100 HARI MENIKAH

100 HARI MENIKAH
Emil mulai cerita


__ADS_3

"Emil?" lirihku penuh tanda tanya.


"Bolehkah? Aku sangat merindukanmu."


DEG


Emil membelai wajahku lembut, menatap sendu setiap incinya, ia mengelus pipiku dengan mata yang berkaca-kaca.


"Maaf," lirihnya.


"Aku yang bersalah atas semua ini, atas semua yang terjadi sama kamu, maafkan aku karena telah menyerah, aku pikir, kamu akan bahagia jika kau terlepas dariku, tapi aku salah, kau justru mendapat perlakuan keji seperti ini."


Emil mengelus pipiku pelan, sangat lembut.


"Apa itu sakit?" ia mengelus pelan titik memar hasil karya Leonel.


"Hemm!" aku mengangguk menjawab, manja.


Kubiarkan air mataku lolos, aku tidak peduli lagi jika nanti Leonel melihat wajahku sembab. Aku tidak bisa menahan tangisku, hatiku bergetar dan aku ingin menangis di hadapan Emil.


"Maafkan aku!" lirih Emil penuh penyesalan, ia meraih kedua tanganku, mengecupinya posesif, sebuah ungkapan rasa rindu yang terpendam lama.


"Emil," aku memanggilnya agar ia kembali mendongak menatapku.


"Aku mencintaimu," ucapku tulus. Aku tahu ini salah, aku adalah istri orang sekarang, namun aku tak dapat membohongi diriku sendiri jika aku hanya mencintai Emil.


"Aku tahu, aku tahu. Aku juga hanya mencintaimu, kumohon. Mulai sekarang, percayalah padaku, jangan pernah ada ragu, aku hanya mencintaimu dan tidak ada yang lain."


Aku mengangguk antusias.


Emil merengkuh tubuhku, menjatuhkan kepalaku ke dalam dada bidangnya. Ia mengelus rambutku lalu berpindah pada pipi dan punggungku, aku tahu, Emil ingin menjamah seluruh tubuhku.


"Emil," Kudorong pelan dada Emil, pelukan kami terlepas, manik kami bertemu dan saling mengunci.


"Kau, dan Robin?"


"Aku akan menceritakannya nanti, sekarang kita tidak punya cukup waktu. Cup!"


Emil mengecup keningku, lama. Aku memejamkan mata merasakan cinta itu menyebar ke seluruh peredaran darahku.


"Namira," lirih Emil berat, netra kami saling bertemu, sorot mata yang lama kurindukan itu kini telah kembali. Sorot mata sayu.


Manik Emil bergerak ke atas ke bawah antara mata dan bibirku. Ia mengusap bibirku lembut dengan jempol tangannya. Lalu kuhisap jempol itu dan Emil mende.sah memejamkan mata. Aku sengaja.


"Bolehkah?" tanya Emil meminta ijin.


Aku mengangguk pelan. Emil mulai mendekatkan wajahnya padaku, mataku mulai terpejam, dapat kurasakan deru nafas kami yang saling bertabrakan, aroma mint yang sangat kurindukan kini berubah, karena Emil merokok, tapi aku suka. Berbeda namun lebih bergai.rah.


Bibir kami bertemu, Emil menautkan bibirnya dengan gerakan lembut memiringkan kepala, kedua tangannya menangkup pipiku, Emil,,,, salivanya sangat nikmat, aku membalas ciuman Emil, menautkan bibir kami lebih dalam.


Emil menyesap bibir bawahku, aku menyesap bibir atasnya, lidah kami saling bertemu dan membelit nikmat, kurasakan gelanyar aneh seorang wanita dewasa normal yang ingin.

__ADS_1


Emil terus memainkan lidah kami, menyesap, mengu.lum, menjelajah brutal seolah tak terpuaskan, atau karena ini sangat kami rindukan.


"Eennghh,,," le.nguhku saat tangan Emil sudah menangkup satu dadaku. Mengeluarkannya dengan mudah karena aku tak memakai bra, dan hanya sebuah dress kekurangan bahan. Dan satu lagi tangan Emil menelusup masuk dari bawah dress naik ke paha atas menyentuh area intiku.


"Emil,,,, aahh,,,," satu jari Emil masuk. Nikmat.


Deru napas Emil memburu, begitupun denganku yang terus mende.sah. Emil menggerakkan satu jarinya di dalamku yang sudah ba.sah.


Kepalaku mendongak ke belakang saat Emil mulai memainkan puncak choco chips itu, ia memilin, lalu memasukkannya ke dalam mulutnya.


"Aahh,,,, Emil,,,," de.sahku menggila dan aku semakin ingin.


Emil bergerak cepat membuka ikat pinggang dan resletingnya, tanpa melepas mulutnya dari dadaku. Aku siap, namun....


'Dok dok dok!'


