100 HARI MENIKAH

100 HARI MENIKAH
Harus tetap di Paris


__ADS_3

POV Emil


Perdebatan kecil bersama Namira di kamar usai acara membuatku tidak tahan, aku begitu ingin mengutarakan perasaanku yang sesungguhnya, tapi melihat Namira yang masih menutup celah untukku, membuatku mengurungkan niatku dan lebih baik pergi dari pada harus merasa tersiksa karena ia begitu dekat namun tak dapat kusentuh sehingga membuatku sekarat.


Aku sendirian, di dalam kamar apartemen, tak ada minuman, apalagi perempuan, aku hanya butuh waktu untuk sendiri. Memikirkan cara bagaimana mendekati Namira dari hati ke hati.


Saat ponselku beberapa kali berdering, aku mengabaikannya, hingga kuputuskan untuk mengangkat panggilan yang ternyata berasal dari Aretha dan Fabrizio bergantian.


"Iya, Aretha,,,,"


"Di mana kalian? Kenapa kalian pergi tanpa memberi tahu orang rumah?"


Terdengar jelas kepanikan yang mendera Aretha. Kalian? Apa itu artinya Namira juga tidak sedang di rumah?


"Aretha, ada apa?"


"Emil, cepatlah pulang, kita harus segera terbang ke Indonesia malam ini juga, paman meninggal dunia,"


"Apa?"


"Emil, cepatlah, Zio sudah mengatur penerbangan kita, kita tunggu kalian di bandara saja, kita bertemu di sana."


"Tunggu, apa Namira tidak ada di rumah?"


"Apa?"


***


Aku melesat keluar dari apartemen menuju rumah.


Aretha, Fabrizio serta keluarga besar berangkat ke bandara terlebih dulu, sedangkan aku harus mencari keberadaan Namira, aku meminta Aretha merahasiakan pada semua orang jika aku tidak sedang bersama Namira, sampai aku menemukannya.


"Apa kalian bertengkar?" tanya Aretha semakin panik.


"Iya, hanya perdebatan kecil."


Jadi, Namira keluar dari rumah? Ke mana dia pergi malam-malam begini? Selama ini dia tidak pernah keluar rumah saat malam, kemana aku harus mencarinya?


Aku mencari Namira di seluruh rumah dan benar, dia tidak ada, begitupun dengan mobil milikku.


Aku menyusuri jalanan kota Paris berharap bisa menemukan Namira, dan terus menghubunginya, namun tak ada hasil, baik penyusuran maupun panggilan telepon, hasilnya nihil.


Pagi menyapa, sang Surya mulai menampakkan sinarnya dari ufuk timur, Fabrizio menghubungiku, mereka sudah menunggu selama dua jam, aku pun meminta mereka untuk terbang terlebih dulu ke Indonesia dan aku akan menyusul nanti bersama Namira.


Namun sampai seharian penuh, Namira tetap tak kutemukan, membuat laporan orang hilang pada polisi harus menunggu selama 1x24 jam.


"Aahh,,,, Namira,,,, kau di mana?"

__ADS_1


BUGH BUGH.


Kupukul setir kemudi berulang kali, rasanya aku frustasi. Sexyola membantuku dengan mencoba mencari tahu pada beberapa restoran, hotel, dan juga Club dengan menyebar foto Namira pada resepsionis pihak terkait. Namun sama saja, tak ada hasil yang kami dapatkan.


Hingga aku mendapat panggilan telpon dari Fabrizio, jika ayah Namira telah dikebumikan tanpa kehadiran kami, putri dan menantunya.


"Nak, tolong temukan anak ibu, bawa dia kembali dengan selamat," begitu ucap ibu Namira saat kami bicara lewat ponsel Fabrizio yang tersambung dengan ponselku.


Dua hari aku terus mencari tanpa tidur atau pun makan, andai Sexyola tidak selalu menemaniku dan menyuapiku, memaksaku memakan sesuatu meski sedikit.


"Tenanglah, kita pasti akan menemukannya," Sexyola memelukku, mencoba memberikan ketenangan padaku.


Aku terus mencari Namira seperti orang gila, ada apa dengan Namira, kenapa dia pergi malam itu? Apa aku telah menyakiti perasaannya lebih parah sehingga ia menyerah? Tidak, aku yakin Namira bukan wanita yang lemah dan dia tidak mungkin pergi meninggalkanku begitu saja, aku masih sangat yakin Namira masih sangat mencintaiku.


Ponselku berdering dan aku langsung menerimanya.


"Namira!"


"Dengan Mr. Emil Cornelius O'clan?"


"Iya, saya."


"BERREEMMMM!"


Panggilan dari pihak kepolisian.


***


"Namira,,,,"


Wanita yang sangat kucintai, yang kucari selama dua hari, terduduk di atas ranjang brangkar dengan balutan perban di keningnya, dan selang infus di punggung tangan kirinya.


"Namira, aku merindukanmu, aku hampir gila mencarimu, aku sangat takut kehilangan kamu, tolong jangan pernah pergi lagi, aku tidak bisa hidup tanpa kamu, aku mencintaimu, Namira. Aku mencintaimu." Kupeluk Namira begitu erat, seolah aku sangat takut jika Namira akan pergi meninggalkanku lagi.


***


POV Namira.


Air mataku luruh kala kudengar pernyataan cinta Emil terhadapku, benarkah ini? Benarkah yang kudengar ini? Emil mengatakan jika dia mencintaiku, dia mencariku, dan tidak bisa hidup tanpaku? Apa ini hanya mimpi?


