100 HARI MENIKAH

100 HARI MENIKAH
Emil, jangan gila.


__ADS_3

Namira sudah memikirkan semua langkah yang akan dilakukannya selama di Paris, setidaknya dia membutuhkan waktu beberapa saat sebelum akhirnya ia akan memutuskan untuk kembali ke tanah air, mengatakan niat perpisahannya dengan Emil pada ibu, lalu menggugat Emil secara sah ke pengadilan. Tentu itu semua akan dilakukan secara diam-diam, karena pernikahan mereka pun hanya pihak keluarga saja yang tahu.


Hari ini Namira akan keluar dari rumah Sintia, menumpang satu hari satu malam di rumah orang yang tak dikenalnya terasa tidak enak, tidak nyaman.


"Kau sudah memutuskan akan tinggal di mana?" Ardhan membantu menyeret koper Namira keluar dari rumah Sintia, sedangkan Sintia mengekor saja di belakang mereka.


"Sudah, aku sudah memesan tempat, tidak mewah sih, tapi cukup bagus." Namira memang sudah mencari tempat tinggalnya sendiri melalui applikasi, dan dia menemukan sebuah apartemen yang pas untuk dirinya, yang sesuai dompetnya tentunya, apalagi saat ini dia belum bekerja, uang tabungannya juga harus ia irit, selain untuk kebutuhan pribadinya sendiri, ada ibu yang tiap bulan harus Namira kirim uang.


"Kenapa tidak tinggal di sini saja? Aku kan cuma tinggal seorang diri?" tanya Sintia ikut nimbrung.


Namira tersenyum, berhenti lalu memeluk Sintia.


"Terimakasih, tapi maaf, aku tidak bisa."


Sintia hanya mengangguk saja, padahal dalam hati, ia masih menyimpan banyak tanya yang belum sempat ia tanyakan. Namun Namira malah memutuskan untuk keluar dari rumahnya. Membuat jiwa keponya tak terobati.


"Baiklah kalau begitu, aku antar." Ardhan akan menghormati setiap keputusan Namira, selagi dia memilik kesempatan untuk terus mendekatinya.


"Terimakasih, Ardhan." mereka semua keluar dari rumah sederhana Sintia. Ardhan memasukkan koper Namira ke dalam bagasi, lalu membukakan pintu untuk Namira, dan dia sendiri pun masuk duduk di jok kemudi.


***


Di atas rooftop sebuah bangunan yang tidak jauh dari rumah Sintia, seseorang berpakaian misterius serba hitam dengan masker dan topi yang hampir menutup seluruh wajahnya, tengah mengintai pergerakan Namira dan Ardhan, menggunakan *s*py camera monoculer telescope zoom yang bisa melihat dari jarak jauh dengan sangat jelas, dan tersimpan dalam memori menjadi sebuah video.


"Tuan, Nyonya Namira bersama seorang pria keluar dari rumah itu, sepertinya mereka akan pergi dari sana, karena pria itu memasukkan sebuah koper ke dalam bagasi mobil." lapor pria misterius pada seseorang melalui sambungan telepon.


"Ikuti." perintahnya singkat.


"Baik," setelah mengangguk, pria misterius bicara pada seseorang melalui earphone.


"Ikuti," lalu ia sendiri pun bergegas pergi, untuk mengejar Namira yang terlebih dulu sudah dibuntuti oleh rekannya.


***


Emil menyewa jasa detektif untuk terus mengawasi Namira, sangat mudah baginya karena dia tahu Ardhan membawanya, jadi cukup dengan mengintai Ardhan kemanapun dia pergi, hingga Ardhan datang ke rumah Sintia dan para detektif yang disewa Emil bisa dengan mudah menemukan Namira.


'Aku tidak akan langsung memaksamu untuk kembali padaku, Nami. Aku tahu karaktermu sangat kuat, sekali tidak kamu tetap tidak, tapi aku akan terus berusaha sampai kamu mau memaafkanku.'


