100 HARI MENIKAH

100 HARI MENIKAH
Eiffel.


__ADS_3

Detektif yang dibawa Fabrizio mendapatkan rekaman cctv area parkir pada hari kejadian dari Club yang dikunjungi Namira malam itu. Detektif itu mendapatkan rekaman cctv dengan cara melakukan peretasan jaringan.


Melalui pemeriksaan terbaru, Detektif mendapatkan satu petunjuk meski sangat kecil, namun itu tidak menutup kemungkinan untuk bisa menemukan si pengendara motor yang belum terbukti sebagai pelaku peledakan mobil Emil, namun sudah menjadi praduga tersangka karena mengikuti mobil Emil yang dikendarai Namira waktu itu.


Petunjuk berupa tato bintang yang sangat kecil berada di belakang telinga dekat leher, menjadi satu-satunya petunjuk si pengendara motor.


"Apa anda mengenal seseorang yang memiliki tato seperti ini?" tanya Detektif pada Emil sambil menunjukkan layar laptop yang di zoom in pada titik tato bintang.


Emil nampak berpikir, coba mengingat siapa orang yang pernah dilihatnya memiliki tato seperti itu, karena Emil merasa pernah melihatnya meski tak begitu familiar, serta dalam gambar cctv itu tidak begitu jelas, buram oleh pixcel yang pecah. Sehingga Emil harus berpikir lebih lama.


Emil merubah zoom out gambar, sehingga nampaklah video yang dijeda itu secara keseluruhan.


"Dia?" seru Emil penuh tanda tanya. Menatap intens seseorang yang berpakaian serba hitam mulai dari sepatu, celana, kaos, jaket, topi, hingga masker, dan kaca mata, seseorang yang baru datang dan akan menaiki motor besar berwarna hitam di area parkir Club mengikuti laju mobil Emil yang dikendarai Namira, Emil lantas menyebut satu nama.


Fabrizio memutar laptop menghadap dirinya untuk ikut menelisik video yang dijeda dalam laptop Detektif.


Fabrizio dan Emil lantas saling menatap dalam dan tajam, lalu mengangguk bersama.


"Apa saya bisa mengetahui data tentang orang tersebut?" tanya Detektif tanpa basa-basi mengambil alih laptop dan lantas menggerakkan jari jemarinya dengan lincah di atas papan keyboard laptop.


Fabrizio menyebut ulang nama lengkap orang yang sebelumnya telah disebut oleh Emil, dan Detektif mulai melakukan pelacakan.


"Robi Hansen, 29 tahun, kewarganegaraan Indonesia, bekerja sebagai pelayan di O'clan Restauran." Detektif membaca data pria yang kini menjadi praduga tersangka.


"Benar, itu identitasnya, tapi kenapa? Untuk apa dia melakukan itu? Dan Bom? Dari mana dia bisa mendapatkan benda seperti itu?" tanya Emil penuh ragu.


"Dia juga tidak memiliki masalah denganku, juga tidak mengenal Namira jika dia adalah istriku, lantas kenapa dia melakukanya? Itu membuatku sangat ragu jika dia adalah pelakunya."


"Kita akan menentukan apakah benar dia sang pelaku atau bukan setelah semua penyelidikan diselesaikan." Detektif menimpali.


"Pasukan Potter, selidiki pria yang identitasnya sudah kukirimkan ke email kalian, intai dia 24 jam, dan laporkan padaku semuanya, secara detail dan lengkap." instruski Detektif pada anggotanya melalui earphone.

__ADS_1


"Emil, aku memikirkan sesuatu," ucap Fabrizio lirih.


"Tentang?"


"Kau tidak akan percaya dengan apa yang kukatakan." Fabrizio nampak menyeringai, seolah ia sudah mendapat jawaban tepat dan tinggal menunggu waktu untuk memastikannya.


"Tentang apa?" tanya Emil penasaran.


"................." Fabrizio menjelaskan panjang lebar disertai tanya-jawab dengan Emil yang semakin meyakinkan mereka semua akan teori baru dan mematahkan teori lama yang dipikirkan oleh pihak kepolisian Paris.


"Tapi itu tidak mungkin, Zio."


"Kita lihat saja nanti, Emil. Dan saat itu terjadi, kuharap kau bisa menerima kenyataannya." tegas Fabrizio.


