100 HARI MENIKAH

100 HARI MENIKAH
Ayah tidak di rumah


__ADS_3

Sebuah pesawat telah lepas landas dari bandar udara Charles de gaulle kota Paris menuju tanah air.


Namira tentu merasa sangat senang karena sebentar lagi rasa rindunya pada sang ibu dan ayah akan segera terobati. Sedangkan Emil, ia nampak banyak diam dan memikirkan banyak hal tanpa Namira sadari.


Selain memikirkan bagaimana nanti reaksi Namira ketika mengetahui kematian ayahnya, yang Emil takutkan akan berimbas pada hubungan mereka karena telah menyembunyikan semua kebenaran dari Namira, Emil juga masih kepikiran tentang Sexyola yang sangat tidak diduganya.


Biar bagaimanapun, Sexyola adalah orang yang sudah dikenalnya lama, seseorang yang selalu ada untuknya, mendukungnya, dan tiba-tiba dia melakukan hal nekat dengan alasan dia telah jatuh cinta. Bukankah itu sangat mengganggu? Emil merasa sangat terganggu dengan ungkapan perasaan Sexyola waktu itu.


"Sayang, kau baik-baik saja?" tanya Namira saat ia melihat Emil yang hanya diam melamun.


"Ah? Iya, aku hanya lelah." jawab Emil sambil mengulas senyum, dan Namira pun membalas senyum itu, memegang erat tangan Emil.


"Tidurlah, mungkin bisa mengurangi sedikit rasa lelahmu," saran Namira.


"He em." setelah itu Emil memposisikan diri senyaman mungkin, bersandar dengan benar, lalu memejamkan mata. Membiarkan bayangan Sexyola yang menggila mengungkapkan perasaan pada dirinya memenuhi kepala.


Penerbangan masih butuh beberapa waktu lagi hingga mereka akan sampai di kota tujuan.


***


Suasana rumah ibu Namira kini nampak sangat sepi, sangat sunyi. Tak ada lagi keramaian Aretha, Namira dan Tita, ditambah baru saja meninggalnya sang ayah, menambah suasana kental akan rasa sedih.


Namira dan Emil kini berada di dalam sebuah mobil yang melaju cukup kencang, mobil yang disiapkan oleh keluarga O'clan untuk menjemput mereka di bandara, lalu membawa mereka menuju perumahan kelas menengah tempat tinggal ibu Namira.


"Jalanan ini masih sama, semua masih sama, tidak ada yang berubah. Aku sangat merindukan ibu dan ayah, mereka pasti akan sangat senang mendapat kejutan kedatangan kita, sayang. Aku benar-benar merindukan ibu dan ayah." celoteh Namira menggebu, ia merasa sangat senang sekarang.


Emil semakin merasa bersalah, ia terus menggenggam erat tangan Namira dan kini memeluk tubuh istrinya agar semakin ia dekap dengan erat.


"Kau tahu? Saat aku mengalami kecelakaan waktu itu, aku merasa melihat ayah dalam mimpiku, entahlah, itu semua hanya ilusiku, tapi terlihat sangat nyata, bahkan ia memeluk dan mengusap rambutku hingga aku terlelap dalam pelukannya. Aku memang sangat merindukan kehangatan ayah, semenjak beliau sakit, kami sangat jarang melakukan kebiasaan itu," Namira terus bercerita, dan mata Emil sudah berair, buru-buru ia menyekanya, jangan sampai Namira tahu dia menangis.


"Sayang?"


"Iya,"


"Apa kau benar baik-baik saja? Aku perhatikan kamu banyak diam, ada apa?" Namira menatap dalam manik Emil, manik yang terlihat sendu, sebuah tanda tanya besar membuat Namira merasa tidak tenang, bukankah segala masalah yang mereka hadapi kemarin telah dinyatakan selesai? Meski Emil bahkan tidak menceritakan banyak hal, hanya mengatakan, polisi telah memecahkan kasus dan kasus dinyatakan selesai.

__ADS_1


"Tidak, tidak ada apa-apa, tenanglah, aku baik-baik saja, cupp!" Emil mengecup kening Namira, menenangkan perasaan istrinya yang teramat peka.


***


Mobil berhenti di tepian jalan depan rumah Namira. Namira keluar dengan riang dan lekas menutup pintu mobil lalu memejamkan mata, merentangkan tangan dan menghirup udara khas yang lama tak ia rasakan.


"Haahh,,,, senangnya,,,, aku merasa seperti terlahir kembali." seru Namira masih memejamkan mata.


