100 HARI MENIKAH

100 HARI MENIKAH
Jangan harap bisa menyentuh Namira


__ADS_3

"Leon, lepaskan. Biarkan aku berjalan."


"Sstt,,,, aku merindukanmu, berapa hari kita belum melakukanya lagi setelah hari itu? Ayo kita bermain malam ini,"


Mendengar lontaran kalimat Leonel, Emil merasa tidak terima, ia menatap punggung Leonel yang tengah menggendong Namira terus menjauh itu dengan sorot mata tajam penuh kebencian.


'Jangan harap kau bisa menyentuh Nami malam ini, atau malam-malam selanjutnya.'


Emil kembali masuk ke dalam mobil untuk memasukkan kendaraan mewah itu ke dalam basemen.


***


'Brak!'


"Aahh,,,,"


Leonel melempar tubuh Namira ke atas ranjang, rasa takut mulai menyergap, pasalnya setiap kali ber.cinta, Leonel selalu saja memiliki sisi lain yang tak disangka, sebuah tindak kekerasan yang ia lakukan demi memuaskan fetishnya.


"Leon, tubuhku masih sangat lemah, bisakah kita melakukannya besok saja?"


"Hmm?" Leonel yang membuka kancing pergelangan kemejanya melirik Namira dengan sorot yang sarat arti.


"Jangan bercanda, Sayang! Kau tahu, tubuhmu adalah candu untukku."


Leonel menin.dih Namira dalam sekali gerakan, membuat jantung Namira berdetak sangat kencang, ia melihat Leonel yang menatap wajahnya dengan sebuah tatapan seolah menelisik.


Leonel memejamkan mata, menghirup dalam aroma Namira. Tentu ia dapat mencium sesuatu yang berbeda.


"Siapa yang menyentuhmu?"


DEG.


Pertanyaan Leonel sempurna membuat Namira merasa takut.


"A-a ap apa maksudmu?"


"Parfum siapa yang tertinggal di tubuhmu?"


"A-ap apa yang kau katakan, Leon? Kau menuduhku selingkuh?"


"Aku tidak mengatakannya, tapi jika kau mengakui,"


"Tidak ada," pungkas Namira mendorong tubuh Leonel dan ia lekas duduk. Memalingkan muka.


Leonel menatap tajam Namira meneliti setiap inci tubuhnya, tangannya bergerak mengelus paha Namira, dengan gerakan sedikit mencengkeram.


Jantung Namira benar-benar berdegup kencang.


"L-le Leon,"


"Hmm?" sahut Leonel tanpa melepas tangannya yang terus mengelus paha Namira, mendekatkan diri dan kembali mencium aroma leher Namira.


"K-ka kau s-sa salah faham, mungkin saat aku hadir di pesta Nora tadi, aku berpelukan dengan beberapa orang, jadi,"


"Bagaimana cara mereka memelukmu? Hingga parfum mereka tertinggal di tubuhmu?" Leonel menarik tengkuk Namira, mel.umat lembut bibirnya. Kedua matanya terpejam, dan tangannya terus bergerilya, mere.mas dada Namira.


"Eemmppphh!"

__ADS_1


"Siapa partnermu itu?" bisik Leonel sangat pelan namun penuh penekanan tepat di telinga Namira.


"T-ti tidak, tidak ada." jawab Namira dengan suara bergetar, ia tak dapat lagi menyembunyikan ketakutannya. Membayangkan Leonel mengangkat senjata dan diarahkan tepat di kepala Emil, membuat Namira bergidik ngeri.


'Jangan sampai itu terjadi.'


"Bagaimana kalau kita main bertiga, Sayang, aku ingin melihatmu bermain dengan partner lain di depan mataku,"


Namira menelan saliva kasar, gila. Leonel benar-benar gila.


"Tidak, aku tidak mau. Apa yang kau,"


'PLAK!'


"Aahh....."


Leonel menampar keras pipi Namira, lantas menjambak kasar rambut Namira hingga kepala Namira mendongak ke belakang.


"Dasar ja.lang munafik! Kau bermain di belakangku dan kau menutup diri seolah kau adalah wanita suci, Ciihhh!"


'Plak!'


"Aahh!"


Leonel mencekik leher Namira, buliran-buliran bening itu mulai lolos satu persatu dengan derasnya membasahi pipi seiring hati dan fisiknya yang terluka.


"L-le le Leon!" Namira mulai kehabisan nafas, Leonel mencekiknya sangat kuat, wajah dan mata Namira sudah sangat memerah, keringat bercucuran dari dahinya.


"Dengar, akan aku temukan dia lalu kuseret dan kutembak kepalanya tepat di hadapanmu," gertak Leonel semakin membuat Namira takut.


'PLAK!'


"Aahh,,,," jerit Namira saat Leonel kembali menin.dih tubuhnya, merentangkan kedua tangan Namira ke sisi kiri dan kanan.


