
POV Namira.
Mungkin hanya perasaanku saja, atau memang ada yang sedang direncanakannya, aku merasa ada yang berbeda dengan Emil, aku tahu, semua kemesraan yang kami tunjukkan di depan keluarga besar adalah sandiwara belaka, tapi entah mengapa Emil bisa melakukannya dengan sangat natural, bahkan ia berniat menciumku andai aku tak bergerak cepat memalingkan muka untuk menghindar.
Dan saat tengah malam, aku terbangun karena merasakan adanya pergerakan, sebuah tangan yang melingkar di perutku, sial, ternyata benar, seseorang memelukku yang tengah tidur dari belakang.
Kedua mataku seketika membola, mendapati tangan kekar itu berada tepat di perutku.
'Kya,,,,' jeritku dalam hati karena aku refleks membungkam mulut, mengingat jika saat ini kami berada di rumah besar.
Aku berbalik, melihat orang yang sudah sangat kukenal aroma tubuhnya, pria beraroma bvlgary, Emil tidur di sebelahku dan dia memelukku.
Kudorong tubuhnya dengan kaki sedikit menjauh, ya Tuhan,,,, aku sangat kesal, dia naik ke atas ranjang saat aku sudah tertidur.
"Emil,,,, Emil,,,," aku memanggil nama Emil berulang, namun tak ada hasil, pemilik aroma bvlgary itu masih damai dalam lelapnya.
Aku menghela nafas kasar, kesal. Kupukul dan kutarik tangannya agar ia bangun, atau setidaknya aku bisa membuat tubuhnya turun dari ranjang, tapi sampai tenagaku serasa habis, aku tak dapat memindahkan Emil barang sedikitpun, dia sangat berat.
"Emil,,,, bangun,,,, ya Tuhan,,,, kau ini sedang tidur apa mati? Emil,,,, bangun,,,,!" lelah.
Akhirnya aku menyerah, kupikir ya sudahlah, biarkan saja, toh dia juga sedang tidur, memangnya apa yang bisa ia lakukan? Tapi ternyata aku salah, karena aku tak dapat lagi memejamkan mata, dan Emil selalu kembali mendekat padaku lalu memelukku lagi, ya Tuhan,,,, apa-apaan ini? Apa benar pria ini sedang tidur? Atau dia hanya berpura-pura?
Aku bergerak mencoba melepas tangan Emil yang melingkar di pinggangku, namun kurasa pelukan itu semakin mengencang, aku sudah mencoba berulang, dan hasilnya, nihil.
Benarkah ini nyata? Aku dan Emil tidur di atas ranjang yang sama, kami melewati malam bersama dalam damai, entah mengapa hatiku menghangat, dan aku bahkan mengulum senyum karena aku merasa sangat senang.
'Andai kau tidak pernah melukai perasaanku begitu dalam dengan mengataiku sebagai wanita murahan, sungguh demi Tuhan aku sangat mencintaimu, Emil, tapi semuanya hancur ketika aku tahu kau hanya mempermainkanku, bahkan kau menganggapku wanita tak rendahan yang mudah kau dapatkan lalu kau campakkan, Kau ternyata adalah pria petualang, aku terlanjur sakit hati dan kecewa padamu, dan juga mencintaimu,'
Kutatap penuh rasa sesak wajah Emil yang damai dalam tidur, ia tetap terlihat tampan meski tengah terlelap seperti saat ini. Senyum dan air mataku datang bersamaan, menerbitkan rasa yang sulit tuk ku utarakan. Ada bahagia, tapi luka juga turut menyapa.
***
Aku berhasil tidur semalam meski aku tak tahu pukul berapa tepatnya, membiarkan Emil memeluk tubuhku, dan kini, aku merasa sangat nyaman, bantal yang kugunakan sepertinya kualitas terbaik, tunggu, kenapa aku merasa seseorang tengah memperhatikan aku yang sedang tidur? Begitu pikirku, dan aku sontak membuka kedua mata, mendapati wajah Emil yang tersenyum manis berada tepat di hadapanku.
"Good morning, my wife!"
__ADS_1
"Hah?" aku menutup mulut cepat menahan teriakan. Lekas mendorong Emil dan langsung bangun terduduk.
Jadi, bantal nyaman tadi adalah lengan kekar Emil? Dan dia memperhatikan aku yang sedang tidur? Aiiisshh,,,, ini sangat memalukan.
Aku melompat turun dari kasur, berniat berhambur ke dalam kamar mandi, namun langkahku terhenti kala kudapati tisu-tisu ajaib itu berceceran di lantai. Seperti biasa.
"Ya Tuhan, Emil,,,, kau!"
