
Menyambut pagi bermalas-malasan dengan berada di dalam pelukan orang yang dicintai adalah suatu kebahagiaan yang tak dapat digambarkan.
Namira berbaring menyamping membelakangi Emil yang memeluk tubuhnya, merengkuh perutnya dan menelusupkan mukanya ke dalam ceruk leher Namira.
"Engghh!" Namira bergeliat, ia mulai merasakan sesuatu di bawah sana yang menempel bo.kongnya telah mengeras.
"Don't move, Honey!" lirih Emil bersuara parau.
"Ehm,,,," Namira bergerak semakin gelisah. Ia tahu Emil masih belum bersedia melakukannya karena mengingat kondisi kesehatan Namira yang masih belum sepenuhnya pulih.
"Sayang, jangan bergerak terus." Emil melarang Namira bergerak yang semakin memancing gai.rah kelelakiannya. Namun ia sendiri justru mendengus aroma leher Namira terus menerus.
Namira membalikkan badan, kedua matanya mulai terbuka malas, melihat wajah tampan kental dengan aura maskulin yang semakin melekat. Emil selalu terlihat mempesona di mata Namira bahkan saat bangun tidur seperti ini.
Bibirnya melengkung ke atas mengguratkan senyum simpul yang melelehkan hati siapa saja yang melihatnya, dengan kedua mata yang masih terpejam menambah daya tariknya.
"Suamiku sangat tampan!" ucap Namira semakin menatap lekat wajah Emil.
Sontak kedua mata Emil terbuka. Mendapati Namira yang tepat berada di hadapannya, sambil tersenyum sangat cantik.
"Tunggu beberapa bulan lagi, kita akan menjadi sepasang suami istri yang sah." sebuah kecupan mendarat di kening Namira cukup lama, dan Namira memejamkan kedua matanya menerima kecupan itu.
***
"Emil, hentikan!" Namira tengah memasak makanan untuk sarapan mereka. Namun Emil tak hentinya menggoda, memeluk Namira dari belakang, sesekali menggelitik bahu, tepian perut, bahkan mengelus perut ramping Namira dari dalam.
"Emil, ah, kau membuatku geli!" protes Namira berulang kali yang tak dihiraukan Emil.
"Berhenti dulu, aku harus mencicipi bagaimana ini rasanya." peringat Namira yang diangguki Emil, karena takut kuah panas yang Namira coba menetes melukai dirinya.
"Emmhh!" Namira menutup mulut dengan tangan sebelah yang kosong, tangan yang memegang sendok lekas digeletakkan begitu saja dan Namira melepas rengkuhan tangan Emil pada dirinya, Namira berlari keluar dari dapur menuju kamar mandi yang berada di samping dapur.
"Sayang, kau kenapa?" Emil mematikan kompor, dan lekas mengejar Namira panik, tiba-tiba Namira pergi masuk ke dalam kamar mandi, setelah sampai di sana, Namira justru muntah-muntah.
"Sayang, kau kenapa?" Emil memijit tengkuk Namira, memegangi rambut Namira yang lagi-lagi berjatuhan ke depan.
Namira menyalakan air, membersihkan cairan kuning muntahannya di wastafel. Ia lantas mengusap mulut dengan air dan juga membasuh mukanya. Keringat dingin bercucuran membasahi dahi.
__ADS_1
"Sayang, kau kenapa? Mana yang sakit? Kita ke Dokter?" Emil sangat khawatir, tadi Namira nampak baik-baik saja. Bahkan terlihat semakin membaik dari sebelumnya. Namun tiba-tiba dia muntah dan wajahnya seketika pucat.
"Kita ke rumah sakit, aku tidak tega melihatmu seperti ini."
"Emil,,,," jerit Namira kaget.
Tanpa menunggu persetujuan dari Namira, Emil mengangkat tubuh Namira begitu saja. Membawanya keluar untuk pergi ke rumah sakit.
"Emil, turunkan aku, ini tidak perlu. Aku baik-baik saja!"
Emil tak menghiraukan rengekan Namira. Mereka sudah sampai di pintu utama dan Emil menurunkan Namira sesaat untuk membuka pintu.
"Emil, kita tidak perlu ke rumah sakit, aku tahu aku sakit apa."
Hening.
Emil terdiam menatap dalam Namira. Wanitanya memalingkan muka, ada air mata yang berusaha ia cegah agar tak berlinang.
"Kau?" tanya Emil menggantung.
"Sejak tiga bulan yang lalu," lirih Namira menunduk, buliran bening yang ia tahan luruh, dadanya terasa sesak namun Namira berusaha tegar.