Emil melihat tingkah istri seksinya dengan perasaan sendu tak menentu, ia sedih tapi juga bahagia, bisa membawa istri tercintanya pulang dan mereka sudah saling menerima.


"Namira," suara seorang wanita paruh baya yang membuka gerbang besi dari dalam.


"Ibu!" Namira langsung berhambur ke dalam pelukan ibu, dan ibu pun langsung memeluk erat tubuh Namira. Keduanya saling melepas rindu yang selama dua bulan telah membelenggu.


"Kau datang, Nak.... Hiks hiks hiks .... Ibu rindu!"


Namira melepas pelukannya, melihat wajah ibu yang basah karena air mata.


"Ibu, kenapa menangis? Harusnya ibu bahagia Namira pulang, kenapa malah menangis, ibu tidak senang Namira datang?"


"Bodoh, ibu menangis karena saking senangnya, sampai ibu tidak tahu harus bagaimana mencurahkannya, dan hanya tangisan yang bisa menjelaskan perasaan ibu,"


Namira hanya senyum cengir kuda, ibunya kembali memeluk Namira hangat sekali lagi dan Namira membalas lebih erat lagi.


"Ibu masih sama, bau asem." canda Namira yang sebenarnya sangat merindukan aroma tubuh ibunya.


"Dasar anak nakal!"


"Ibu," kini Emil yang bergantian memeluk ibu mertuanya yang langsung disambut hangat oleh ibu Namira.


"Terimakasih sudah menjaga anak ibu, Nak Emil, dan membawanya pulang dengan selamat,"


"Iya, Bu. Maafkan Emil juga karena baru bisa datang sekarang." Emil mengelus punggung ibu mertuanya, dia tahu, jika wanita paruh baya yang sudah melahirkan istrinya itu tengah berduka.


"Sudah, sudah.... Cukup dulu dramanya, kita langsung masuk, aku sudah sangat merindukan ayah, dan aku ingin bertemu ayah, ayo...." Namira menggandeng tangan ibu dan Emil memasuki rumah, sopir membantu membawakan dua koper yang berisi barang Emil dan Namira ke dalam.

__ADS_1


Sepanjang perjalanan masuk, ibu Namira sudah menangis, dan Emil menguatkan diri untuk bisa mengatakan yang sebenarnya nanti pada Namira.


"Ayah,,,, Namira datang,,,," seru Namira saat memasuki kamar ibunya yang juga menjadi kamar sang ayah di lantai bawah.


Ibu Namira dan Emil hanya terdiam, sampai Namira melihat ke arah mereka bergantian dengan perasaan bingung.


"Kosong, ayah tidak ada di tempat tidur, ibu,,,, ayah di mana? Apa ayah di kamar lain?"


Masih tidak ada jawaban, Namira keluar dari kamar itu menaiki tangga kayu menuju lantai dua di mana kamar lamanya dan Aretha berada, Namira mulai merasa tidak enak saat mencari keberadaan ayahnya saat ini, karena saat ia menyadari ada foto ayah di dinding yang terpasang lampu, seolah memberikan sinar baru pada orang yang telah pergi meninggalkan dunia ini.


"Ayah,,,," Namira masuk ke dalam kamarnya. Kosong. Lalu ia kembali berteriak memasuki kamar Aretha, dan sama saja, Namira tak dapat menemukan sosok ayahnya di sana.


Namira kembali turun dengan berlari cepat, hingga ia mendapati Emil dan ibunya yang sudah duduk di sofa ruang tengah.


"Ibu,,,, ayah di mana? Dia tidak di rumah? Apa ayah sakit? Dia di Rumah Sakit? Ibu, katakan, kenapa diam saja?"


Namira bertanya namun ibunya masih diam dan menangis.


"Ibu, kenapa menangis? Jangan buat Namira takut, ayah di mana Bu?"


"Namira!" kini Emil yang mulai angkat suara. Namira mengernyit, mendekat ke arah suaminya yang duduk pada sofa yang lain, dan Namira duduk di sebelah Emil, mereka saling berhadapan.


"Ada yang ingin aku katakan."


"Apa? Sebenarnya ada apa? Kalian membuat perasaanku tidak enak."


"Berjanjilah, kau akan menerima kabar yang akan aku sampaikan ini dengan sabar,"


"Emil,,,,"


"_______"


Hening, Namira melepas genggaman tangannya pada Emil dan hanya terdiam.


***

__ADS_1


__ADS_2