100 HARI MENIKAH

100 HARI MENIKAH
Terimakasih.


__ADS_3

"Aahh,,, aahh,,,, sshh,,,, aahh...." Namira tak dapat menahan de.sahannya kala Leonel terus mendesaknya dengan semangat, tubuh Namira bergerak naik turun membuat para baji.ngan itu tertawa puas.


Leonel benar-benar berga.irah melihat Namira dalam keadaan seperti ini. Namun air mata wanita itu terus berlinang tiada henti dari sudut-sudut matanya mengalir pelipis, hati Namira sakit, batinnya luka, harga dirinya terampas tanpa sisa. Andai ia bisa memilih, Namira lebih baik mati okeh peluru panas Leonel dari pada mengalami hal ini.


"Emil,,,, aahh!" sekali lagi Namira menyerukan nama Emil sangat berharap pria itu akan datang menyelamatkannya.


"Plak!"


"Aah,,,,"


"Leonel, Sayang, Leonel. Jangan menyebut nama pria lain, aahh,,,, sshh,,,, saat kita bercinta, aahh,,,,"


"Brak!"


Pintu di dobrak, mengagetkan para bajingan yang tengah berpesta atas tubuh Namira.


"Siapa kau? Habisi dia!" perintah Leonel pada ke empat pria yang tadi memegangi Namira, dan dia melanjutkan kebiadabannya karena ia akan segera sampai.


"Bang.sat. Bahkan di dunia kami pun, kami tidak melakukan hal serendah ini pada wanita kami."


DUGH.


Pria itu menendang keras satu pria tepat di dadanya hingga pria yang sudah melepas celananya itu tersungkur ke lantai, memegangi dadanya yang teramat sakit.


Pria yang datang itu memiliki tato di leher, tangan dan beberapa tempat lain di tubuhnya. Ia nampak bengis namun tak melunturkan ketampanannya.


Ketiga pria bajingan mulai menyerangnya, melayangkan tinju yang dengan mudah pria bertato itu tepis, menggenggam pergelangan tangan lawan, memutarnya hingga suara tulang retak terdengar begitu jelas. Ia lantas melayangkan tendangan tepat mengenai leher lawannya dan tumbang.


Dua lainnya terus menyerang, adu skill bela diri pun tak terhindarkan.


"Aahh,,, aahh,,, aahhh!" napas Leonel terengah, ia sungguh menikmati permainannya, dan dia mendapatkan kepuasan yang ia bayangkan selama ini.


Leonel bangun, membenarkan celananya. Setelah itu ia menjambak rambut Namira, menariknya hingga perempuan itu terduduk di tepian ranjang dan Leonel bertumpu lutut di atas ranjang di belakang Namira.


Namira yang lemah sudah tak berdaya, ia sungguh pasrah dengan keadaannya saat ini. Seluruh tubuhnya yang sakit dan semangat hidupnya yang pudar.


Tangan Leonel mencekik leher Namira dari belakang.


"Siapa dia, istriku? Apa dia kekasihmu yang lain? Di mana kau mengenalnya? Kau sangat beruntung bisa mendapatkan pria seperti dia. Dia gagah dan luar biasa. Kenapa harus bermain dengan sopir?" ucap Leonel dengan suara lirih dan sumbang, Namira tak merespon, selain ia tak mengenal pria bertato yang datang, ia juga tak memilki kekuatan barang sedikitpun untuk bicara. Napasnya tipis dengan jantung yang mulai melemah, andai Leonel bisa menyadari keadaan Namira saat ini, kedua mata wanita itu seolah tak mampu untuk sekedar terbuka.


Brugh


Para pria bajingan orang Leonel telah tumbang.


"Jangan bergerak." peringat Leonel dengan tenang.


"Satu pergerakanmu, maka kupastikan leher wanita ini patah,"


DA.MN


Pria bertato menatap murka Leonel yang berhati binatang. Wanita itu adalah istrinya, tapi Leonel justru tega menyakitinya dan bahkan tak segan menghilangkan nyawanya demi keuntungannya pribadi, benar-benar baji.ngan.


"Kau datang demi ja.lang ini, bukan? Apa kau begitu mencintai istriku? Sampai kau bertindak sejauh ini? Mengabaikan keselamatan nyawamu sendiri?"


Namira memaksakan diri, mengumpulkan seluruh kekuatannya untuk membuka mata, dalam pandangan yang tak jelas samar-samar ia mulai melihat pria yang dimaksud Leonel.


