
Acara peringatan mendiang Alm. Kakek semasa beliau masih hidup berlangsung meriah nan khidmat.
Rumah besar sangat ramai dengan kehadiran para tamu undangan yang turut merayakan, kebanyakan dari mereka adalah kolega bisnis O'clan atau orang-orang terdekat.
Aretha tidak bisa bergabung, dikarenakan Tita kami yang cantik sedang sakit, hanya masuk angin kata Dokter yang memeriksanya sore tadi, tapi Aretha tidak tega untuk meninggalkan gadis kecilnya itu hanya dengan sang sustaer, dan Mr. CEO juga meminta Aretha menjaga Tita di kamar saja.
"Aku akan bergabung dengan mereka sebentar, setidaknya menyapa sebagai tuan rumah, dan setelah itu aku akan langsung kembali menemui kalian," ucap Mr. CEO pada Aretha sambil mengelus pipinya lembut lalu mengecup bibir Aretha. Manis.
Aku bahagia tapi juga sedih melihat pemandangan romantis itu, bahagia karena saudariku telah mendapatkan pria yang tepat dalam hidupnya, sehingga bisa meratukan dirinya dengan penuh cinta, tapi juga merasa sedih karena nasibku berbanding terbalik dengan Aretha.
Haaah,,,, sudahlah, ini adalah panen dari hasil benih yang kutaburkan. Melakukan sek.s di luar nikah dan akhirnya tersemat penghargaan sebagai wanita murahan dari pria yang kucintai. Tersenyum getir penuh penyesalan.
Emil menggandengku untuk menyapa beberapa orang, kami bercengkrama dengan para tamu yang akhirnya kutahu mereka adalah teman dekat Emil sejak masa sekolah, hingga perusahan keluarga besar mereka saling bekerja sama. Sexyola pun ikut gabung bersama kami, jujur, aku tetap tidak suka padanya karena ia begitu dekat dengan Emil. Dan bahkan dia adalah teman ranjang pria yang kucintai itu, yang menjadi suamiku 100 hari.
Aku yakin, hubungan mereka pasti berlanjut sampai saat ini, mengingat setiap malam Emil selalu bersama dengan Sexyola, dia memang wanita berkelas yang sangat cantik dan glamour, tipe sempurna untuk seorang Cassanova seperti Emil, sedangkan aku? Hanyalah Upik abu yang dinikmati lalu dibuang sembarangan. Kenapa hatiku masih begitu sakit saat mengingat hal itu.
Ini yang paling membuatku tidak suka dengan Sexyola, ia menggandeng Emil begitu saja di hadapan semua orang padahal aku ada di sampingnya, tanpa mempedulikan perasaanku atau kehormatanku sebagai istrinya, bodoh, Emil saja belum melakukan konfirmasi pada khalayak umum tentang pernikahan kami, tentu mereka juga tidak mengetahui jika aku adalah istrinya, lantas kenapa aku harus merasa kehormatanku terlukai?
Sexyola dan Emil bertemu sapa dengan teman mereka yang lain. Lalu aku? Emil meninggalkanku begitu saja cengoh sendirian, ia mengikuti Sexyola seperti anak anjing yang selalu ngintil dengan induknya, bolehkah aku marah? Aku ingin menarik tangan Emil dari Sexyola, lalu memakinya andai aku bisa melakukan itu.
Tunggu, wanita itu,,,, wanita yang berpelukan dengan Sexyola, dia adalah Dokter seksi di City Hospital yang mencium Emil. Kurang ajar, mereka semua satu tim saling bertemu sapa penuh canda tawa sedangkan aku seperti butiran debu yang tak dianggap. Nasib, berada di tengah keramaian namun aku merasa sendirian.
"Namira,,,,"
Aku menoleh pada sumber suara yang memanggil namaku dengan lembut.
"Iya, nek?"
"Ini adalah teman lama Alm. Kakek, beliau ingin bertemu denganmu,"
Syukurlah, setidaknya kehadiran nenek dan dua orang pria tua yang ternyata adalah teman lama Alm. Kakek menemani kesendirianku, dan kami berbincang lumayan seru.
Nenek yang menceritakan tentang masa muda kakek dengan semangat menggebu, dan kedua temannya membawa nama Emil ke tengah obrolan kami, menilai jika Emil sangat mirip dengan Alm. Kakek.