Suara ketukan di kaca mobil membuyarkan kegilaan kami dan terpaksa kami saling mundur, merapikan diri masing-masing. Robin.


"S.h.i t.t!" umpat Emil sambil memukul jok.


Aku menatap Emil, sendu.


"Kau tenang saja. Ada aku," ucap Emil sambil mengelus pipiku, ia kembali mengecup keningku sebelum akhirnya kembali ke jok kemudi dengan cepat.


'Brak!'


"Maaf, sayang, sedikit lama!" Leonel datang sambil tersenyum cerah. Aku membalas senyumnya, jantungku masih berdegup kencang. Namun pandanganku menangkap leher Leonel yang terdapat tanda kiss.mark, padahal tadi belum ada.


Leonel merengkuh pinggangku agar merapat dengannya, lalu Emil melajukan mobil menuju tempat tujuan awal kami, tempat pesta.


***


Selama berada di pesta, Leonel terus merengkuh pinggangku, memperkenalkanku pada rekan-rekannya dengan bangga, seolah aku adalah barang berharga, istri yang sangat dicintainya.


Kami melakukan cheers, minum dan kembali ngobrol sambil bercanda.


"Tuan Leonel, Tuan Martin sudah menunggu anda." seorang pria berpakaian rapi menghampiri kami.


"Sayang, apa tidak masalah jika kau kutinggal sebentar? Atau kau mau ikut?"


"Tidak, kau pergilah,aku suka suasana di sini, sangat tenang."


"Baiklah, Robin akan menjagamu,"


"Hem, aku tahu!"


Leonel me.lu.mat lembut bibirku sebelum ia pergi bersama orang itu, dan aku menghela napas mendekat ke arah pantai, berjalan menyusuri tepi pantai dengan bertelan.jang kaki.


Sebelah tangan membawa gelas minuman, sebelah lagi membawa heells yang kulepas.


Aku tahu, di belakangku ada Robin yang mengikuti. Aku berjalan semakin menjauh dari lokasi pesta. Sengaja. Berharap jika Emil akan datang menemuiku.

__ADS_1


Namun cukup lama berjalan hingga lelah, Emil tak kunjung datang, aku berhenti.


"Robin,"


"Iya, Nyonya?"


"Di mana Emil?"


"Di mobil, Nyonya!"


"Jangan bercanda, Robin! Aku tahu kau berhubungan baik dengannya. Di mana Emil?" Dadaku naik turun karena kesal, Robin hanya menunduk menjaga pandangan.


"Kau sangat galak sekarang, Namira, tapi aku suka."


"Aahh,,,," de.sahku saat kurasakan sebuah kecupan di punggungku, dan tangan kekar Emil memelukku dari belakang. Entah dari mana datangnya. Dia menyelinap seperti hantu.


"Merindukanku, Nona?" Emil memutar tubuhku agar menghadapnya. Wajah tampannya, senyum manisnya. Dan, aromanya? Bvlgary?


Mataku menyipit, melihat penampilan Emil yang berubah, ia mengenakan pakaian formal mewah, setelan jas lengkap dengan sepatu mengkilat dan, tatanan rambut yang berbeda.


"Maaf, menunggu lama. Aku juga harus menghadiri pesta sebagai tamu undangan untuk menemui beberapa teman." ucap Emil membelai wajahku.


Aku tersenyum. Senang.


"Manis, dan cantik!" puji Emil.


"Robin!"


"Yes, Sir?"


Emil mengambil alih gelas dan heells yang ada di tanganku, kemudian ia berikan kedua benda itu pada Robin.


"Mau mendengar cerita?" tanya Emil yang langsung kujawab dengan anggukan.


"Ayo," Emil menggandeng tanganku menuju ujung pantai, di mana di sana ada bebatuan yang cukup tinggi untuk tempat persembunyian kami.


Deru ombak yang berkejaran menggulung oleh terpaan angin, menjadi musik pengiring kebersamaan kami, bias bulan purnama menjadi lentera kami, dan angin pantai yang hangat namun sejuk menjadi pendingin terbaik untuk kami.


Aku dan Emil duduk di pasir menghadap Pantai, aku menjatuhkan kepala di bahu Emil, dan tangan Emil melingkar di pinggangku, tangan satunya lagi saling bertaut dengan tanganku.


"Apa hubunganmu dengan Robin, Emil? Dan, bagaiamana kau bisa melamar menjadi sopir jika nyatanya kau bukanlah orang susah, bagaimana hidupmu setelah kau pergi meninggalkanku? Meninggalkan kami semua?" tanyaku lirih bernada manja.


Emil menghela napas kasar.


"Maaf,"


"Berhenti mengucapkan kata itu, aku tidak ingin mendengarnya sekarang. Aku hanya ingin mendengar penjelasanmu!"


"Hidupku kacau setelah keluar dari persidangan perpisahan kita." Emil memulai cerita.


***

__ADS_1


__ADS_2