
"Kita akhiri saja hubungan kita, aku sudah memikirkan semuanya, berhenti saling menyakiti, dan kita jalani hidup tanpa saling mengenal."
Hening, tubuhku lemas mendengar sederet kalimat itu.
"Aku akan mengurus semuanya, kau berhak bahagia, dan aku sadar aku tidak sanggup memberikannya, kau tidak bahagia hidup bersamaku, aku hanya menyakitimu, semakin hari kau hanya semakin tersakiti olehku. Kau boleh pergi dariku sekarang, aku melepasmu."
"Emil, apa yang kau katakan?" suaraku bergetar dan tubuhku gemetar, bukan ini yang kumau, aku mencarinya untuk memperbaiki semuanya, untuk memperbaiki hubungan kami, bukan untuk berpisah.
"Emil, kumohon tarik kembali kata-katamu, jangan mengambil keputusan saat kau sedang kalut, kita pulang, kita bicarakan ini baik-baik di rumah." aku membujuknya, berharap Emil akan mendengarkanku.
"Maaf, karena telah memberikanmu begitu banyak luka selama kita bersama, aku tahu aku salah. Maafkan aku!"
"Emil,"
"Ayo kita pulang, kau terlihat buruk saat ini." Emil menyentuh kedua pundakku, lalu menggandeng tanganku dan kami berjalan beriringan keluar dari tempat itu.
Emil,,,, aku menangis mengikuti langkahnya dari belakang. Emil sudah memberikan keputusannya, dia akan melepaskanku. Kami akan berpisah.
***
Kami pulang ke rumah mengendarai mobil masing-masing, tapi dari kaca spion bisa kulihat mobil Emil mengikutiku di belakang.
Emil,,,, aku mencintaimu, tidak bisakah kita tetap bersama dan memperbaiki semuanya? Apakah perpisahan adalah jalan satu-satunya? Ya Tuhan,,,, aku sangat mencintai Emil.... Jangan biarkan aku kehilangan dia.
Sepanjang perjalanan aku terus menangis, berpikir bagaiamana cara agar aku bisa mempertahankan pernikahan kami, aku tidak ingin kehilangan Emil, jadi, haruskah aku memohon, meminta dan berlutut di kakinya agar dia tetap mempertahankanku sebagai istrinya? Agar dia tak meninggalkanku?
***
Aku berdiam diri di dalam mobil saat kami sudah sampai di rumah, air mataku tak mau berhenti padahal aku sudah mencoba menahannya, mereka terus luruh satu per satu seiring hatiku yang bergemuruh. Hidupku pasti hancur jika aku dan Emil benar-benar berpisah.
Emil menghampiri, mengetuk kaca pintu mobil memintaku untuk membukanya. Kulakukan. Pintu terbuka dan aku keluar.
"Berhenti menangis, aku tidak suka melihatnya," Emil mengusap air mataku, mengusap wajahku yang basah dan berantakan.
"Emil, kita tidak akan bercerai, kan? Kau tidak akan melepasku begitu saja, bukan? Kau,,,," kalimatku terjeda karena aku sesenggukan.
"Kau mengatakan itu hanya karena emosi, katakan padaku jika kita akan tetap bersama!" aku menunduk dalam, menangis pilu.
Emil diam, tapi bisa kudengar dia yang menghembuskan napas dalam, dadanya sendiri pasti terasa sesak.
"Aku tidak bisa membahagiakanmu, Nami. Selama kita bersama aku hanya membuatmu menangis, memberikanmu luka, kita saling menyakiti saat kita bersama. Mengakhiri semuanya adalah pilihan terbaik, kau bisa terlepas dari pria breng.sek dan tidak bertanggung jawab sepertiku. Kau," Emil menjeda, menarik napas dalam lalu menghembuskannya.
"Kau berhak bahagia, bersama pria yang lebih pantas untukmu, aku bukan lagi Emil yang kemarin, aku,"
__ADS_1
kutatap dalam manik Emil yang basah dan merah, aku ingin memeluknya, tapi kenapa begitu susah?
"Aku akan keluar dari perusahan O'clan. Aku akan mengawali hidupku dengan caraku sendiri,"
"Emil,,,," lirihku perih, ya Tuhan, kenapa Emil bersikeras tetap ingin berpisah?
"Aku tidak bisa membawamu tetap bersama denganku. Kau akan menderita jika hidup denganku."
"Tapi,"
"Ayo masuk." Emil menggandeng tanganku membawaku masuk ke dalam rumah.
