100 HARI MENIKAH

100 HARI MENIKAH
Interogasi


__ADS_3

Aku terbangun ketika kurasakan sesuatu menyentuh dadaku, dada? Mataku terbuka sempurna berpikir seseorang telah melakukan tindak pe.le.cehan terhadap diriku.


"Aahh!" refleks, aku menepis kasar tangan seseorang yang tengah menaruh sebuah alat pada dadaku, alat yang biasa digunakan para Dokter pada umumnya, stetoskop.


"Aaahhhh!" aku men.de.sah merasakan sakit yang teramat pada kepalaku, sebuah perban melingkar membalut kening. Aku terluka, dan kini aku berada di Rumah Sakit.


Seorang Dokter pria tersenyum melihatku yang telah sadar dari tidur lelap, entah sudah berapa lama aku berbaring di atas brangkar pasien ini, yang jelas aku masih sangat ingat, aku mengalami kecelakaan saat pukul 3 dini hari menjelang pagi, sepulang dari Club dalam keadaan setengah mabuk dan hendak mengangkat telepon dari Emil, setelah itu aku tak ingat lagi.


"Apa anda bisa mendengar saya? Apa anda bisa melihat saya?" itu pertanyaan yang diberikan Dokter saat aku melihatnya masih dengan kebingungan.


Aku mengangguk memberikan jawaban, aku bisa mendengar apa yang ia katakan, dan juga bisa melihatnya yang bersama dua perawat wanita lain.


"Apa kau bisa melihat jariku ini? Berapa?" tanya Dokter lagi.


"Tiga," jawabku, padahal Dokter pria itu hanya mengacungkan jari telunjuk dan jari tengah, ia mengernyit dan nampak terkejut.


"Jika kau mengangkat jari manismu," jawabku sambil berusaha bangun. Dokter ini sangat lucu, memberikan pertanyaan yang bisa dijawab anak TK padaku yang lulusan sarjana akuntansi. Dia tidak tahu betapa pandainya aku berhitung.


Dokter itu terlihat lega, lalu tersenyum, sedangkan salah satu perawat membantuku duduk.


"Kau masih bisa bercanda setelah kau baru saja melewati maut yang hampir saja merenggut nyawamu, tapi itu bagus, aku suka, ternyata kau punya selera bercanda." ucap Dokter sambil menyentuh denyut nadiku. Aku membiarkannya.


"Siapa namamu?"


Kenapa Dokter ini menanyakan namaku? Apa mereka belum mengetahui identitasku?


"Namira," jawabku singkat, menatap penuh tanya pada Dokter yang berbisik dengan perawat sambil melihat data pasien pada berkas.


"Bagus, kau tidak mengalami hilang ingatan, padahal benturan yang terjadi di kepalamu cukup keras, tapi untunglah itu menghantam bagian kening depan, dan cukup untuk menyelamatkan otakmu."


Aku terdiam, mengabaikan dan tak ingin menanggapi, okay, berarti mereka sudah mendapat identitasku, Dokter itu hanya melakukan sebuah tes kecil.


"Baiklah, nampaknya kau sudah baik-baik saja, hanya butuh perawatan tepat ke depannya, agar kau bisa cepat sembuh dan pulih."


Ada begitu banyak hal yang ingin aku tanyakan namun bibirku serasa terkunci. Seperti, di mana ponselku? Aku butuh menghubungi keluargaku, atau, sejak kapan aku di sini? Apa keluargaku mengetahui kecelakaan yang menimpa diriku? Apa ada seseorang di sini untukku? Di mana mereka? Kenapa tidak ada satu pun di antara keluarga O'clan yang nampak?


"Nyonya?" seru Dokter memanggil namaku membuyarkanku dari lamunan.


"Dokter,,,,"


"Sam, namaku Samuel, kau bisa memanggilku Dokter Sam."


Apa aku peduli dengan namanya? Tentu saja tidak, aku hanya ingin bertanya padanya, tanpa berniat mencari tahu siapa namanya.


"Okay, bisa saya bertanya sesuatu?"


"Katakan," jawab Dokter sambil bicara dengan perawat menunjuk laman berkas lalu perawat itu mencatat apa yang Dokter Sam katakan.


"Apa,,,, apa ada keluargaku yang datang? M-ma maksudku, sejak kapan aku di sini? Aku,,,, aku juga membutuhkan ponselku, apa kau tahu di mana barang-barangku?" Oh Tuhan,,,, apa saja yang kukatakan?


"Well, dari mana dulu aku harus menjawab?"


"Biar aku yang menjawab pertanyaannya." kini seorang pria yang baru masuk ke ruangan menyahuti celotehku, seorang pria berseragam kepolisian.


"Selamat siang," sapa Dokter Sam.


"Selamat siang, surat ijinku." jawab polisi sambil menunjukkan seberkas surat.


"Baiklah, tapi aku hanya memberimu waktu 15 menit, setelah itu biarkan pasien istirahat."


Aku diam mendengar seksama obrolan ringan antara dua pria tampan berbeda profesi dan seragam itu.


