100 HARI MENIKAH

100 HARI MENIKAH
Roti


__ADS_3

POV Namira.


Gundukan tanah merah yang masih basah dengan hiasan berbagai macam kelopak bungan segar itu kini telah menjadi tempat peristirahatan terakhir ayah.


Setiap yang bernyawa pasti akan menemui ajalnya kapanpun dan bagaimanapun caranya, namun, bolehkah aku jika merasa kecewa karena aku tak berada di samping beliau di saat-saat terakhirnya? Atau sebenarnya malam itu, beliau benar-benar datang menemuiku sebelum akhirnya pergi untuk meninggalkan dunia selamanya.


Aku tidak tahu harus bagaimana, kepulanganku yang kurencanakan penuh suka malah berselimutkan duka yang menorehkan luka yang menganga. Aku telah kehilangan sosok yang membuatku jatuh cinta untuk pertama kalinya, sosok pria yang menuntun tanganku saat aku mulai belajar melangkah, sosok pria yang menjadi perisai pelindung saat ibu membawa sapu untuk mengejarku dan memukulku setiap kali aku salah.


Aku melamun di dalam kamar melihat foto berukuran sedang yang terbingkai dalam figura lama yang saat ini berada dalam genggamanku. Ayah terlihat sangat tampan dan gagah dengan balutan kemeja putih berpadukan celana jeans biru.


Semua kenangan serasa berputar dalam pikiran, tentang masa kecilku, kelulusan sekolah, sampai aku bekerja, sosok ayah selalu ada untuk menemani dan mendukungku.


Aku masih terus menangisinya hingga aku lelah dan terlelap sambil memeluk bingkai foto lama itu.


'Ayah,,,, maafkan putrimu, aku mencintaimu dan merindukanmu.'


***


Saat aku mulai membuka mata, lamat-lamat netraku menangkap sosok pria yang menjadi cinta sejatiku menggantikan tanggung jawab ayah terhadap diriku, Emil, suamiku.


Ia nampak gelisah, berjalan mondar-mandir sambil memegang ponsel yang ia tempelkan di telinga, seperti tengah melakukan pembicaraan serius kepada seseorang di seberang sana, namun belum sempat aku menyapa, ia justru sudah mendapatiku terlebih dulu yang telah bangun.


"Sayang, kau sudah bangun?" Emil segera menutup ponselnya, memasukkan benda pipih itu ke dalam saku celana, lalu berjalan menghampiriku yang duduk di atas ranjang dengan bersila, dan dia duduk di tepi ranjang menghadapku.


"Selamat pagi, bagaimana tidurmu? Nyenyak? Kau butuh sesuatu? Akan aku ambilkan air putih, kau pasti haus." Emil hendak berdiri namun aku dengan cepat meraih tangannya, lalu menariknya pelan, dan Emil kembali duduk di tepian ranjang.


"Jangan kemana-mana, aku tidak butuh apa-apa. Aku hanya ingin kamu yang selalu ada di sisiku, aku hanya butuh kamu." lirihku manja melingkarkan kedua tangan di pinggang Emil, dan memasukkan wajahku ke dalam dada bidangnya yang beraroma bvlgary. Aroma yang menjadi canduku, aroma yang menjadi kebanggaanku dan mampu membuat desiran darahku mengalir lebih cepat.


Emil membalas pelukanku dengan hangat, mengelus rambutku, lalu mencium keningku. Aku merasa sangat senang, dibalik rasa sedih atas kehilangan ayah, Tuhan mengirimkan Emil sebagai suami terbaik, pengganti ayah untuk menjagaku, mencintaiku, manyayangiku dan merawatku.


"Sayang, apa kau sudah memaafkanku?" tanya Emil terdengar pilu. Aku tahu, dia pasti merasa bersalah karena telah merahasiakan kematian ayah dariku kemarin, namun aku mencoba mengerti posisi Emil waktu itu yang memang serba susah. Dan tentu aku tidak menyalahkannya. Aku hanya merasa kecewa, mungkin pada takdir, atau pada diriku sendiri, entahlah, karena aku hanyalah manusia biasa.


"Aku tidak perlu memaafkanmu, sayang, karena kau tidak bersalah." jawabku.


"Kau tahu? Aku sangat takut, kau akan marah, membenciku lalu kau pergi meninggalkanku, aku terus memikirkan itu sejak lama, aku sangat takut kehilangan kamu," Emil memberikan pelukan yang lebih erat, seakan menegaskan bahwa apa yang dikatakannya adalah kebenaran, dan aku mempercayai itu.


"Aku sangat senang, terimakasih sudah mencintaiku, aku tidak bisa hidup tanpamu, kedengarannya mungkin kekanakan, tapi aku sungguh-sungguh, aku sangat mencintaimu, jadi aku tidak akan pernah pergi darimu, Emil. Meski kau menyuruhku bangun pagi, memintaku membuat sarapan untukmu, atau menyiapkan baju kerjamu, aku tidak akan meninggalkanmu, kecuali,,,," aku menggantung kalimatku, lidahku tiba-tiba terasa keluh saat ingin mengatakannya.


"Kecuali?" Emil melepas pelukan kami, ia mengangkat daguku untuk mengunci netra kami agar saling memandang.


"Aku tidak bisa memaafkan sebuah pengkhianatan." ucapku dengan suara bergetar, pandanganku buram karena air mata yang mulai menganak sungai.


"Aku tidak mungkin berpaling darimu, kau adalah segalanya bagiku, kau telah menyentuh jiwaku, aku sangat mencintaimu." Kami kembali berpelukan.

