100 HARI MENIKAH

100 HARI MENIKAH
End


__ADS_3

Hari-hari berlalu, perlahan kami semua semakin bahagia menjalani hidup, Aretha sudah melahirkan bayi laki-laki, dan kandunganku sudah membesar.


Ketakutan yang sempat menyergap karena kepala janin yang belum tegak akhirnya terselesaikan, di Minggu ke 16 Kapala janinku tegak sempurna. Dan perkiraan melahirkan bulan depan.


Kami sedang merayakan kelahiran Baby A-bayi Aretha dan Mr. CEO-yang belum diberi nama, namun sudah memastikan inisialnya.


Tita sangat akrab dengan Emil, ia begitu banyak bertanya, dan tak hentinya memuji ketampanan unclenya, bisa kukatakan Tita kecil kami sedikit genit, tapi lucu.


Begitu banyak pelajaran hidup yang bisa kami petik dalam proses perjalanan hidup ini, tentang cinta, kepercayaan, perjuangan, kesetiaan, dan juga pengorbanan, tak ada yang sia-sia dalam semua yang kita lalui selama ini.


Di tengah pesta, tiba-tiba kurasakan perutku yang sangat sakit, seperti kram, nyeri saat mengawali menstruasi, dan kurasakan cairan keluar dari area intiku.


"Aahh,,," jeritku sakit, berpegangan pada Emil yang menggendong Tita.


"Sayang, kau kenapa?" seketika suasana berubah panik, khawatir dengan keadaanku.


"Namira akan melahirkan!" seru Mommy Di, Carol mengambil alih Tita dari gendongan Emil, dan Emil lekas menggendongku membawaku lari keluar dari pesta menuju mobil.


"Aahh,,,, sakit!" jeritku kesakitan.


Daddy dan Mommy Di mengikuti kami masuk ke dalam mobil, sedangkan Aretha tidak bisa pergi karena ia sendiri baru saja melahirkan dan harus menjaga Baby A.


"Emil,,,, sakit...." aku kembali menjerit kesakitan di jok belakang, Mommy Di memegangiku.


"Sayang, bukankah kau bilang masih bulan depan?" tanya Daddy yang nampak khawatir.


"Iya, Dad!" jawabku tertahan. Sakit yang kurasakan luar biasa, sulit untuk bisa menggambarkannya.


Emil melajukan mobil dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit terdekat. Sesampainya di depan halaman rumah sakit, Emil lekas menggendongku masuk.


"Istriku akan melahirkan, segera lakukan penanganan!" teriaknya yang langsung disambut oleh para perawat mendorong ranjang brangkar. Dan memberikan pertolongan.


***


"Ah, Emil,,,,"


"Aku di sini, kau pasti bisa."


Dokter dan para perawat mempersiapkan semuanya, aku akan melahirkan secara normal karena sudah pembukaan 5.


Emil terus menggenggam erat tanganku, mengusap peluh di dahi dan mengecupiku, mencoba memberikan ketenangan dan kekuatan, sedangkan Daddy dan Mommy Di menunggu di luar ruang bersalin.


Perjuangan seorang wanita untuk menjadi seorang ibu memang luar biasa sakit dan beratnya, taruhannya nyawa, namun saat terdengar tangis bayi yang menggema, rasa sakit dan perjuangan itu terbayar lunas, tuntas sudah.


"Selamat, bayinya laki-laki!" seru Dokter yang membawa bayi mungil ke hadapanku, putra kecilku, malaikatku.


"Kami akan membersihkannya dulu," Dokter membawa bayiku pergi.

__ADS_1


Emil mencium keningku sangat lama.


"Selamat, sayang. Kau berhasil, kau telah menjadi ibu sekarang. Aku sangat bahagia."


Emil memelukku, dan aku senang mendengar penuturannya. Yah, meski ada sedikit rasa entahlah, suatu rasa yang tak dapat kugambarkan dengan kata, karena biar bagaimanapun, bayi itu adalah anak Leonel. Bukan anak Emil.


Leonel, di mana dia kini berada? Bagaimana kabarnya? Jika dia mengetahui telah memiliki seorang anak, apa dia akan berubah? Atau tetap saja sama gilanya?


***


3 tahun kemudian.


"Axel! Ayo lempar bolanya padaku!" teriak anak laki-laki putra kecilku pada Axel, sepupunya, putra Aretha dan Fabrizio yang seusia dengannya.


"Enak saja, rebut bolanya dariku jika kau bisa, Emir!" jawab Axel sambil menginjak bola di bawah kakinya.


"Sungguh? Kau akan menyesal!" tantang putraku berani, oh, jangan lupa. Dia memiliki darah Leonel si psikopat. Tentu saja dia pemberani.


Aku dan Aretha yang melihat interaksi lucu di antara mereka hanya bisa tertawa sambil menikmati teh pagi.


"Kita mempunyai dua jagoan yang luar biasa, Namira, mereka seakan tak terkalahkan," ucap Aretha.


"Yah, dan bulan depan kita harus menjaga mereka dengan ekstra," jawabku. Aretha mengernyit.


"Kau lupa? Bulan depan mereka mulai masuk sekolah, kita harus bersiap, jangan sampai mereka menghajar teman-teman mereka yang tidak mau nurut sama mereka." lanjutku.


