100 HARI MENIKAH

100 HARI MENIKAH
Masuk kerja


__ADS_3

Ke dua kalinya memasuki kamar mewah eksotis milik Emil, senyum tipis tersungging di bibir Namira, dia sangat mengingat bagaimana dulu dia pertama kali memasuki kamar ini yang membuatnya menganga terpesona, sebuah kamar luas dengan nuansa gold dan putih gading, menunjukkan bahwa pemiliknya adalah seorang bangsawan kelas atas.


"Kenapa?" tanya Emil yang berdiri tepat di belakang Namira sedikit mengejutkannya.


Namira menghembuskan nafas kasar, lalu melangkah masuk, menaruh tas selempangnya di atas nakas, lalu melepas blazer yang ia kenakan dan ia taruh di atas gantungan.


"Kau pilih tempat tidurmu," ucap Namira tanpa melirik Emil sama sekali, yang tengah berdiri di depan cermin melepas jam tangannya dan membuka kedua kancing lengan bajunya.


"Hanya ada satu ranjang di sini, sayang!" seloroh Emil menoleh ke Namira dengan seutas senyum manis.


"Aku tidak bisa berbagi ranjang denganmu, aku,,,, aku masih tidak mempercayaimu,"


Emil menghembuskan napas kasar, melangkah mendekati Namira setelah dua kancing kemeja atasnya juga selesai ia buka.


"Kau belum memaafkanku?" Emil menatap dalam manik Namira, mencoba mencari sebuah kejujuran di sana.


"Aku hanya takut akan kembali terluka, aku butuh waktu,"


Lagi-lagi Emil menghela napas kasar, ia nampak berpikir sesaat.


"Baiklah, aku tidur di sofa, kau bisa menggunakan ranjangnya,"


Namira lekas melangkah ke arah balkon kamar setelah mendapat jawaban yang ia nantikan dari Emil. Melihat bangunan mewah tinggi menjulang yang selalu dikaguminya dari kejauhan, menara Eiffel. Dan Emil hanya melihat istrinya dari dalam kamar tak berniat mendekat. Namira jelas nampak masih kesal padanya.


'Maaf,' kata yang mudah diucapkan tapi tidak dengan hati yang sudah sangat terluka, kepercayaan yang digores begitu dalam oleh sebuah kebohongan.


Bukannya tidak bisa memaafkan, tapi Namira hanya mencoba melindungi hatinya agar tak semakin hancur jika ia menerima Emil kembali begitu saja dan nyatanya masih ada nama Sexyola di antara mereka, apa pun alasannya, bahkan untuk sebuah ikatan pertemanan biasa saja, Namira tidak rela, ia tidak sudi.


Katakanlah jika Namira egois, tapi itu yang dia inginkan, Emil berhenti berhubungan dengan Sexyola apapun alasannya, Namira tak bisa mempercayai Emil dan Sexyola jika mereka masih bersama.


Sedangkan malam itu saja, saat Namira marah dan sakit karena cemburu, Emil justru menolong Sexyola dan menghalangi dirinya membalas perbuatan Sexyola. Apa itu tidak cukup membuat hati Namira semakin ragu? Kejadian malam itu saja masih begitu sungguh melekat dalam ingatan, dan Emil dengan mudahnya mempertanyakan, 'Apa kau belum memaafkanku?'


Ya Tuhan,,,, Namira tak sebaik itu, saat ia ditindas, ia akan membalas, saat disakiti, ia tidak akan diam saja. Dia bukan wanita lemah lembut yang seperti kebanyakan dalam sebuah cerita. Namira berbeda.


***


Hari berikutnya.


Seperti yang sudah mereka bicarakan sebelumnya, jika perusahaan O'clan Fashion di Paris akan diambil alih oleh Fabrizio, dan Namira juga akan ikut bergabung sebagai staf keuangan.


Emil? Dia akan bekerja di bawah kepemimpinan Fabrizio untuk mempelajari semuanya dengan cepat.


Tentu ini bukan perkara mudah, karena Sexyola juga masih bekerja di Perusahaan ini, biar bagaimanapun, tidak ada alasan untuk memecatnya, meski saham orang tuanya telah ditarik, namun Sexyola masih memiliki hubungan baik dengan keluarga O'clan, dan dia karyawan yang bisa diandalkan. Jabatan Sexyola di perusahaan adalah sekretaris pribadi Emil.


Super bukan? Selama ini Namira tidak mengetahui apapun tentang kehidupan Emil di Paris selain hanya suaminya yang pulang-pergi bekerja. Dan Emil hanya mengatakan padanya jika Sexyola adalah manajer di OC Restoran, lantas, kenapa dia tidak pernah mengatakan jika Sexyola juga adalah sekretaris pribadinya di kantor O'clan Fashion? Hah, lantas bagaimana Namira bisa mempercayainya sekarang? Sulit.

__ADS_1


Sebelum bekerja, Namira memiliki beberapa perjanjian dengan Fabrizio dan Emil yang sudah disepakati, dia tidak mau identitas aslinya diketahui oleh siapapun di perusahaan, dengan begitu, Namira bisa berbaur dengan para karyawan lain dengan lebih nyaman.


Biasanya, para pekerja suka bergosip di belakang para pimpinan perusahaan, jika ada sesuatu yang janggal seperti yang diperkirakan Fabrizio tentang permainan orang dalam, Namira bisa mencari informasi dari mereka, karena mereka akan lebih terbuka terhadap sesama karyawan. Dan Fabrizio setuju.


Namira akan masuk ke perusahaan layaknya karyawan biasa yang tak ada hubungannya dengan keluarga O'clan, awalnya Emil tidak setuju, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa karena Namira memaksa, dan dia tidak akan masuk ke perusahaan jika Emil ngotot memperkenalkan dirinya sebagai istrinya.


