
Emil mengendarai mobil dengan kecepatan sedang, sengaja ia tidak melaju kencang seperti kebiasaannya, karena ia ingin lebih lama berdua dengan Namira, ia sebenarnya begitu ingin mengajak Namira bicara, namun istri cantiknya itu terus memalingkan muka dengan melihat ke luar dari kaca pintu mobil.
Emil berdehem, melemaskan tenggorokan yang entah mengapa sekedar ingin bersuara saja namun rasanya tercekat.
"Kau, belum makan bukan?" tak ada jawaban atas pertanyaan yang diberikan Emil, Namira sama sekali tak bergeming.
"Bagaimana kalau kita cari restoran dulu, kita makan, baru setelah itu ke rumah besar." Emil tak menyerah, ia ingin memperbaiki hubungannya dan dia akan berjuang untuk bisa meluluhkan hati Namira.
"Bukankah perusahaanmu bangkrut? Memangnya kau masih punya uang?!!" sebuah sindiran, itu yang dimaksud Namira, karena alasan Emil membawa Sexyola ke rumah adalah untuk menyelamatkan dirinya dari kebangkrutan.
"Yah, keuangan perusahaan tidak stabil, tapi kalau sekedar untuk makan, dompetku masih lebih dari cukup untuk mengenyangkan perutmu yang langsing," celoteh Emil nakal, Namira sudah bersedia bicara dengannya saja hati Emil sudah sangat berbunga-bunga.
"Ck, iiiissshh,,,," decih Namira sebal.
"Kalau begitu, ganti kerugianku, aku sudah membayar sewa apartemen yang kutinggalkan untuk 2 bulan ke depan, kau membuatku mengalami banyak kerugian," celoteh Namira bernada kesal.
Tersungging senyum tipis di bibir Emil, ia lantas mengu.lum sendiri bibir bawahnya.
"Kau juga sangat aneh, untuk apa buang-buang uang, sudah tau jadi pengangguran, sok sok an lari dari rumah,"
"Ssshh,,,,!" Namira sontak menoleh ke arah Emil yang tersenyum penuh kemenangan, giginya bergemelatuk, ingin marah namun lidahnya terasa keluh, dan dia hanya mengepalkan tangan erat, lalu menghempaskannya kasar, kesal.
"Aku tidak peduli, kau harus ganti rugi, titik."
"Apa ini pemerasan?"
Namira tak lagi menjawab, bibirnya ngedumel tanpa suara.
"Huufftt,,,, baikkah,,,, istri cantikku memerasku, dan aku tidak bisa menolaknya, apa yang dikatakannya adalah sebuah Titah seperti seorang ratu bagiku."
Namira membenarkan posisi duduk, mendongak bersandar pada punggung jok, melipat tangan sedada lalu memejamkan mata.
"Ya Tuhan,,,, kapan bisa sampai tujuan, ini mobil apa siput? Jalannya bahkan lebih kencang dari Tita." Ngedumel, namun dalam pandangan mata Emil, itu terlihat lucu.
'Aku mencintaimu, Namira, sangat.'
"Beerreemmmm!"
***
Emil menggandeng tangan Namira saat mereka masuk ke dalam rumah besar, tangan satunya menarik koper Namira. Pelayan yang menyambut meminta Emil dan Namira untuk segera ke ruang keluarga, karena kedatangan mereka sudah ditunggu cukup lama.
"Tolong bawakan koper Nyonya ke kamar saya!" perintah Emil yang langsung diangguki oleh pelayan.
"Ayo,,,," Emil kembali berjalan dengan tetap menggandeng tangan Namira, meski Namira masih kesal, tapi ia harus memendam rasa kesalnya itu, karena mereka harus bersandiwara setidaknya di depan keluarga.
"Emil, sebenarnya ada apa? Kau belum mengatakan padaku, kenapa mereka datang dan meminta kita bertemu?" entah mengapa perasaan Namira tidak enak tiba-tiba. Ada rasa was-was menyelimuti hatinya.
"Nanti kau akan tahu, dua kabar yang berbeda akan kau terima sekaligus," ucap Emil sambil tersenyum.
"Tanganmu dingin, apa kau gugup? Kau takut?" tanya Emil saat mereka sudah berada di depan pintu ruang keluarga, berhenti sejenak untuk bicara.
