100 HARI MENIKAH

100 HARI MENIKAH
Bertengkar


__ADS_3

Sejak kepergian Emil dari rumah bersama Sexyola waktu itu, terhitung sudah satu Minggu dia sama sekali tidak pulang, aku tidak tahu bagaimana kabarnya, bagaimana keadaannya. Yang kutahu, ia bersama Sexyola, dan pasti wanita seksi itu menjaganya, merawatnya dengan baik.


Ingin rasanya aku menghubungi Emil, memintanya untuk pulang saja, karena aku merasa, kesepian. Tapi dia memblokir nomorku, dan aku tidak berani meminta bantuan Sexyola, atau dia akan menertawakanku, ada keinginan untuk menemuinya ke apartemen Sexyola saja, tapi tentu itu sangat tidak mungkin, untuk apa aku melakukannya? Meminta pada suamiku agar pulang ke rumah dan pergi dari rumah kekasihnya? Ya Tuhan,,,, itu sangat gila.


***


Aku keluar dari apartemen untuk pertama kalinya setelah mengurung diri selama satu Minggu, Laurent datang untuk membersihkan rumah yang sudah entah seperti apa rupanya. Semua kotor dan berantakan.


Aku ingin menghirup udara segar musim dingin Paris. Berjalan melewati trotoar tanpa memiliki tempat tujuan.


'Tin tin!'


Sebuah mobil bergerak pelan saat posisinya sejajar denganku yang tengah berjalan, kaca pintu mobil itu terbuka menampakkan seorang pria yang mengemudi di dalam sana. Ardhan.


***


"Jadi, suamimu pergi bersama wanita lain, dan dia belum pulang sampai sekarang?" tanya Ardhan mengulang kalimatku, lebih tepatnya memastikan apa yang ia dengar.


Bukan berniat membuka aib apalagi menjelekkan Emil, tapi saat Emil keluar dari apartemen bersama Sexyola, kebetulan Ardhan baru datang, melihat dengan mata kepalanya sendiri seorang pria bersama wanita yang keluar dari apartemen tempatku tinggal, Ardhan langsung menebak jika pria itu adalah suamiku. Dan untuk saat ini, aku memang membutuhkan seorang teman untuk bicara.


"Hem, hubungan kami memang tidak baik sejak awal," aku meminum bir yang Ardhan pesankan, kami duduk berdua, di sebuah cafe outdoor yang tempatnya Kunilai cukup menyenangkan.



"Kau tidak bahagia, Namira?"


"Aku berusaha,"


"Itu bukan jawaban yang tepat, kebahagiaan tidak bisa kau paksakan, itu murni datang dari dalam hatimu jika kau memang benar-benar merasa senang."


"Aku tidak terlalu peduli dengan itu, Ardhan, aku hanya ingin hidup dengan tenang," aku terus menunduk memainkan gelas bir saat menjawab obrolan dari Ardhan.


"Namira," Ardhan menyentuh tanganku, membawanya dalam genggaman, aku terkesima dan hanya diam, menatap Ardhan tanpa tahu harus bersikap seperti apa, ini terlalu membuatku terkejut, di saat perasaanku kalut, seseorang dari masa laluku datang menawarkan perdamaian.


"Jika kau membutuhkan seorang teman, aku akan selalu ada, jangan murung seperti ini, kau tidak seperti Namira yang dulu kukenal, aku ingin melihat Namiraku yang dulu, yang kuat, bahagia, dan ceria." Ardhan mengulas senyum tulus, dan aku hanya bisa mengangguk memberi tanggapan, lalu mengulas sebuah senyum yang dengan paksa kuterbuitkan, hingga netraku menangkap sosok itu, sosok pria yang tak kujumpai selama satu Minggu, berdiri agak jauh searah dengan punggung Ardhan.


'Emil!'


Refleks aku pun menarik tanganku yang hampir saja Ardhan menciumnya. Dan tentu sikapku itu membuat Ardhan kebingungan.


"Namira, are you okay?"


"Ooh,,,, i-i i iya." aku kembali tersenyum palsu, lalu melihat Emil yang masih berdiri di sana, tak ada Sexyola, hanya beberapa pria berada di sekelilingnya dengan membawa berkas, sepertinya Emil sedang bekerja.


"Ardhan, bisakah kita pulang sekarang?"


Ardhan terdiam beberapa saat sebelum akhirnya ia mengangguk setuju.


"Tentu,"


Kami berdiri lalu pergi dari sana, sesekali aku masih menoleh ke belakang melihat Emil yang masih terus menatap ke arahku dengan raut muka datar.


***


Sudah pukul 5 sore, namun pekerjaan Laurent masih belum selesai, setumpuk bajuku yang belum disetrika menjadi pekerjaan terakhir yang harusnya Laurent selesaikan. Yah, aku bermalas-malasan satu Minggu ini, tanpa mencuci bajuku sendiri seperti yang biasa kulakukan, dan meminta Laurent untuk mencucinya, namun setelah menangkap gelagat aneh dari wajah Laurent, aku pun bertanya padanya.


