100 HARI MENIKAH

100 HARI MENIKAH
Ardhan


__ADS_3

Pagi ini terasa lebih baik, tidak kesiangan saat bangun, dan tidak ada tisu-tisu sialan yang bertebaran hasil karya Mr. Emil seperti biasanya, namun ada yang berbeda menyambut pagiku yang damai, aroma masakan dari arah dapur saat aku keluar dari kamar. Indra penciumanku menuntunku untuk melangkah ke tempat yang paling jarang kami gunakan itu. Di sana, pria tampan beraroma bvlgary yang membuatku patah hati parah sekali, berdiri menghadap kompor elektrik sambil mengenakan kain celemek.


"Selamat pagi," sapa Emil tanpa menoleh ke belakang, hey, aku tidak bersuara sama sekali saat mendekat, bahkan terkesan mengendap untuk mengintipnya saja, jadi, bagaimana dia bisa tahu aku ada di sini? Apa dia mempunyai bola mata di kepala belakangnya?


"Ouh, selamat pagi," kujawab dengan sedikit, kikuk.


"Kau,,,, memasak?" tanyaku sembari mendekat.


"Hemm," jawabnya singkat, mengangkat panci berisi sup ayam, lalu menaruhnya di atas meja makan kami yang kecil.


Aku hanya terus melihatnya dengan perasaan terpesona. Hingga suara beratnya itu kembali menyadarkanku.


"Duduklah, masih ada waktu untuk sarapan bersama." Emil menarik kursi namun ia duduk pada kursi yang lain, okay, berarti kursi itu untukku.


Aku mendekat dan duduk pada kursi yang tadi Emil tarik.


"Aku,,,, tidak tahu kalau kau bisa memasak,"


Emil memberikan piring, sendok dan garpu, kuterima lalu kuletakkan di depanku. Ada nasi, Emil bahkan mengambilkannya untukku, tunggu, kenapa dia bersikap begitu baik? Bahkan terkesan manis, apa dia merencanakan sesuatu?


"Banyak hal yang tidak kau tahu tentang diriku," ucap Emil datar, ia lantas mulai menyantap makanannya tanpa melihatku sama sekali.


Aku masih terdiam, memikirkan kemungkinan-kemungkinan, apakah Emil memberikan sesuatu dalam makanan ini? Apa dia meracuniku? Ah, kurasa tidak, itu terlalu ekstrem. Atau mungkin, dia memberikan obat pe.rang.sang? Ya Tuhan,,,, jantungku berdegup kencang memikirkan itu. Mungkinkah Emil melakukannya?


Aku lekas berdiri hingga suara kursi yang berderap karena dorongan dari tubuhku mengagetkan Emil, menghentikan aktifitas makannya.


"A-a aku harus segera berangkat, m-maaf, selamat makan!" aku lekas berhambur pergi, melangkah cepat meninggalkan dapur dan keluar apartemen segera, mengabaikan Emil yang tadi hanya diam saja menatap datar meja makan yang kutinggalkan.


"Ya Tuhan,,,," kusentuh dadaku yang berdebar saat aku berada di luar dan pintu utama sudah tertutup rapat.


"Apa-apaan ini? Dia tidak pernah bersikap baik padaku selama ini, dan tiba-tiba saja berubah sangat manis, dia pikir aku ini bodoh apa? Sampai tidak bisa menebak rencananya dan tipu muslihatnya? Dasar pria bang.sat!" aku menggerutu kesal membayangkan pemikiranku sendiri. Jika sampai benar Emil melakukan itu untuk mendapatkan keuntungan dariku. Obat pe.rang.sang, karena obat sialan itu aku harus menikah dengannya.


"Namira!"


Suara seorang pria, aku menoleh ke arah kanan, melihatnya yang baru saja memanggil namaku.


Sontak kedua mataku membola ketika kukenal pria yang berada di depan pintu apartemen yang bersebelahan denganku itu.


"Ardhan!"


"Jadi itu benar kau?" Ardhan berlari mendekat. Ia tersenyum lebar melihatku dengan raut muka bahagia.


Ardhan, mantan kekasihku yang dulu hampir saja menikahiku, namun saat ayah jatuh stroke dan ekonomi keluargaku berada pada titik terendah, kedua orang tua Ardhan membatalkan pernikahan kami. Restu yang dulu sempat kudapat sirna seketika.


"Ya Tuhan, Namira,,,, aku tidak percaya melihatmu di sini!" Ardhan berseru senang, beda halnya denganku yang merasa gugup, bagaimana tidak? Biar bagaimanapun, kami dulu pernah bersama, aku sangat mencintainya, dan dialah pria pertama yang menyentuh tubuhku.


"Namira," Ardhan hendak menyentuh kedua pundakku dengan kedua tangannya, refleks aku mundur, memutus kontak mata dengan menunduk, tiba-tiba hatiku sangat sakit mengingat dirinya yang dulu meninggalkanku begitu saja.