"Aku tinggal dulu, dua jam lagi aku kembali memeriksa keadaanmu." ucap Dokter sambil tersenyum lalu ia pergi bersama dua suster.

__ADS_1


Aku bergerak, berniat turun dari brangkar.


"Kau tidak boleh pergi, karena kau harus menjawab beberapa pertanyaan dariku, selain itu, pihak Rumah Sakit juga tidak akan membiarkanmu pergi tanpa izin dari mereka." ujar polisi itu sambil menahan pundakku.


Lihatlah, apa dia pantas disebut sebagai seorang polisi? Kunilai otaknya tidak bekerja sempurna.


"Apa kau pikir aku bisa kabur dalam keadaan seperti ini?" melihat kakiku yang juga di perban, sepertinya terkilir.


"Ouh,,,!" Polisi pria itu hanya menampakkan senyum cengir kuda. Kau tahu? Sesungguhnya hatiku merasa sangat takut, salah satu yang paling kutakuti di dunia ini adalah berurusan dengan polisi? Apa dia akan menangkapku karena menjadi tersangka kecelakaan itu? Oh Tuhan,,,, aku benar-benar takut sekarang.


"Lepaskan tanganmu, aku hanya ingin pergi ke kamar mandi, apa aku juga harus mendapat ijin darimu dan pihak rumah sakit untuk memasuki kamar mandi itu?"


Polisi itu tertawa rendah, lalu melepas pegangan tangannya.


"Aahh!" hampir saja aku terjatuh ke lantai andai polisi itu tidak menangkap tubuhku cepat, kakiku sangat sakit, itu membuatku tidak tahan untuk sekedar berdiri.


Polisi itu mengangkat tubuhku kembali duduk di tepian brangkar, sedangkan aku sudah kebelet.


"Tunggu sebentar, biar kupanggilkan perawat untuk membantumu ke kamar mandi,"


"Aku sudah tidak tahan, bantu aku sekarang!" bodoh, kenapa aku malah meminta bantuannya?


Polisi itu nampak berpikir sebelum akhirnya ia mengangkat tubuhku menggendong ala bridal masuk ke dalam toilet, membukakan kloset dan mendudukkan ku. Menaruh botol infus pada tiang penyangga yang baru ia bawa setelah keluar sebentar tadi.


"Apa kau bisa melakukannya sendiri?" tanya polisi itu memastikan.


"Hem,,,, tunggulah di luar!"


Pintu ditutup setelah aku mengatakan itu.


***


Hampir 10 menit aku berada di kamar mandi, selain menuntaskan buang air kecil, aku juga tengah memikirkan jawaban apa yang nantinya akan aku berikan atas pertanyaan-pertanyaannya, kenapa Aretha tidak datang? Apa dia marah karena aku kecelakaan dalam keadaan mabuk? Kalau Emil, tentu aku tidak mempunyai harapan, dia tidak mungkin mencariku dan bersedia menemuiku, karena aku bukanlah orang yang berharga baginya.


"Tok tok,,,,"


"Apa kau masih belum selesai? Jika kau kesulitan, akan kupanggilkan perawat perempuan!"


"Klek!" kuputuskan untuk keluar saja, mau sampai kapan aku harus menghindar?


Kami saling menatap dalam diam, jika diperhatikan, polisi ini sangatlah tampan.


"Apa kau akan menangkapku? Apa aku akan dihukum dan dipenjara? Kumohon jangan lakukan itu, aku tidak sengaja kecelakaan, tidak ada orang yang ingin kecelakaan, jadi kumohon maafkan kesalahanku karena mengemudi dalam keadaan mabuk, aku,,,,"


"Aahh!" polisi itu masuk dan langsung menggendong tubuh ala bridal untuk keluar dari kamar mandi menuju brangkar pasien.


"Kau ternyata sangat cerewet, dalam keadaan sakit seperti ini kau masih bisa begitu banyak bicara."


Ia membaringkanku ke ranjang semula, meletakkan botol infus pada penyangga.


"Baiklah, aku memberikanmu kesempatan untuk bertanya padaku sebelum aku yang bertanya padamu," tatapan kami saling mengunci, ini sebuah kerja sama?


***


"Di mana ponselku?"


"Semua barang saat terjadinya kecelakaan dalam penyitaan andai itu masih tersisa."


"Tersisa?"


"Mobil yang kau tumpangi meledak dan melahap semua yang ada di dalamnya, termasuk ponselmu, itu ditemukan dalam keadaan sudah hancur patah akibat terbakar,"


"Ya Allah,,,," hatiku berdebar dan tubuhku gemetar, meledak? Terbakar? Bagaimana bisa? Sedangkan aku ingat aku masih berada di dalam mobil waktu itu, lalu bagaimana aku bisa selamat tanpa luka bakar jika mobil itu meledak dan terbakar?

__ADS_1


"Kau baik-baik saja?" tanya polisi itu menyadari aku yang ketakutan. Aku mengangguk sebagai jawaban, ia tak perlu tahu apa yang sebenarnya kurasakan.


"Sejak kapan aku berada di sini?"


"Dua hari yang lalu,"


"Dua hari?" Itu artinya, aku tidak sadarkan diri selama dua hari.


