100 HARI MENIKAH

100 HARI MENIKAH
MAAF


__ADS_3

Menangis, Namira tak sanggup menyembunyikan sakit hatinya dalam diam, ia pun masuk ke toilet dan mengunci pintu dari dalam, menyalakan air kran, duduk pada kloset dan menangis sejadi-jadinya, mencoba mengusir rasa sakit yang begitu sangat menusuk hingga lubuk hati yang terdalam.


Kalimat-kalimat Esmee yang membicarakan tentang Emil dan Sexyola terus terngiang merusak pendengaran, menghancurkan perasaan, bahkan meski itu adalah hubungan mereka di masa lalu, tapi tetap saja sakitnya sungguh terasa, dan Namira tidak kuat menanggungnya, itu lara yang nyata.


Namira masih menangis dan enggan keluar dari toilet, padahal jam sudah menunjukkan pukul dua, dan di ruangan keuangan, Fabrizio tidak melihat Namira berada di kubikelnya.


"Di mana Nona Namira?" tanya Fabrizio pada Richard yang langsung berdiri-gugup. Beda halnya saat mereka berhadapan dengan Emil, menghadapi Fabrizio terkesan lebih menakutkan.


Siapa yang tidak tahu bagaiman tegas dan kejamnya pewaris utama O'clan itu? Dia begitu sat-set dalam menumbangkan lawan, begitu pun pada karyawan, tidak layak bekerja, pecat.


"I-i itu, No nona Namira be belum datang," jawab Richard terbata, Esmee terus menunduk menyibukkan diri dengan pekerjaannya, atau setidaknya agar terlihat sibuk.


"Suruh dia datang ke ruanganku dengan membawa semua berkasnya." perintah Zio kemudian berlalu begitu saja tanpa menunggu jawaban.


"I i iya, Tu,,,," Richard menjeda, "Wan!" sambungnya saat mendapati Zio sudah melangkah cepat keluar dari ruangan keuangan.


Richard terduduk lemas, berhadapan langsung dengan bos super angkuh dan kejam itu sukses menyedot habis seluruh tenaganya.


Sebenarnya Fabrizio sangat enggan untuk datang menemui bawahan seperti itu, dia bisa memanggil Namira lewat sambungan intercom, atau meminta sekretarisnya yang memanggilnya, tapi karena perintah ibu negara yang memintanya untuk melihat secara langsung keadaan Namira, Zio pun tak dapat membantah. Atau Aretha bisa marah padanya.


"Namira ke mana? Kenapa sudah jam 2 dia masih belum kembali?" bisik Richard panik pada Esmee.


"Mana aku tahu? Dia sudah kembali ke kantor terlebih dulu meninggalkan kita dari restoran, bukan?" jawab Esmee sama paniknya. Tidak biasanya seorang bos besar apalagi seperti Fabrizio yang datang langsung hanya untuk memanggil karyawan.


"Matilah Namira!" seloroh Richard mengusap gusar wajahnya.


Dari arah pintu masuk, Namira berjalan. Dan Richard segera bangkit untuk menghadangnya.


"Kau dari mana? Hari pertama kerja sudah cari masalah, apa kau mau kehilangan pekerjaanmu?" todong Richard tak sabar.


Dari meja kubikelnya, Yordhan memperhatikan Namira, ia tahu betul jika wanita itu baru saja menangis, sangat kentara di muka sembabnya, sedang Richard tak begitu memperhatikan itu karena saat ini ia sedang sangat panik pasca menghadapi Mr. CEO.


"Aku,,,,"


"Aahh,,,, sudah. Jangan buang waktu lagi, cepat ke ruang Mr. CEO, bawa semua berkasmu, itu perintahnya."


"Mr. CEO?" Namira mengernyit, suaranya masih parau, dan dia belum sepenuhnya menenangkan diri namun Richard sudah heboh sendiri agar Namira segera pergi.


"Sudah pergi, jangan banyak tanya," Richard mengambil setumpuk berkas dari meja Namira yang diberikan Nona Fayette pagi tadi, lalu memberikannya paksa pada Namira.


"Oh, semoga keberuntungan menyertaimu, kau tahu? Mr. CEO yang baru itu lebih kejam dari Mr. Emil, satu kesalahan kecil sama dengan kehilangan pekerjaan. Jadi, jangan buat kesalahan! Semoga berjaya!" Richard mengangkat tangannya seolah memberikan semangat, dan Namira hanya mengangguk-angguk bingung.