Emil berdiri, ia akan pergi ke rumah besar, karena seluruh keluarganya datang, dan semua sudah menunggunya, tapi tentu, dia tidak bisa langsung datang ke rumah besar tanpa membawa Namira bersamanya.


Emil menerima lokasi tempat Namira tinggal, sebuah apartemen kelas menengah yang berada di tengah kota, cukup dekat dari perusahaan Emil yang juga berada di tengah kota.


Emil mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi, hatinya berdebar-debar takut tidak bisa mengajak bicara Namira dari hati ke hati, atau bahkan tidak memiliki kesempatan sama sekali untuk bisa bicara dengannya.


Jika cara pertama tidak berhasil, terpaksa Emil menggunakan cara kedua, kembali melibatkan perjanjian bodoh tentang pernikahan kontrak-100 hari menikah-mereka untuk menjerat Namira, setidaknya masih ada waktu 15 hari. Dan Emil harus menggunakan waktu itu sebaik mungkin untuk kembali mendapatkan Namira, memperbaiki semuanya.

__ADS_1


***


'Ting tong,,,, Ting tong,,,,'


"Kita baru pindah, sudah ada tamu yang datang, apa kau mengundang teman?" tanya Ardhan yang meletakkan ayam panggang yang masih panas di atas meja makan.


"Jangan konyol, sudah kukatakan aku tidak memiliki teman siapapun di sini," Namira menaruh piring, dan bumbu.


"Lalu? Apa itu suamimu?"


Keduanya terdiam saling pandang, hati Namira bergejolak,disertai nyeri yang teramat perih.


"Apa kita harus membukanya?" tanya Ardhan lagi. Bel di depan terus dibunyikan.


"Mana mungkin Emil? Dia tidak mungkin tahu aku di sini, kan? Apa dia sehebat itu bisa mengetahui aku di mana saja?"


Namira melangkah keluar menuju pintu utama, saat tangannya hendak membuka pintu, geraknya terhenti, ia ragu, ia pun melihat dari lubang View door untuk memastikan siapa yang datang.


Petugas apartemen. Lega.


Namira akhirnya membuka pintu itu.


"Iya, ada apa, sir?" tanya Namira. Ardhan pun sudah berada di belakangnya.


"Bisa kita bicara?" seseorang muncul dari samping petugas apartemen. Emil.


"Maaf, Nyonya. Saya terpaksa melakukannya!" ucap petugas apartemen itu, kemudian ia berlari undur diri dari sana.


"Kau menggunakan kekuasaanmu, untuk melakukan apapun yang kau mau." ucap Namira menahan tangisnya, matanya sudah berkaca-kaca dan ingin menangis saja rasanya.


"Aku datang untuk menjemputmu,"


"Kita akan bertemu, tapi nanti, di pengadilan agama."


Namira hendak menutup pintu dan Emil menahannya dengan satu tangan kiri, gerakan santai namun tenaganya cukup kuat, mata Emil menatap tajam Ardhan seolah ingin mengulitinya.


Emil kini bisa memahami seperti apa sakit yang Namira rasakan saat dia mendapati Sexyola berada di rumah bersamanya, karena meski Emil meyakinkan hati jika Namira tidak akan melakukan apapun dengan Ardhan, nyatanya hatinya tetap begitu nyeri merasa sakit, panas karena cemburu, dan memikirkan, bagaimanapun Namira pernah sangat mencintai Ardhan, dia adalah pria pertama yang menyentuh Namira, dan mereka bahkan hampir menikah, memikirkan itu semua membuat Emil berpikir, mungkinkah Namira kembali jatuh cinta dengan Ardhan? Mungkinkah mereka kini tinggal bersama? Dan mungkinkah Namira dan Ardhan sudah melakukan 'itu'?


Emil memejamkan mata, membiarkan bulir bening membasahi pipi. Hanya dengan memikirkannya saja sudah begitu sakit, pantas jika Namira mengamuk padanya.