"Namira,,,,!" teriak Ardhan saat kuputuskan untuk segera lari dari sana, meninggalkan Ardhan yang harusnya tak pernah lagi kutemui. Aku tidak sanggup jika harus berada dekat dengan Ardhan. Itu membuatku merasa, sakit.


***


Pagiku yang tenang tak lantas membuat hariku menjadi baik, belum lagi pikiran tentang Ardhan memenuhi isi otak sepanjang perjalananku menuju kantor, aura negatif kembali membayang.


Saat di kantor semua terasa berubah, suasana terasa sangat tidak nyaman karena beberapa karyawan melihatku dengan tatapan,,,, aneh, kurasa.


Bahkan tak jarang kujumpai mereka berbisik di belakangku, baru saja kemarin aku mulai mengenal mereka satu persatu, namun hari ini semua berubah begitu saja.

__ADS_1


"Iya, kemarin aku melihatnya sendiri, dia pergi bersama Patricia!" gumam seorang wanita pada teman pria yang tak sengaja kudengar saat aku melewati kubikel mereka.


"Sangat disayangkan, padahal dia cantik." sahut pria itu menanggapi.


Okay, aku tahu duduk permasalahannya. Semua orang memandangku dengan tatapan seperti itu karena alasan apa, mereka berpikir jika aku satu spesies dengan Patricia, ya Tuhan,,,, yang benar saja.


Aku duduk di kursiku menahan kesal, menyalakan komputer bersiap mengerjakan tugas, dan lihatlah siapa yang sudah menyambutku, Patricia yang kubikelnya memang berada di dekatku.


"Selamat pagi, Namira!" sapa Patricia ramah.


"Pagi, Patricia." balasku mengulas senyum, aku hanya ingin bekerja, tidak berniat mencari masalah ataupun menjalin hubungan dengan siapapun di perusahaan ini. Apalagi seorang wanita.


"Bagaimana kabarmu pagi ini?" Patricia mulai berbasa-basi. Dan aku menanggapi dengan sopan.


"Baik,"


Kembali memfokuskan diri pada pekerjaan, sampai berselang beberapa menit, Patricia kembali mengajakku bicara.


"Bagaimana jika nanti kita makan siang di OC Restoran!" tawar Patricia.


"Makanan di sana enak kan, Namira?"


"Kurasa kita harus membicarakannya secara terbuka, Patricia!" Aku menghentikan aktifitasku pada papan keyboard, lalu menatap Patricia dalam.


"Tentang apa?" tanya Patricia dengan nada pelan, terdengar serius, jauh berbeda dengan gaya bicaranya tadi yang ceria, mungkin Patricia bisa langsung menangkap ekspresi dari raut mukaku.


Aku menghela nafas kasar, sekarang aku bingung harus memulainya dari mana.


"Namira?" panggil Patricia setelah aku hanya diam dan nampak berpikir.


"Kenapa kau berbohong padaku?" kening Patricia mengernyit dengan sorot matanya yang penuh tanda tanya.


"Kau tahu tentang diriku? Apa Sexyola yang mengatakannya padamu?" tanya Patricia terdengar menantang.


Aku terdiam, ingin mengatakan bukan, tapi tetap saja ini ada hubungannya.


***


Di sini kini kami berada. Toilet perempuan, setelah Patricia menarikku untuk membicarakannya dengan serius berdua.


"Aku mengenali wajahmu karena Sexyola pernah mengunggah foto kebersamaan kalian di laman instagramnya, awalnya aku ragu, namun setelah kupastikan benar itu kau, aku mendekatimu, dan sangat kebetulan jika kubikel kita bahkan berdekatan, takdir memang tak bisa disangka-sangka."


Aku hanya diam berdiri agak jauh menjaga jarak darinya yang nampak mematut diri menghadap kaca Wastafel.


Beberapa kali aku menelan saliva kasar karena entah mengapa ada rasa takut yang mendominasi.


"Aku mencintai Sexyola sejak kami masih duduk di bangku sekolah, tapi dia hanya mempermainkanku, bahkan dia sebenarnya menyukai Fabrizio, apa kau mengenalnya?"


Aku mengangguk gugup sebagai jawaban. Patricia tersenyum namun bukan sebuah senyuman keramahan, bisakah kukatakan jika senyum itu seperti senyum licik dari pemeran antagonis dalam film-film? Semacam itu.


"Aku merasa senang saat Fabrizio akhirnya pindah ke negara asal Neneknya, karena kupikir, Sexyola akan kembali padaku, namun aku salah, dia justru menjalin hubungan dengan Emil."


DEG.


Jantungku berdegup semakin kencang ketika nama Emil ia sebut, apalagi itu tentang hubungannya dengan Sexyola, rasa nyeri itu mendominasi hatiku.


"Kau juga pasti mengenal Emil bukan? Kalian berfoto berempat, dan seorang pria lain yang tak aku kenal,"

__ADS_1


Aku ingat sekarang, foto yang Patricia maksud pasti adalah foto ketika hari pernikahan kami, ralat, lebih tepatnya resepsi pernikahan Aretha dan Zio, dan aku, Emil, Reyhan, satu meja bersama Sexyola yang saat itu mengajak kami berselfie.


