100 HARI MENIKAH

100 HARI MENIKAH
Dalam perjalanan pulang


__ADS_3

Robin mengendarai mobil dengan kecepatan sedang membelah jalanan kota Paris yang ramai lancar.


Emil duduk di jok belakang bersama Namira, mereka memanfaatkan waktu yang ada untuk bisa bersama. Namira berada dalam pelukan Emil sepanjang perjalanan.


"Kau sudah merencanakan ini semua?" tanya Emil sambil mengelus rambut dan pipi Namira yang bermanja padanya.


"Ehm," Namira mengangguk.


"Kalian berpisah hanya karena sebuah salah faham, dan aku ikut andil di dalam hal itu," Namira menelusupkan wajahnya ke dalam dada bidang Emil, sesekali ia mengecupinya dari balik kemeja yang Emil kenakan, dan bermain pada titik dada Emil.


"Jujur, aku merindukan Fabrizio dan keluargaku,"


Tak ada tanggapan, karena Namira sibuk menggoda kelelakian Emil.


"Nami, hentikan!" Emil mulai terpancing oleh perbuatan kecil Namira yang terus mengecup, mengendus dan bahkan menggigit kecil ****** Emil dari balik kemeja.


Di depan sana Robin hanya bisa menghela napas kasar, dia harus siap untuk menjadi obat nyamuk ke sekian kalinya pada dua orang yang sedang puber kedua itu.


"Emil,"


"Hem,,,,"


"Aku,,,,"


"Iya?"


"Aku,,,,"


"Apa Nami, katakan!"


"Aku merindukanmu," ketus Namira menarik diri sambil membuang muka.


Emil hampir terkekeh, tapi ia menahan hingga senyum itu ia ku.lum tanpa suara.


"Hei," Emil menarik kembali tubuh Namira, pelan.


Mereka saling memandang dalam penuh makna, suatu rasa yang terpendam lama, dengan sorot keduanya yang sayu dan ingin.


"Boleh?" tanya Emil memastikan.


Namira kembali memalingkan muka, tapi ia tak dapat menyembunyikan senyum tipisnya.


"Robin,"


"Yes, Sir."


"Apa bahan bakar mobil ini full?"


"Full, Sir."


"Kita itari jalanan kota Paris malam ini,"


"Apa? Oh, oh,,,,, yes, sir." Robin meneguk ludahnya kasar. Melonggarkan dasi yang terasa mencekik lehernya tiba-tiba. Setelah itu lampu dalam mobil dipadam, Robin tak dapat melihat apapun lagi di belakang sana selain de.sahan Namira dan Emil yang saling bersahutan.


"Ssshh,,, aahh,,,," de.sah Namira terdengar merdu saat Emil sudah bermain di area inti tubuhnya, berada di bawah Namira dengan membuka kedua kakinya lebar.


Emil menyapu kelembutan itu dengan lidahnya yang ba.sah, Namira merasakan nikmat yang begitu lama ia dambakan, melakukannya dengan cinta dan perasaan.


"Aahh,,,, Emil...."


Emil terus mengeksplor area inti Namira dengan sangat lembut, lidahnya naik turun pada benda kecil di sana, sesekali ia menye.sap dan melu.ma.tnya lembut.

__ADS_1


"Aahh,,,,"


Lalu Emil memasukkan lidahnya ke dalam inti kelembutan itu yang terasa ba.sah dan hangat.


Kedua kaki Namira semakin mene.gang, sebelah tangannya berpegang kuat pada jok dan sebelah lagi mere.mas rambut Emil.


"Emil, aku,,,,, emmmpphh!"


Emil mencium bibir Namira saat ia hampir mengucapkan kata 'keluar', Emil terus menautkan bibir mereka, Namira membalas dengan napas yang terengah karena ia baru saja mendapatkan kepua.san.


Emil membuka resleting celananya tanpa melepas ciuman mereka. Terdengar jelas suara-suara itu dalam pendengaran Robin yang otomatis membuat miliknya sendiri tegang, brengsek, batin Robin yang tak dapat ia ucapkan.


"Aahh,,,,"


"Aahh,,,,"


De.sah Emil dan Namira saling bersahutan mengiringi penyatuan mereka, Emil telah memasuki inti kelembutan Namira yang membuatnya, enak.


"Aahh,,, aahh,,,,"


"Ennghhh,,,, Emil,,,, fu.ck me! Ahh,,,,"


Emil tersenyum menyeringai mendengar de.sah lirih Namira.


Ia terus bergerak maju mundur dengan tempo teratur lalu semakin lama semakin cepat, mendesak tubuh Namira hingga menimbulkan goncangan indah di hadapannya dalam keremangan, sesekali wajah sayu Namira nampak sangat jelas menikamati permainan mereka kala melewati lampu jalan yang menyorot memberikan penerangan. Namira terlihat sangat seksi saat bermain seperti ini.


"Aahh,,,, fu.ck me so hard,,,, aahh!"


Emil menambah kecepatan dan tekanan, bunyi-bunyian penyatuan itu memenuhi seisi mobil, Emil mengangkat kedua kaki Namira ke atas pundak, ia merasakan hampir sampai.


"Aahh,,,, aahh,,,,,!"


Namira merasakan kehangatan itu memenuhi inti kelembutannya.


"Hhhhhhhaaahh,,,,"


Napas Emil tersengal, begitu pun Namira, dada keduanya naik turun.