"Emil, lepaskan tanganmu, aku tidak ingin bertemu denganmu." Namira berusaha menutup pintu yang ditahan Emil.


"Karena kau sudah menemukan penggantiku?" lirih Emil sakit sambil membuka mata menatap tajam Namira.


"Terserah apa katamu, aku hanya ingin kita berpisah," Namira sudah menangis, dadanya sangat sesak, kenapa harus seperti ini? Dia begitu sangat mencintai Emil, begitu sangat merindukan suaminya, tapi kenapa sekarang semua hancur berkeping-keping? Kepercayaan, kebersamaan, hubungan.

__ADS_1


"Kau, keluar, atau aku menyeretmu!" tegas Emil pada Ardhan.


"Apa?"


Tanpa basa basi Emil mendorong daun pintu hingga terbuka lebar, membuat Namira tersentak dan setelah itu Emil menyambar kemeja Ardhan menarik lalu mendorongnya kasar keluar dari apartemen Namira, setelah itu ia menutup pintu rapat dari dalam dan menguncinya.


"Emil, apa yang kau lakukan?" teriak Namira takut.


"Buka pintunya? Namira,,,," teriak Ardhan sambil menggedor pintu dari luar.


Tak ingin menghiraukan siapapun, Emil mengangkat tubuh Namira, menggendongnya seperti karung beras menuju kamar.


"Emil, apa yang kau lakukan? Turunkan aku!" teriak Namira yang sama sekali tak dipedulikan Emil.


Rencana Emil untuk tidak memaksa Namira pupus sudah, saat melihat Ardhan berada di dalam apartemen bersamanya membuat Emil hilang kendali, apalagi Namira yang mengatakan terserah Emil mengatakan apa, yang jelas Namira ingin berpisah darinya membuat darah Emil semakin mendidih.


'Brak!'


Pintu kamar dibanting lalu dikunci rapat.


'Bugh!'


Giliran Namira yang Emil lempar ke atas ranjang, kilat emosi dan cemburu itu begitu jelas pada garis wajah Emil.


"Emil, apa yang kau lakukan? Aku tidak mau!'


Namira beringsut, namun Emil tak peduli, ia melepas kancing kemejanya, mulai dari kedua pergelangan tangan, hingga kancing depan bagian atas.


Namira menggunakan kesempatan itu untuk turun dari ranjang dan hendak berlari menuju pintu, namun dengan cepat Emil meraih tubuhnya, dan membantingnya lagi ke atas ranjang.


"Aaahh,,,," jerit Namira.


Emil bergerak cepat, melepas ikat pinggang, setelah itu ia menin.dih Namira, duduk di atas paha istrinya. Selain cemburu dan kesal, gairah Emil yang terpendam lama harus segera dituntaskan, hanya dengan mencium aroma tubuh Namira, seluruh saraf + di dalam tubuh Emil aktif seketika.


"Emil, lepaskan!" Namira mencoba berontak, namun justru kedua tangannya Emil ikat menggunakan ikat pinggangnya, lalu Emil paksakan tangan Namira mengarah ke atas hingga Emil berhasil mengikat di dipan ranjang.


"Emil," Isak tangis Namira pecah. Ia tidak mau melakukan ini dengan pemaksaan.


"Kau yang memaksaku melakukan ini, Namira, kau tahu? Aku tidak pernah sekalipun mengkhianatimu, aku tidak pernah sekalipun menyentuh Sexyola, kenapa kau tidak mau percaya?"


Namira tidak menjawab, keadaannya saat ini tidak mengizinkan Namira berpikir dengan jernih.


"Kau ingin memiliki seorang anak, bukan? Yang lucu seperti Tita? Atau yang tampan sepeti aku? Kita buat sekarang,"


"Emil, jangan gila, lepaskan!"

__ADS_1


***


__ADS_2