100 HARI MENIKAH

100 HARI MENIKAH
Berhenti di restoran


__ADS_3

"Apa kabar, Namira?"


Aku menoleh, melihat Emil yang menatapku dalam dengan manik berkaca-kaca.


Aku sesenggukan, dadaku sangat sesak. Air mata Emil pun menetes, itu adalah bukti jika bukan hanya aku yang menderita di sini, cinta itu masih ada dalam netra Emil setelah aku menyelaminya.


"Apa kau bahagia?" tanya Emil mengulang, suaranya serak parau.


Aku masih sesenggukan tak dapat mengeluarkan sepatah kata pun.


Emil menyentuh pipiku, meski sudah kututupi dengan make up tebal, tapi nyatanya lebam di sana masih bisa dilihat Emil.


"Dia memukulmu?" Emil menunduk sambil menangis tanpa suara, tangannya mengepal.


"Kau, bagaimana? Apa kau bahagia setelah menceraikanku?" tanyaku pada akhirnya.


Emil mendongak menatapku pilu, air matanya pun menjelaskan ia tidak bahagia.


"Di mana Nyonya?" suara Lionel yang terdengar menggelegar membuyarkan kebersamaan kami.


Refleks aku mendorong tubuh Emil hingga ia mundur, jangan sampai Lionel melihat kami seperti ini, atau nyawa kami berakhir saat ini juga.


Aku mengusap cepat wajahku yang basah karena air mata, dan aku melangkah pergi. Meninggalkan Emil yang masih mematung menatapku.


"DUGH!"


"Ahh,,,,"


Robin tersungkur di lantai karena tendangan Lionel yang tepat mengenai perutnya.


"Lionel, hentikan!" leraiku dari arah dapur, hampir saja Lionel kembali menginjakkan kakinya di dada Robin, andai aku tak lekas menarik tangannya.


"Aku di sini."


Mata Lionel menyipit, memperhatikanku menelisik, bodoh. Dia pasti bisa melihat wajah sembabku yang baru saja menangis.


"Kau, menangis?"


Aku menggeleng. Gugup, panik dan takut, beginikah rasanya seorang pencuri yang tertangkap?


"T-ti ti tidak," aku menggeleng beberapa kali.


"Robin,,,," seru Lionel terdengar mematikan.


"Iya, Mister?" Robin lekas berdiri, menautkan kedua tangannya di depan dan menundukkan kepala.


"Ada apa dengan istriku?" tanya Lionel tanpa melepas tatapannya dariku.


"Apa?" Robin mendongak, gugup, takut, melihatku yang sempat meliriknya sesaat.


"Jawabanmu menentukan nasib Robin yang bertanggung jawab menjagamu, sayang!"


"Aku,,,, aku memang menangis," ucapku cepat, jangan sampai ada korban lain karena diriku.

__ADS_1


"Hem?" suara Lionel, jemarinya membelai pipiku lalu turun ke leher dan bermain di area dadaku yang sedikit terbuka.


"Aku, aku," bingun. Aku tidak tahu harus menjawab apa. Sedangkan Robin sudah gemetaran di sana.


'Cupp!'


Nekat. Aku mengecup bibir Lionel, menautkan bibir kami, menyesap lalu memasukkan lidahku menjelajah dalam mulut Lionel, mengu.lum, mengeksplor dan menari membelikan lidah kami.


Lionel memejamkan mata, cukup mudah membuatnya mengikuti alur permainanku, karena tak butuh waktu lama ia langsung membalas ciumanku di bibirnya.


"Emmpphh!" Ciuman yang semula lembut berubah kasar. Lionel tidak sabar.


Ia mendorongku, membalikkan tubuhku hingga telungkup di atas meja makan. Dia bergerak cepat membuka ikat pinggang.


Robin lekas pergi berlari ke arah dapur yang ternyata sudah ada Emil yang berdiri di ambang pintu memperhatikan kami. Menatap dengan tajam dan amarah.


Tak kudengar apa yang Robin katakan. Ia memaksa Emil, menarik tangannya agar pergi dari sana dan ikut dengannya.


Aku membalikkan badan, menyadari apa yang akan terjadi.


"Jangan di sini. Kita sudah pernah melakukannya, aku ingin sesuatu yang berbeda," bohong. Aku hanya tidak ingin Emil melihatku melakukannya yang ke dua kali di depan matanya.


"Di mana, sayang? Aku sudah tidak tahan," Lionel merengkuh pinggangku hingga tubuh kami merapat sempurna. Dapat kurasakan kejanta.nannya yang sudah mengeras menyentuh area intiku, membuat darahku berdesir. Tidak munafik, Lionel memang sama perkasanya dengan Emil untuk urusan ranjang.


"Di mobil," jawabku singkat.