"Aku memang berbohong padamu, Namira. Tapi tidak sepenuhnya, tentang anak yang kuceritakan padamu, itu benar adanya, aku mengadopsi anak laki-laki, dan tentang kekasih, aku masih mengharapkan Sexyola kembali padaku, karena itulah aku mengajakmu ke sana."


"Untuk membuat Sexyola cemburu," pungkasku. Patricia menatapku tajam. Jelas terlihat ia tidak suka akan ucapanku. Atau cara bicaraku.


"Terserah kau mau melakukan apa, tapi jangan libatkan aku." aku berbalik hendak keluar sebelum akhirnya kurasakan tarikan kasar itu pada rambutku.


"Aaahhh!" jeritku kesakitan.


Patricia menjambak rambutku lalu membenturkanku ke dinding dengan posisi aku menghadap dinding sedangkan dia menekanku dari belakang. Cukup kuat untuk ukuran tenaga seorang wanita.


"Jangan macam-macam, Namira!" ucap Patricia terdengar seperti sebuah ancaman, bolehkah aku menangis sekarang? Tidak, aku adalah Namira Hermawan, putri ayah dan ibu yang kuat.


"Uuuhhh!" kudorong kebelakang tubuhku dengan keras hingga Patricia mundur dan hampir tersungkur. Kilat matanya yang tajam seperti siap menerkam.


"Jangan kau pikir aku adalah wanita lemah yang bisa kau perdaya, Patricia, kau sudah mencari mangsa yang salah!" aku lekas pergi dari toilet berlari kembali ke kubikelku tanpa menghiraukan kondisi rambutku yang pastinya berantakan. Dan akan mengundang tanya atau kesimpulan para karyawan lain yang melihatnya.


Setetes air mata mengalir begitu saja, dan aku lekas mengusapnya kasar, meraih tas di atas meja lalu berlari keluar dari perusahaan. Kuputuskan aku akan resigne, dan tidak akan pernah lagi bertemu dengan wanita seperti Patricia, mereka sangat menakutkan.


***


Sampai di rumah aku sempat terkejut karena ada orang, assisten kebersihan yang datang setiap satu Minggu sekali untuk membersihkan apartemen secara keseluruhan, termasuk mencuci tumpukan baju Emil, karena untuk bajuku, aku mencucinya sendiri.


"Oh, Nyonya, anda sudah pulang!" sapa wanita yang usianya jauh lebih dewasa dariku itu sambil tersenyum sopan.


"Ah, kau membuatku sedikit terkejut," ucapku jujur.


"Maaf, Nyonya, tapi kenapa?" tanya wanita yang kulupa namanya itu sambil tersenyum sungkan.


Aku menggeleng,


"Bukan, lupakan."


Kututup pintu rapat, lalu duduk di sofa. Wanita itu membawakan segelas air putih, aku menerimanya dan langsung meneguk hingga tandas.


"Nyonya sepertinya sangat lelah, tadi Tuan Emil mengatakan jika Nyonya bekerja, dan akan pulang sore hari, tapi ini masih terbilang pagi, dan Nyonya sudah kembali, apa Nyonya baik-baik saja? Nyonya tidak sakit, kan?"


Kulirik nametag di dadanya. Laurent, nama yang indah.


"Tidak, Laurent, aku baik-baik saja."


Laurent mengangguk lalu hendak melangkah, namun aku lekas menghentikannya dengan menanyakan tentang, Emil. Ya Tuhan,,,, aku pasti benar-benar sudah gila karena menanyakan pria bang.sat itu.


"Kau tahu kemana Tuan Emil? Apa dia pergi ke kantor? Atau ke suatu tempat? Apa dia mengatakan padamu kemana dia?"


Kutatap dalam Laurent yang sudah membuka mulut hendak menjawab, namun tiba-tiba ia kembali menunduk, mengangguk dan undur diri. Aku mengernyit heran.


"Lau,,,," suaraku yang hendak memanggil nama Laurent tercekat.


Okay, aku menanyakan tentang keberadaan seseorang yang nyatanya berada di dekatku, bersandar pada dinding menyedekapkan kedua tangannya sedada sambil menatapku, dan apa itu? Sebuah senyum tersungging di bibirnya. Senyum yang terlihat menyebalkan, apa dia akan mengejekku sekarang?


Aku mengalihkan pandangan, berdehem untuk mengurangi rasa malu.


"So,,,," suara Emil, tiba-tiba dia sudah berada di belakangku, wajahnya begitu dekat dengan wajahku yang menatap lurus ke depan. Aroma nafasnya menerpa penciumanku melewati leher, dan itu menimbulkan sensasi yang luar biasa, aku juga jatuh cinta dengan aroma bvlgary dari tubuhnya.


"Kau mencariku?" Emil menjeda, dan aku menikmati debaran jantungku yang semakin menggila.

__ADS_1


"Merindukanku, Namira?"


***


__ADS_2