"Ada apa Laurent? Kau baik-baik saja? Apa kau sangat lelah? Kalau lelah, istirahat saja dulu sebentar, setrikaanya dilanjutkan lagi nanti,"


"Bukan begitu, Nyonya. Tapi, sebenarnya saya sudah ada janji malam ini, takut tidak keburu jika harus menyelesaikan menyetrika baju Nyonya." Itu yang Kusuka dari Laurent, dia wanita yang terbuka dan apa adanya.

__ADS_1


"Janji?" aku mengernyit, mendekat ke arahnya yang berdiri di depan meja setrikaan yang berada di ruang tamu.


"Iya, Nyonya. Aku ada janji kencan,"


"Puuff,,,," tawaku hampir pecah, Laurent menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Okay, tinggalkan pekerjaanmu, dan pergilah bersenang-senang."


"Sungguh Nyonya?"


"Hem,,,,!" aku mengangguk sambil tersenyum tulus, mengambil alih setrikaan dari tangannya, lalu dengan gerakan secepat kilat Laurent menyambar tas miliknya, membuka pintu utama.


'Klak!'


Laurent berhenti, ia nampak terpaku sebelum akhirnya ia beringsut mundur.


"Kenapa Lau,,,,?" kalimatku terhenti kala kulihat Emil datang memasuki rumah.


"S-sa saya permisi, Nyonya. Tuan. Selamat sore." Laurent kembali melangkah keluar dari apartemen, menutup rapat pintu utama, meninggalkan aku yang masih mematung mendapati kedatangan Emil yang tak kusangka.


Dia pulang.


Emil terlebih dulu memutus pandangan mata kami, menghela nafas kasar, lalu duduk pada sofa, dan kembali menatapku. Dalam.


"K-ka kau, kau pulang!" aku merasa gugup.


"Iya, kau tidak senang?" Emil tak memberikanku kesempatan menjawab, ia kembali angkat bicara.


"Aku kembali ke rumah untuk sekedar melihat suasana," Emil menoleh ke kiri dan ke kanan, seolah ia tengah mencari sesuatu.


"Tapi sepertinya aku tidak beruntung, atau kau yang bermain cukup pintar,"


"Apa maksudmu?"


"Kenapa? Kau berpura-pura menjadi wanita lugu di hadapanku sekarang?"


"Katakan dengan jelas karena aku sungguh tidak mengerti." aku menatap Emil tajam, hatiku terasa sakit tiba-tiba, menduga jika Emil berpikir yang bukan-bukan tentang diriku.


"Hah," Emil tersenyum sinis, sebuah senyuman ejekan.


"Baiklah, kuakui kau memang bermain lebih baik dariku, Nami. Kau berkencan bebas di luar sana dan tidak membawa priamu pulang, apa kau menikmati permainannya? Apa dia lebih baik dariku?" seketika mataku terasa perih dan berair, aku menelan saliva susah payah, ternyata benar, Emil berpikir jika aku berhubungan dengan pria lain di belakangnya setelah melihatku bersama Ardhan di cafe tadi siang.


"Apa kau sangat menyukainya? Sampai kau tak bersedia untuk kusentuh? Apa miliknya lebih baik dariku?"


"Diam, Emil!" bentakku tidak tahan, air mataku berlinang tapi aku tetap berusaha tegar.


"Hentikan omong kosongmu, itu. Aku bukan wanita seperti itu."


"Lantas kau wanita seperti apa?" Emil berdiri, berjalan ke arahku.


"Bukankah kita berdua sama-sama tahu kau itu wanita seperti apa?"


"PLAK!"


Satu tamparan keras kudaratkan di pipinya, hingga pipi Emil memar dan bahkan telapak tanganku sendiri terasa panas usai menamparnya.


Emil tersenyum jahat sambil mengusap pipinya kasar.


"Tadinya aku ingin mengajakmu naik ke atas ranjang, dan kita bersenang-senang, tapi kurasa aku urung melakukannya, aku tidak mau menyentuhmu tanpa tahu apakah ada be.nih pria lain yang sudah tertanam di dalam rahimmu dan kau akan mengakui janin itu sebagai anakku nantinya."

__ADS_1


Tanganku mengepal erat menahan agar aku tak melayangkan pukulan kedua. Jantungku berdegup kencang dan hatiku berdebar-debar, mataku banjir dengan bibir yang bergetar, merasakan begitu istimewanya sakit yang kurasa.


"Katakan padamu, Nami. Apa kau pernah tidur dengannya?"


DEG.


Tanganku yang mengepal gemetar, dan kepalaku menunduk, ada rasa malu yang teramat besar, juga rasa sakit yang mendasar, pertanyaan Emil terdengar seperti sebuah peluru yang menembus jantung hingga membuat tubuhku hilang kekuatan.