__ADS_1
"Tidak, aku hanya,,,," Namira berhenti bicara, ia tak menemukan kata yang tepat untuk menggambarkan perasaannya.
"Tenanglah, ada aku. Tapi, mungkin,,,, kau akan menjadi istri dari pria yang jatuh miskin," Emil menjeda sambil tersenyum tipis penuh arti.
"Apa kau akan meninggalkanku jika aku tak lagi memiliki jutaan dolar seperti kemarin?"
"Yah, aku akan meninggalkanmu, jika kau membiarkanku kehujanan dan kelaparan, setidaknya kau masih punya tenaga untuk bekerja menjadi seorang cleaning service, atau apapun, memangnya apa gunanya otot-otot besar itu?" celoteh Namira asal, namun jawaban yang diberikan Namira cukup melegakan, itu artinya Namira tidak mempermasalahkan uang, yang penting Emil harus berjuang untuk hidup mereka berdua.
"Otot-otot ini?" Emil menjeda, " untuk memuaskanmu."
"Ck, iiisshh....."
"Lagi pula,,,, kau akan membiarkan suami tampanmu menjadi seorang Cleaning service? Kau tidak takut jika para wanita akan menggodaku?" Gurau Emil yang justru semakin membuat Namira kesal.
"Diam kau, Emil. Sekarang buka pintunya dan ayo kita masuk, kakiku sudah pegal!"
"Aahh,,," jerit Namira terdengar, belum sedetik yang lalu dia mengatakan kakinya pegal dan Emil langsung mengangkat tubuhnya ala bridal.
"Emil, apa yang kau lakukan?" panik, Namira semakin panik karena Emil membuka pintu dan membawanya masuk dengan menggendong dirinya ala bridal.
"Emil, turunkan aku! Kau sudah gila!"
"Yah, aku tergila-gila padamu," bisik Emil pelan.
"Emil, Namira?" Aretha yang melihat mereka datang langsung berdiri menghampiri.
"Hai, kakak ipar, apa kabar?" sapa Emil.
Emil mendudukkan Namira di atas sofa, di sana ada Tita yang terbaring, lelap dalam tidur.
"Namira, kau kenapa? Kenapa Emil menggendongmu?" tanya Aretha saat ia sudah duduk di dekat Namira.
Jawaban apa yang kini harus Namira katakan? Ia sendiri bahkan tidak tahu kenapa suami gilanya itu menggendongnya begitu saja, hanya karena dirinya mengatakan jika kakinya terasa pegal.
"Halo, Nek, Dad, Mom, Mr. CEO!" Emil memeluk satu persatu seluruh anggota keluarga O'clan.
"Emil, kenapa dengan istrimu?" kini Nenek yang bertanya, ia mendekat ke arah Namira yang langsung menyalim khidmat punggung tangannya.
"Dia,,,, sedikit keseleo nek. Jadi dia tidak bisa berjalan dulu untuk beberapa waktu ke depan." jawab Emil membuat Namira kaget dan hampir saja mengumpat. Kebohongan, sudah kepalang basah, Namira hanya bisa mengikuti alur kebohongan Emil sekarang.
"Keseleo? Kenapa tidak digips? Atau pakai kursi roda?" tanya Daddy yang juga nampak khawatir, wajah Namira pucat, ia tak tahu harus bagaimana, Emil membuat dirinya dalam sebuah kebohongan. Emil benar-benar keterlaluan, dan lihatlah pria gila itu, terus mengembangkan senyumnya seperti orang bodoh.
"Dia keseleo, Dad, bukan patah tulang, lagi pula kedua lenganku masih cukup kuat untuk menggendongnya, jadi dia tidak memerlukan kursi roda." jawab Emil sambil menatap nakal Namira, dan lekas saja Namira memalingkan muka.
"Tapi baru kali ini, aku melihat pasien keseleo memakai sepatu hak yang sangat tinggi,"
'Da.mn!'
Mulut beracun Mr. CEO Fabrizio O'clan menarik perhatian semua orang untuk melihat kaki Namira. Dan itu membuat Emil bersungut-sungut menatap tajam Fabrizio dengan kebencian. Namun bukan Fabrizio jika dia tidak suka mempermainkan perasaan lawan.
