100 HARI MENIKAH

100 HARI MENIKAH
Doa


__ADS_3

"Aaahhh,,,, aaahh,,,," Emil bergerak semakin cepat maju mundur membuat tubuh Namira tergoncang naik turun seirama dengan gerakan Emil yang mendesak tubuhnya dari atas.


"Sayang, aaahhh...."


"Emil,,,,, aaahhhhh!"


Keduanya mende.sah hebat saat pelepasan pertama itu mereka dapatkan bersamaan, Emil dan Namira terengah dengan tubuh yang masih bergetar, dada keduanya naik turun menghirup dan menghembuskan nafas yang tersengal.


Peluh Emil menetes melewati dahi jatuh mengenai wajah Namira yang juga berkeringat. Keduanya saling tersenyum dan Emil menjatuhkan diri di atas tubuh istrinya.


"Terimakasih, aku mencintaimu," Emil bergeser turun dan merengkuh tubuh Namira, memeluk tubuh istrinya dari samping setelah menarik selimut untuk menyelimuti tubuh polos mereka berdua.


"Emil, aku mau ke kamar mandi." Namira hendak melepas pelukan Emil, ia ingat jika dirinya tidak meminum pil pengaman karena hampir dua bulan ini dia tidak pernah bersentuhan dengan pria manapun. Jadi Namira berniat membersihkan area intinya segera.


"Sstt,,,, nanti saja, tidurlah," dengan gaya posesifnya, Emil menyilangkan kaki mengunci pergerakan tubuh Namira dan memeluknya lebih erat.


"Istirahatlah, karena sebentar lagi kita akan kembali bermain rounde ke dua," lirih Emil sambil terpejam.


"Kedua?" sontak mata Namira membola mendengar penuturan suaminya, pasalnya rounde pertama saja Emil sudah menggempurnya habis-habisan dengan berbagai gaya, membuat tubuh Namira lelah, dan staminanya sedang lemah karena dia belum sepenuhnya sembuh. Emil hanya tersenyum lebar, karena ia akhirnya bisa mendapatkan Namira kembali seutuhnya.


"Maafkan aku, tapi sepertinya, kau harus lembur malam ini sayang, kau sangat nikmat, aku puas, tapi juga ingin lagi, lagi dan lagi. Mungkin ketiga kali nanti cukup untuk malam ini,"


"Emil,,,,"


"Cup!, istrirahatlah,"


Andai Emil tahu, selama bermain selain Namira merasakan nikmat yang sangat hebat, ia juga menahan rasa nyeri yang sesekali terasa di kepalanya. Tapi itu bukan masalah bagi Namira, demi bisa bersatu dengan suami yang ia cintai, Namira menepis rasa sakit itu.


"Aku meminta padamu, jangan pernah mengkhianatiku, meskipun itu bersama Sexyola." lirih Namira yang tak mendapat tanggapan dari Emil karena pria beraroma bvlgary itu malah terdengar mendengkur halus.


***


Emil bangun lebih dulu, melihat Namira yang masih terlelap dalam pelukannya, membuat senyum manis Emil mengembang.


"Selamat pagi, istriku, cupp!" Emil mengecup bibir Namira, dan memandangi wajah cantik yang sedang lelap itu dalam diam dan tenang.


Ia lantas meraih ponsel yang bergetar di atas nakas, satu panggilan masuk, Fabrizio.


"Aku sudah sampai di Paris, kita bertemu di Rumah Besar, aku membawa teman dari Indonesia, kita akan menjalankan operasi rahasia gabungan dengan Polisi Paris." ucap Fabrizio yang langsung dimengerti Emil.


"Okay." balas Emil singkat, lalu sambungan telepon itu dimatikan.

__ADS_1


Tanpa sepengetahuan Namira, Emil menghubungi Fabrizio dan menceritakan semuanya. Masalah ini bukanlah masalah sepele, hanya saja, Emil tidak ingin membuat Namira cemas dan bersikap sangat santai.


Melihat Namira yang masih sangat lelap, Emil tidak tega membangunkannya, semalam ia membuat istrinya hampir tidak tidur sampai menjelang pagi, dan dirinya sendiri hanya pura-pura tidur sejak awal, karena yang sebenarnya adalah, pikiran Emil dipenuhi oleh masalah yang menimpa Namira. Siapa pelakunya? Apa motifnya?


Emil mengangkat lengannya yang terasa kebas dan kesemutan secara perlahan, menaruh kepala Namira di atas bantal, ia lantas turun dari ranjang, menuju kamar mandi.


Setelah segala ritual membersihkan diri dan bersiap selesai, Emil mengelus rambut Namira, membenarkan selimutnya sekali lagi lalu mengecup kening Namira. Dan pergi keluar dari kamar itu dalam diam.


"Katakan pada Nyonya saya ada meeting penting, dan akan pulang saat makan siang, kamu harus pastikan Nyonya makan dengan benar dan meminum obatnya, oh ya, jangan bangunkan dia, biarkan dia bangun sendiri." celoteh Emil panjang lebar pada Laurent.


"Baik, Tuan." patuh Laurent.


***


Namira mengerjap, membuka malas kedua kelopak matanya yang masih terasa berat, ia duduk dan mengangkat kedua tangan ke atas melemaskan otot yang terasa kaku dan tubuh yang pegal-pegal, diringi mulutnya yang menguap.


