100 HARI MENIKAH

100 HARI MENIKAH
Kabar dari Sexyola


__ADS_3

Langit sore terlihat indah, pun pemandangan kota Paris dari tempatku berdiri, tempat favoritku, balkon kamar.


Kulihat beberapa orang yang nampak joging dibeberapa penjuru jalan, joging, bukankah itu terlihat seru? Sudah cukup lama aku tidak olahraga.


Well, aku sudah siap dengan sepatu dan setelan olahraga berwarna navy, rambut panjang sedikit bergelombang yang kukuncir ekor kuda dan sebuah headband putih di kepala, okay, aku akan mengusir rasa bosan dengan joging sore.


***


Sekitar 15 menit aku berlari, sudah cukup jauh kurasa, dan aku berhenti di tepi trotoar yang terdapat lumayan banyak orang berlalu lalang, terdapat beberapa bangku panjang di bawah lampu-lampu hias trotoar, berdesigne estetik khas kota Paris.


Aku duduk, menghirup oksigen sebanyak-banyaknya dengan nafas yang terasa tersengal, cukup lelah, bodohnya aku yang tidak membawa air putih.


Tiba-tiba seseorang menyodorkanku sebotol air mineral. Aku mendongakkan kepala menatapnya yang berdiri di hadapanku.


Ardhan.


"Berhenti, Namira!" teriak Ardhan saat aku langsung berdiri hendak pergi dari sana. Ia meraih tanganku menggenggamnya cukup erat.


"Sampai kapan kau akan terus menghindariku? Aku ingin bicara."


Well, aku terpaksa menerima air mineral yang ia tawarkan, selain karena Ardhan yang terus memaksa, aku juga sedang butuh minum.


Kami duduk pada bangku panjang yang tadi kududuki. Ardhan baru pulang kerja, dan dia melihatku tanpa sengaja lalu menepikan mobilnya dan menghampiriku.


"Jadi, kau tinggal di sini? Sejak kapan?"


"Satu bulan yang lalu," jawabku tanpa membalas tatapannya sedikitpun, memilih menikmati pemandangan jalan raya yang ramai padat.


"Oh, aku senang bisa bertemu denganmu lagi."


"Aku tidak peduli," pungkasku ketus.


"Aku baru pindah, satu Minggu yang lalu, karena lokasinya lebih dekat dengan kantorku yang baru,"


"Hem, itu urusanmu." biar saja jika Ardhan menganggapku berubah ataupun bahkan sombong, aku hanya ingin menunjukkan padanya jika aku masih tidak bisa memaafkannya, dengan sikapnya yang dulu meninggalkanku begitu saja.


"Namira, aku tahu kau masih marah, tapi, kumohon maafkan aku."


"Berhenti membicarakan masa lalu yang sudah kukubur dalam."


"Baiklah, terserah padamu, seperti yang kau minta,"


Aku berdiri, memberikan botol air mineral padanya yang sudah kosong karena isinya kutenggak habis.


"Namira,"


"Aku mau pulang, ini sudah hampir malam."

__ADS_1


"Biar kuantar,"


Aku mengernyit,


"Maksudku, kita bareng, kita akan menuju lokasi yang sama, ayo,,,,"


Baiklah, kali ini aku setuju dan menumpang padanya. Tapi tentu ini bukan berarti apa-apa. Lagi pula perjalanan ini akan sangat singkat, paling juga tidak sampai lima menit.


Aku hanya diam seolah mengacuhkan Ardhan, dan aku tahu mantan priaku itu terus mencuri pandang kepadaku.


"Kau semakin cantik, Namira."


"I know that, aku selalu cantik dari dulu,"


Ardhan tersenyum samar, kualihkan pandangan ke luar kaca mobil.


"Namira,"


"Aku sudah menikah!" kuangkat tanganku untuk menunjukkan cincin yang tersemat di jari manisku. Namun Ardhan justru tertawa rendah.


"Aku akan membelikannya jika kau mau!"


Sial, jari manisku kosong tanpa cincin, bodoh, kenapa aku bisa lupa jika aku melepasnya semenjak hari pertama menginjakkan kaki di tanah Paris?


"Aku tidak bohong, Ardhan. Aku memang sudah menikah. Dan aku tinggal bersama suamiku."


"Ardhan!"


Aku memekik kesal dan Ardhan justru terpingkal.