"Siapa kau? Apa tujuanmu sebenarnya? Kenapa kau menginginkan istriku?" Leonel mendengus leher Namira saat mengatakannya. Namun tangan yang mencengkeram leher Namira ia eratkan semakin kuat, Pria bertato itu melihat cara Leonel mencekik leher Namira, seorang profesional. Dengan sekali gerakan, Leonel benar-benar bisa mematahkan leher Namira dan berujung kematian.


"Bern!"


Sontak Namira membuka mata kala gendang telinganya mendengar suara itu, suara pria yang sangat ia tunggu, Suara pria yang sangat ia rindu.


Emil datang dengan nafas yang terengah, dan luka parah pada lengan atasnya, sebuah luka sayatan belati, darah mengucur dari lengan itu.


"E e Emil,,,," lirih Namira lemah. Ia merasa sudah tidak kuat tapi melihat Emil, Namira seakan memiliki secercah harapan untuk tetap bertahan.

__ADS_1


"Namira,,,," Emil hendak melangkah dan Bern lekas menahan tangannya.


"Engghh!" Leonel mencengkeram leher Namira lebih kuat.


"WOW. Amazing. Ini sungguh luar biasa." oceh baji.ngan itu tanpa merasakan takut sedikit pun.


" Lepaskan Namira, bang.sat!"


"Ssuut,,,, jangan berteriak, sopir. Aku adalah bosmu, sopankah bicara seperti itu dengan bosmu?"


DUGH


"Ahh,,,"


DOR


BRUGH


"Sss... S.hi.t." umpat Bern merasakan panas pada kakinya. Darah membasahi lantai.


Rebecca datang, memukul tengkuk Emil dari belakang, dan menembak kaki Bern. Kedua tangannya memegang senjata, mengacungkannya ke arah Emil dan Bern.


"My angel. Kau sedikit terlambat, Baby."


"Maafkan, aku Tuan. Aku harus mengendarai heli kopter kita sendiri."


Leonel menarik rambut Namira berdiri, turun dari ranjang dan melangkah hendak pergi.


Bup.


BRUGH


Langkah Leonel terhenti, Rebecca tiba-tiba tumbang dengan lubang di kepalanya yang mengucurkan darah segar.


Kaca jendela pecah, seseorang masuk dengan mudah seperti seorang spiderman dari jendela itu.


BUP.


"Aahh,,,,!" jerit Leonel merasakan sakit di kakinya.


"Jho." seru Emil melihat pria yang datang.


Jho melepas pengait tali di tubuhnya lantas menekan kepala Leonel dari belakang dengan senjata apinya yang kedap suara.


"Dari mana saja kau, Bang.sat!" umpat Bern memegangi kaki yang tertembak, meringis merasakan panasnya peluruh Rebecca.


"Maaf, tuan. Saya harus menghabisi setidaknya 40 orang terlebih dulu sebelum saya menemukan kamar ini." ucap Jho sambil melayangkan pukulan di tengkuk Leonel hingga baji.ngan itu jatuh tak sadarkan diri.


Tubuh Namira yang terlepas dari cengkraman Leonel terhuyung hampir terjatuh ke lantai andai Emil tak langsung menangkapnya. Wanitanya itu benar-benar lemah tak berdaya, dan dia dalam keadaan tak sadarkan diri.


***


Lamat-lamat Namira membuka mata, tubuhnya terasa sakit semua, tulang-tulangnya serasa remuk.


"Kau sudah bangun, sayang?" suara lembut itu. Emil sama sekali tak beranjak meninggalkan Namira barang sedetik pun, kecuali saat ia ke toilet. Emil selalu berada di samping Namira, ia begitu mengkhawatirkan keadaan wanitanya, belahan jiwanya. Takut-takut jika mata cantik itu tak lagi terbuka.


"Emil,,,," lirih Namira dengan suara yang parau.


"Sssttt,,,, aku di sini," Emil membaringkan tubuhnya, merengkuh pelan tubuh Namira yang langsung menelusapkan wajah ke dalam dada bidang Emil. Menghirup aroma bvlgary yang menguar.


Sebuah jarum infus terhubung di punggung tangannya. Ulah siapa lagi jika bukan Bern. Yang menyarankan agar Namira lebih baik dirawat di rumah. Dan jangan sampai orang luar mengetahui kekacauan mereka. Biarkan itu menjadi rahasia mereka seolah kemarin tidak terjadi apa-apa, seperti cara Bern selama ia menjadi mafia.


