100 HARI MENIKAH

100 HARI MENIKAH
Kesempatan bagi Ardhan


__ADS_3

"Buka pintunya, bangsat!" teriak wanita yang membukakan pagar besi tadi.


Ardhan tersadar dari lamunannya sendiri yang terus menatap Namira intens. Ia pun membuka pintu dan keluar dari mobil lalu menutup kembali pintunya.


"Ada apa? Jam segini bangunin orang tidur tot tat tot tet tot tat tot tet, malu sama tetangga." teriak wanita itu yang bisa didengar Namira.


"Aku butuh bantuan kamu," Emil mulai bicara. Wanita itu menguap tanpa berniat menutup mulutnya yang terbuka lebar, dan menggaruk rambutnya yang sebenarnya tidak gatal. Nampak jelas jika dia masih sangat mengantuk.


"Apa?" tanyanya malas, kini tangannya berpindah menggaruk pahanya, lalu ke tengkuk lengan.


"Ada temanku yang butuh tumpangan sementara waktu, aku titip dia dulu sama kamu, besok kalau sudah ada waktu, aku akan bawa dia pergi."


Wanita itu mendongak menyipitkan mata mencoba melihat ke dalam mobil Ardhan untuk melihat sosok seorang perempuan yang duduk di jok samping jok kemudi.


"Siapa? Pacar kamu?"


"Sudahlah, jangan banyak tanya, ini sudah terlalu malam. Kau harus bangun pagi besok untuk bekerja, dan temanku juga butuh istirahat, oh ya, jangan ganggu dia, tidak usah banyak bertanya, malah tidak usah bertanya apapun. Kalau dia tidak ingin bicara, jangan mengajaknya bicara." peringat Ardhan pada wanita itu karena sangat memahami tabiatnya.


'Klak!'


Ardhan membuka pintu mobil, Namira sudah berhenti menangis, mungkin ia sudah mencoba menahan diri ketika menyadari ada orang lain sekarang.


"Ayo, turunlah." Ardhan mengulurkan tangan dan Namira menerima uluran tangan Ardhan, ia lantas keluar dari mobil dengan diam.


Ardhan mengeluarkan koper, menyeretnya ke arah wanita si pemilik rumah.


"Namira, ini Sintia, asistenku,"


"Saat di kantor," ralat Sintia cepat.


"Lagian apa susahnya sih ngenalin, ini temenku, sok sok an jadi bos pakek ngenalin orang jadi asisten." gerutu Sintia tidak terima.


Ardhan sebenarnya kurang tenang jika meninggalkan Namira menginap bersama Sintia, tapi dia tidak punya pilihan lain, setidaknya ada seseorang yang mengawasi Namira saat rapuh seperti saat ini, dari pada membawa Namira menginap di hotel seorang diri, si cerewet Sintia menjadi pilihan yang lebih baik.


"Hai," Sintia mengulurkan tangan, mengembangkan senyumnya, Namira menyambut uluran tangan Sintia.


"Namira," lirih Namira terdengar parau.

__ADS_1


Sintia pasti sedang berpikir apa yang sedang terjadi dengan perempuan yang di bawa atasannya ini ke rumahnya di larut malam seperti ini, seorang perempuan cantik yang berwajah sembab seperti habis menangis, namun ia menahan diri untuk tidak bertanya karena Ardhan sudah memperingatinya, setidaknya sampai Ardhan pergi dan Sintia bisa melayangkan pertanyaan sepuasnya pada Namira nanti. Kang kepo.


***


Di apartemen Emil.


Emil duduk di lantai bersandar dinding, kaki kanan ditekuk sedada dan kakak kiri ia biarkan berselonjor ke depan.


Semalaman ia tidak tidur, hanya menangis dalam diam memikirkan semua kekecauan yang terjadi begitu cepat, hingga melihat Namira yang dibawa pergi Ardhan.


'Breng.sek.'


Laurent yang datang untuk membersihkan rumah setelah Sexyola menghubunginya hanya diam mengerjakan tugasnya tanpa berani bertanya, seandainya ini Namira, Laurent pasti bisa bersikap layaknya manusia biasa, karena Namira memperlakukannya seperti teman.


Sedangkan Sexyola yang kini berada di apartemen Emil, memperlakukannya layaknya seorang pelayan rumah.


'Ya Tuhan,,,, apa yang terjadi semalam? Apartemen ini seperti habis diguncang gempa. Apa Nyonya Namira pulang dan mendapati Tuan Emil bersama wanita jahat itu? Hah,,,, kasihan Nyonya namira.'


Laurent terus memunguti pecahan kaca yang berserakan di lantai, ia mengambil beberapa lembar foto Emil dan Namira yang nampak mesra saling berpelukan untuk dipisahkan dengan pecahan kaca dan akan ia simpan dengan baik.


"Kenapa kamu taruh sampah itu di atas sofa, Laurent? Buang itu bersama sampah yang lainnya." bentak Sexyola saat Laurent meletakkan lembaran-lembaran foto di atas sofa.


Laurent melihat Emil yang hanya diam dengan linangan air mata, lalu kembali menatap Sexyola yang sudah menatapnya tajam seperti ingin melahap dirinya mentah-mentah.