Tanpa menunggu waktu, Lionel menarikku pergi dari sana, menuju halaman depan, kulihat Emil yang masih mematung bersama Robin menatapku dengan netra nanar.


Tunggu, halaman depan? Bukan, maksudku bukan mobil yang terparkir di halaman depan, melainkan di basemen, setidaknya di sana tertutup tak ada orang yang melihat, tapi, Lionel sudah memutuskan, dan ia tak bisa dihentikan.


***


Malam ini Lionel mengajakku menghadiri sebuah pesta, aku sudah siap, melihat pantulan diriku dalam cermin mewah di kamarku.


Sebuah dress panjang tipis berwarna hitam dengan tali spageti kesukaan Lionel telah membalut seksi tubuhku.


"Kau sudah, siap, sayang?" Lionel memelukku dari belakang, menjatuhkan dagunya di atas bahuku. Tersenyum sambil memandangku di dalam pantulan cermin.


"Kau sangat cantik, kau adalah yang terbaik. My seksi wife." Lionel mengecup pundak dan tengkukku, mataku terpejam merasakan sensasinya. Pyar,,,


"Hentikan, Lionel, atau kita tidak akan jadi berangkat ke pesta."


Lionel berhenti, memutar tubuhku, menatapku lembut, mengamati setiap inci dari wajahku.


"Aku beruntung memilikimu." de.sahnya.


Aku tersenyum getir mendengar ucapan Lionel. Beruntung memilikiku, namun selalu menyakiti, menekan dan bertindak semena-mena padaku, begitukah caranya mengekspresikan cinta?


***


Emil yang menyetir mobil mengantar kami ke lokasi pesta, sebuah pesta out door yang diadakan di tepi pantai.


Sepanjang perjalanan, Lionel tak henti-hentinya menjelajah tubuhku, aku tak menolak maupun berusaha menghentikannya. Atau justru akan memancing masalah.

__ADS_1


Hingga dering ponsel di saku jasnya menghentikan aksi Lionel.


Ia sedikit menjauh saat menerima telepon itu, aku enggan memperhatikannya, memilih melihat ke arah rear-vision mirror untuk melihat Emil yang sedang mengemudi, apa dia memperhatikan kami tadi? Dan kutangkap kedua netranya yang bertemu pandang denganku. Lalu kembali terputus saat Emil harus kembali berkonsentrasi dengan jalan di depan.


"Sayang, bisakah kita berhenti sebentar di Restoran depan? Ada rekan bisnis yang menungguku, ini sangat penting." ujar Lionel setelah memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku jas.


"He em." Aku mengangguk memberi jawaban.


Emil melajukan mobil menuju restoran yang Lionel sebutkan sebelum kami menuju pantai lokasi pesta berada.


"Apa kau yakin akan menunggu di sini? Tidak ikut masuk bersamaku?"


"Tidak, aku di sini saja." kuulas senyum semanis mungkin.


"Baiklah, aku masuk dulu, hanya sebentar. Robin akan menjagamu di luar."


Lagi-lagi aku mengangguk, Lionel keluar dari mobil. Dan pintu kembali ditutup, menyisakan aku dan Emil di dalam mobil, sedangkan Robin dan para bawahannya yang tadi menaiki mobil lain, berdiri berjaga di luar.


"Emil,,,," lirihku memanggil Emil yang masih diam menatap datar ke depan.


Ia menoleh, pandangan kami bertemu.


"Aku melihatmu," lirih Emil penuh luka, lemah tak berdaya.


"Kau mende.sah di bawah kendalinya,"


"Kumohon jangan bicarakan itu," aku memalingkan muka. Menahan air mata yang mulai berdesakan, aku tak boleh menangis, atau Lionel nanti akan curiga.


Emil tiba-tiba membuka kaca pintu mobil.


"Emil, apa yang kau lakukan?" aku ingin bicara lebih lama dengannya, tapi Emil justru membuka kaca mobil, dan, memanggil Robin?


"Robin!"


"Yes, Sir!"


Aku tercengang, apa ini? Emil, dan Robin? Aku menatap nyalang mereka berdua yang berinteraksi berbataskan pintu mobil.


"Ambil semua bukti, dan cepat beritahu aku jika waktuku habis."


"Yes, Sir!"


Kaca mobil kembali ditutup rapat, Emil menoleh, kemudian berpindah tempat, duduk di sebelahku, sedangkan aku hanya bisa menggeleng tak percaya.


"Emil?" lirihku penuh tanda tanya.


"Bolehkah? Aku sangat merindukanmu."


DEG


***


Nggak ada yang mau tahukah bagaimana kehidupan Emil setelah bercerai dari Namira? Terus apa hubungan Emil sama Robin? Bab selanjutnya POV Emil ya.... Terimakasih buat yang selalu dukung. 🙏🥺

__ADS_1


__ADS_2