"Aku selalu melihat O'clan muda saat melihat Emil, mereka sungguh mirip," salah seorang kakek berpendapat.
"Aku setuju dengan yang kau katakan!" ujar Nenek menimpali.
"Apa kalian sedang membicarakanku?" Emil datang tiba-tiba sambil melingkarkan tangan kekarnya pada pinggangku, aku tersenyum samar.
Ingin rasanya aku mendorong Emil kasar, jika perlu meninju perutnya dengan keras, benar-benar kurang ajar, baru saja tadi dia pergi meninggalkanku, mengabaikanku dan berkumpul dengan teman-temannya, ah, atau mungkin mereka adalah wanita-wanita koleksi teman ranjang Emil, dan sekarang tanpa tahu malu dia datang merengkuh pinggangku begitu saja. Seakan tak bersalah.
__ADS_1
"Kau mendapatkan istri wanita Indonesia yang sangat cantik, Emil, kau beruntung seperti kakekmu," ujar salah seorang teman lama Alm. kakek.
Emil mendaratkan kecupan di kepalaku, aku menelan saliva kasar seiring tubuhku yang menegang, namun buru-buru kukendalikan diriku agar tak menimbulkan kecurigaan. Sungguh, saat Emil mengecup kepalaku, aku sangat terkejut. Sandiwaranya benar-benar natural.
"Kakek doakan, semoga pernikahan kalian langgeng sampai maut memisahkan." sahut teman lama Alm. Kakek yang lain.
"Aamiin,,, kek, terimakasih." sahut Emil sambil tersenyum lebar.
Sampai maut memisahkan? Kalau begitu salah satu diantara kami harus ada yang mati dua bulan ke depan? Begitukah? Gurauku dalam hati. Lagi-lagi aku tersenyum getir, mengingat pernikahan kami hanyalah pernikahan kontrak 100 hari menikah, dan akan berpisah setelah itu kembali menjalani hidup masing-masing. Hah,,,, andai mereka tahu.
"Oh ya, kami masih merahasiakan pernikahan mereka, mereka bilang menunggu waktu yang tepat untuk go publik, jadi, kalian rahasiakan dulu semua ini," ujar nenek memperingati kedua teman lama kakek.
Aku tersenyum, namun rasanya aku ingin menangis, aku benci perasaan ini.
Nenek dan kedua pria tua meninggalkan aku dan Emil untuk menyapa tamu yang lain.
Aku lekas melepas tangan Emil dari tubuhku, rasanya aku mulai tidak tahan dengan sandiwara yang harus kami lakukan, membuat hatiku bagai diremas oleh rasa sakit hati yang sangat dalam. Sesaat kami harus berlakon sangat romantis sebagai pasangan, dan di detik berikutnya, Emil dapat berpetualang dengan wanita-wanita ja.lang begitu bebasnya.
"Ada apa?" tanya Emil heran, lalu ia kembali merengkuh pinggangku tidak peduli meski apa yang kami lakukan ini bisa memancing perhatian semua orang.
Aku hanya mendengkus pelan, tak ingin menjawab pertanyaan Emil juga tak melawan, sudahlah, semua akan berakhir nanti pada saatnya.
Acara berlanjut dengan pemutaran video lama semasa kakek masih hidup, hingga video pernikahan kakek dan nenek, ditutup dengan doa bersama. Dan acara yang digelar sangat sukses.
Aku berjalan memasuki kamar, Emil di belakangku.
"Brak!"
Aku berdiri di depan cermin meja rias, melepas anting yang ku kenakan, lalu kalung, dan terakhir melepas gulungan rambut yang tadinya kusanggul ke atas. Rasanya lega.
Emil berdiri di belakangku, kami saling memandang dari pantulan cermin.
"Kau marah?" tanya Emil sambil menyentuh kedua bahuku dari belakang, merapatkan tubuh kami. Bisa kurasakan sentuhannya mampu mengaktifkan semua saraf positif dalam tubuhku, sebagai seorang wanita dewasa.
Marah? Aku bukan hanya marah, aku benci dan aku juga sakit hati. Entahlah semua rasa bercampur tanpa bisa kumengerti dan Kujelaskan.
