
Robin membukakan pintu penumpang, Namira masuk dengan gaya angkuh, setelah itu Robin masuk dan duduk di jok depan samping kemudi. Sedangkan Emil masih berdiri di sebelah pintu, ia mendengus kasar melihat ekspresi yang sedari tadi Namira tunjukkan, dingin dan marah.
Emil masuk, duduk di jok kemudi, melajukan mobil itu dengan kecepatan sedang membelah jalan kota Paris.
"Hotel mana yang akan Nyonya tuju?" tanya Robin memecah keheningan.
"Sandigo hotel." jawab Namira sambil memalingkan muka, karena dari kaca reer-vision mirror Emil meliriknya.
"Kau marah padaku?" tanya Emil kemudian, tidak tahan dengan tingkah yang Namira tunjukkan.
"Kenapa aku harus marah?" balas Namira tanpa menoleh sedikitpun.
"Maaf, aku belum bisa menyelamatkanmu." lirih Emil bernada sesal.
"Menyelamatkan? Dari?" tantang Namira. Robin yang mendengarnya merasa sesak, ia melonggarkan sedikit dasinya.
"Namira, kumohon. Bersabarlah sebentar lagi."
"Dia suamiku, jadi dia berhak melakukan apapun padaku," Namira memejamkan mata, menarik nafas dalam agar buliran bening itu tak sampai luruh.
"Termasuk menyiksaku!" lanjut Namira.
Emil mencengkeram erat kemudi dengan rahang yang mengeras, ia menelan saliva kasar beberapa kali, menyesali dirinya sendiri yang belum bisa berbuat apa-apa untuk menyelamatkan Namira.
Yah, meski Namira mengatakan jika dirinya tidak marah pada Emil, tapi Emil tahu, dan jelas dari sikap Namira bahwa ia marah pada Emil.
"Permainan baru saja dimulai," ucap Emil membuat dahi Namira mengernyit.
"Apa?" tanya Namira yang menatap tajam Emil dari kaca reer-vision mirror.
"Menyibukkan Leonel dengan masalah,"
Dahi Namira semakin mengernyit.
"Dia orang yang kuat dan berpengaruh, aku harus menggali sedikit demi sedikit akarnya agar pohonnya bisa tumbang, dan jatuh." lanjut Emil menjelaskan.
"Kau merencanakan sesuatu?" tanya Namira dengan nada melembut.
"Ada cara praktis untuk menuntaskan Leonel. Seperti meledakkan perusahaannya, aku mengenal orang yang mampu melakukan itu, tapi aku tak menggunakan cara itu, karena akan ada banyak orang yang menderita sebagai penanggung akibatnya, karyawan perusahaannya akan menjadi pengangguran."
Namira masih mendengarkan.
"Ada cara kedua, meledakkan langsung kepalanya,"
"Kau mau membunuhnya?" teriak Namira terkejut.
"Aku tahu kau tidak akan setuju, karena itu aku tidak melakukannya,"
"Jangan pernah mengotori tanganmu dengan darah," lirih Namira mulai ingin menangis.
"Tentu tidak," Emil mengulurkan tangannya kebelakang, Namira menerima uluran tangan itu, dan Emil mengelus tangannya. Kemudian melepasnya kembali.
"Lantas, apa rencanamu untuk bisa menghabisinya?" tanya Namira antusias.
"Wow, itu terdengar menyeramkan."
"Emil,,,, cepat katakan!"
"Robin," perintah Emil yang langsung diangguki oleh Robin, ia mengambil ponselnya, lalu menunjukkannya pada Namira.
"Mengumpulkan bukti kejahatannya, dan satu video skandal yang viral akan membantu mempermudah untuk menyeretnya ke pengadilan." jelas Emil.
__ADS_1
Sedangkan Namira, ia menganga melihat video yang Robin tunjukkan dengan mata melebar sempurna.
Video itu menunjukkan Leonel yang tengah menembak kepala seseorang, dan juga saat Leonel berhubungan in.tim dengan seorang perempuan yang ternyata istri dari CEO perusahaan lain yang menjadi teman kolega dari perusahaan Leonel sendiri.
"Sebuah scandal akan memancing peperangan antar dua perusahaan, dan kasus pembunuhan akan membawanya dalam kasus pidana yang berat." lanjut Emil.
Namira memberikan kembali ponsel Robin, ia bersandar di punggung jok.
"Apa sakit?" tanya Emil mengubah topik.
"Apa?" tanya Namira yang tidak mengerti.
"Robin, gantikan posisiku." Emil bergerak cepat pindah ke jok belakang, dan Robin mengambil alih kemudi.
"Emil,,,," Namira kaget, namun Emil sudah berada di sampingnya.
"Apa dia melakukannya dengan kasar?" tanya Emil sendu, matanya sayu dan berkaca-kaca.
"Hem,,," Namira mengangguk, mengerti apa yang dimaksud Emil.
"Di mana yang sakit?"
"Di sini," Namira menunjuk dadanya.
"Boleh kulihat?" Emil meminta ijin. Mengabaikan Robin yang keringat dingin di depan. Anggap saja dia hanya seekor nyamuk.
