda, Namira, bukan saatnya kau terpancing oleh hasrat syah.watmu. Ada pekerjaan menggunung yang menunggu untuk diselesaikan.
"Hentikan pekerjaanmu, dan masukkan ke dalam tas, aku akan memberikannya pada Zio, kita resigne dari kantor."
ucapnya saat kembali menjauh, memakai kaos oblong dan celana bokser, aku memalingkan wajah sambil menelan saliva susah payah. Pipiku pasti sudah merona saat ini.
"Tidak, jika kita melakukannya, itu semakin membuktikan jika kita tidak bisa, aku akan membuktikan pada Zio dan keluarga O'clan jika aku mampu dan aku bisa diandalkan."
"Namira!" teriak Emil karena aku membantahnya.
"Kenapa? Saat bekerja lembur denganku kau tidak mau, tapi setiap malam kau bisa bekerja bersama Sexyola, apa karena kau menikmati setiap waktu saat bersama dengannya?" aku turun dari ranjang berdiri menghadap Emil seolah menantangnya.
"Namira, jangan gila. Berhenti membicarakan Sexyola."
"Kenapa? Kenapa tidak? Nyatanya memang nama itu yang selama ini menjadi pencipta jarak diantara kita, apa kau masih tidak menyadari kesalahanmu? Sudah kukatakan jika aku cemburu, tapi kau," aku menunjukkan jari telunjukku tepat di depan mata Emil, air mataku sendiri sudah mulai luruh, kenapa setiap kali kami bersama selalu saja ada pertengkaran.
"Kalau kau ingin keluar dari perusahaan, silahkan. Tapi aku akan bertahan, setidaknya aku masih memiliki pekerjaan saat kita berpisah 10 hari lagi,"
'DEG.'
"Kau masih mengungkitnya? Lupakan perjanjian itu, karena aku tidak akan pernah menceraikanmu!"
"Kenapa? Untuk apa kau mempertahankanku jika kau masih berhubungan dengan Sexyola, apa artinya aku untukmu?"
"Sudah kukatakan berhenti menyebut nama Sexyola,"
"Cyack!"
"Aahh,,,," aku mundur, Emil membanting botol parfumnya, aroma Bvlgary menguar ke seluruh sudut kamar, namun pecahan kaca botol parfum yang berserakan di lantai itu menjadi gambaran hancurnya hatiku saat ini, sekali lagi, Emil membuat hatiku patah begitu parah.
Aku gemetar, takut dan terkejut.
Tanganku terulur agar Emil tidak mendekat.
"Aku tidak tahu bagaimana sebenarnya perasaanmu padaku, Emil, setiap kali aku berusaha untuk percaya, kau selalu membuatku ragu, dan itu menguatkan diriku bahwa kau sebenarnya memiliki rasa pada Sexyola,"
"Itu tidak benar,"
"Cukup, biarkan aku sendiri."
Aku mengemas semua berkas, akan membawanya ke ruang kerja untuk menghindar dari Emil sementara waktu.
"Sayang, sayang,,,," Emil mencoba mencegahku, tapi tatapanku yang penuh luka membuat Emil berhenti melangkah.
"Pikirkan tentang hatimu, pada siapa dia sebenarnya berlabuh, jika kau mencintaiku dan merasa kasihan dengan Sexyola, maka itu artinya, cintamu padaku tidaklah utuh. Dan aku sudah siap jika kita harus berpisah."
Aku membuka pintu keluar dari kamar, membawa berkas-berkas itu dan laptop masuk ke dalam ruang kerja, menangis dalam diam di dalam ruang hitam dengan cahaya remang karena aku belum menyalakan lampu utama.
Aku ingin menangis, aku hanya ingin menangis sekarang, kenapa apapun yang dilakukan Emil selalu menyakiti hatiku? Seolah dia salah sumber luka yang diciptakan Tuhan untukku.
Aku menjatuhkan kepala di atas meja, menangis terisak sesenggukan, hatiku sakit, aku sakit hati, sungguh.
Dalam ruang kerja ini ada beberapa meja, di desaine seperti ruang kerja di kantor, hampir mirip. Dengan rak-rak buku yang tinggi menjulang sebagai penyekat antara meja satu dengan meja lainnya.
"Bertengkar?" suara seseorang yang sudah sangat kukenal. Diiringi derap sepatu yang mendekat.
Aku mendongak, benar, Mr. CEO. Ternyata dia ada di sini, entah sejak kapan. Mungkin dia sudah di sini sebelum aku datang. Dia memang pekerja keras, pasti diam-diam selama ini ia bekerja begitu keras untuk menstabilkan kembali saham O'clan fashion yang hampir bangkrut di tangan Emil.
Aku mengusap air mataku cepat. Meredam emosi dan menghentikan tangisan bodohku.