"Apa maksudmu? Katakan dengan jelas!" Hati Emil bergetar, ia takut mendengar apa yang akan Namira katakan selanjutnya, tapi Emil harus mendengarkannya langsung. Mau tidak mau, siap tidak siap.
"Aku tidak lagi menstruasi semenjak tiga bulan yang lalu." jawab Namira menahan isakan.
Emil memalingkan muka. Ada sesuatu yang terasa menekan dadanya, dan itu sangat sakit. Ia menghembuskan napas kasar.
"Sebelum kita melakukannya? Di mobil malam itu?" tanya Emil yang sudah berkaca-kaca.
Namira mengangguk ragu.
"S.h.i.**.!" Emil memukul pintu dengan sangat keras, dipastikan punggung tangannya pasti sakit atas tindakannya itu.
Sontak Namira mendongak, kaget. Ada rasa takut yang menyelimuti hatinya. Bagaimana jika Emil tak menerima calon anaknya?
Emil menatap nanar Namira dengan hati yang kecewa. Yah, Emil kecewa. Karena Namira tak mengatakan padanya tentang ini semua sebelum ia memasuki tubuh Namira waktu itu. Yang artinya mereka melakukan hubungan itu saat Namira sudah mengan.dung benih dari Leonel.
__ADS_1
Emil menghela napas, berbalik dan hendak masuk ke kamar.
Dengan cepat tangan Namira mencekalnya, memegang erat tangan Emil. Emil memejamkan kedua matanya membiarkan bulir bening itu luruh berjatuhan.
"Aku tidak ingin menjalani hidup dalam keraguan dan keabu-abuan. Jika kau tak bisa menerima anakku, maka katakan dengan jelas,"
"Aku akan melepaskanmu," lanjut Namira dengan suara yang bergetar.
DEG.
Jantung Emil serasa berhenti berdetak mendengar ucapan Namira.
Melepas, itu artinya mereka akan kembali berpisah? Begitu? Apa mereka mampu?
Emil merengkuh tubuh Namira, memeluknya hangat. Tidak, jawabannya Emil tidak akan mampu, lagi pula, kenapa memangnya jika Namira mengandung? Ia akan menerima Namira dan juga calon anaknya, bahkan Fabrizio juga bisa menerima Tita putri dari mantan suami Aretha. Jika Fabrizio bisa, kenapa dirinya tidak?
"Maafkan aku, aku hanya shock."
Namira membalas pelukan Emil, kedua tangannya melingkari pinggang Emil memeluk pria itu semakin erat.
"Aku sudah mengatakan pada Leonel hari itu, jika aku telah mengandung darah dagingnya, tapi dia tidak mau menerima anak ini, dia tidak mau aku hamil dan melahirkan, Leonel tidak mau tubuhku menjadi gendut dan jelek. Dia menyiapkan operasi ab.or si dan aku tidak mau itu terjadi, aku tidak mau kehilangan anak ini, aku menyayanginya, dia anakku." Namira menangis terisak di dalam pelukan Emil. Emil mengelus rambutnya mencoba memberikan ketenangan.
"Aku berhasil kabur dari mansion, namun aku kembali tertangkap. Setelah itu aku berjanji pada Leonel jika aku akan menggu.gurkannya dengan caraku. Tapi tentu aku tak melakukan itu."
"Cukup, cukup! Sudah cukup semua derita yang kau rasakan selama ini, aku tidak akan lagi membiarkanmu hidup dalam kesedihan, biarkan aku menjadi ayahnya, aku akan menerima dia seperti anakku sendiri. Kau menyayanginya? Aku pun menyayanginya. Sudah cukup, lupakan semua yang menyakitimu kemarin. Ada aku." Emil mengecupi kepala, kening dan wajah Namira. Dan Namira semakin menangis kencang.
"Kita makan dulu, setelah itu kita bersiap ke rumah sakit, kau harus mendapat perawatan dan pemeriksaan menyeluruh. Bukan hanya dirimu, tapi juga kandunganmu. Calon anak kita."
Namira melepas pelukannya pada Emil, mereka saling menatap dalam dengan perasaan rumit yang tak mudah digambarkan.
"Terimakasih," lirih Namira tulus.
"Untuk apa? Aku sangat bahagia kita bisa kembali bersama, tidak ada lagi yang lebih dari itu."
Emil mendekatkan wajahnya pada Namira, mengecup pelan penuh rasa bibir Namira yang selalu menjadi candu untuknya.
***
__ADS_1