"Apa ada keluargaku di luar sana? Maksudku, apa ada seseorang yang mencariku? Mendatangiku? Apa ada?"


"Cukup sulit untuk mengetahui identitasmu, kau bukan warga sipil kota Paris, dan tanpa dokumen resmi yang bisa membantu pencarian siapa dirimu, membuat kami kesulitan mengetahui siapa dirimu, satu-satunya yang bisa kami lakukan adalah melacak nomor plat mobil yang sudah hangus, dan tiga angka belakang yang tak bisa dikenali membuat kami harus melacak manual satu persatu, hingga kami mendapati informasi mobil itu atas nama Mr. Emil O'clan. Jadi kami baru mengabari pria pemilik mobil itu atas kecelakaan yang menimpa dirimu, Nyonya Namira."


Aku mengangguk, jadi begitu.


"Apa dia bersedia datang?" ya Tuhan,,,, pertanyaan macam apa lagi itu?


"Dia akan datang, dan mungkin sekarang sedang dalam perjalanan, kami baru menghubunginya pagi tadi."


Aku terdiam, benarkah Emil akan datang? Ya Tuhan,,,, selama dua hari aku terbaring tak sadarkan diri di sini dan tanpa seorang pun menemani, kini aku bisa merasakan kesedihan Emil waktu itu, saat ia merasa sendirian di Rumah Sakit pasca kecelakaan pesawat yang menimpanya. Dan kini aku bisa memahami kemarahannya waktu itu padaku. Emil,,,, maafkan aku.


Setetes air mataku berlinang membasahi pipi, polisi itu menyodorkan sapu tangan di hadapanku yang tenggelam dalam lamunan.


"Tidak, terimakasih." salah satu hal menghindari hutang budi adalah menolak bantuan sapu tangan, itu tidak ada di kamus besar, aku sendiri yang menciptakan peraturan itu.


Aku mengusap mandiri air mataku dengan jari-jari tangan, dan polisi itu memasukkan kembali sapu tangan putihnya ke dalam saku celana.


"Baiklah, aku sudah menjawab semua pertanyaanmu, sekarang giliranku yang bertanya dan kau harus memberikan jawaban yang sejujurnya."


"He em, aku berjanji akan menjawab semua pertanyaanmu dengan kejujuran." kooperatif, itu yang coba kulakukan, entahlah, melihatnya yang bersikap baik membuatku nyaman, mengurangi rasa takut, dan aku juga percaya bahwa Emil akan menolongku dari jerat hukum, atau tidak, dia tidak akan peduli dan membiarkanku tetap berada dalam jeruji besi. Tapi setidaknya, ada Aretha yang akan meminta bantuan Mr. CEO untuk membebaskanku.


"Apa kau mengingat kejadian yang menimpamu dua hari yang lalu? Ceritakan sedetailnya."


Aku mulai menceritakan pukul berapa aku keluar dari rumah, lalu pukul berapa aku keluar dari Club, juga menghabiskan berapa botol Soju. Dan akhirnya terjadi kecelakaan itu.


"Apa kau keluar dari mobil atas usahamu sendiri? Atau seseorang membantumu?"


"Maaf, aku tidak mengingat bagian itu," aku menjeda, lalu kembali bicara.


"Apa aku ditemukan tidak sedang berada di dalam mobil?"


"Tidak, posisimu cukup jauh, sekitar 50 meter dari mobil, terbaring di tepi jalan."


Ya Tuhan,,,, apa yang terjadi, aku masih ingat aku tidak keluar dari mobil, aku bahkan ingat, telah melihat ayah yang duduk di sampingku, lalu aku memeluknya, iya aku tahu, itu pasti hanya halusinasi akibat kecelakaan.


"Apa lagi yang kau ingat? Ceritakan padaku,"


"yang kuingat, aku melihat sebuah truk, atau mobil besar berada tepat di depan mobilku, entahlah, pandanganku buruk setelah hantaman keras yang terjadi, dan setelah itu, aku tidak ingat lagi."


"Apa kau melihat seseorang yang ada di jok kemudi mobil besar yang bertabrakan denganmu?"


"Tidak, aku hanya melihat cahaya lampu, jadi aku tidak bisa melihat yang lain, maaf. Aku sungguh tidak bisa membantu."


Polisi itu mengangguk beberapa kali.


"Apa tidak ada kamera pengawas jalan?" tanyaku.


"Tidak, kecelakaan itu terjadi di jalan sepi yang tidak terpasang cctv."


"Klak!" pintu terbuka, mengagetkan kami yang masih bicara.


"Namira,,,,"


Emil. Pria yang sangat kucintai, dia berlari tergesa dari arah pintu melawan dua polisi yang berusaha mencegahnya masuk dan berhambur memelukku setelah ke dua polisi itu melepaskannya atas instruksi polisi yang tengah bersamaku berikan.

__ADS_1


"Namira, aku merindukanmu, kau membuatku takut!" lirih Emil sambil menangis saat ia sudah memelukku dengan sangat erat. Hatiku menghangat. Dia datang. Aku pun menangis tanpa pergerakan, membiarkannya memelukku lebih erat.


***


__ADS_2