100 HARI MENIKAH

100 HARI MENIKAH
Baikan


__ADS_3

"Aunty Nami,,,,"


"Tita, sayang,,,,"


Namira dan Tita kecil saling berpelukan hangat.


"Aunty kangen banget sama Tita,,,, emmmhhh! Happy birthday, Baby...." Namira menggoyang pelan tubuh Tita ke kiri dan ke kanan, dan Tita cekikikan karena ulah Namira, manik bulat Tita yang cerah menangkap sosok Emil yang berdiri di belakang Namira dengan raut mukanya yang tegang, dan keluarga besar O'clan segera menghampiri Namira yang datang bersama Emil, sangat tak disangka-sangka.


"Aunty, dia siapa?" tanya Tita sambil menunjuk ke arah Emil, dan itu menyita perhatian Emil untuk meliriknya.


Namira melepaskan pelukan mereka, lalu menoleh pada Emil yang juga menatapnya.


"Emil,"


"Emil,"


Seru Daddy dan Mommy Di.


Daddy langsung menarik tubuh Emil untuk ia peluk erat, tangis pria yang sudah nampak sangat tua itu pecah seketika tak dapat ia bendung, dan itu menarik perhatian para tamu undangan.


Emil menyadari sesuatu ketika kilat flash media mulai membidiknya. Ia lekas menunduk.


"Bisa kita cari tempat lain?" tanya Emil yang membuat mereka semua bingung.


"Ayo," Fabrizio lekas mengajak mereka pergi dari sana, bicara lewat earphone untuk MC menghandle acara selama mereka pergi.


Kini mereka semua tengah berada di sebuah ruang tertutup. Hanya ada Daddy, Mommy Di, Fabrizio, Aretha, Tita, Namira dan Emil. Tanpa orang luar.


"Emil, kau kemana saja? Kami sangat merindukanmu, nenek sampai jatuh sakit karena terus memikirkanmu," Mommy Di berbicara dengan menggebu. Tapi pandangan Emil justru tertuju pada perut Aretha yang nampak membuncit.


"Mencetak satu angka tambahan?" celetuk Emil membuat ketegangan di antara mereka sedikit mencair.


"Iya, Tita akan segera memiliki adik," jawab Aretha.


"Itu bagus, selamat."


Aretha mengembangkan senyum seraya mengucapkan terimakasih.


"Emil, Namira, kalian, bersama?" kini Daddy yang bertanya panik melihat kebersamaan mereka.


Namira dan Emil saling pandang, lalu memutus tatapan mereka saat Namira menunduk.

__ADS_1


"Namira, kau selingkuh dari suamimu? Kau selingkuh dari Mr. Leonel?" selidik Aretha terdengar tak suka.


Namira lekas mendongak mendapat tuduhan itu dari Aretha, meski apa yang Aretha tuduhkan tak sepenuhnya salah, tapi itu terdengar seperti Namira adalah wanita murahan yang sesungguhnya.


"Dia berhak bahagia, kami saling mencintai, apa itu harus disebut sebagai sebuah perselingkuhan?" Emil tak terima dengan yang Aretha katakan, melihat raut muka Aretha yang berubah atas jawaban Emil, Fabrizio yang kini tak terima.


"Lantas apa namanya jika bukan sebuah perselingkuhan? Kalian memutuskan untuk berpisah, lalu kembali merajut hubungan setelah salah satunya telah menikah, andai itu ada pada posisiku, maka aku pasti akan menggantung wanita itu," sindir Fabrizio.


"Cukup!" Daddy membentak.


"Bisakah kalian berhenti berselisih? Kita telah terpisah bertahun-tahun lamanya, hari ini Tuhan mempertemukan kita, apa harus dengan keributan lagi?" Dada Daddy naik turun menahan emosi.


"Emil, pulanglah ke rumah, nenek sangat merindukanmu, dia sudah sangat tua dan dia sedang sakit, kehadiranmu pasti bisa menjadi penyembuh untuknya," Daddy berusaha bicara selembut mungkin. Namun Emil tak menanggapi.


"Namira, aku tahu aku tidak berhak ikut campur urusan pribadi kalian, tapi, tidak ada pembenaran dalam suatu hubungan perselingkuhan, jika kau memang sudah tidak mencintai suamimu, kau bisa meminta cerai darinya untuk bisa kembali bersama Emil." Aretha duduk di sebelah Namira, mengelus tangan Namira lembut, bicara sepelan mungkin agar tak lagi memancing keributan.


Namira menelan saliva kasar. Selama ini ia menyembunyikan semuanya karena Leonel yang mengancamnya, mengancam keselamatan Aretha, Tita, bahkan Ardhan dan istrinya.


"Jika dia bisa melakukannya, dia pasti akan melakukan itu jauh sebelum bertemu denganku," sahut Emil membuat mereka mengernyit tak mengerti.


"Apa maksud Emil, Namira?" tanya Aretha.


Emil mulai kehilangan kesabaran, melihat Namira yang sudah menitikkan air mata membuat dadanya nyeri, wanitanya seolah disidang oleh suatu kesalahan besar yang akan merugikan keluarga O'clan.


"Kita pulang," ucap Emil menarik tangan Namira, mengejutkan semua orang.


"Tunggu," suara Tita kecil menghentikan langkah Emil yang hendak membawa Namira.