Tawa kami bersahutan, kemudian teriakan dari Axel dan Emir menyita perhatian kami. Yah, dua jagoan kami telah bertengkar, beradu kekuatan untuk memperebutkan bola yang sebenarnya sudah mereka lempar.


"Emir,,,," seruku berlari ke arah mereka.


"Axel, lepaskan!" kami saling memegangi putra kami masing-masing, sesekali keduanya masih mencakar-cakar dan menendang-nendang, tidak terima.


Tapi, meski begitu, meski mereka sering kali bertengkar, mereka saling menyayangi satu sama lain. Dan tidak terima jika anak lain yang mengganggu saudara mereka.


Ah, aku ingat, pernah Axel yang menolong Emir dari kejaran anjing sampai ia luka-luka. Dan Emir yang matanya lebam setelah mendapat pukulan dari anak yang jauh lebih dewasa darinya saat menolong Axel. Begitulah mereka. Saking melindungi satu sama lain.


Sering bertengkar saat bersama, namun saling menyayangi dan saling menjaga.


***


"Bunda,,,, aunty!"


Kedatangan Tita menyita perhatian kami yang tengah sibuk menanam bunga di taman belakang, Axel dan Emir sedang tidur siang, ditemani oleh Mommy Di. Sedang Daddy menonton bola di ruang tengah.


"Sayang, kau sudah pulang?" aku berdiri, menyambut kedatangan Tita, memeluknya hangat.


"Lihat, nilaiku A+." Tita menunjukkan lembar soal yang tertulis nilai terbaik, nilai sempurna, karena semua pertanyaan telah Tita jawab dengan benar, dan tahun ini, dia akan naik kelas 2 sekolah dasar.

__ADS_1


"Waah,,,, selamat, sayang!" aku kembali memeluk Tita. Begitupun Aretha yang tentu sangat bangga dengan putrinya.


***


Usai makan malam, kami semua berkumpul bersama di ruang keluarga. Membahas banyak hal, mulai dari Fabrizio dan Emil yang membicarakan bisnis. Mommy Di yang antusias menceritakan cucu-cucunya. Dan juga permintaan Emil yang ingin menambah momongan ia utarakan di hadapan semua orang.


"Emil,,,, apa yang kau katakan? Kau membuatku malu," pipiku pasti sudah bersemu merah, bertahun-tahun bersama Emil semakin memanjakanku, setiap hari ia memperlakukanku sama seperti dulu.


"Kenapa tidak, sayang? Lihatlah, Tita dan Axel juga sangat pas usia mereka terpaut tiga tahun, ayolah... Aku ingin menambah lagi."


"Kau sebenarnya bukan ingin menambah momongan, Emil. Tapi kau ingin membawa Namira ke kamar sekarang, mengaku saja!" sahut Mommy Di yang disambut gelak tawa Daddy dan Aretha.


Emil menampakkan cengir kuda. Dia memang keterlaluan, setiap hari menggempurku dengan setidaknya dua kali permainan.


"Mommy paling bisa mengerti aku," beo Emil tak tahu malu.


"Ayo, sayang!" ajak Emil yang langsung kutepis tangannya.


"Kau ini, Emir masih belum tidur." jawabku.


"Lihatlah, dia sibuk bersama Axel."


Emir dan Axel bermain robot-robotan dan mobil-mobilan. Mainan-mainan yang sangat berserakan berantakan menyibukkan mereka.


"Sudah, pergilah, biar Mommy yang menjaga mereka." ucap Mommy Di.


"See?" Emil menggendongku tiba-tiba ala bridal, benar-benar tidak tahu malu. Selalu membuatku malu, tapi senang.


"Kalau begitu, kami juga titip Axel, Mom!" Mr. CEO menyahut, menggandeng tangan Aretha. Namun langkahnya terhenti karena Tita yang mengekor.


"Kalian mau ke mana? Aku ikut."


Aku dan Emil sontak tertawa, begitupun dengan Daddy dan Mommy Di.


"Kau harus lebih bersabar, Mr. CEO. Kami pergi dulu." Emil melanjutkan langkahnya membawaku ke kamar, meninggalkan mereka yang masih tergelak oleh kepolosan Tita. Kasihan, orang tuanya ingin bermain menunggang kuda, dan Tita tak diajak.


***


Ending ya.... 😁 Sampai bertemu di novel baru. Besok saya up dua novel sekaligus. Tiap hari selalu update loh, seperti biasanya.


Terimakasih buat semua pembaca yang sudah meluangkan waktu untuk meramaikan karyaku. Aku cinta kalian semua. I love you.... 😘😘🥰🥰❤️❤️



Ini menceritakan tentang seorang gadis yang diperkosa oleh kekasihnya sendiri, namun pacarnya tak mau menikahinya dan justru meninggalkannya, dan kakak dari sang kekasih lah yang menggantikan posisinya untuk bertanggung jawab menikahi si gadis yang telah kehilangan kesuciannya, ibarat bunga tanpa mahkota.


__ADS_1


Ini kisahnya sudah saya spill di bab satu kemarin, yang akan ditulis sad ending. Tapi mohon, buat pembaca setia saya yang sudah mengetahui ending cerita akan ditulis sad end. Mohon saat berkomentar jangan spoiler ya, agar pembaca baru yang mungkin belum mengetahui endingnya akan seperti apa masih menduga-duga. 😁🙏


__ADS_2