100 HARI MENIKAH

100 HARI MENIKAH
Sopir baru


__ADS_3

"DOR!"


Sontak kedua mataku terbuka lebar mendengar suara tembakan yang menggema itu mengagetkanku. Aku bangun, tersadar dari pingsan. Sebuah botol infus yang bergantung di tiang penyangga terhubung dengan selang dan jarum yang menancap di punggung tanganku.


Tapi bukan itu perhatian utamaku saat ini, melainkan tubuh seorang pria berbalutkan setelan jas hitam lengkap yang kini telah limbung di lantai kamar dan darah mengalir di bawahnya. Salah satu bodyguardku, dia mati.


Aku menelan saliva susah payah, jantungku serasa berhenti berdetak, menatap nyalang jasad tak bernyawa itu yang diangkat keluar dari kamarku oleh beberapa bodyguard lain, ini lebih dari gila, dia dieksekusi mati di dalam kamar tidurku.


Air mataku berlinang deras, dan jantungku berdetak kencang tak beraturan, kala kulihat Leonel yang melirik sinis padaku, jangan lupakan senyum smirknya yang terlihat menakutkan. Dia adalah iblis yang menjelma seperti dewa dalam dunia penuh tipu daya.


Ia mengelap tangan dengan sapu tangan yang diberikan pelayan laki-laki setelah Leonel menaruh senjata apinya di atas nampan mewah yang dibawa pelayan lain.


Aku gugup, duduk beringsut di atas ranjang, Leonel bergerak mendekat.


"Jangan khawatir, sayang, aku sudah menghukum orang yang lalai menjagamu, sampai membuatmu berlari, kelelahan dan sakit seperti ini." Leonel mengusap pelan pipiku, tubuhku menegang, percayalah, Leonel adalah badai yang muncul pasca ketenangan. Dan,,,,


'Plak,!'


"Aahh,,,,!" pekikku merasakan sakit dan panas di pipi, benar kataku, Leonel adalah badai pasca ketenangan.


Aku mendongak, memegangi tangan Leonel yang menjambak rambutku keras ke belakang. Ia menatapku tajam dengan sorot membunuh.


"Jangan mengulangi kesalahan yang sama, karena kaulah yang bertanggung jawab atas nyawa orang-orang di sekitarmu."


"Aahh,,,!" tubuhku terhuyung setelah Leonel melepas tangannya yang menjambakku kasar.


"Urus dia, aku harus pergi sekarang," perintah Leonel pada seorang pelayan perempuan yang membawa nampan berisi makanan, setelah itu ia melangkah pergi dari kamar. Meninggalkan kekacauan begitu saja.


Aku hanya bisa menangis, bukan ini yang kuharapkan, kehidupan yang semakin membuatku menderita dan sengsara, setelah berpisah dari Emil.


Tiba-tiba perutku mual, aku merasa sangat mual, melihat darah yang dibersihkan pelayan justru bau anyirnya memenuhi ruangan, dan pelayan yang membawa makanan memintaku makan, bagaimana aku bisa makan di tempat yang berbau anyir darah?


Perutku sangat mual, aku turun dari ranjang dibantu seorang pelayan membawakan botol infus, masuk ke dalam kamar mandi dan memuntahkan isi perut yang hanya berupa cairan kuning yang terasa sangat pahit. Sakit. Aku sakit secara fisik dan mental.


Keringat dingin bercucuran membasahi dahi, tubuhku terasa sangat lemah, dan gemetaran, pandanganku menggelap, lalu aku tak lagi dapat mengingat apa yang terjadi setelah itu.

__ADS_1


***


Hari-hari selanjutnya, Leonel tidak pulang, entah ke mana dia. Aku tak ingin tahu dan aku tak mau tahu.


Aku menjalani hidupku seperti biasa, bangun, mandi, berpakaian mewah ala bangsawan, makan di meja makan yang besar nan mewah sendirian, lalu menyibukkan diri dengan membaca, berbelanja, menonton, menangis di dalam kamar seorang diri dalam keheningan, lalu tidur, dan bangun lagi, berputar seperti itu. Lagi dan lagi.


"Siapkan mobil, aku ingin belanja." perintahku pada Robin usai makan siang, Robin, kepala pengawal yang baru setelah kepala pengawalku yang ditembak mati waktu itu.


Robin selalu menjagaku dengan beberapa pengawal lain bawahannya, yah, aku selalu dalam penjagaan 24 jam, ketat, tanpa kelalaian.


"Maaf, Nyonya. Sopir pribadi anda mengalami kecelakaan semalam, dan kami belum mendapatkan sopir pengganti." jawab Robin sesaat setelah membungkukkan badan.