"Lupakan dia, sayang, malam ini puaskan dulu suamimu sebagai seorang istri yang baik." Leonel menjatuhkan wajahnya ke ceruk leher Namira, mulai menciumi leher jenjang itu, menyesap dan menggigit kecil membuat Namira meringis.


"Tok tok tok,"


Namira yang tak berdaya melihat ke arah pintu yang tengah diketuk seseorang dari luar, sedangkan Leonel tak menghiraukannya.


"Tok tok tok,,,,"


"Aahh,,,," de.sah Namira kala dua jari Leonel sudah memasuki area inti tubuhnya dengan mudah.


Leonel mencabut tangannya, lalu mencium aromanya. Namira menegang, ia semakin takut sekarang.


"Kau menikmati percintaan kalian, sayang?" lirih Leonel menyeringai, mencium aroma area inti Namira yang ada di dua jarinya, mencium sangat dalam seolah harum itu sangat menggoda.


"Aahh,,,," de.sah Leonel nampak sangat puas dengan aroma bekas pria lain yang telah menjamah istrinya.


"Aku mempunyai dua kandidat kuat sebagai pelaku atas cairan ini, sayang! Dan dia harus menemani permainan kita bertiga sebelum dia menemui ajalnya di tanganku, kurasa,,,, jika bukan Robin, maka pasti Sopir baru itu, ah,,,, siapa namanya? Ha,,,, Emil. Namanya Emil, dia tampan dan juga gagah, apa kau menyukainya? Bahkan dia hendak mengangkat tubuhmu tadi, membuatku merasa cemburu."


DEG.


"Bagaimana permainannya? Kau puas?"


Namira menggeleng cepat berkali-kali.

__ADS_1


"Ti ti ti tidak, tidak." Namira benar-benar takut sekarang.


"Tok tok tok,,,,"


"S.h.i.t.t, siapa yang berani mengganggu kesenanganku, akan kubunuh dia." Leonel bangkit, menarik laci nakas dan meraih senjata api.


Namira lekas bangun turun dari ranjang berjalan mengikuti Leonel dari belakang.


'Klak!'


Si pengetuk pintu mengangkat kedua tangan ke atas kaget, Leonel mengarahkan senjata apinya tepat di kening kala pintu itu terbuka.


"Ada apa?" tanya Leonel, pria yang mengetuk pintu adalah kaki tangannya yang terpercaya.


"Tuan, CEO dari D'Ve La Paris telah membatalkan semua kerja sama kita,"


"Apa? Malam-malam begini?"


Pria itu menunjukkan layar ponselnya yang memutar video percintaan Leonel dengan istri CEO itu di ruang kerjanya di perusahaan. Itu terjadi saat istri CEO menggantikan suaminya untuk datang ke perusahan Leonel untuk meeting, dan mereka justru bermain gila.


"Apa ini?" bentak Leonel merebut ponsel bawahannya, matanya menatap nanar dan tajam pada ponsel itu.


"Video itu sudah tersebar luas di internet, dan sekarang menjadi trending topik." lapor kaki tangan Leonel.


"Apa?"


Namira yang mendengarnya tentu merasa senang, ini pasti perbuatan Emil dan Robin.


"Breng.sek!" Leonel membanting ponsel itu hingga pecah dan serpihannya berserakan. Namira kaget, tapi tidak dengan bawahan Leonel, ia sepertinya sudah sangat mengenal watak Leonel jadi dia sudah tahu bagaimana reaksi yang akan Leonel lakukan.


"Ada satu lagi,"


"Apa?" teriak Leonel mencengkeram kerah jas yang pria itu kenakan.


"Video anda membunuh staf keuangan. Video itu juga sudah tersebar luas di internet."


"Apa?"


"DUGH!" Leonel memukul rahang pria itu karena kesal hingga pria itu sempoyongan dan jatuh tersungkur. Ia butuh pelampiasan.


"Aahh,,," kini Leonel berpindah menjambak Namira.


"Leonel, sak-kit!" Namira memegang tangan Leonel berusaha menarik melepaskan cengkeramannya, tapi tangan Leonel sangat kuat, dan dia semakin menguatkan jambakannya.


"Apa ini ada hubungannya denganmu? Apa ini perbuatan kekasih gelapmu? Hah? Katakan ja.lang!" bentak Leonel sangat emosi.


"Sir," seorang pelayan perempuan datang.


"Ada Polisi mencari anda di bawah." lapor pelayan sambil menundukkan kepala.


"HA HAHAHAHA HAHAHAHA!"


Tawa Leonel yang menggelegar terdengar sangat mengerikan, ia melepas tanganya yang menjambak rambut Namira, lalu menamparnya sangat keras sekali lagi, sebelum akhirnya ia turun diikuti oleh orang kepercayaannya. Meninggalkan Namira yang tersungkur di lantai, menangis tapi juga tersenyum kemenangan.


"Berakhirlah riwayatmu, Bang.sat!"


***

__ADS_1


__ADS_2