
"Apa kau yakin nak Emil, Namira kau tinggal? Apa tidak sebaiknya jika kalian pergi bersama saja?" ibu Namira bicara pada menantu kesayangannya saat ia dan Namira mengantar Emil sampai depan rumah, pasalnya Emil akan kembali ke Paris, pekerjaan yang di sana sudah menunggu cukup lama.
"Ibu,,,, ibu mengusir aku? Aku ingin bersama ibu dulu, aku tidak mau meninggalkan ibu dan membiarkan ibu kesepian karena sendirian?" Namira menggelayutkan tangannya manja pada lengan sang ibu, dan dia menjatuhkan kepalanya pada pundak wanita paruh baya itu.
Emil tersenyum sambil mengelus kepala Namira beberapa kali. Menatap penuh cinta pada istri seksinya yang semakin manja kala bersama ibunya.
"Tidak apa-apa, Bu. Emil akan sering-sering datang, atau jika Namira merasa rindu, biar dia nanti yang datang mencariku," celoteh Emil yakin.
"Enak saja, kau pikir aku akan merindukanmu? Jangan harap, aku akan lupa saat nanti aku sudah bertemu Tita, berbelanja dengan Aretha, dan nongkrong bersama teman-teman kantor." beo Namira bercanda namun langsung mendapat geplak pelan dari ibunya.
"Dasar anak ini,"
Terdengar gelak tawa Emil dan Namira bersamaan, hal sederhana seperti ini yang membuat hati banyak orang tua menghangat dan bahagia, ketika melihat anak mereka telah tumbuh dewasa dan bahagia dengan pernikahannya, seperti yang dirasakan ibu Namira saat ini.
"Baiklah, saatnya aku pergi sekarang, ibu, aku titip Namira, maaf, masih harus merepotkanmu lagi, kau boleh memukulnya jika dia tidak mau bangun pagi untuk membantumu pekerjaan rumah," ucap Emil yang langsung mendapat respon tidak terima dari Namira, tapi semua dalam konteks bercanda.
"Apa?" Kedua mata Namira membola dengan ekspresi wajahnya yang menggemaskan.
Kini ibu Namira yang tertawa, begitu pun Emil.
"Sayang, aku pasti sangat merindukanmu, aku pergi dulu, aku mencintaimu," Emil memeluk Namira, mendaratkan kecupan cukup lama di keningnya, lalu ia menangkup wajah Namira, melihat intens ke arah bibir sang istri yang ingin sekali di lahapnya sebelum ia pergi.
"Oh ho,,,, iya ya ya ya, ibu lupa. Tadi ibu masih ada pekerjaan, semoga kau selamat sampai tujuan, Emil. Ibu masuk dulu," Ibu Namira melangkah masuk ke dalam rumah, pergi meninggalkan anak dan menantunya yang ingin beradegan mesra. Namira tertawa geli, sedangkan Emil berterimakasih dalam hati karena ibu mertuanya itu bisa sangat mengerti keadaan.
"Tetaplah mencintaiku, karena aku juga sangat mencintaimu, hanya dirimu, Cupp,,,!"
Emil mendaratkan ciuman pada bibir Namira, Namira membalas ciuman itu, sedikit berjinjit memejamkan mata dan melingkarkan tangannya di pinggang Emil, ciuman yang awalnya perlahan nan lembut itu mulai mendalam, hingga keduanya hampir kehabisan nafas dan barulah ciuman mereka hentikan.
"Aaahh!" de.sah Namira saat tautan bibir mereka terlepas.
__ADS_1
"Aku pasti akan sangat merindukan ini," Emil mengusap sensual bibir seksi Namira yang basah karena ulahnya, Namira hanya menunduk dan terdiam. Ia harus bersiap untuk menahan hasrat yang akan terpendam selama jauh dari Emil.
