
Robin membukakan pintu belakang, aku masuk dengan gaya angkuh yang kini melekat dalam diriku. Setelah itu, Robin masuk, duduk di jok depan bersebelahan dengan Emil yang siap di kursi kemudi.
"Jalan," tegas Robin.
Satu hal yang harus kuingat, setiap aku keluar dari rumah, Robin akan mengeluarkan senjata apinya dan siap di tangan kanan. Yang ia sembunyikan di balik jas yang menutup tangannya itu.
Jika aku berani macam-macam bahkan berusaha kabur, maka aku akan bertanggung jawab atas nyawa yang melayang, entah itu sopirku, pelayanku, atau nyawa Robin sendiri yang akan berakhir di tangan Leonel.
Aku menatap Emil dari kaca rear-vision mirror. Dapat kulihat jelas wajah tampan yang lama kurindukan, namun kukubur dalam setelah aku menikah dengan Leonel. Emil terlihat datar menatap lurus ke depan tanpa berniat melirikku.
Kenapa takdir seolah mempermainkan kami? Memisahkan kami, kemudian mempertemukan kami kembali dalam situasi seperti ini, dia putra bangsawan pewaris kedua O'clan, kini justru datang sebagai sopir pribadiku, di mana dulu aku hanyalah rakyat kelas rendah.
Apa yang terjadi dengan Emil? Di mana dia berada selama ini? Dan, kenapa dia bekerja sebagai seorang sopir?
"Nyonya, ke mana anda akan belanja?" Robin bertanya, membuyarkan seluruh pikiranku yang hanya memikirkan Emil sepanjang perjalanan kami.
Kupalingkan pandanganku ke luar jendela mobil, saat Emil juga menatapku dari kaca rear-vision mirror. Akhirnya, setelah cukup lama dia tak acuh padaku, Emil melirikku juga.
"Toko anak Alazka!" jawabku kemudian.
Kami terjebak dalam keheningan setelah itu, hingga mobil sampai di tempat tujuan, sebuah mall besar pusat toko anak yang akan kutuju.
Robin membukakan pintu, aku keluar, melangkah cepat masuk ke dalam mall, dan tentu Robin mengekoriku, sedangkan Emil, ia menunggu di mobil. Seperti layaknya tugas seorang sopir.
Aku membeli begitu banyak mainan, membelanjakan uang Leonel ribuan dollar, kemudian mampir ke toko baju anak, kembali membelanjakan ratusan ribu dollar uang Leonel, lalu meminta mereka mengantar mainan-mainan dan baju-baju itu mengikutiku pergi menuju suatu tempat. Panti asuhan.
Yah, salah satu yang dapat menghiburku adalah melihat anak-anak kurang beruntung itu nampak bahagia saat berebut mainan, dan mencoba pakaian baru.
Namun, hari ini, saat aku sudah sampai di panti asuhan, aku tak dapat berkonsentrasi dengan anak-anak, pikiranku terus tertuju pada Emil, aku ingin bicara padanya. Tapi, bagaimana caranya? Robin selalu ada di sekitarku, tak lebih dari jarak 5 meter. Sedangkan Emil? Dia seperti bodyguard mobil yang selalu menjaga kendaraan mewah itu.
"Hei," aku memanggil seorang anak laki-laki yang berlari lewat di depanku, kulirik Robin yang tengah bicara dengan seseorang lewat earphone.
"Ini," aku memberikan lembaran uang pada anak yang kupanggil.
"Bantu aku, ajak pria itu bermain bola atau apa saja di lapangan, buat dia sibuk bersamamu."
Anak itu mengangguk mengerti, memasukkan lembaran uang yang kuberikan ke dalam saku celananya.
Aku terus mengamati mereka, anak itu menarik paksa tangan Robin untuk menemaninya main bola ke lapangan, bersama dengan anak-anak yang lain. Satu kesempatan yang tak boleh kusia-siakan.
Aku segera pergi dari sana, melangkah cepat menuju mobil.
Emil bersandar pada badan mobil, menyesap rokok yang baru kutahu jika Emil merokok, atau ia melakukan itu baru setelah perpisahan kami, yang jelas dulu aku tak pernah melihatnya.
Emil membuang puntung rokoknya ke tanah saat melihat aku mendekat, lalu menginjak Putung rokok itu, ia membukakan pintu belakang dan aku melesat masuk.
Aku duduk di jok belakang, pintu tertutup rapat, disusul Emil yang juga masuk dan duduk di jok kemudi.
__ADS_1
'Brak!'
Hening.
Kami hanya saling diam, kurasakan debaran jantungku yang tidak normal, serasa berlompatan ingin keluar, sedangkan Emil, bagaimana dia bisa sedatar itu? Menatap lurus ke depan dan tak menghiraukanku. Sejak ia bertemu denganku tak ada reaksi yang menunjukkan jika dia ingin mendekatiku.
Yah, aku tahu, saat ini, statusku adalah istri orang, dan Emil, hanyalah mantan. Tapi,,,, jujur aku ingin berbicara padanya, tapi,,,, ah, sudahlah.
"K-kau," aku hendak bertanya, namun Robin keburu datang, ia langsung masuk ke dalam mobil, duduk di sebelah Emil.