"Aku ingat sekarang," celoteh Tita sambil berkacak pinggang di depan Emil yang berdiri tinggi menjulang, ia menghalangi jalan Emil.


"Kau adalah pria di foto yang selalu dilihat oleh Daddy setiap malam, saat Daddy menceritakan kisah seorang anak laki-laki yang penurut tapi juga nakal, tapi Daddy sangat menyayangi anak laki-laki itu, kau pria di ponsel Daddy, kau anak laki-laki itu, iya kan?" Tita bicara sambil menunjuk-nunjuk Emil lucu, kemudian ia terkikik sendiri di akhir kalimatnya menampakkan deretan giginya yang rapi.


"Kau mengompol karena takut kecoa di kamarmu," celoteh Tita menggetarkan hati Emil, benarkah Fabrizio menceritakan semua itu pada Tita? Dan, Fabrizio menyayanginya?


Emil melihat ke arah Fabrizio yang memalingkan muka seolah enggan melihatnya.


"Daddy, diakah saudaramu yang kau rindukan itu? Yang sangat kau sayangi tapi kalian bertengkar dan dia pergi?" tanya Tita membuat semua orang yang mendengarnya seakan tak percaya, bahkan itu sukses mencubit hati Emil maupun Fabrizio.


"Emil," lirih Namira. Emil lekas menatapnya yang memberikan tatapan memohon.


"Aku membawamu kemari untuk menyelesaikan masalah antara kau dan keluargamu, bicaralah baik-baik dan berhenti saling berselisih."

__ADS_1


"Mereka tidak menghargaiku." jawab Emil. Fabrizio sontak menoleh mendengar jawaban yang Emil berikan.


"Kamu salah, Mr. CEO tidak seperti itu, dia mengatakan semua kalimat pedasnya berharap agar kamu bisa menjadi lebih kuat dan berjuang untuk dirimu yang lebih baik, dan kamu sudah membuktikan jika kamu bisa,"


Aretha menarik tangan Fabrizio.


"Kenapa saat jauh kau selalu menangisinya, kini ia ada di hadapanmu, tapi kenapa kamu memalingkan muka seolah kau tak menginginkannya? Apa kau tidak akan menyesal jika sekali lagi adikmu pergi darimu? Sebenarnya apa yang kalian perdebatkan? Antara aku dan Namira adalah saudara, hal biasa jika terjadi perselisihan, tapi bukan berarti saling memutus persaudaraan,"


Aretha membawa Fabrizio mendekat ke arah Emil, dua saudara yang sama gagahnya itu saling berhadapan dengan manik yang berkaca-kaca, setelah itu entah siapa yang memulai, Emil dan Fabrizio saling berpelukan erat, sangat erat, seolah ingin meremukkan tulang lawan.


"Aku minta maaf," lirih Fabrizio yang belum pernah mengatakan maaf seumur hidupnya pada siapapun.


"Aku merindukanmu," jawab Emil menahan sesak di dadanya.


Semua orang menangis haru dan bahagia. Hanya Tita di gadis kecil yang menatap bingung pada orang-orang dewasa itu, mereka berpelukan, tapi semuanya menangis. Aneh. Batin Tita.


***


Acara pesta ulang tahun dilanjut tanpa Emil, karena ia menghindari sorot media, selama ini, ia menutupi jati dirinya dan identitasnya dari semua orang, hanya beberapa artis di bawah naungan manajemennya dan orang-orang kepercayaannya saja yang tahu siapa Emil. Apalagi saat ini, ia tengah dalam misi penyamaran.


Pesta usai, dan keluarga besar itu kembali berkumpul sambil makan malam di sebuah ruang privat, tanpa Tita, karena gadis kecil itu sudah lelap.


"Jadi, kalian menjalin hubungan kembali?" masih dalam topik yang semula, Daddy kembali menanyakan perihal hubungan Emil dan Namira.


"Aku mencintai Namira, Dad. Sangat, Namira juga hanya mencintaiku, sebuah kesalahan besar karena aku telah menceraikannya." Emil menggenggam tangan Namira di atas meja, dapat disaksikan oleh semua orang.


"Kau akan berurusan dengan orang yang salah, Emil. Mr. Leonel tidak akan melepaskanmu jika ia tahu kau bermain dengan istrinya." Fabrizio menatap Emil dalam, ia tahu betul siapa Leonel di dunia bisnis dan dunia hitam yang tak banyak orang lain tahu, karena topeng tebal Leonel yang terkenal dermawan dan royal membuat ia disukai banyak orang dan sosial mengenal Leonel adalah orang yang baik.


"Aku tahu, tapi aku sudah siap menanggung resiko apapun demi bisa melepaskan jerat pria breng.sek itu pada Namira."


"Namira, katakan sesuatu, sungguh, kau membuatku takut kali ini." Aretha berbicara.


"Dia menyiksaku, dia mengancamku, dia merusak mental dan psikisku, dan dia tidak akan melepaskanku meski aku sudah memintanya. Dia mengintai orang-orang di dekatku sebagai budak ancamannya. Termasuk Ardhan, istrinya, dan,"


Namira menjeda, semua orang mendengarkan dengan hati yang berdebar.


"Kalian," lirih Namira menunduk dalam.


DEG.


***

__ADS_1


__ADS_2