
Kedatangan kami disambut hangat oleh Nenek yang sudah membentangkan kedua tangannya untuk memeluk kami, ralat, Emil yang terlebih dulu berlabuh ke dalam pelukan nenek, setahuku, mereka memang sangat dekat. Sedangkan aku? Jangan berharap lebih, menjadi seorang menantu jalur aib bukanlah suatu prestasi yang bisa dibanggakan, diterima dan tidak dikucilkan keluarganya saja sudah syukur.
"Nenek sangat merindukanmu, kenapa kau tidak menemui nenek sama sekali," Nenek mengelus punggung Emil, aku selalu tersenyum semenjak datang, meski mungkin senyumku nampak aneh, karena tentu aku memaksakannya.
Daddy menyambutku lebih dulu memberi pelukan hangat, satu yang pasti, Daddy adalah pria yang sangat baik, dia bijak dan memiliki hati yang lembut, ia menyambut dengan menanyakan kabarku, dan kujawab jika aku sangat baik, lalu balik menanyakan kabarnya.
Mommy Di juga ada, serta banyak pekerja perempuan berseragam setelah tadi di luar kutemui para pekerja pria yang berpakaian bebas. Mereka membungkuk memberikan penghormatan selamat datang.
Setelah kami saling berpelukan satu sama lain, Nenek meminta kami semua untuk istirahat dulu, dilanjut nanti malam untuk makan malam bersama, doa bersama baru akan dilakukan esok malam, setelah sebelumnya kita semua akan berziarah ke makam Alm. Kakek siang harinya.
Aretha dan Mr. CEO mengambil langkah pertama masuk ke dalam kamar mereka bersama bayi cantik Tita, lalu Carol dan nenek yang dituntun maid ke kemar masing masing.
"Ayo," Emil mengajakku, mengulurkan tangan untuk kugenggam, kami bergandengan tangan saat melangkahkan kaki menapaki tangga mewah rumah besar. Sandiwara berjalan baik, kami terlihat seperti sepasang suami istri yang saling mencintai dan bahagia.
'Klek!'
Sebuah kamar luas nan mewah, berdesigne estetik sama seperti designe rumah besar ini, yang dominan dengan warna gold.
Lemari besar berwarna putih gading masih dengan sentuhan warna emas, atau itu memang emas sungguhan, sebuah kursi dan meja kerja, sebuah sofa panjang, ranjang tidur yang sangat besar nan mewah seperti kasur raja, serta lampu gantung kristal yang seperti di film-film kerajaan. Oh, jangan lupakan lukisan di dinding yang sangat estetik, seorang perempuan bergaun cantik duduk begitu anggun nan elegan di sebuah sofa besar sambil menyilangkan kaki. Benar-benar sebuah kamar yang indah.
"Waahh,,,," aku sampai tak sadar melongo melihat kemewahan kamar Emil, dia benar-benar keturunan seorang bangsawan Paris. Jauh berbanding terbalik denganku yang,,,, ah, sudahlah.
"Kau mandilah dulu, makan siang akan diantar sebentar lagi ke kamar kita." ucap Emil sambil melepas genggaman tangan kami, aku baru sadar jika kami saling bergandengan sedari tadi.
"Oh, aku tidak perlu mandi, nanti sore saja." balasku yang tak mendapat tanggapan lanjutan dari Emil.
__ADS_1
Ia duduk di tepian ranjang, melepas kedua sepatunya, dan mengambil dua pasang sandal.
"Pakailah ini saat di dalam rumah, kakimu akan lelah jika kau terus memakai heels." Emil meletakkan sepasang sandal yang berukuran besar di depan kakiku, tubuh tingginya yang kekar sampai menunduk saat meletakkannya. Itu adalah salah satu sandal koleksi Emil.
Terkadang, sikap Emil membuatku merasa bingung, baru beberapa waktu yang lalu dia masih terlihat kesal padaku, tapi kini dia sudah bersikap baik kembali. Dan yang membuatku selalu berburuk sangka adalah, dia pasti hanya ingin mendekatiku agar bisa semakin merendahkanku.
"Thankyou!" ucapku sambil memakai sandal yang ia berikan setelah melepas sandalku yang berhak tinggi.
"Aku tidak tahu jika kita akan tinggal di sini, jadi aku tidak menyiapkan sandal untukmu, nanti kita beli kalau kau mau,"
"Tidak perlu, lagi pula, kita hanya akan sebentar saja kan di sini? Jadi, kurasa ini sudah cukup!" aku mengulas senyum, Emil menatapku datar, tatapan kami saling mengunci dalam waktu yang cukup lama.
'Tok tok,,,,' ketukan pada pintu dari luar membuyarkan kami.
Emil yang membuka pintu dan aku melangkah menuju balkon kamar yang menyuguhkan pemandangan kota Paris.