"Ayo sana!" Richard mendorong Namira untuk pergi, dan dia lekas kembali ke mejanya sendiri, sebelum Nona Fayette memergokinya.


Namira menghembuskan nafas kasar, ia berbalik hendak melangkah keluar.


"Namira," suara Yordhan menghentikannya.


"Hem?" Namira menoleh dan berhenti.

__ADS_1


"Kau,,, baik-baik saja?"


Mata Namira bergerak gusar, ia menunduk berpikir lalu kembali mendongak dan tersenyum.


"He em, aku baik-baik saja."


"Butuh bantuan? Biar aku antar ke ruang CEO."


"Tidak, Yordhan, aku bisa sendiri, aku tidak mau kalau kau sampai terkena masalah gara-gara aku, kau dengar sendiri bukan kata Richard? CEO yang baru itu kejam," bisik Namira di akhir kalimat diiringi tawa ringan. dan Yordhan menbalasnya dengan senyuman.


"Baiklah, aku pergi dulu,"


Yordhan mengangguk menanggapi, Namira menarik napas dalam lalu menghembuskannya kasar, melangkah keluar dari ruangan keuangan menuju ruang CEO.


Bukan karena takut bertemu Fabrizio, Namira tahu Mr. CEO itu memang kejam tak berperasaan, tapi Namira bisa santai menghadapinya karena ada Aretha yang akan selalu membelanya, dan dia bekerja di O'clan Fashion juga bukan keinginannya, melainkan kemauan Zio, jadi dia tidak lagi merasa tertekan seperti dulu saat masih menjadi karyawan O'clan Company di Indonesia, hanya saja, masalah perasaannya dengan Emil, membuat Namira menjadi lemah.


"Maaf, Mr. CEO ada?" tanya Namira pada karyawan laki-laki berwajah-seperti artis korea-yang mejanya berada di depan ruang CEO. Sebuah papan nama di atas meja bertukiskan, Secretary Kim.


"Anda sudah ditunggu, silahkan masuk." ucapnya ramah dan sopan.


"Terimakasih," Namira pun membalas tak kalah sopannya.


"Tok tok,,,,"


Namira membuka pintu lalu melangkah masuk saat mendapat perintah masuk dari dalam.


"Sir," sapa Namira.


Emil berdiri, menatap penuh arti pada Namira yang juga melihatnya, namun cepat-cepat Namira memutus pandangan mereka dan beralih pada Fabrizio, duduk di kursi depan meja kerjanya, menaruh setumpuk berkas di atas meja.


"Bagaimana?" tanya Fabrizio tanpa melirik Namira barang sedikitpun, jemarinya bergerak cepat pada papan keyboard komputer.


"Banyak kesalahan, sudah saya tandai dan saya salin ke folder pribadi saya. Tapi baru satu berkas yang bisa saya kerjakan, maaf." ucap Namira sambil membuka berkas yang dimaksud. Memberikannya pada Fabrizio dan Fabrizio menerimanya, membuka, memeriksa.


Emil terus menatap dalam Namira, wajah sembab istrinya dengan mata yang masih merah jelas menjelaskan jika wanitanya itu baru saja menangis.


"Nona Fayette meminta saya memberikan folder berisi salinan berkas yang saya kerjakan setelah usai," lanjut Namira.


"Berikan dia salinan yang palsu, biarkan beberapa kesalahan seperti semula, seolah kau tidak menyadari adanya kesalahan itu, dan berikan langsung folder aslinya padaku," perintah Zio memberikan kembali berkasnya pada Namira, pekerjaan Namira memang selalu memuaskan sedari dulu, dia adalah salah satu karyawan terbaik yang dimiliki O'clan Company dalam bidangnya.


"Sisanya?" tanya Zio.


"Saya tidak sanggup jika harus menyelesaikan semua ini hanya dalam waktu tiga hari, saya akan membawanya ke rumah dan meminta bantuan Aretha untuk mengerjakannya,"


"Jangan bicara sembarangan," bentak Zio membuat terkejut Namira, bahkan jujur, Namira merasa takut, Fabrizio sama sekali tidak berubah, pantas saja jika semua orang takut padanya.


"Zio!" teriak Emil tidak terima, merampas berkas yang ada di tangan Namira lantas membantingnya di atas meja di hadapan Fabrizio, kasar.


"Berhenti memperlakukan istriku seperti orang asing," rahang Emil mengeras, tatapannya dan Fabrizio sama tajam dan saling mengunci.

__ADS_1


"Kumohon jangan seperti ini," Namira lekas berdiri memegangi tangan Emil agar sedikit mundur. Air matanya kembali jatuh, bukan karena sakit hati dan cemburu, melainkan ada perasaan lain yang melukai hati tapi entah itu apa.