Laurent pun tak memiliki pilihan, dengan ragu ia mulai mengambil lembaran-lembaran foto itu untuk ia masukkan ke dalam wadah berisi pecahan kaca.


"Simpan itu di kamarku, Laurent." suara Emil yang terdengar parau memberikan perintah.


Laurent berhenti, tidak jadi memasukkan lembaran-lembaran foto itu ke dalam wadah yang berisi pecahan kaca.


Sexyola ingin protes tapi dia tahu jika itu tidak baik, jadi dia hanya bisa mendengus kesal.


Emil berdiri, meminta lembaran-lembaran foto itu dari tangan Laurent.


Ya Tuhan,,,, bahkan tangannya yang terluka masih belum diobati, Sexyola yang berusaha mengobatinya semalam ditolak oleh Emil, ia tidak mau jika Sexyola menyentuhnya lagi, karena ia kini menyadari jika Namira benar-benar membenci itu, dan semuanya sudah terlambat sekarang.


"Tuan, biar saya panggilkan Dokter untuk mengobati tangan anda," ucap Laurent yang tak mendapat tanggapan dari Emil.

__ADS_1


Emil melangkah gontai menuju kamar membawa lembaran-lembaran fotonya bersama Namira.


"Pulanglah Sexyola, kau tahu kau sudah tidak diterima lagi di sini." usir Emil dengan suara pelan namun sarat akan penekanan.


Mendengar itu Laurent merasa sangat senang, hampir saja dia tertawa, tanpa mempedulikan tatapan Sexyola yang jelas terlihat tidak suka pada dirinya itu, Laurent malah memainkan ponsel, duduk di sofa menghubungi seorang Dokter untuk datang.


Sexyola mengambil tas miliknya dari dalam kamar Namira, saat ia hendak melangkah keluar, langkahnya terhenti karena Laurent berbicara.


"Permisi, apa anda sudah membawa semua sampah anda? Saya hanya tidak mau jika Nyonya Namira kembali ia bisa terkontaminasi bakteri yang anda tinggalkan." sindir Laurent.


"Jaga mulutmu, pembantu!" bentak Sexyola.


"Maaf, apa saya perlu memanggil Tuan Emil untuk memberitahunya jika anda belum juga keluar dari tempat ini?"


Laurent memang cukup berani untuk ukuran seorang assisten, tapi ia akan bersikap sesuai dengan orang memperlakukan dirinya.


"Awas kau. Akan kupastikan kau tidak akan memiliki pekerjaan saat aku sudah menjadi istri Emil."


"Setidaknya bermimpi itu saat tidur, Nyonya. Karena kalau anda mimpi dalam keadaan terjaga seperti ini, itu namanya halu, dan itu tidak begitu baik."


Sexyola menggeram kesal, namun tak ada gunanya jika ia terus meladeni Laurent, ia pun keluar pergi dari apartemen Emil.


***


Namira tak memasukkan apapun ke dalam mulutnya sejak semalam, dua buah sandwich yang dihidangkan Sintia di piring yang dibawakan ke kamarnya ia biarkan begitu saja, tanpa tersentuh, ia tak merasa lapar atau pun bernaf.su pada makanan.


Namira hanya diam sepanjang hari, patah hati yang ia rasakan saat ini berkali-kali lipat lebih parah rasanya, dan Namira sampai tidak tahu dibatas mana sakit itu saking dalamnya, hingga saat sore ardhan datang menemuinya dengan membawa sekotak pizza, dan dua burger king size.


"Aku akan kembali ke Indonesia," lirih Namira saat Ardhan membuka bungkusan makanan yang di bawanya. Mereka duduk berhadapan di atas ranjang.


Ardhan terdiam, memikirkan jika Namira kembali ke tanah air, maka ia tak akan memiliki kesempatan untuk bisa mendekatinya lagi, sementara ia bekerja di Paris, dan kesempatan besar baginya untuk kembali mencoba memasuki hati Namira, karena hubungannya dengan Emil saat ini sedang tidak baik-baik saja.


"Bagaimana dengan orang tuamu? Apa kau siap melihat kesedihan di wajah mereka? Jika melihatmu pulang dalam keadaan seperti ini." ucap Ardhan berusaha menggoyah hati Namira.


Benar apa yang dikatakan Ardhan, bagaimana dengan ibunya jika ia tahu dirinya dan Emil bertengkar, bahkan berniat akan berpisah?


"Bertahanlah sebentar lagi, aku akan membantumu untuk menyembuhkan lukamu, setidaknya, jika kau ingin pulang, suasana hatimu sudah berubah dan kau sudah bisa berdamai dengan keadaan," Emil kembali bicara, tak tanggapan yang Namira berikan, wanita hanya menunduk membiarkan tetesan air matanya berlinang. Emil bergerak cepat, merengkuh tubuh Namira ke dalam pelukannya.

__ADS_1


"Berikan aku waktu dan kesempatan. Aku masih sangat mencintaimu dan mengaharapkanmu, Namira. Aku ingin kita bisa kembali bersama."


***


__ADS_2