Aku masih berdiri mengagumi keindahan pemandangan dari balkon. Di bawah sana kebun bagian samping rumah yang nampak indah dan terawat, banyak pekerja lalu lalang, aku merasa seperti seorang tuan putri pada dongeng kerajaan andai tak mengingat kembali siapa diriku sebenarnya, dan bagaimana diriku bisa ada di dalam keluarga mereka.
"Kemarilah, kita makan siang."
Aku menoleh pada Emil yang meletakkan beberapa makanan di atas meja, diambil dari meja trolly yang ada di sampingnya, okay, yang datang tadi adalah maid yang mengantarkan makan siang kami.
Aku mendekat, lalu membantu Emil meletakkan satu persatu makanan yang cukup banyak itu ke meja bundar hingga habis, dan duduk di salah satu kursi di dekat Emil.
"Kenapa kita tidak makan siang bersama keluarga besar?" tanyaku penasaran, dan makan siang justru diantar ke kamar.
__ADS_1
"Mereka baru datang, pasti lelah, karena itu nenek meminta kita makan di kamar masing-masing, agar semuanya bisa lekas beristirahat."
Aku cukup senang dengan sikap Emil yang seperti ini, dia menghangat seperti mentari pagi.
Kami mulai melahap menu makan siang yang tersaji, terdapat banyak menu Indonesia, juga makanan Paris.
Kami sama-sama nampak kalap, pagi tadi kami tidak sarapan, dan semalam juga tidak makan malam usai bertengkar, jadilah makan siang kami ini menjadi ajang balas dendam.
"Ada yang ingin kukatakan," aku memulai obrolan, Emil berhenti mengunyah, terdiam sesaat lantas kembali makan. Seolah mengabaikanku, tapi aku tahu dia mendengarku.
"Namanya Ardhan," Emil kembali berhenti, kutangkap raut emosi di wajahnya. Aku memutuskan untuk mengatakan semuanya dengan jelas, terserah Emil percaya atau tidak setelah ini, aku tidak peduli, dan aku bahkan tidak peduli tanggapan apa yang nantinya akan ia berikan, aku hanya tidak mau dia menganggapku bermain dengan pria lain sedang kami dalam ikatan, meski hanya kontrak.
"Dia mantan pacarku, dulu kami hampir saja menikah, tapi dia pergi meninggalkanku karena suatu alasan," Emil berhenti makan, meletakkan sendok di piring, bersandar pada punggung kursi dan menatapku penuh arti.
"Kami kembali bertemu dengan tidak sengaja beberapa hari yang lalu, dia,,,, tinggal di sebelah apartemen kita," aku melanjutkan bicara meski Emil hanya diam tak menanggapi.
"Dia pria pertama dan satu-satunya yang menyentuh tubuhku, sebelum dirimu," Emil mengalihkan pandangan, melihat ke hamparan luas pemandangan kota Paris di siang hari yang cukup sejuk. Dadanya sempat naik lalu turun seolah menghembuskan nafas kasar yang menyesakkan dada.
"Aku berkata jujur jika aku tidur dengannya, tapi itu dulu, sebelum aku bertemu denganmu, terserah jika kau mau percaya, atau tidak, aku mengatakan yang sebenarnya." aku berdiri setelah mengatakannya, dadaku tiba-tiba merasa sesak. Emil sama sekali tidak peduli, iya diam tak menanggapi.
"Kenapa kau tidak menemuiku di rumah sakit? Apa kau tidak peduli padaku bahkan jika kabar kematianku yang kau dapatkan?" langkahku terhenti mendengar Emil buka suara, ia berdiri, menghadapku yang berdiri membelakanginya. Setetes air mataku berlinang, kenapa begitu sulit menahan sebuah tangisan?
"Aku datang, bahkan aku sudah berdiri di depan pintu ruang rawatmu, 307. Dan melihatmu baik-baik saja, mendapat perawatan terbaik dari Dokter seksi itu, dan aku tahu, kau tidak membutuhkan kehadiranku, karena Dokter itu sudah melayanimu lebih baik dari yang kau butuhkan." aku lekas melangkah pergi masuk ke dalam kamar setelah mengatakannya. Tidak lagi bisa menahan hati yang begitu nyeri dan bergemuruh riyuh entah menyuarakan apa, sedang air mata terus luruh jatuh tak dapat kucegah.
***
__ADS_1
Hai sahabat Readers,,,, bab selanjutnya akan diceritakan Povnya Emil ya.... jadi sedikit mengulas ke belakang, tapi saya usahakan tidak terlalu bertele-tele agar tidak bosan. Hanya beberapa part penting mereka yang diambil dari posisi Emil dalam beberapa kejadian. πππβΊοΈ