Saat ini jam sudah menunjukkan pukul 4 pagi. Dan nenek melihat kami yang hendak menaiki tangga ke lantai atas.
"Emil, Namira?"
Langkah kami terhenti, menoleh pada sumber suara yang berasal dari depan pintu kamar nenek.
Ya Tuhan,,,, tidak seharusnya nenek melihatku dalam keadaan seperti ini. Apalagi tadi aku sempat menenggak minuman, pasti dia bisa mencium bau alkohol dari tubuhku.
"Pagi buta begini, kalian dari mana?" ucap Nenek sambil menutup penciumanya.
"Kalian minum? Pulang dari pesta?" cerca nenek menatap kami bergantian.
Aku hanya menunduk, takut.
"Ada apa, Mom?" tanya Daddy pada Nenek.
"Lihatlah anak-anakmu!" seru nenek menatap kami tajam penuh tanda tanya.
"Ada apa dengan kalian? Kenapa kalian diam saja?" itu suara Mommy, kakak kandung ibuku.
"Aku akan menceraikan Namira!"
"DEG!"
Sontak aku melihat ke arah Emil yang menatap lurus ke depan tanpa titik yang pasti, air matanya menetes membasahi pipi, begitupun denganku.
"Emil,,,," lirihku perih. Seriuskah Emil akan keputusannya? Sampai dia harus mengatakan ini secara langsung pada keluarganya?
"Apa yang kamu katakan Emil?" bentak Daddy. Jantungku berdegup semakin kencang, air mataku jelas tak mau berhenti.
"Jika kalian ada masalah, bicarakan semuanya dengan baik-baik," Mommy turut bicara.
__ADS_1
"Ada apa? Kenapa kau ingin menceraikan istrimu, Emil? Masalah apa yang membuat kalian seperti ini?" nenek berteriak lantang. Keutuhan keluarga adalah motto yang dijunjung tinggi oleh nenek.
"Pernikahan ini tidak pernah ada sejak awal," Emil angkat bicara, semua orang mendengarkannya, jantungku berdegup semakin kencang, apa yang akan Emil bicarakan?
"Kami hanya menikah kontrak, dan kami akan menyelesaikannya sekarang,"
"Emil? Apa yang kau katakan?" teriakan Daddy bersahutan dengan teriakan Nenek dan Mommy.
Aku? Aku kehilangan suaraku, hanya air mata yang tersisa.
"Namira?" Aretha datang, ia mendengar semua pembicaraan kami, begitupun Mr. CEO.
Aku hanya terdiam, apa yang bisa kukatakan? Jika Emil sudah mengatakan di hadapan seluruh keluarganya jika dia akan menceraikanku?
"Namira?" lirih Aretha saat ia sudah berada di dekatku. Memegangi pundakku.
"Ada apa? Kenapa kau diam saja?" Aretha terlihat sangat panik, sedangkan Mr. CEO menatap Emil tajam.
"Aku juga akan keluar dari O'clan Company."
"Emil?" teriak Daddy hampir memukul Emil andai Mr. CEO tak langsung menghalangi dengan memegangi tangan dan dada Daddy.
Hening dan mencekam. Setelah itu Emil pergi, berlari menapaki anak tangga menuju lantai atas dan masuk ke dalam kamarnya.
"Emil,,,, Emil,,,," teriak Daddy berkali-kali yang tak Emil tanggapi.
Aku menatap nanar punggung pria yang sangat kucintai itu sampai menghilang dari pandangan. Dan kini saatnya aku disidang.
"Ada apa dengan hubungan kalian, Namira?" Mommy Di membentakku, bertanya dengan nada marah seolah semua kesalahan adalah karena ulahku.
"Dari mana kau pulang pada jam segini? Dan jelas bau alkohol menguar dari tubuhmu." Mommy Di menghampiriku, berdiri di depanku, menarik bajuku yang memang tersiram minuman tadi saat Emil merebut botol dari tanganku.
"Namira, jelaskan." Daddy pun turut menyerangku, aku hanya diam, apa yang bisa kukatakan? Emil sudah mengatakan semuanya.
"Namira," suara Aretha melembut, aku menatapnya, pilu.
"Apa benar yang Emil katakan tentang pernikahan kalian? Kalian hanya menikah secara kontrak?" tanya Aretha hati-hati.
"Jawab Namira?" teriak Mommy Di emosi.
Kulihat mereka satu persatu, rasanya aku ingin mati saja sekarang, aku menunduk.
"B-be benar!"
__ADS_1
Hening.
***