Namira baru menyadari keadaan saat teringat kembali permainan brutal Emil semalam, tanpa sadar seutas senyum terbit di bibir manisnya, mendapati ia sendirian, Namira meraih ponsel. Melihat jam dan memeriksa beberapa pesan.


[Jika sudah bangun, cepatlah makan, jangan lupa minum obat, aku sangat mencintaimu, aku bekerja dulu,] pesan singkat yang Emil berikan, diakhiri dengan emot ciuman dan hati merah.


Namira meletakkan kembali ponsel ke atas nakas, masuk ke dalam kamar mandi lalu menbersihkan diri, dan segera bersiap untuk bertemu Laurent.


***


"Tuan tadi berangkat jam berapa, Lau?" tanya Namira sambil memasukkan kacang ke dalam mulutnya. Duduk di kursi meja makan.


"Sekitar pukul 8, Nya. Dia minta saya memperhatikan anda makan, minum obat, dan tidak membangunkan Anda."


Laurent dan Namira saling melempar senyum.


"Oh ya, katanya Tuan akan pulang untuk makan siang."


"Makan siang?"


"Iya, tapi sampai sekarang masih belum datang juga," celoteh Laurent mengangkat teflon dari kompor dan menuang tumis sayur ke atas piring.


"Ini sudah jam 1 loh, apa aku tunggu saja ya, Lau. Biar sekalian kami bisa makan siang bersama."


"Jangan menungguku datang dan menunda jam makanmu, sayang, aku tidak mau kamu kelaparan."


"Emil!" seru Namira berdiri dan sontak ia berhambur ke dalam pelukan Emil meski dengan kaki yang masih tertatih.

__ADS_1


Mereka berdua saling berpelukan erat seakan baru bertemu setelah sekian tahun berpisah, membuat Laurent tersenyum malu dan ikut merasakan kebahagiaan keduanya, pasalnya, selama ini Laurent mengetahui hubungan dingin sepasang suami istri itu.


"Kau merindukanku?" tanya Emil setelah pelukan mereka merenggang.


"He em, kau?" jawab Namira diiringi pertanyaan balik.


"Sangat, aku selalu merindukanmu, dan selalu ingin melihatmu, bersamamu, tidak mau jauh darimu," jawab Emil membuat Namira sangat senang.


"Apa itu lirik lagu?" tanya Namira saat mereka melangkah bersama menuju meja makan.


"Bukan, itu lirik cinta dalam hatiku,"


"Aaiihh,,,, banyak omong sekarang." keduanya terkekeh geli. Ini mungkin kekanakan, tapi ini sungguh sangat menyenangkan bagi mereka yang sedang jatuh cinta dan akhirnya bisa bersama setelah sekian lama saling memendam rasa dan menahan lara.


"Jadi, kau belum makan? Belum minum obat juga?" tanya Emil saat melihat makanan di atas meja yang dihidangkan Laurent masih utuh.


"Aku baru bangun," jawab Namira diiringi senyum cengir kuda.


"Yah, baiklah, aku menyukai wanita yang tidak bisa bangun pagi dan bangun saat siang." ujar Emil membuat Laurent tidak tahan menahan senyum dan akhirnya malah jadi tertawa.


"Laurent!" teriak Namira gemas.


"Ma-af Nyonya, tapi Tuan sangat romantis, melebihi tokoh di dalam cerita novel." beo Laurent yang membuat Namira malu, dan Emil mengembangkan senyum sangat lebar.


"Sudah, makanlah, atau aku yang akan memakanmu," ucap Emil saat menuangkan nasi ke piring Namira, mengambilkan sayur dan ayam goreng.


"Seharusnya aku yang melayanimu," Namira merasa sungkan sekarang, Emil memperlakukannya seperti tuan putri yang harus sangat dimanja.


"Kau sudah melayaniku semalaman, jadi sekarang giliranku untuk melayanimu, makanlah yang banyak, karena tubuhmu membutuhkan tenaga lebih dan stamina yang fit," Emil menjeda


"Untuk nanti malam." lanjutnya sambil mengedipkan sebelah mata pada Namira sarat akan sebuah kode, membuat pipi Namira bersemu merah merona.


"Emil,,,,"


"Hahahahahaha,,,, bisakah Tuan dan Nyonya membicarakan hal itu nanti saja saat di kamar? Saya merasa seperti obat nyamuk di sini." ujar Laurent menaruh buah apel yang ia susun rapi di atas mangkuk buah.


"Maafkan kami, Laurent, kami baru menikmati masa menjadi pengantin baru, jadi wajar, jika dunia ini serasa hanya milik kami berdua, jika mau pindah, jangan ke mars, kurasa di sana sudah penuh dengan para jones," ujar Emil sambil mengecup kening Namira di hadapan Laurent yang ia sengaja.


"Hahahaha,,,, syukurlah, saya juga ikut merasa senang dengan kebahagiaan kalian, semoga pernikahan Tuan dan Nyonya langgeng seumur hidup."


"Aamiin,,,," Emil mengusap kedua tangannya menyapu wajah dengan semangat, sedangkan Namira mengucapkan terimakasih kepada Laurent sambil memegang tulus tangan Laurent.

__ADS_1


***


__ADS_2