
POV Namira.
"Namira," Emil masuk ke dalam kamarku, ia melihatku yang masih tersungkur di lantai, menelisik wajahku yang kuyakin pasti babak belur oleh tangan ringan Leonel.
"Breng.sek. Dia memukulmu," geram Emil saat melihat luka-luka itu.
Sakit, tentu saja. Tapi aku tak begitu peduli atas luka yang kurasakan, kehadiran Emil yang menemuiku menjadi obat terbaik untukku saat ini.
"Aahh,,,,"
Emil mengangkat tubuhku, menggendong ala bridal membawaku ke ranjang. Ia membaringkanku sangat pelan seolah aku adalah barang paling berharga yang rapuh dan Emil tak ingin jika ia sampai menyakitiku.
"Namira, maaf karena aku terlambat." lirih Emil bernada sesal. Ia mengecup keningku dalam cukup lama. Aku memejamkan mata merasakan kasih yang Emil berikan.
"Sir, waktu anda tidak banyak," peringat Robin yang berdiri di ambang pintu.
Mereka memanfaatkan waktu luang yang ada untuk bisa menemuiku, aku tahu, situasi masih sangat kacau dan kami masih berada di mansion Leonel. Tentu kami tak dapat bertindak leluasa meski kami masih ingin lebih lama bersama.
"Aku pergi dulu, kau bersabarlah, akan kuhancurkan baji.ngan itu hingga ia merindukan kematiannya."
Aku diam mendengarkan. Emil mengusap air mataku yang kembali luruh.
"Aku mencintaimu, sangat, kita akan berjuang bersama untuk menyelesaikan ini semua, agar kita bisa bersatu kembali." Emil mengecupi tanganku.
Aku mengangguk menanggapi, setelah itu Emil mengecup keningku lebih lama. Dan dia lekas keluar menutup pintu kamarku, pergi bersama Robin.
***
Ini yang tak kumengerti.
Saat aku terbangun membuka mata, tiba-tiba aku sudah berada di dalam sebuah ruang yang berbeda, sebuah kamar tidur yang dominan dengan warna putih. Dan sebuah gaun tidur berwarna putih membalut tubuhku.
Aku turun dari ranjang, melihat sekeliling yang jelas nampak asing, kubawa langkahku mendekati jendela kaca, aku melihat keluar, kudapati hamparan laut luas yang begitu indah namun tak seindah yang kurasakan.
Apa yang terjadi, ada apa ini?
'Klek klek klek'
Pintu kamar dikunci.
"Siapa saja, tolong buka pintunya! Apa ada yang mendengarku? Buka pintunya!"
Aku terus berteriak sambil menggerakkan handle naik turun berusaha membuka pintu itu, namun hasilnya nihil. Aku dikunci dari luar, tanpa ada seorang pun bisa kumintai tolong.
__ADS_1
Aku bingung, panik, takut, kembali melihat sekeliling mencari sesuatu yang mungkin bisa kugunakan. Ponsel barang kali.
Tapi tak ada apapun, kamar ini sangat kosong, hanya ada satu ranjang dan sebuah pintu yang kuyakin itu kamar mandi.
Aku kembali berteriak, menggedor pintu, melolong histeris karena takut. Di mana aku? Kenapa aku di sini? Siapa yang membawaku ke mari?
Emil,,,, kau di mana?
Aku menangis duduk di lantai dekat ranjang, menekuk kedua kaki hingga lututku sejajar dada. Cukup lama dan belum ada orang yang datang. Hingga sinar matahari mulai meredup, dan senja berganti petang.
Aku melangkah menuju jendela kaca, langit benar-benar sudah hitam, tak ada seorang pun yang kudapati di tepi pantai laut itu. Hanya ombak yang berkejaran karena angin mendorongnya.
'Klak!'
Sontak aku menoleh ke arah pintu, seseorang membukanya.
"Rebecca?"
Rebecca, salah satu bodyguard kepercayaan Leonel yang cantik, seksi, tapi dia sangat kejam. Selain itu, dia juga salah satu partner gila Leonel untuk urusan se.lang.ka.ngan.
Masih kuingat jelas malam itu, saat Leonel meminta untuk bermain threesome denganku dan tentu aku menolaknya, lebih baik Leonel menembakkan peluruhnya memecah kepalaku dari pada aku harus melakukan tindakan gila seperti itu.