"Maaf, Nyonya. Saya tidak melihat anda yang sudah kembali.
"Jalan!" perintahku yang langsung mendapat respon dari Emil, ia menganggukkan kepala kemudian menyalakan mesin dan melajukan mobil membelah jalan kota Paris kembali ke mansion mewah Lionel. Istana yang serasa neraka bagiku.
***
Di dalam kamar, aku masih terus memikirkan Emil. Kuperhatikan dia dari dekat jendela kamar, Emil bercengkrama dengan para pelayan wanita muda di halaman depan, membuat hatiku sedikit merasa ngilu. Cemburu? Mungkin, tapi aku senang melihatnya lagi, apakah cinta itu masih ada?
'Klak.'
Aku menoleh, pintu kamarku dibuka lalu kembali ditutup. Lionel.
"Kau, pulang?" tanyaku menjauh dari jendela, meraih botol minuman yang selalu tersedia di atas meja. Kutuang segelas wine lalu kuberikan pada Lionel.
"Aku tidak ingin minum anggur, sayang, aku ingin meminummu." Lionel menolak, aku tersenyum sinis, meneguk sendiri minuman itu.
"Aahh,,,," Lionel menyesap tengkukku, kemudian merebut gelas yang ada di tanganku dan menaruhnya kembali ke meja.
"Lion," aku hendak menghentikannya, namun gerakan Lionel lebih cepat.
Ia mendorongku hingga menabrak dinding kaca. Tubuhku menghadap dinding kaca yang terbuka tirainya, dan Lionel menghimpitku dari belakang.
"Lion."
Emil melihat ke atas, ia melihatku, melihat kami, dan para pelayan yang tadi bersamanya sudah pergi.
"Lion," aku ingin menghentikan Lionel, namun Lionel sedang dalam puncak inginnya.
Ia mengangkat gaun tipis yang kukenakan dari belakang hingga sebatas pinggul, memelorotkan celana da.lam.ku, membuka kakiku dengan kakinya, lalu tiba-tiba dengan gerakan cepat dan tepat, ia berusaha memasukiku.
"F.u.c.k!" umpatnya karena kesulitan.
Lionel mendorong kepalaku hingga pipiku menempel dinding kaca. Ia mencoba lagi, dan,
"Plak!"
Satu pukulan keras mendarat di bo.kong.ku.
__ADS_1
"Aahh,,, kau selalu nikmat, sayang!" racun Lionel saat berhasil.
"Aahh,,,"
"Aahh,,,"
"Aahh,,,"
Tubuhku tersentak seirama dengan desakan Lionel dari belakang, ia terus memaju mundurkan miliknya memenuhi dalamku, aku merasakan nikmat itu namun mataku terus menatap Emil. Emil memalingkan muka, lalu pergi.
'Emil,'
"Aahh,,, aahh,,,, sshh,,,, aahh!"
"Plak!"
***
Aku turun, entah mau ke mana dan mau apa, tapi yang jelas, aku ingin keluar, dan alasan utamanya adalah agar aku bisa bertemu Emil.
Kudengar tawa khas dari pria yang kucari, suara itu terdengar dari arah dapur, benar, itu tawa Emil, yang bersahutan dengan tawa seorang wanita.
Aku masuk ke dapur, seketika tawa mereka terhenti, terutama wanita itu, Claira, salah satu pelayan pribadiku.
"Nyo nyo nyonya." ucap Claira tergagap, ia menunduk, dan Emil menatapku datar.
"M-ma maaf, Nyonya. A-a apa yang bisa saya bantu?" tanya Claira, nampak jelas raut takut di mukanya, sedangkan Emil? Ia memalingkan muka, tak menatapku lagi.
"Kau tahu? Tawamu mengganggu pendengaranku, jika kau masih ingin bisa tertawa esok hari, maka cepat pergi dari hadapanku," gertakku penuh emosi.
"M-ma maaf, Nyonya." Claira membungkukkan badan, memberikan penghormatan, setelah itu ia bergegas pergi berlari kecil keluar dari dapur entah ke mana.
Aku masih menatap Emil, nanar. Kali ini hatiku terasa sangat sakit, kami bertemu, namun Emil tak ingin menyapaku. Dan, apakah aku cemburu karena dia begitu hangat pada Claira?
Aku membalikan badan, mengusap air mataku yang luruh tanpa izin, lantas melangkah namun Emil meraih tanganku.
"Aahh,,,," Emil menarikku cepat masuk ke dalam dapur, membawaku mendekat dinding yang sedikit tersembunyi oleh keberadaan lemari pendingin yang tinggi dan besar.
"Emil?" lirihku terkejut. Netra kami bertemu dan saling mengunci.
"Apa kau bahagia?" tanya Emil yang kini berdiri di hadapanku, sedikit membungkuk dan aku mendongak, lalu kualihkan pandangan ke samping, bertatap muka dengan Emil membuat jantungku berdetak tidak normal, hatiku berdebar dan darahku berdesir. Mataku terpejam membiarkan buliran-buliran bening itu luruh.
"Apa kabar, Namira?"
Aku menoleh, melihat Emil yang menatapku dalam dengan manik berkaca-kaca.
***
__ADS_1