
Aku hanya duduk terdiam pada sofa panjang Club yang setiap malam kudatangi, Sexyola menjadi teman setia yang selalu menemani malam-malam kelamku.
Yah, hidupku berubah setelah aku menikah dengan Namira, tidak bahagia, aku tidak tahu apa yang sebenarnya kurasa, benarkah aku tidak mencintai gadis cerewet itu? Benarkah aku tidak menginginkannya? Benarkah aku tidak bahagia telah menikah dengan Namira?
"Kau yakin tidak mau turun?" Sexyola mengalungkan kedua tangannya manja ke belakang leherku, ia mengajakku untuk turun berdansa, tapi aku menolak dan hanya minum. Aku menggeleng sebagai jawaban.
"Uffhh,,,, baiklah, duduk saja seperti batu dan aku akan bersenang-senang," Namira menarik seorang pria begitu saja dengan mudah dan pria itu langsung mengikutinya, siapa yang bisa menolak pesona wanita se seksi Sexyola, selain diriku.
***
"Apa kau yakin akan menahan diri sampai kau bisa menyentuh Namira?" itu obrolan ku dan Sexyola pada malam lain saat kami di Club.
Sexyola mengajakku untuk ber.cinta, namun aku menolaknya, bukan hanya dia saja, aku menolak semua wanita yang pernah menjadi teman ranjangku, entah mengapa saat mereka mendekatiku, yang terbayang di kepalaku justru Namira, dan saat mereka menyentuh juniorku, bukannya bangun, aku malah merasa risih dan ingin cepat pulang agar bisa segera bertemu Namira.
Setiap malam aku pergi ke Club, hubunganku dan Namira cukup dingin, membuatku tidak tahan jika aku harus berdiam diri saja di rumah, dan baru pulang saat larut malam. Berharap cara itu cukup efektif untuk mengembalikan diriku yang lama, namun aku salah, aku telah kehilangan jati diriku sendiri sejak mendengar penolakan Namira atas diriku. Namira yang menolak menikah denganku.
Kau tahu bagaimana perasaanku setibanya di rumah? Aku selalu ingin menggedor bahkan mendobrak pintu kamar Namira, lalu mengatakan padanya jika aku merindukan dirinya. Aku ingin memeluknya, aku ingin tidur dalam pangkuannya, aku ingin Namira membelai rambutku, memainkan hidung dan mataku yang terpejam dalam pangkuannya. Aku ingin itu, tapi aku sadar aku tidak bisa mendapatkannya.
Hanya foto pernikahan kami yang ku taruh di atas nakas sebagai obat bertemankan sepi. Dan foto-foto seksi Namira yang kuambil dari laman Ig-nya sebagai bahan saat aku bermain solo, yah, aku pria dewasa sang mantan cassanova yang butuh pemuasan, dan hanya cara ini yang bisa kulakukan, bermain solo setiap malam dengan foto Namira yang kusimpan pada galeri ponsel dalam genggaman sebagai bahan tugas de.sahan. Ah,,,, katakanlah aku gila. Aku terima.
Setiap pagi keributan antara aku dan Namira tak terelakkan, apalagi jika bukan karena tisu-tisu bekas pemuas naf.su yang Namira sebut sebagai hasil karyaku, calon anak-anakku yang terbuang sia-sia, padahal seharusnya mereka bisa saja jadi presiden, menteri, dokter, tentara, polisi, atau pun sultan. Mendengar Namira berceloteh seperti itu membuatku geli, tapi sangat menyenangkan.
Kenapa harus marah? Aku melakukannya saat ingin, dan aku tertidur begitu saja setelah puas, itu normal bagi semua pria, bagaimana aku bisa sempat membersihkan tisu-tisu sialan itu? Lagi pula Namira lah yang harusnya disalahkan dalam masalah ini, dia yang membuatku tersiksa dalam penderitaan. Andai ia mengijinkanku untuk memperbaiki keadaan. Agar kami bisa dekat kembali seperti dulu, tapi kalimatku yang merendahkannya waktu itu Namira simpan lekat dalam memori ingatan. Sangat sulit untukku bisa menembus pertahanan yang Namira ciptakan.
"Bersikaplah baik padanya, mungkin dengan begitu suatu saat nanti hati Namira akan terbuka, dan dia akan mencintaimu kembali," saran Sexyola setelah aku berkeluh kesah. Dan tentu aku menjalankan usulannya.
Hal pertama yang kulakukan setelah hampir satu bulan kami tak saling bicara dengan baik adalah, aku masuk ke dalam kamarnya, kulihat Namira tengah menikmati minuman di balkon kamar, kurasa Namira sering melakukan ini, menikmati pemandangan malam kota Paris bertemankan bir.
__ADS_1
"Apa lagi sekarang?" tanya Namira ketus.
"Tidak ada, aku hanya ingin datang,"
"Minum? Aku yang traktir." lanjutku kemudian, berharap Namira menerima tawaranku dan kami bisa menjalin hubungan lebih baik.
"Tidak, terimakasih. Aku ingin tidur cepat karena besok aku mulai bekerja, jadi silahkan keluar dari kamarku dan biarkan aku beristirahat dengan tenang."
"Kerja?"
Well, dia mengabaikanku dan bahkan mengusirku keluar dari kamarnya.