"Ehmm!" Namira mengangguk.
Emil melepas tali spageti di pundak Namira, meloloskanya ke bawah bahu hingga terlepas dari tangan.
"Khem," Robin berdehem, menyita perhatian Emil dan Namira.
"Ngomong-ngomong, sebentar lagi kita akan sampai di Sandiago hotel." ucap Robin mengingatkan.
"Satu putaran lagi," jawab Namira meminta Robin untuk mengendarai mobil kembali mengitari jalanan kota Paris.
Robin menelan saliva kasar sebelum ia akhirnya menjawab, "Baik,"
"Sayang,,,," Emil hendak bicara.
"Di sini, sakit," ucap Namira kembali pada pembahasan mereka yang tertunda.
"Apa kau memiliki fetishmu sendiri setelah menikah dengan Leonel?"
"Jangan sembarangan, kau yang bertanya dan aku hanya menjawab," bernada manja.
Emil tersenyum manis, ia lantas melanjutkan aksinya membuka dress Namira.
DEG
Jantung Emil serasa berhenti berdetak, melihat dada indah itu kini meninggalkan luka bakar yang masih basah.
Namira menjatuhkan diri ke dalam pelukan Emil, hancur sudah pertahanannya untuk tidak menangis sedari tadi.
Emil lekas memeluk tubuh Namira yang bergetar, ia pun turut merasakan betapa sakitnya perasaan Namira.
"Sakit, sangat sakit!" lirih Namira yang semakin menyayat hati Emil.
Robin tidak mengerti, ia pikir mereka akan melakukan adegan me.sum di dalam mobil, tapi nyatanya malah berubah haru dan menyedihkan, meski Robin tak tahu apa alasannya.
"Bersabarlah, bertahan!" pinta Emil merengkuh Namira semakin kuat.
__ADS_1
Namira melepaskan diri dari pelukan Emil, ia membenarkan kembali dressnya, Emil mengusap air mata Namira dan mengecup keningnya.
"Dia gila, dia tidak berperasaan, dia lebih dari seekor binatang," gumam Namira sambil menunduk.
Emil meneliti leher, lengan dan pipi Namira, semua luka hasil karya Leonel telah ditutupi dengan cream Foundation yang cukup bisa menyamarkan luka-luka itu.
"Apa kita akan melanjutkan perjalanan ke hotel?" tanya Robin karena mereka sudah selesai menambah satu putaran.
"Hem,,," jawab Namira.
"Kau yakin?" tanya Emil.
Namira mengernyit.
"Aku yakin, tapi,"
"Tapi?" Emil tidak sabar.
"Jika kamu tidak yakin, kamu bisa menunggu di dalam mobil, tapi aku berharap kamu akan menemaniku masuk ke dalam."
"Tentu, tentu aku akan menemanimu masuk ke dalam."
Namira kembali menjatuhkan diri ke dalam pelukan Emil, dan Emil mulai bernafas lega. Ada setitik rasa bahagia di hatinya.
***
Namira dan Emil masuk ke dalam hotel Sandiago dengan bergandengan tangan. Tapi mereka tidak menuju meja resepsionis, Namira langsung membawa Emil masuk ke dalam lift untuk menuju suatu ruangan yang ada di lantai atas.
"Sayang, kau sudah memiliki kamar?" tanya Emil.
Namira mengulum senyum, jadi itukah yang dipikirkan Emil sejak tadi?
"Aku tidak menyiapkan kamar, tapi aku menyiapkan hadiah."
Mata Emil menyipit dengan dahi mengernyit.
"Apa yang kau pikirkan? Berhenti berpikiran me.sum, aku ke sini untuk menghadiri pesta ulang tahun. Bukan untuk bercin.ta denganmu, yang benar saja!"
'Pufff!' Robin menahan tawa yang langsung dipelototi oleh Emil.
"Maaf, itu karena aku sangat merindukanmu," Emil mengelus wajah Namira, mengecup bibirnya.
"Nanti, setelah kita menikah," jawab Namira lirih.
"Aku tidak yakin akan menunggu sesabar itu," gurau Emil yang langsung dihadiahi sikut dari Namira tepat mengenai perutnya. Dan seperti bocah, Emil malah pura-pura kesakitan.
'Ting,,,,'
Pintu lift terbuka. Mereka sampai pada satu ruang aula yang pintunya dijaga ketat oleh beberapa orang berjas hitam lengkap dengan alat pendeteksi keamanan.
Setelah diperiksa dan menunjukkan undangan yang ada di layar ponsel, mereka dipersilahkan masuk.
Sebuah pesta ulang tahun anak yang sangat mewah dan meriah, bernuansa serba biru muda ala princess Elsa.
"Aunty Nami,,,," teriak gadis kecil yang berlari ke arah Namira dan Emil, seorang gadis kecil cantik yang tak asing bagi Emil.
"Tita,,,," Namira menundukkan badan, berjongkok untuk menerima pelukan dari Tita yang tengah berulang tahun yang ke 3.
DEG
Emil mematung, di depan sana seluruh keluarga besarnya berkumpul dan melihat ke arahnya dengan raut tidak percaya.
__ADS_1
***