__ADS_1
"Aku harap, kau bisa terus menggenggam tangan Emil sampai dia berubah atas kemauannya sendiri, sampai dia mengerti akan tanggung jawab dan tugas-tugasnya." Mr. CEO bersender di tepian meja, menyedekapkan tangan sedada, membelakangiku yang duduk di kursi.
"Dia terlalu dekat dengan Sexyola, sebelum dia mengenalmu, bahkan, dia lebih dekat dengan wanita itu dari pada aku sejak dulu,"
Aku mendengarkan setiap kata yang Mr. CEO katakan.
"Emil sangat bergantung pada Sexyola sejak zaman sekolah, apa pun kesulitan yang ia alami, Sexyola adalah Dewi penyelamatnya, bisa kukatakan jika Emil banyak terpengaruh oleh Sexyola. Termasuk se.ks bebas, dan juga masalah pekerjaan, dia sangat meyakinkan semua diurus oleh Sexyola."
Aku masih diam tak menanggapi, mendengarkan seksama Mr. CEO yang berbicara sangat serius dengan kosa kata panjang lebar, tak sepeti biasnya yang cukup singkat padat dan jelas. Kali ini terasa berbeda, mungkin karena yang dibicarakannya adalah adiknya.
"Aku berharap kamu yang selalu ada untuk Emil, dia mencintaimu, tapi Sexyola adalah kebiasaannya, dan menghilangkan sebuah kebiasaan adalah hal yang tak mudah, mungkin sangat egois jika aku memintamu untuk mengalah, dan tetap menggenggam tangan Emil padahal itu membuatmu terluka, aku hanya ingin Emil memilih jalan yang benar, dan aku melihat itu ada pada dirimu,"
Mr. CEO berbalik, menunduk menatapku dalam penuh arti, tatapan seorang kakak yang memohon agar aku menyelamatkan adiknya yang tersesat, begitu kira-kira.
"BUGH!"
"Ah,,,, sh.i.t.t!"
"Emil,,,,"
Sebuah tendangan tiba-tiba dilayangkan Emil pada Mr. CEO, hingga tubuhnya tersungkur keras ke lantai.
"Apa yang kau lakukan dengan istriku di ruangan ini hanya berdua saja, breng.sek!"
"Emil,,,,"
Emil hendak menginjak dada Mr. CEO, untungnya Mr. CEO bergerak cepat menghindar, menggulingkan badan hingga Emil hanya menginjak lantai.
Emil akan menyerang, dan aku berhasil menahannya, memegangi tangannya dari belakang.
"Emil, hentikan!"
Emil berhenti, dadanya naik turun seirama dengan deru nafasnya yang menyimpan emosi.
Mr. CEO berdiri, mengusap ujung bibirnya yang berdarah lalu berdecih.
"Selesaikan urusan kalian, jangan sampai keluarga besar tahu tentang ini," ucap Mr. CEO tegas, kemudian melenggang pergi. Emil hendak menyerangnya lagi dan aku terus menahannya.
"Aaahh,,,," Emil menepis tanganku kasar, ia menatapku dengan sangat tajam, sebuah kilat kebencian, marah, cemburu, sakit, aku tahu itu karena aku pernah merasakannya, tapi bukankah ia salah?
"Jika aku selingkuh dengan Sexyola, setidaknya dia bukanlah kakak iparku, tapi kau? Beginikah cara mainmu? Kau Dan Fabrizio?"
"Itu tidak benar, kau salah faham," bantahku.
"Salah faham?" tersungging senyum sinis di ujung bibir Emil. Memalingkan muka sesaat kemudian kembali menatapku tajam.
"Inikah alasanmu tidak bersedia keluar dari perusahaan? Dan tetap bersikukuh tentang perceraian kita? Karena kau mengincar Mr. CEO yang sempurna dibandingkan aku? Karena aku hanyalah putra O'clan yang tak berguna? Begitu?"
"Emil, kau salah paham," aku berusaha meraih tangan Emil namun ia menepisnya kasar, air mataku sudah gak ada gunanya di hadapan Emil, ia menatapku dengan sorot mata kebencian, kekecewaan, dan? Hina.
"Aku sempat berpikir jika kau tidaklah seperti yang kukira dulu, Namira, wanita mura.han. Tapi kau sendiri yang malah membuktikannya malam ini, bahwa kau lebih rendah dari para ja.lang. Apakah ini kutukan dari Tuhan? Sehingga aku harus jatuh cinta pada wanita ja.lang seperti dirimu."
"Plak!"
Satu tamparan kudaratkan di pipi Emil. Ia berdecih, memegangi pipinya yang kutampar, lalu melangkah keluar, aku yakin dia akan pergi malam ini. Sexyola.
Sakit, hanya itu yang dapat menggambarkan hatiku yang terasa hancur berkeping-keping. Emil kembali menganggapku sebagai seorang wanita murahan, lebih rendah dari para ja.lang.
***
__ADS_1
Kalau gua yang jadi Namira, gua udah kagak kuat anj๐ ๐ญ