***


Emil membawa Namira keluar dari apartemen menuju ke suatu tempat yang sudah direncanakan oleh Emil, sebagai liburan mereka berdua setelah cukup lama Namira mengurung diri di kamar, hingga akhirnya bekas luka di pelipis Namira mengering, dan balutan perban pun dilepas.


"Aku tahu, kau sangat menyukai menara Eiffel kan, sayang? Meski pun kau tidak pernah mengatakannya padaku, tapi setiap malam kau selalu memandanginya dari jauh, dan kau menatapnya kagum."


Emil memeluk tubuh Namira dari samping, mereka berdua menghadap ke arah menara Eiffel yang nampak sangat cantik saat malam, dengan lampu yang menghias indah.


Namira sangat senang, Emil benar-benar berubah, dia menunjukkan rasa cintanya dengan perbuatan, dan tatapan matanya yang tulus membuat Namira merasa telah menjadi orang yang sangat beruntung dan diberkahi, seperti Aretha, yang memiliki suami yang sangat menyayanginya dan memanjakannya. Kini Namira pun merasakannya.


'Terimakasih, Tuhan....'



"Apa kau senang?" tanya Emil mengelus rambut Namira lembut.


"He em sangat," jawab Namira yang langsung mendapat sebuah kecupan hangat di keningnya dari Emil.

__ADS_1


"Terimakasih, kau membuatku jatuh cinta lagi dan lagi, setiap waktu." ujar Namira bahagia.


"Tetaplah bersamaku apapun yang terjadi, hanya itu pintaku," seru Emil sarat makna.


"Tentu," jawab Namira mengeratkan pelukannya pada pinggang Emil.


"Ah, ayo kita makan malam dulu, setelah itu aku akan ajak kamu jalan-jalan di bawah sana. Pasti kamu sangat suka, menikmati suasana malam di dekat Eiffel."


"Pasti, aku sudah memimpikannya begitu lama."


'Bahkan aku memimpikan untuk bisa berciuman denganmu di dekat sana, dengan view kegagahan Eiffel, itu pasti akan menjadi memory yang sangat indah.'


Emil menggandeng tangan Namira menuju meja makan yang sudah disiapkan pelayan, dan mereka mulai makan malam dengan tenang. Namun ketenangan yang nampak itu hanyalah ketenangan luar saja yang Emil tunjukkan, karena tanpa Namira ketahui, sebenarnya batin Emil terusik dan sangat cemas memikirkan begitu banyak hal, harus menyelesaikan masalah besar dan juga memikul beban besar menyembunyikan tentang kematian ayah mertua dari istrinya.


'Bersabarlah, sayang, tunggu beberapa hari lagi dan aku akan membawamu pergi menemui pusara ayahmu, dan saat itu tiba, kumohon jangan marah padaku, maafkanlah aku.'


***


"Emil,,,, I love you,,,, aku bahagia karenamu,,,, hahahaha...." teriak Namira saat mereka sudah melakukan jalan santai di sekitar jalanan hotel dekat Eiffel, Namira berteriak bebas sambil berlari kecil lalu berputar seperti anak kecil, sedang Emil hanya mengikuti dengan berjalan santai diiringi senyum yang mengembang, melihat istri tercintanya bahagia, pun membuat Emil merasa sangat bahagia.


"Aahh,,,!" hells yang Namira kenakan tiba-tiba patah, membuat tubuh Namira terhuyung dan hampir jatuh.


"Sayang,,,, hati-hati!" teriak Emil berlari menangkap tubuh Namira. Lagi-lagi keduanya saling menatap dalam dengan ulasan senyuman penuh cinta mengisyaratkan hati keduanya yang berbunga-bunga penuh cinta.


Tatapan Namira semakin sayu, dan dia mendorong perlahan tubuh Emil hingga bersandar pada dinding hotel hingga punggung Emil menabrak dinding itu, setelah tak ada lagi pergerakan, Namira mulai mendekatkan wajahnya pada wajah Emil, lalu bergerak perlahan menautkan bibirnya dengan bibir sang suami. Emil menerima dan membalas ciuman yang diberikan istrinya yang terasa sangat manis. Menumbuhkan rasa cinta keduanya semakin besar, dan semakin dalam. Dengan gelanyar na.fsu menyerang seluruh saraf tubuh mereka yang akan membawa mereka untuk ber.cinta sepanjang malam memuaskan hasrat mereka berdua.


"Mmmpphh...."



***

__ADS_1


__ADS_2