"Maaf, maafkan saya Mr. CEO," Namira membungkukkan badan beberapa kali. Dan Emil memeganginya cepat, menghentikan tindakan istrinya yang dinilai merendahkan diri, sungguh, melihat Namira diperlakukan seperti itu membuat hati Emil sangat sakit, seperti tercabik-cabik. Ia tak berdaya melihat istrinya direndahkan orang lain di hadapannya. Dan itu saudaranya sendiri.


"Jangan mengganggu Aretha, saat di rumah, dia hanya akan melayaniku, jadi jangan membuatnya sibuk dengan hal bodoh seperti ini." Fabrizio menggeser kasar tumpukan berkas hingga berserakan di meja, bahkan satu di antaranya jatuh ke lantai.


Bukan apa-apa, Fabrizio tidak akan berani membantah Aretha jika sudah berada di rumah, jadi satu-satunya cara adalah menghentikan niat Namira sebelum itu terjadi, atau waktu Aretha nanti akan terbagi.


"Baiklah, kalau begitu, berikan saya satu assisten, setidaknya dengan bantuan seseorang saya bisa menyelesaikannya lebih cepat." Namira memberanikan diri. Lebih baik dia yang bicara dari pada Emil kembali tersulut emosi dan Kakak beradik itu bisa berkelahi.


Emil sangat kecewa dengan sikap Fabrizio, ia enggan untuk sekedar menatapnya saat ini, berdiri membelakangi Zio. Dan tangannya masih digenggam Namira erat tanpa Namira sadari.


"Kau sudah memilik assisten pribadimu saat di rumah, gunakan dia sebaik mungkin, sebelum orang lain yang menggunakannya." ucap Zio kembali fokus pada komputer.


"Apa?" Namira tidak mengerti, dahinya mengernyit.


"Mulai hari ini, Emil adalah assistenmu saat di rumah, untuk mengerjakan pengoreksian berkas, gaji kalian akan ditambah dengan uang lembur, oh,,,, jangan menolak, karena aku tahu, kalian sedang susah dalam hal keuangan. Suamimu harus mengganti rugi perusahaan dengan uang pribadinya, dan itu berjumlah puluhan juta."


"BRAK!" Emil menggebrak meja.


"Bisakah kau diam? Mr. CEO?"


Jantung Namira berdetak sangat kencang, ini adalah pertama kalinya Namira melihat dua saudara ini bertengkar, dan itu karena dirinya?


"B-ba baik," ucap Namira cepat memutus perkara ini, ia segera memungut berkas-berkasnya dan pamit pergi.


Namun langkahnya terhenti saat Emil meraih tangannya.


"Kau baik-baik saja?" tanya Emil yang masih bisa di dengar Fabrizio, namun dia bersikap acuh seolah tak peduli.


"Aku baik-baik saja!" Namira melepas cekalan tangan Emil. Lalu kembali melangkah dan pergi.


"Maaf," lirih Emil terdengar parau, Namira yakin jika Emil pasti merasa sedih dan tidak berguna karena tak dapat melindunginya, Namira memejamkan mata membiarkan bulir bening itu lolos membasahi pipi, menelan saliva kasar dan menghembuskan nafas dalam.


Tanpa menoleh maupun menjawab ucapan Emil, ia kembali melanjutkan langkah kakinya, keluar dari ruangan CEO dan pergi menuju kubikelnya sendiri, diiringi dengan tangisan menyayat hati.


***


'Aku hanya ingin membuktikan jika aku bisa dan mampu, sehingga kau bisa membanggakanmu,'


terngiang kembali ucapan Emil waktu dulu, saat ia menjelaskan alasannya yang meminta bantuan Sexyola untuk menyelesaikan masalah perusahaan, karena dia takut gagal dan tidak bisa membanggakan dirinya, dan melindungi Namira, dan semua itu kini terbukti.


Namira menangis di dalam lift, ia cemburu dengan Sexyola, tapi juga merasa kasihan dengan Emil, dan apa yang Emil katakan semua kebenaran.


"Apa kau akan meninggalkanku jika aku tak lagi memiliki jutaan dolar seperti kemarin?"


Ya Tuhan,,,, ternyata apa yang Emil katakan semua adalah kebenaran,,,,


'Emil, maafkan aku!'

__ADS_1


***


Percayalah, berdiri di belakang bayang-bayang seseorang itu rasanya menyakitkan.


__ADS_2