Leonel dan Rebecca bermain di hadapanku, dan aku tak bisa melakukan apapun selain mengumpat dalam hati, aku tak berdaya, kedua tanganku diikat dengan rantai pada kedua sisi dipan ranjang.
"Kau, kenapa aku di sini? Di mana ini? Kau yang membawaku kemari?" teriakku mendekat ke arahnya yang membawa nampan berisi makanan.
"Tentu Tuan Leonel yang memintaku, untuk apa aku repot-repot membawa wanita sampah sepertimu jika bukan Tuan Leonel yang memerintah."
"Leonel? Di mana dia? Kenapa dia membawaku ke mari? Di mana ini?"
"Kau cerewet sekali, aku masih heran, kenapa Tuan Leonel bisa sangat menyukaimu, apa yang dia lihat darimu? Padahal kau tidak lebih dari sebuah mainan yang,,,," Rebecca melirik tubuhku dari ujung kaki hingga kepala, sebuah tatapan merendahkan.
"Buruk!" lanjutnya memicingkan mata.
Aku tidak peduli dengan pendapat Rebecca tentang diriku, yang jelas, aku ingin keluar, aku ingin pergi dari sini. Aku ingin bertemu Emil.
"Aku mau pulang," tukasku yang ditanggapi sinis oleh Rebecca.
"Kau tidak bisa memerintah di sini. Dan kau tidak diizinkan keluar dari kamar kecuali Tuan Leonel sendiri yang datang," Rebecca melangkah menuju pintu, ia hendak pergi meninggalkanku.
Tidak, aku tidak mau dikunci lagi di dalam sini, aku bukan seorang tahanan.
Aku berlari meraih handle pintu dan kurasakan tanganku ditarik kuat lalu Rebecca menyentak tubuhku hingga aku terjerembab di atas lantai marmer yang dingin.
__ADS_1
"Jangan berpikir kau bisa kabur, lebih baik kau nikmati makan malammu, selagi aku belum memberikannya racun, kau tahu? Aku sangat ingin membunuhmu, tapi aku tidak bisa menyentuhmu karena Tuan Leonel bisa memotong tanganku. Dasar ja.lang!"
'BRAK!'
Tak ada yang bisa kulakukan, buliran bening kembali berlinang menatap sendu pintu kamar yang telah tertutup dan terkunci rapat.
Emil,,,,
***
Hari-hari berlalu, entah sudah berapa hari aku di sini, terkurung seorang diri dalam keheningan, hanya diam, menangis, melihat matahari senja tenggelam, dan ombak yang saling berkejaran dari kejauhan.
Tidakkah Emil akan datang menyelamatkanku? Atau Leonel menemuiku? Mungkin aku bisa bicara dan merayunya.
'Klak!'
Rebecca datang, bersama beberapa pria berpakaian rapi dan tas jinjing yang berada di tangan kiri.
***
"Tanda tangan di sini,"
Sebuah surat pernyataan, jika pada hari, tanggal, jam, dan waktu tersebut, aku dan Leonel tengah liburan bersama, menguatkan bukti yang pengacara itu berikan pada hakim di persidangan.
Entah bagaimana Leonel dan orang-orangnya melakukan semua ini, mereka bisa membuktikan jika video yang tersebar viral itu hanyalah sebuah editan. Dan kini, kesaksianku dibutuhkan sebagai penguat bukti, bahwa pada hari itu, Leonel bersamaku.
"Tidak, aku tidak mau!"
"DOOR!"
"Aahh,,,,"
Rebecca menembakkan satu peluruh melubangi dinding. Jantungku rasanya berhenti berdetak, bunyi keras dari senjata api selalu mengingatkanku akan darah yang bersimbah di lantai kamarku saat Leonel membunuh pengawalku waktu itu.
"Kau pilih saja, setujui surat pengakuan itu, atau nyawa Robin yang kali ini akan melayang atas tanggung jawabmu,"
DEG.
Rebecca menunjukkan layar ponselnya, sebuah sambungan video call, wajah Robin babak belur, matanya tak dapat lagi terbuka, darah mengalir membasahi wajahnya. Ia berlutut di atas lantai dan seseorang memegangi tubuhnya dari belakang.
"Halo, istriku sayang! Apa kabar?"
DEG.
__ADS_1
***