"Kita kembali ke rumah?" tanya Namira menyadari kini mereka berada di kamar apartemen lama mereka.


"Iya, kita pulang. Dan jangan pernah pergi lagi. Tetaplah bersamaku di sini, selamanya." Emil merengkuh Namira lebih erat, ini terlalu nyaman setelah semua kerusuhan yang mereka rasakan. Tidur di ranjang empuk bersama orang yang kita sayang.

__ADS_1


"Tok tok."


Suara ketukan pintu membuyarkan mereka.


"Siapa?" tanya Namira lirih pada Emil.


"Apa Laurent?"


Emil menggeleng.


"Aku belum bisa memanggil Laurent, dengan keadaanmu seperti ini, aku tidak mau dia terlalu banyak tanya dan terlalu banyak tahu, aku akan memanggilnya setelah kamu sudah sehat kembali, sebelum itu terjadi, aku yang akan merawatmu sepenuhnya. Cup!" Emil mengecup mesra bibir Namira. Sangat lembut.


"Tok tok,,,," ketukan pintu kembali membuyarkan mereka.


"Tunggu sebentar." ujar Emil mengecupi pipi Namira, kemudian ia turun dari ranjang dan membuka pintu.


Jho sudah berdiri gagah di depan pintu kamar Namira. Sedikit melirik ke dalam mencoba memeriksa, penasaran dengan keadaan Namira saat ini, apa mereka sudah sempat bercin.ta?


'Khem!' dehem Emil membuat Jho tersadar, ia mengalihkan pandangannya dari dalam kamar bertemu pandang dengan Emil.


"Tuan Bern akan pamit. Kami harus segera kembali ke Berlin. Nyonya Lea sudah terus menghubunginya. Tuan putri Nora akan operasi."


Namira yang mendengar ucapan pria yang sama sekali tak dikenalnya itu lebih menajamkan gendang telinganya. Apa yang mereka bicarakan? Namira tak mengerti, bahkan Namira tak mengenalnya sama sekali.


Emil mengangguk, ia mendekat ke arah Namira. Meminta izin keluar sebentar, meminta Namira untuk istirahat kembali. Dan Emil pergi, menuju ruang tamu di mana Bern berada.


Bern duduk di sofa, dengan kaki yang ia selonjorkan, luka tembakan hasil karya Rebecca terbalut perban.


"Kau akan pergi sekarang?" tanya Emil duduk di sofa berhadapan dengan Bern.


"Yah, aku harus pergi."


"Tapi lukamu belum sembuh? Dan, bagaimana Lea nanti? Jika dia tahu kau terluka, dia akan khawatir."


"Juga marah." sahut Bern cepat diringi tawa.


Emil menghembuskan napas kasar.


"Terimakasih, jika bukan karena kalian, aku tidak tahu bagaimana aku bisa menyelamatkan wanitaku dari baji.ngan itu."


Bern mengangguk, menyalakan korek membakar sebatang rokok yang sudah bertengger di antara kedua bibirnya yang seksi. Menyesap menghisap nikotin dalam asap itu, lalu mengeluarkannya kembali.


"Jaga wanitamu dengan baik setelah ini, kita para pria yang terlihat gagah nyatanya begitu lemah jika tanpa sosok manja para wanita. Jangan pernah melepasnya atau kau akan menyesali perbuatanmu seumur hidupmu, bahkan kematian pun akan membawa sebuah penyesalan." ujar Bern menerawang kisahnya sendiri bersama Lea.


"Yah, kau benar, aku akan sangat menjaga Namira sekarang, aku tidak akan pernah meninggalkannya, aku akan selalu ada untuknya, membahagiakannya, yang kemarin terjadi sudah cukup membuat kami menderita. Tidak lagi."


Bern mengangguk, berdiri dibantu Jho, ia berpelukan dengan Emil.


"Datanglah ke Berlin. Kita liburan dan bersenang-senang bersama di sana."


"Tentu, aku pasti akan menjenguk Nora setelah Namira sembuh."


"Yah, dan aku berharap kalian sudah membawa kabar bahagia hasil persilangan kalian berdua."


Gelak tawa Emil dan Bern menggelegar saling bersahutan.


"Terimakasih, Bern."


"Sama-sama, Emil."


Namira? Ia menguping pembicaraan Bern dan Emil dari balik tembok. Setetes air mata berlinang mengingat perjuangan Emil atas penyelamatan dirinya.


'Aku sangat mencintaimu, Emil.'


***

__ADS_1


__ADS_2