"Untuk apa aku marah?" aku menepis tangan Emil, berjalan menghindar, namun Emil menarik tanganku kasar hingga aku berbalik cepat dan menubruk tubuhnya.
"Aahh,,,!" Emil memelukku.
"Emil, apa yang kau lakukan?" aku mendorong dada Emil agar melepaskanku, tapi ia justru memelukku semakin erat.
__ADS_1
"Sebentar saja, Nami, biarkan aku memelukmu, aku sangat merindukanmu." lirih Emil semakin mengencangkan pelukannya padaku.
Rindu? Kata paling tepat apa yang sebenarnya ingin Emil sampaikan padaku sebagai ungkapan rasa rindunya? Se.ks?
"Kau bisa pergi menemui Sexyola atau Dokter Stevia jika kau tidak tahan dengan rasa rindumu." ucapku menanggapi kalimat Emil yang mengatakan rindu namun aku mengartikannya ambigu.
Emil melepas pelukannya padaku perlahan, aku pun sudah tidak melawan, Emil menatapku tajam, dan aku memilih mengalihkan pandangan.
"Apa yang kau katakan, Nami? Aku merindukanmu, dan kau justru,"
"Aku tidak bisa melakukan hubungan itu lagi denganmu, Emil. Serendah apa pun martabatku sebagai seorang wanita di matamu, aku masih memiliki harga diri yang harus kujaga agar aku tidak mengulang kesalahan yang sama, jatuh dalam pelukan pria yang hanya menganggapku sampah." hatiku sangat sakit dan aku ingin menangis saat mengatakannya.
"Apa maksudmu, Nami?" Emil mencengkeram bahuku lagi, sebuah cengkraman yang lebih kuat. Seolah ia tak terima dengan apa yang aku katakan tadi.
"Lantas apa maksudmu dengan mengatakan kau merindukanku? Bukankah yang kau maksud adalah se.ks?"
"Namira!" teriak Emil sambil menatapku sangat tajam, rahangnya mengeras dan giginya beradu, deru nafasnya pun menggebu, dia marah?
Aku menatap kedua mata Emil mencoba menyelaminya semakin dalam, apa yang sebenarnya pria ini rasakan? Namun justru air mataku lah yang menetes. Dan aku mengalihkan pandangan lalu menghembuskan nafas dalam. Mencoba tenang. Jantungku berdegup kencang tak beraturan, dengan hati yang masih terasa sangat sakit.
"Lepaskan aku, karena kau tidak berhak menyentuhku tanpa persetujuan dariku." Aku mengucapnya dengan tegas.
"Jangan lupa poin kedua perjanjian kita, kau tidak berhak memaksakan kehendaknya." Emil melepas cengkraman tangannya pada bahuku setelah aku mengatakan itu.
"Apa kau benar-benar akan menyelesaikan perjanjian bodoh itu, Nami?"
"Iya, tentu saja, kita sudah menyepakatinya bersama bukan? Apa kau berubah pikiran? Atau kau ingin mengakhirinya lebih cepat?"
Emil berbalik, berdiri memunggungiku dengan meremas kasar rambutnya dari depan ke belakang. Tanpa kata, hanya berdiri dan kami sama-sama terdiam, aku ingin ke kamar mandi saja membersihkan diri andai dia tak kembali bicara dan langkahku terhenti.
"Aku mencintaimu, Namira!"
Deg.
"Bisakah kau memaafkan semua kesalahanku?" Emil berjalan kembali ke arahku.
Aku tidak tahu harus menjawab apa, aku terlalu takut terjebak dengan semua rangkaian kata Emil yang justru akan membuatku terjatuh semakin dalam ke dasar penghinaan.
"Nami, bisakah kita memperbaiki semuanya dari awal?"
Emil memegang kedua tanganku, dan kami saling menatap dalam. Jangan terlalu senang, karena itu hanyalah khayalanku belaka, harapanku, andai Emil melakukan itu, andai saja.
__ADS_1
Karena nyatanya, Emil melangkah keluar pergi dari kamar meninggalkanku dan aku tetap berjalan masuk ke dalam kamar mandi. Menangis meratapi hati yang sedih, kemana lagi Emil pergi jika bukan untuk bermain dengan para ja.lang. Benar bukan? Kata rindunya adalah pengertian dari ingin bermain ranjang.
***