"Aahh,,, di mana Carol?" tanya Namira mengalihkan pembicaraan, adik perempuan mereka memang tidak kelihatan.
__ADS_1
"Dia ada di kamarnya, sayang!" jawab Nenek.
Setelah basa-basi dirasa cukup, mereka akhirnya membicarakan inti dari pertemuan mereka.
"Perusahaan O'clan Fashion di Paris akan diambil alih oleh Fabrizio sebagai pemimpin utama, kau akan bekerja dibawah naungannya Emil, kau telah gagal membuktikan kepada kami jika kau mampu mengemban tugasmu, namun ternyata aku salah, kau masih butuh banyak belajar!" Daddy memulai pembicaraan.
Yah, Emil tahu, selama ini, dia hanya bermain-main, bersenang-senang, minuman dan perempuan, Emil berubah ketika ia mulai jatuh cinta pada Namira, dan dia mulai bersungguh-sungguh bekerja mulai sejak saat itu, namun waktu tiga bulan nyatanya tidaklah cukup bagi Emil bisa memahami semuanya.
"Aku terima," jawab Emil.
"Dan, bagaiamana dengan hubungan kalian? Bukankah ini sudah saatnya untuk kalian mempublikasikannya?" tanya Daddy.
Emil sudah membuka mulut untuk menjawab, namun ia kalah cepat dengan Namira yang sudah terlebih dulu memberikan jawaban pada Daddy.
"Kami menikmati hubungan kami seperti ini, Daddy, tidak ada paparazy yang mengintai," jawab Namira sambil tersenyum kaku.
Emil menatap kecewa pada Namira, padahal ia sudah sangat siap dan ingin mempublikasikan hubungan mereka pada seluruh dunia agar Namira tak lagi bisa terlepas darinya.
"Begitu, Emil? Bukan karena alasan lain?" tanya Daddy yang kurang puas dengan jawaban Namira.
"Yah," jawab Emil singkat tanpa melepas tatapan matanya yang tajam dari sang istri.
"Namira," kini Fabrizio yang buka suara.
"Iya, Mr. CEO."
"Berhenti memangilnya Mr. CEO, dia kakak iparmu," marah Aretha sambil memukul pelan tangan Namira.
"I-i iya, ka Kakak ipar," senyum Namira semakin canggung.
"Aku memintamu untuk kembali bekerja di perusahaan O'clan, aku membutuhkan bantuanmu, kurasa kebangkrutan yang dialami O'clan Fashion bukan hanya karena nilai saham yang turun, tapi ada yang bermain dengan keuangan, dan aku yakin itu ulah pihak dalam." jelas Fabrizio.
Namira memandang Emil penuh arti, seolah meminta jawaban darinya.
"Tentu, kita memiliki staf keuangan terbaik di keluarga kita, dan perusahaan membutuhkannya, kenapa tidak? Iya kan, sayang?" tanya Emil kembali mengembangkan senyum.
"Ah?" Namira sedikit terkejut dengan jawaban yang Emil berikan.
"Ah, i i iya!" jawab Namira terbata.
Bukan tanpa alasan Emil mengizinkan Namira bekerja, karena dengan begitu, ia akan memiliki waktu lebih banyak untuk bisa mendekati Namira.
"Dan ada satu lagi," Nenek mengambil bagiannya untuk bicara.
"Cepatlah memiliki momongan, aku rasa aku sudah sangat tua untuk bisa menunggu lebih lama, kau tahu Namira? Aku hidup dengan bantuan sebuah alat yang ditanam di jantungku, aku tidak tahu kapan akan menemui ajalku, tapi aku berharap masih bisa melihat keturunan baru O'clan sebelum aku tiada, sehingga aku bisa menceritakan pada suamiku dengan bangga nanti jika aku telah berhasil merawat anak cucuku dan kalian semua hidup bahagia."
Double kill,,,, ini yang ditunggu Emil, memiliki kesempatan meminta haknya pada Namira dan mereka harus membuat anak sebanyak-banyaknya.
"Kalau begitu kami permisi, nek. Kami harus melakukannya di kamar, bukan? Karena itu sangat tidak sopan jika dilakukan di depan kalian."
"Emil,,,,," teriak semua orang.
__ADS_1
***