***
Pernah pada satu malam, kudapati Namira berada di dalam kamarku, ia mencariku untuk meminjam ponsel, katanya, dan aku memberikannya begitu saja. Tapi bodohnya Namira yang tak bisa membuka ponselku karena tidak tahu kunci sandinya, padahal sandi itu adalah tanggal pernikahan kami. Ah, aku terlalu percaya diri berharap Namira menganggap jika hari pernikahan kami itu adalah hari yang istimewa.
***
Aku akan pergi ke Singapura untuk urusan bisnis, Sexyola bersamaku, aku ingin berpamitan dengan baik pada Namira, tapi wanita itu tampak acuh dan mengabaikanku, ia bahkan hanya berhem ria dari dalam kamarnya saat aku memanggilnya dari luar pintu memintanya untuk makan malam, dan mengatakan jika Laurent akan menemaninya selama aku pergi sampai aku pulang, hening, Namira mengacuhkan ku dan tidak memberikan tanggapan. Dia tidak peduli meski aku akan pergi.
Aku melakukan penerbangan dengan hati yang hampa, selama dua hari di Singapura, hanya Namira yang memenuhi isi kepala, aku sama sekali tidak fokus pada pekerjaan, untunglah ada Sexyola yang membantuku. Menangani semuanya.
Setelah semua pekerjaan usai, aku memutuskan untuk melakukan penerbangan lebih dulu, sedangkan Sexyola masih ingin berbelanja dan bersenang-senang, aku sudah tidak sabar ingin pulang dan bertemu dengan Namira, aku bertekad, akan menyatakan perasaanku padanya nanti saat setibanya di rumah, aku tidak tahan, aku merindukan Namira dan aku mencintainya. Aku ingin memperjuangkannya. Kau tahu bagaimana perasaan seperti itu? Mencintai seseorang dalam diam, merindukannya dalam kesedihan, ah,,,, malangnya nasibku.
Rencana tinggallah rencana, bahkan pesawat ini seolah ingin mencegahku sampai di rumah dengan selamat, penerbangan mengalami kecelakaan karena kendala teknis pesawat, untunglah kami bisa mendarat dengan baik, meski mengalami beberapa luka, turut berduka bagi ketiga korban yang dinyatakan meninggal dunia sebab benturan parah pada kepala mereka.
Kami semua dilarikan ke rumah sakit City Hospital. Dan di sinilah hatiku merasa hancur sehancur-hancurnya, saat semua pasien di datangi keluarga mereka, orang-orang terkasih, aku hanya seorang diri bertemankan sepi, tak ada sesiapa, bahkan Namira yang sangat kuharapkan kehadirannya pun sama sekali tak menampakkan batang hidungnya.
__ADS_1
Salahkah jika aku kecewa? Aku baru saja bersilaturrahmi dengan maut, dan tak ada yang menyambut keselamatanmu. Setidak peduli itukah kau Namira pada diriku? Bahkan meski aku mati?
"Emil?" Stevia, salah satu mantanku yang berprofesi sebagai Dokter, dulu dia pernah meminta untuk kami menikah, dan tentu rencana itu urung dilakukan karena aku tidak bisa berhenti berpetualang.
Namun saat kami bertemu kembali setelah sekian lama, Stevia mengesampingkan sakit hatinya, ia mengatakan jika ia rindu, dan mengecup bibirku begitu saja, aku yang sempat kaget membiarkannya sebelum akhirnya aku sadar jika itu salah, aku hanya menginginkan Namira, dan aku ingin berubah. Aku tidak ingin berselingkuh di belakang Namira meski pernikahan kami hanyalah pura-pura.
"Stevia, jangan begini, aku tidak mau kau salah paham, aku sudah menikah." ucapku mendorong pelan bahu Stevia agar berhenti menciumku.
"Menikah?"
Aku mengangguk.
"Baiklah," Stevia mundur, dia meraih beberapa alat medis untuk mengobati lukaku, dan kembali bicara mengenai ucapanku sebelumnya yang mengatakan aku sudah menikah.
"Kau mencintai istrimu?"
"Iya, aku mencintainya."
"Lantas, di mana dia? Kenapa dia tidak datang menemuimu di sini? Kau adalah korban kecelakaan penerbangan, apa dia tidak mengkhawatirkan suaminya?"
"Aku mengatakan jika aku yang mencintainya, tapi tidak dengan dia, dia tidak mencintaiku, bahkan,,,, dia membenciku."
***
****
Mohon posisikan diri sebagai salah satu tokoh, yang tidak mengetahui perasaan tokoh lainnya, kalau kita memposisikan diri sebagai pembaca ya enak banget, tinggal bilang aja kalau cinta, karena kita tahu mereka sama-sama cinta. Tapi bagaimana ketika posisi kita sebagai salah Satu tokoh yang benar-benar tidak mengetahui perasaan orang lain terhadap kita. Pasti kita akan berpikir ribuan kali untuk menyatakan cinta. Apalagi kita yang sudah pernah terluka dan kecewa, mau menerima begitu saja juga pasti ragu. π₯Ίπ₯Ίππ
__ADS_1
POV Emil masih 1 bab lagi ya.... Setelah itu kembali normal. βΊοΈπ Terimakasih semuanya..... πππ