***


"Terimakasih," ucapku saat kami sudah sampai di depan pintu apartemen kami masing-masing.


"Apa kita bisa makan,,,,"


"Selamat malam,"


"Brak!"


Dadaku naik turun seiring deru nafas menahan kesal, aku memutus kalimat Ardhan yang ingin mengajakku makan malam, tentu saja aku tidak mau, yang membuatku kesal adalah, perihal jari manisku yang kosong tanpa cincin.


Haruskah sekarang aku mengenakannya? Setidaknya itu akan membuat Ardhan percaya jika aku sudah menikah, meskipun, kontrak.


***


Hari kedua, setelah menunggu selama 36 jam 27 menit 18 detik, satu pesan pun masih tak kudapatkan, benar-benar menjengkelkan, Emil sama sekali tak menganggapku ada, pria itu benar-benar tidak peduli padaku. Kulempar kasar benda pipih tak berguna itu ke atas kasur, lalu melenggang ke balkon kamar.

__ADS_1


Saat sore sepeti ini, menara Eiffel nampak gagah meski tak secantik ketika malam yang penuh dengan cahaya lampu. Membuatku semakin ingin pergi ke sana.


"Hai, Eiffel, apa kau terus menyerukan namaku? Hah? Memanggilku agar aku menemuimu?"


Konyol, tapi beginilah caraku agar tetap waras dalam keadaan yang menyebalkan. Sampai malam datang menyapa dan aku kembali merebahkan diri di atas ranjang.


"Drrtt drrtt!" sebuah panggilan masuk, aku mengernyit, berasal dari nomor yang tak dikenal.


'Siapa?' tiba-tiba ada rasa takut jika itu adalah Patricia, yah, mungkin saja bukan? Perempuan sakit itu akan menerorku?


Kubiarkan sampai getar itu berhenti, dan baru kusadari jika missed call sudah sebanyak puluhan kali.


Aku sangat takut, benarkah ini teror?


Saat kubuka beberapa aplikasi pesan, kontak Sexyola menarik perhatianku.


[Apa yang kau lakukan, Namira? Di mana kau? Kenapa kau tidak mengangkat telepon dariku?]


[Namira, angkatlah, apa kau tidak melihat berita? Pesawat yang Emil tumpangi kecelakaan, dan seluruh korban di bawa ke City Hospital]


DEG


[Namira, kenapa kau tidak membalas pesanku? Jawab, apa kau sudah berada di City Hospital? Aku masih di Singapura. Emil pulang terlebih dulu. Dan aku baru akan berangkat sekarang.]


DEG


[Namira, jawab pesanku, jangan membuatku khawatir. Aku tidak bisa menghubungi siapapun untuk meminta kepastian kondisi Emil.]


Kuraih tas selempang yang tergantung lalu memasukan ponsel ke dalamnya dan berlari keluar dari kamar dengan cepat.


"Nyonya, anda mau kemana?" Laurent yang berpapasan denganku di ruang tamu bertanya heran.


"City Hospital, pesawat Emil kecelakaan." jawabku setengah berteriak. Panik, tentu saja. Bahkan rasa takut lebih mendominasi.


Aku segera berlari cepat keluar dari gedung apartemen, memasuki mobil yang terparkir di garasi lalu melajukannya dengan kecepatan tinggi menuju tempat tujuan, City Hospital.


Kunyalakan tivi mengganti pada saluran berita berharap berita kecelakaan pesawat disiarkan ulang, dan benar saja, setelah iklan berita tentang kecelakaan pesawat menemani


perjalananku yang terasa nenakutkan.


Kecelakaan terjadi saat siang tadi, pesawat mengalami masalah saat hendak melakukan pendaratan. Meski pesawat akhirnya dapat mendarat sempurna, namun goncangan-goncangan sebelumnya mengakibatkan beberapa korban berjatuhan, setidaknya 3 orang dinyatakan sebagai korban meninggal, dan lainnya luka-luka.


'Emil, kau baik-baik saja? Maafkan aku, kumohon bertahanlah, kau harus baik-baik saja.'


Tidak, aku tidak boleh lemah saat ini, aku harus menemukan Emil terlebih dulu dan memastikan keadaannya meski hatiku sangat takut. Dan hanya air mata yang menjadi teman setiaku.


'Emil,,,, aku datang!'

__ADS_1


***


__ADS_2