Emil menjatuhkan dirinya menelusup ke leher Namira. Bulir-bulir keringat membasahi tubuh atas penyatuan mereka.


"Esok hari akan ku buat tanda di leher dan da.damu ini," lirih Emil sambil me.re.mas lembut dada Namira. Namira tersenyum lemas.


Emil mengecupi leher itu tanpa bisa menye.sapnya, atau tanda kepemilikan akan tertinggal di sana dan Leonel bisa melihatnya, menemukan kecurangan yang Namira lakukan padanya.


"Aahh,,,," lirih Namira saat Emil men.cabut miliknya.


Terdengar suara resleting yang kembali dikaitkan.


"Robin,"


"Y ye yes, Sir." Robin keringat dingin, jantungnya berpacu kencang sedari tadi, kedua majikannya benar-benar gila.


"Tisu," ucap Emil singkat yang tentu langsung dimengerti oleh Robin.


Robin mengulurkan tisu ke belakang tanpa menoleh.


Namira yang hendak bangun ditahan oleh Emil.


"Sebentar, sayang, biar aku bersihkan."


Namira hanya bisa mengembangkan senyumnya mendapati perlakuan Emil yang sangat lembut padanya, dialah Emil yang selalu membuat jantungnya berdegup menyerukan cinta.

__ADS_1


"He em." Namira kembali merebahkan diri bersandar pada pintu mobil.


Emil berjongkok di bawah Namira, mengambil tisu sebanyaknya, lalu membersihkan area inti itu hingga ke dalamnya.


"Aahh,,,," de.sah Namira yang justru membuat Emil kembali mene.gang.


Emil mendongak mencoba melihat raut muka Namira saat ini, benar, wanitanya masih ingin dipuas.kan.


Emil melempar tisu ke depan tepat di pangkuan Robin hingga Robin kaget setengah mati. Dan kembali Robin mendengar suara resleting celana yang dibuka.


'Sialan, kampret!' umpat Robin lagi-lagi dalam hati.


"Lagi?" tanya Emil saat ia sudah menin.dih tubuh Namira, sebuah pertanyaan yang tak membutuhkan jawaban, karena Emil sudah kembali memposisikan dirinya pada area inti Namira.


"Aahh,,,,!"


Skip.


***


Mobil yang Emil kendarai memasuki pelataran luas mansion Lionel saat pukul 12 malam. Yah, Emil dan Robin bertukar posisi saat mereka sudah hampir sampai rumah tadi, setidaknya, dalam perjalanan tadi, Emil dan Namira melakukannya hingga 3 kali, membuat Namira sangat lelah dan mengantuk. Dan benar, di belakang sana Namira sudah terlelap.


Mobil berhenti tepat di depan teras mansion. Emil berlari keluar, hendak membangunkan Namira, tapi ia merasa tidak tega, ia menggempur Namira berulang kali tanpa ampun, jadi Emil berinisiatif untuk mengangkat tubuh Namira saja, menggendongnya masuk ke dalam kamar.


"Kau bisa kehilangan kedua tanganmu, sopir. Jika kau berani menyentuh barang seujung kuku pun dari tubuh istriku,"


'DEG!'


Emil dan Robin mundur, melihat ke belakang di mana Leonel telah datang. Seperti biasa, di belakang Leonel berjejer rapi orang-orang bertubuh tinggi tegap besar yang selalu mengawalnya.


"Maaf, Tuan." ucap Emil sambil menundukkan kepala, ia harus mengalah saat ini, belum saatnya menyerang.


Leonel menekan dada Emil dengan telapak tangannya cukup kuat, bisa Emil rasakan sakit itu hingga ia mengernyit sesaat, selain berkuasa, Leonel juga ternyata sangat per.kasa. Bisa dibayangkan jika ia saja merasakan sakit oleh tekanan tangan kosong Leonel, lantas bagaimana dengan Namira yang berkali-kali mendapat pukulan darinya.


"Minggir," Leonel mendorong Emil hingga mundur beberapa langkah.


Lamat-lamat Namira membuka mata, ia terbelalak dan terkejut saat mendapati Leonel yang ada di dalam mobil hendak mengangkat tubuhnya.


"K-ka kau,"


"Kenapa? Kau takut melihatku seperti sedang melihat hantu, atau,,,,, kau melakukan kesalahan hari ini?"


"T-ti tidak, bukan begitu, aku hanya terkejut karena tadi aku tidak bersamamu,"


Leonel mengangkat tubuh Namira tanpa kesulitan, tubuh langsing seksi itu sangat ringan bagi Leonel yang kekar.


"Apa yang kau lakukan? Tidak perlu seperti ini, aku bisa jalan sendiri, turunkan aku,"


"Ssstt,,,, kau tertidur tadi, hampir saja tangan kotor sopirmu menyentuhmu, jika itu sampai terjadi, aku harus memandikanmu dengan sabun dari tujuh negara untuk membersihkannya,"


Sindir Leonel yang tepat menancapkan anak panah ke dalam jantung Emil yang barusan ia lewati.


Namira melirik kecil Emil yang tentu menahan amarah atas ucapakan Leonel padanya.


"Leon, lepaskan. Biarkan aku berjalan."


"Sstt,,,, aku merindukanmu, berapa hari kita belum melakukanya lagi setelah hari itu? Ayo kita bermain malam ini,"


DEG.


***

__ADS_1


__ADS_2