__ADS_1


"Berjanjilah kau akan selalu setia apapun keadaan kita, kau tahu? Aku selalu takut, takut jika kau tergoda dan kembali pada hidupmu yang lama, sungguh, aku selalu takut saat membayangkan kau bersama wanita lain, termasuk Sexyola, itu membuatku merasa sedih, hatiku tiba-tiba nyeri dan aku benci itu."


Tak ada jawaban dari Emil, ia hanya semakin mengeratkan pelukannya sambil menghujani pucuk kepalaku dengan beberapa kali kecupan.


Andai aku tahu apa yang saat ini dibisikkan hati Emil, karena sedari tadi jantungnya terus berdebar-debar, atau mungkin dia sedang ingin? Sudah dua hari sejak kami sampai rumah ibu, kami belum pernah melakukannya.


"Sayang," aku ingin memulai.


"Hem,,,," Emil masih asik memelukku.


"Apa kau tidak ingin?" tanyaku sangat pelan. Seketika Emil melepas pelukan kami, ia menatapku dalam penuh arti, sebuah tatapan yang jelas kutahu maksudnya apa. Manik hazelnya berbinar.


"Kau,,,, bersedia?" tanyanya antusias.


"He em," aku mengangguk sambil tersenyum, jika dipikir-pikir, suamiku pria mantan Casaanova ini sangatlah lucu. Dan aku semakin jatuh cinta padanya.


Emil menautkan bibir kami, melu.mat bibirku yang atas, bergantian dengan bibir bawah, menciumnya dengan pelan dan lembut, hingga semakin lama ciuman kami berubah menjadi kasar dan semakin dalam, ingin lebih dan lebih.


Emil sedikit mendorong tubuhku ke belakang, aku pasrah masih terus memagut bibir Emil, tangan Emil mulai bergerilya, membuka kancing baju tidurku yang bermotif bulan bintang, namun saat tangan kekar itu mulai turun untuk menyentuh area inti tubuhku, kurasakan sesuatu yang lain, basah, namun aku tahu ini berbeda.


"Emmpph!" Aku melepas ciuman kami.


"Tunggu," seruku gugup.


Tanpa menjawab, aku melompat turun dari ranjang dan berhambur lari ke dalam mandi, kuabaikan Emil yang terus menyerukan namaku.


"Sayang,,,, ada apa? Kamu kenapa?" Emil pun turut mengikutiku, namun langkahnya terhenti di depan pintu kamar mandi karena aku langsung menguncinya dari dalam.


Well, pelepasan kerinduan kami terpaksa harus ditunda dulu sampai Minggu depan karena tamuku telah datang.


'Ck.' Ada rasa kecewa dari datangnya tamu bulanan ini karena aku mengharapkan kehamilan, aku mende.sah kasar, namun ini adalah ketentuan yang Tuhan berikan, mungkin belum saatnya.


'Klek!' aku keluar kamar mandi dengan murung.


"Sayang, ada apa?" tanya Emil cemas, ia terlihat sangat cemas.


"Sayang, kamu sakit? Kok lemes gini? Jangan sakit dulu, tahan sebentar, paling tidak setelah kita selesai satu ronde, eh,,,, tidak-tidak, dya ronde." tawar Emil yang langsung mendapat ulti geplakan di lengannya dariku.


"Aww,,,, ssttt!" Emil menggosok lengannya yang pasti terasa sakit dan panas karena aku memukulnya keras.


"Sayang,,,, sakit...." keluh Emil mengikutiku berjalan menuju nakas lemari.


"Sayang, ada apa?" tanya Emil saat aku mencari benda keramat milikku yang mungkin masih tersisa.

__ADS_1


"Sayang,,,,"


"Emil,,,, tidak ada sesi ber.cinta, lupakan saja."


"Apa maksudmu? Kenapa?" Emil terlihat tak terima.


Lihatlah, kemana wajah imutnya itu tadi? Hilang tiba-tiba.


"Si merah datang,"


"Si merah? Si merah siap,,,," kalimat Emil terjeda karena aku berkacak pinggang sambil menatapnya tajam.


"O o oooh,,,, si merah,,,, he he he, iya. Si merah, he he he."


Rasanya aku ingin tertawa melihat raut muka Emil saat ini.


"Sayang, sampai kapan?" tanya Emil lagi saat aku kembali sibuk memeriksa nakas lemari maupun nakas dekat ranjang.


"Satu Minggu," jawabku ketus. Entah kenapa rasanya ingin emosi saja.


"Satu Minggu, itu pembunuhan berencana namanya!" seru Emil tak terima. Aku berhenti mencari benda keramat dan kembali menatapnya lekat.


"Oohh,,, satu Minggu, iya ya ya ya, satu Minggu tidak lama, hanya sebentar, yang sabar ya, junior ya.... Nanti bakalan silaturahim kok sama Mera."


"Mera? Mera siapa?" teriakku tak terima mendengar Emil menyebut nama wnaita lain.


"Iishh,,, iissh,,, cemburunya menyeramkan. Mera itu me.me.w Namira." jelas Emil gamblang yang seketika membuatku tergelak ngakak oleh sebutan singkatan yang ia berikan pada area inti tubuhku, Mera, bukan nama yang buruk!


"Sayang, bisakah minta tolong?" tanyaku manja yang langsung mendapat respons dari Emil.


"Apa sayang?"


"Tolong, belikan roti Jepang, yang bersayap."


"Hah?"


",,,,,,,"


Aku hanya bisa tersenyum cengir kuda menanggapi kekagetan Emil.


'Ingat, roti Jepang yang bersayap.'


***

__ADS_1


__ADS_2