"Aku tidak mau tahu, aku mau pergi belanja sekarang," aku melempar sapu tangan dengan kasar di atas meja makan. Menatap Robin yang menunduk dengan sorot mata tajam.


Aku berubah? Yah, aku bukan lagi Namira yang dulu, aku menjadi angkuh, tak berperasaan, dan, kejam? Mungkin. Hanya dengan sikap seperti ini aku bisa mengimbangi Leonel untuk tidak terus mendindasku.


Memuaskannya dan mengikuti permainannya. Aku lelah selalu mendapat tamparan, pukulan, jambakan dan tendangan. Aku harus berlakon seperti Leonel untuk mengimbanginya.


Leonel datang saat aku hendak naik ke lantai atas. Ia menyunggingkan senyum tipis yang sangat kubenci, namun terpaksa aku harus membalasnya dengan sebuah senyuman.


"My seksi wife," seru Leonel memelukku, mere.mas bokongku dan menyesap leherku, di depan semua orang, mataku terpejam, aroma parfum wanita yang menguar dari tubuhnya tak bisa membohongi apa yang barusan Leonel lakukan.


"Kau puas, suamiku?" tanyaku yang pasti akan kembali memancing keributan.


Satu hal tentang Leonel yang selalu ia katakan namun tak dapat kupercaya, dia mencintaiku, tidak bisa hidup tanpaku, dan tidak mau kehilangan aku, dengan kata lain, Leonel tidak akan pernah melepaskanku.


"Aku hanya bermain sedikit, dia memiliki bulatan padat yang menantang untuk kucicipi, aku tidak bisa mengendalikan diri."


Kudorong kasar tubuh Leonel, aku mendongak tegak.


"Aku ingin pergi,"


"Ke mana?"


"Belanja,"

__ADS_1


"Baiklah, selamat bersenang-senang," setelah itu Leonel mengecup kilat bibirku, melangkah pergi meninggalkanku, menaiki anak tangga mewah menuju lantai atas di mana kamarnya berada, yah, kami memiliki kamar yang berbeda.


'Brak!'


Tanganku menggebrak meja, hatiku sakit, bukan karena cemburu, tapi karena harga diriku yang terlukai, terhempas sampai ke dasar tanah paling bawah.


"Apa yang kau tunggu, Robin? Siapkan mobil." bentakku penuh emosi. Setelah itu aku kembali duduk di kursiku semula.


Saat Robin hendak pergi, Nyonya Brithney -kepala pelayan mansion- datang bersama seseorang, aku tak meliriknya, tapi aku tahu itu Nyonya Brithney karena aku sudah hafal suaranya.


"Nyonya, sopir baru anda sudah siap!" ujar Nyonya Brithney.


"Siapa namamu?" tanya Robin pada orang yang dibawa Nyonya Brithney, aku masih berada pada posisi semula yang duduk angkuh, menatap nyalang lurus ke depan.


"Emil," jawab singkat pria itu.


DEG.


Sontak aku menoleh, menatap nanar pria yang baru saja menyebutkan namanya, pria yang juga menatapku dalam penuh arti, pria yang dulu pernah mengisi cinta sampai ke dasar relung hati, pria yang dulu sangat kunikmati setiap sentuhan tangannya menjelajahi tubuhku, pria yang ingin kusalahkan atas segala penderitaan hidup yang kualami.


Aku berdiri, dengan jantung yang serasa berhenti berdetak, hati berdebar, dan mataku panas hingga rasanya aku ingin menangis.


'Emil.'


"Apa kau bisa menyetir dengan baik?" tanya Robin membuyarkan pandangan kami yang saling mengunci.


"Tentu, semua surat yang diminta sudah saya serahkan pada Nyonya Brithney." jawab Emil memutus kontak mata di antara kami, menunduk menatap lurus pada ujung kaki.


"Ini, Nyonya!" Brithney menyerahkan sebuah map berisi surat-surat Emil, biodata, akta lahir, dan surat izin mengemudi.


Emil, hanya satu nama yang tertera, tanpa embel-embel O'clan yang tertera di belakang namanya.


Dia nampak berbeda, wajahnya yang dulu maskulin tampan mempesona kini nampak tegas dan dewasa, tapi itu tak melunturkan ketampanannya barang 1 Mili pun. Hanya saja, aroma bvlgary yang dulu selalu menguar dari tubuhnya telah hilang.


"Bagaimana, Nyonya?" tanya Robin memastikan.

__ADS_1


"Diterima!" jawabku singkat lalu berdiri. Melangkah keluar diikuti Robin dan Emil yang barusan kulewati.


***


__ADS_2