Aku mengangkat kedua tanganku untuk memeluk balik Emil, namun saat wanita itu muncul dari balik pintu, dan tersenyum ke arah kami, aku merasa tidak senang. Emil ternyata datang bersama Sexyola. Kenapa harus bersama dia?


Katakanlah aku kekanakan, tapi percayalah, tidak ada satupun wanita yang ingin pria yang dicintainya begitu dekat dengan wanita lain, apapun alasannya, bahkan saudara dan ibunya sekalipun, bukankah itu perasaan yang biasa dirasakan setiap wanita? Apa lagi ini wanita yang jelas-jelas menjadi teman ranjang Emil, tidak, aku tidak menerima kehadiran Sexyola.


"Lepas, kau membuatku sakit," ucapku mencoba mendorong dada Emil.


"Di mana yang sakit? Akan kupanggilkan Dokter." mata Emil merah dengan lingkar panda, ia nampak sama buruknya denganku, apa semua yang ia katakan tadi benar? Dan Emil merasa frustasi atas hilangnya diriku? Hatiku kembali menghangat menepis rasa cemburu terhadap Sexyola yang kini sudah berada di dekat kami.

__ADS_1


"Namira, bagaimana keadaanmu?" tanya Sexyola.


"Seperti yang kau lihat, aku masih bernafas." biar saja jika aku nampak ketus, aku ingin menunjukkan padanya jika aku tidak menyukai dirinya.


"Mr. Emil, bisa kita bicara?" kini polisi itu yang bersuara.


"Tentu, tapi, beri saya waktu sebentar lagi untuk bersama istri saya, saya akan menemui anda nanti,"


Istri? Emil mengakuiku sebagai istri? Aku tidak hanya senang, tapi juga lega, tidak lagi mengkhawatirkan masalah hukum yang bisa saja menjeratku, karena Emil pasti akan melindungiku.


"Baiklah, saya tunggu di luar!"


"Di sini saja," pungkasku.


"Aku ingin mendengar langsung apa yang kalian bicarakan," aku memaksa, karena aku takut jika pihak polisi akan menangkapku.


"Apa kita bisa bicara di sini saja?" tanya Emil, ia memeluk diriku, ya Tuhan,,,, kenapa aku malah bersyukur atas musibah yang engkau berikan? Karena meski begini, aku bisa mengetahui perasaan Emil yang sebenarnya padaku, ia akhirnya mengutarakan perasaannya.


Polisi itu terdiam, ia nampak berpikir sebelum memberikan jawaban.


"Sebenarnya ini menyalahi prosedur, karena interogasi seharusnya dilakukan di tempat terpisah. Tapi, baiklah," polisi itu terus melihatku, memberikan tatapan yang sulit kumengerti, tapi aku tahu, dia orang yang baik.


Aku mendengarkan dengan seksama apa yang dijelaskan polisi kepada Emil.


"Seseorang telah memindahkan Nyonya Namira keluar dari mobil dan membawanya menjauh, sebelum akhirnya mobil itu diledakkan."


"Diledakkan?" Emil terlihat sangat terkejut, begitupun aku dan Sexyola.


"Iya, kami menemukan sisa serpihan bahan peledak, dan," polisi itu menjeda, melihat ke arahku dengan tatapan menyelidik.


"Tidak ada mobil lain di lokasi kejadian, seperti yang Nyonya Namira katakan,"


"Kau mencurigaiku? Kau tidak percaya padaku? Aahh,,,," aku memegangi kepala yang tiba-tiba terasa sangat sakit.


"Namira, kau tidak apa-apa?" Emil mencemaskanku, dan aku suka, aku bisa menggunakan kesempatan ini untuk semakin membuat Emil mendekat padaku, tapi, bagaimana dengan pemikirannya yang menganggap aku wanita murahan? Bagaimana jika Emil kembali menganggapku seperti itu? Aku tidak akan sanggup lagi menanggung sakitnya.


"Aku tidak mengatakan yang seperti itu, aku hanya mengatakan bahwa tidak ada mobil lain di lokasi kejadian, selain mobil anda, Nyonya Namira." polisi itu menatapku dalam, aku mengalihkan pandangan.


"Tolong, katakan dengan jelas," tegas Emil. Ia sepertinya tidak menyukai cara polisi itu melihatku.


"Aku mempercayai semua pernyataan yang Nyonya Namira berikan, karena mobil anda memang ada kerusakan parah di bagian bemper depan. Tapi, kami memiliki banyak kesulitan untuk mengungkap kebenaran. Nyonya Namira jatuh pingsan dan tidak dapat memberi informasi lanjut, tapi kami akan terus menyelidiki, sampai kasus ini terpecahkan atau ditutup, kalian tidak boleh pergi dari Paris dan akan selalu berada di bawah pengawasan pihak kepolisian. Aku sendiri yang akan mengawasi kalian."


"Apa?"


"Kasus yang dialami Nyonya Namira bukanlah kasus biasa, bukan sekedar kecelakaan lalulintas, namun ini berhubungan dengan jaringan tero.ris, karena kami mengenali serpihan bom rakit yang meledakkan mobil anda."


Deg

__ADS_1


***


'Lantas bagaiamana dengan Namira? Bagaimana caraku mengatakan kematian ayahnya? Sedangkan kami juga tidak bisa pergi dari Paris sampai masalahnya terpecahkan.' Emil.


__ADS_2