Emil turun dari tempat tidur menghampiriku.
"Bagaimana aku bisa menahan diri, ketika istri seksiku tidur sambil memelukku semalaman."
"Apa" aku tidak percaya.
"Apa semalam kau juga mencuri ciuman dariku?"
"Emil!" jari telunjukku menunjuk tepat di depan muka Emil.
"Cup,,,," dan Emil justru mengecup jari telunjukku, membuatku,,,, ah, tidak, aku tidak apa-apa, hanya saja jantungku berdetak lebih kencang dan darahku berdesir hebat.
"Aahhh!"
***
Kami semua sarapan pagi bersama, semenjak keluar dari kamar, sandiwara kembali kami perankan dengan sangat baik, hingga kini kami berada dalam perjalan menuju makam Alm. Kakek.
Setibanya di sana, kami melakukan doa bersama, lalu kembali pulang saat siang, dan selama itu berlangsung, tangan Emil sama sekali tak terlepas dari tubuhku, entah memeluk pinggangku, atau menggenggam tanganku erat, kami benar-benar terlihat seperti pasangan saling mencintai yang bahagia.
***
Aku menepis kasar tangan Emil saat kami telah sampai di dalam kamar, Emil mendengus pelan, namun tak ada ocehan yang memancing keributan di antara kami, ia lantas merebahkan diri di atas ranjang. Padahal sebenarnya aku juga ingin melakukan itu, tapi melihat Emil yang bergerak terlebih dulu, aku memutuskan untuk mandi saja.
Saat keluar dari kamar mandi, Emil mengagetkanku karena dia berdiri di depan pintu.
"Emil, apa yang kau lakukan? Kau membuatku terkejut." Aku memegangi handuk di kepala yang hampir terlepas karena kaget.
__ADS_1
"Aku pikir kau pingsan, begitu lama di dalam sana tanpa suara."
"Ssstt,,,, diam kau!" aku melenggang melewati Emil yang terus menampakkan senyum bodohnya.
"Kau sering sekali keramas, padahal kita belum memulai permainan inti, atau,,,,"
"Apa?" aku menoleh menatap Emil tajam.
"Mana aku tahu apa yang kau lakukan di dalam kamar mandi begitu lama, aku tidak memasang kamera di sana."
"Diam kau, Emil, aku tidak sepertimu yang melakukan mastur,,,,"
"Basi?" sahut Emil membuatku merasa sangat malu, Emil terbahak puas.
"Wajahmu sangat merah, Nami. Kau malu?"
Ya Tuhan,,,, aku sungguh membenci hambamu yang satu ini. Aku mengabaikan Emil yang terus memancing emosiku, memilih mematut diri di depan kaca rias, malam nanti rumah besar akan kedatangan banyak tamu, memperingati Alm. Kakek selama beliau hidup dan mengembangkan bisnis kakek buyut O'clan Company.
"Lebih baik kau mandi, Mr. Emil Cornelius O'clan, agar kau terlihat tampan untuk acara nanti malam, mungkin saja akan ada mangsa yang bisa kau dapatkan."
"Kau benar, tapi, apa kau tidak cemburu jika suamimu ini berburu, istriku?" Istri? Suami? Pernikahan kontrak ini?
"Kenapa aku harus cemburu? Tidak ada yang perlu aku cemburui dari seorang pria yang mudah bercumbu dengan wanita siapa saja, di mana saja, dan kapan saja, itu tidak berkualitas menurutku."
Senyum yang sedari tadi mengembang di lengkung bibir Emil menghilang, berganti dengan tatapannya yang kurasa menajam, tapi apa peduliku? Dia bahkan tidak menyaring mulutnya terlebih dulu setiap mengataiku.
"Kau salah paham, Nami." suara Emil terdengar serius, aku mengernyit, menoleh pada Emil yang masih menatapku lekat, lalu kembali mematut diri dalam pantulan cermin.
"Aku tidak menciumnya, Stevia yang menciumku, tapi aku tidak membalasnya."
Aku berhenti memakai lipstik, apa Emil tengah membicarakan kejadian di Rumah Sakit waktu itu? Ciumannya bersama Dokter seksi itu? Stevia. Nama Dokter itu? Aku kembali melanjutkan memakai lipstik, seolah tak peduli dengan penuturan Emil, padahal hatiku rasanya terbakar.
"Nami,,,,"
"Kenapa kau repot-repot menjelaskan, Emil, apa aku terlihat peduli?"
__ADS_1
'Meski kau tidak membalas ciuman dokter itu, tapi kau membiarkannya menciummu, itu sama saja bagiku, Emil.'
***