Well, Namira masuk ke perusahaan tanpa embel-embel nama O'clan di belakang namanya, dan bahkan berpura-pura tak mengenal Fabrizio dan Emil, Sexyola? Bagaimana dengan dia? Mudah saja, sejak awal dia tahu jika pernikahan Emil dan Namira memang sengaja disembunyikan dari publik, jadi bukan masalah jika kini mereka masih menyembunyikan semuanya.


***


Di sini Namira berada, duduk pada kursi kerja menghadap meja kubikel, sedikit lebih pagi, karena dia sengaja menghindari Emil yang pasti akan memaksanya untuk berangkat bersama.


Di dalam ruangan ini terdapat lima meja, dan ke empat meja lainnya masih kosong karena jam belum menunjukkan waktu masuk. Juga sebuah ruangan lain yang tertutup pintu.


Namira mainkan ponselnya berbalas pesan dengan Aretha, hingga beberapa menit kemudian, satu persatu karyawan lain mulai berdatangan.


"Hai, kau karyawan baru?" sapa seorang perempuan berambut pirang kekuningan yang panjang bergelombang.


"Hai, aku Namira," Namira berdiri membalas sapaan teman barunya, mengulurkan tangan dan perempuan itu pun menerima uluran tangan Namira.


"Aku Esmee," dia tersenyum.


"Pagi, Esmee,,,," seorang pria yang baru datang menyapa Esmee.


"Hai, Richard. Pagi juga!" Esmee dan Namira melepas tautan tangan mereka.


"Hai, aku Namira!" Namira mengulurkan tangan terlebih dulu.


"Richard, kalau kau mau panggil sayang juga boleh," goda Richard sambil mengedipkan sebelah matanya.


'Dugh!'


"Aahh,,,!"


Esmee menyikut pelan perut Richard.


"Jangan hiraukan dia, dia buaya!" seloroh Esmee yang hanya Namira balas dengan senyuman lebar.


"Baiklah,selamat bekerja, aku akan ke mejaku, dan kau,,,, kau juga kembali ke mejamu!" ucap Esmee pada Richard.


"Aku,"


"Ayo,,,"


"Hei,,,"

__ADS_1


Esmee menarik kemeja Richard agar menjauh dari meja Namira, lucu, tingkah mereka cukup mencairkan hati Namira yang terasa tegang tadinya. Namira pun kembali duduk di kursi dan mulai menyalakan komputer.


'Bruk!'


Setumpuk berkas dibanting di atas meja Namira.


"Ini laporan keuangan selama satu tahun terakhir, kau harus memeriksanya, satu persatu, sedetil-detilnya, jangan sampai ada yang salah, salin ulang pada folder, dan berikan padaku 3 hari mendatang." seorang perempuan bertubuh besar, berbicara dengan nada sok memerintah pada Namira, sungguh Namira kaget. Ini hari pertamanya, tidak mungkin dia bisa menyelesaikan memeriksa laporan keuangan selama satu hanya dalam waktu tiga hari.


"Tapi, Nyonya,"


"Nona," ralat perempuan itu cepat.


"Nona," ulangnya sekali lagi dengan nada lebih tegas.


"N-n nona," ucap Namira terbata. Sebutan Nyonya adalah untuk wanita yang sudah menikah, dan Nona adalah untuk mereka yang masih lajang, itu artinya, perempuan yang nampak seperti ibu Namira itu masih Single.


"Hei, kau, apa yang kau lihat? Cepat bekerja!" bentak perempuan bertubuh besar itu pada Richard yang mendongak melirik karena rasa ingin tahunya yang tinggi.


"Dan kau," kini perempuan bertubuh besar itu beralih pada Namira.


"I-i i iya."


"Kerjakan!"


"B-ba baik!" Namira mengangguk gugup beberapa kali.


Perempuan itu melangkah kembali masuk ke dalam ruangannya yang masih berada di dalam satu ruang kubikel itu. Sebuah papan bertuliskan manager keuangan terpasang di pintu ruangannya.


Satu persatu kepala mulai mendongak, menatap Namira. Namira pun membalas tatapan aneh Richard dan Esmee.


"Namanya Fayette, Nona Fayette." bisik Esmee dari mejanya.


"Manager keuangan," sahut Richard.


"Salah satu orang berpengaruh di sini," sahut yang lain, seorang perempuan berambut lurus pendek sebahu yang belum Namira tahu siapa namanya, ia baru datang beberapa saat ketika Nona Fayette sudah menjatuhkan tumpukan berkas itu di atas meja Namira.


"Dan dia akan memberikan tugas tambahan pada kalian jika ketahuan membicarakannya." sahut seorang lagi, seorang pria berkaca mata yang menggerakkan jemarinya lincah di atas papan keyboard komputer yang Namira pun belum tahu siapa dia.


"Hai, siapa tadi namamu?" tanya perempuan berambut lurus pendek sebahu.


"Namira, kau?"


"Anne, dan itu, si tampan yang bersikap dingin seperti salju, namanya Yordhan! Selamat bergabung!" Anne memberikan senyuman yang sangat manis, sedangkan pria yang disebut Yordhan itu sama sekali tak menanggapi, ia begitu fokus dengan pekerjaannya.


Well, hari pertama bekerja terasa lumayan, teman-teman Namira terbilang baik, meski atasannya terkesan menyebalkan, tapi tidak masalah.

__ADS_1


Tentang pekerjaan yang menggunung yang dibebankan di bahu Namira? Dia bisa membawanya ke rumah, meminta bantuan Aretha. Yah, semoga saja. Begitu pikirnya.


***


__ADS_2