"Kenapa diam saja? Kau tidak berani berkata jujur padaku?"


Emil meraih daguku, mendongakkan kepalaku hingga wajahku terangkat dan menatapnya, kami saling menatap sama dalam.


Haruskah aku mengatakan yang sebenarnya?


"Katakan," suara Emil terdengar pelan.


"Apa kau pernah tidur dengannya?"


"Iya, aku pernah tidur dengannya!" jawabku tenang diiringi buliran bening yang luruh, menatap Emil tanpa berkedip. Bukankah aku memang pernah tidur dengan Ardhan? Bahkan dia pria pertama yang menyentuhku, tapi itu dulu, sebelum aku bertemu Emil.


Kurasakan cengkraman jari Emil pada daguku mengeras sesaat sebelum akhirnya ia melepaskannya, tersenyum sinis lalu menggeleng.


'Aku tidur dengannya sebelum aku bertemu denganmu, dan aku tak pernah disentuh pria manapun setelah kita bertemu.' ingin rasanya aku mengatakan itu andai egoku tak membuat benteng pertahanan, mengingat kalimat-kalimat hinaannya barusan yang ia katakan.


"Tapi,,,, bukankah kita sudah memiliki perjanjian, Emil? Tidak ikut campur urusan pribadi pasangan, kau sendiri yang mengusulkan poin pertama perjanjian kita itu, apa kau lupa?" Emil menatapku tajam. Aku memutuskan untuk berusaha kuat menghadapi Emil yang kejam.


"Aku bisa memberitahumu ulang jika kau mau. Agar kau menjaga batasanmu, karena aku juga menjaga batasanku selama ini, apa aku pernah ikut campur dengan urusan pribadimu selama ini?" rahang Emil mengeras, matanya yang tadi menatap tajam mendadak sayu dan terlihat merah.


"Aku bahkan tidak pernah peduli berapa ja.lang yang sudah kau ajak bersenang-senang, jadi kenapa sekarang kau meributkan seorang teman priaku?"


"BRAK!" Emil yang melakukanya, meja setrikaan ia tendang hingga rubuh. Aku sempat terkejut dan menegang, namun berusaha keras agar tetap bisa tenang.


Emil pergi meninggalkanku masuk ke dalam kamarnya setelah ia puas merendahkanku, dan aku tak bisa melakukan apapun lagi selain hanya memejamkan mata menikmati luka begitu parah yang Emil cipta. Hingga buliran-buliran bening air mataku lolos dengan bebasnya.


***


"Tadinya aku ingin mengajakmu naik ke atas ranjang, dan kita bersenang-senang, tapi kurasa aku urung melakukannya, aku tidak mau menyentuhmu tanpa tahu apakah ada be.nih pria lain yang sudah tertanam di dalam rahimmu dan kau akan mengakui janin itu sebagai anakku nantinya."


Kalimat yang Emil ucapkan dengan nada sindiran itu selalu terngiang memenuhi kepala.


Aku merasa begitu rendah di hadapan Emil, kesalahan yang dapat dijadikan pelajaran bagi semua perempuan, untuk tidak begitu mudahnya membiarkan siapapun lelaki yang akan menyentuh tubuhnya meski mereka saling cinta sekalipun jika tanpa ikatan pernikahan, karena martabat kita sebagai perempuan sangat dipertaruhkan sampai kapanpun. Dan aku sudah merasakan betapa buruknya itu.


...[Malam memang tenang, tapi tidak dengan pikiran,] sebuah status terbaru yang ku update, bukan berniat mengumbar, tapi hanya ini yang bisa kulakukan untuk mengurangi beban....


Aku keluar dari kamar setelah merasa puas menangis. Pintu kamar Emil tertutup rapat, entah ia di dalam, atau pergi. Aku tak ingin lagi peduli. Yang jelas, ia tidak ada di dapur saat aku mengambil air minum, dan juga ruang tamu.


Melihat tumpukan baju yang semalam tidak jadi kusetrika. Aku pun menghampirinya dan melanjutkan pekerjaan. Ya Tuhan,,,, untung saja meja ini tidak patah, meja yang Emil tendang kasar. Kuangkat lalu kurapikan kembali.


"Hooaaamm!" Baru kusadari jika semalaman penuh aku tidak tidur sama sekali, hingga malam berganti pagi, dan baru menyetrika dua baju saja, aku sudah menguap karena mengantuk, Ini lebih parah dari hari-hari sebelumnya.


'Ibu,,,, ayah,,,, aku rindu rumah.'


Aku melamun memikirkan ibu dan ayah saat menyetrika, hingga tak kudengar bel pintu yang terus berbunyi, dan Emil keluar dari kamar menuju pintu utama untuk membukanya.


"Surprise.....!"


Suara teriakan itu mengagetkanku, dan aku sontak menoleh ke arah pintu.


Sial, Carol dan Aretha datang.

__ADS_1


***


__ADS_2