"Aku pergi dulu, bye!" Emil sekali lagi mengecup pucuk kening Namira. Ada desiran dalam hati Namira yang tiba-tiba merasa tidak ikhlas jika Emil pergi, sebuah rasa yang tak Namira tahu itu apa, namun membuat perasaan Namira ingin menangis begitu saja, dan benar saja matanya mulai terasa basah.
"Emil,,,," teriak Namira saat Emil hendak melangkah keluar gerbang besi menuju mobil yang sudah terparkir di tepi jalan depan rumah Namira.
Emil berhenti membalikkan badan melihat Namira yang lekas berhambur ke dalam pelukannya, memeluknya sangat erat, dan Namira tak bisa menahan tangisnya sendiri.
"Hei, kenapa menangis? Aku hanya pergi sebentar, jangan membuatku merasa bersedih, kalau kamu sedih, aku juga ikut sedih," Emil memeluk Namira yang memeluknya sangat erat.
"Namira,,,," Emil memanggil Namira namun tak ada jawaban, Namira hanya terdiam dan terisak.
"Sayang,,,, berhenti menangis, jangan seperti ini, aku jadi berat mau ninggalin kamu kalau kamu seperti ini. Sayang,,,,"
Namira masih diam dan terisak.
"Namira,,,," Emil mengulang.
"Baiklah, atau, kau ikut saja? Aku akan bicara pada ibu,"
"Tidak," Namira langsung melepas pelukannya, mundur dua langkah. Mengusap cepat air matanya yang membasahi pipi.
"Aku sudah baik-baik saja, aku tidak apa-apa, pergilah. Aku tidak akan merindukanmu, aku tidak akan mengingatmu, aku, aku baik-baik saja tanpamu, jadi kau tenang saja, kalau pun aku merindukan Paris, itu pasti karena aku merindukan Eiffel, bukan kamu, jadi, pergi saja." celoteh Namira menahan isakannya, meski tangisnya sudah reda, namun entahlah, dadanya masih terasa sangat sesak dan dia tidak dapat mengendalikan perasaan itu, sebuah perasaan kehilangan, tidak rela, dan rindu bahkan saat mereka masih bersama.
"Aku mencintaimu, selalu, hanya kamu," ucap Emil, Namira tak ingin menjawab, ia terlalu sedih untuk mengatakan perasaannya yang sebenarnya, dan Namira memilih berlari masuk ke dalam rumah lantas menutup pintu dari dalam, menguncinya rapat.
"Aku mencintaimu," lirih Emil sekali lagi seakan tidak pernah cukup untuk menyatakan perasaannya bahwa dia sangat mencintai Namira.
Tentu Emil sangat memahami perilaku Namira yang berusaha menguatkan dirinya atas perpisahan ini, ibunya baru saja kehilangan pasangan hidupnya, dan Namira harus ada sebagai teman dalam sepi.
__ADS_1
'Bersabarlah, aku akan datang dan kupastikan kau akan hamil nanti, maaf. Tanpa sepengetahuanmu selama ini, aku melakukan program pencegahan diri.'
Emil berbalik, melangkahkan kaki yang terasa berat masuk ke dalam mobil.
Berreemm....
***
Dua Minggu kemudian.
Kehidupan berjalan normal, Emil yang disibukkan dengan pekerjaan, dan Namira yang menekan besarnya rasa rindu yang mendalam kepada Emil dengan menyibukkan diri bersama Aretha dan Tita, entah ia yang datang ke rumah keluarga O'clan, atau Aretha dan Tita yang berkunjung ke rumah ibunya.
Sesekali bertemu teman lama saat di kantor dulu, sekedar ngopi dan bergosip. Catat, belum ada yang mengetahui jika Namira telah menikah dengan Emil, setahu mereka Namira hanya pindah bekerja di Paris. Bukan karena menikah dengan salah satu bos mereka, pewaris kedua O'clan Company.
[Kau sedang apa? Aku terus memikirkanmu, kau tahu? Sekertarisku sampai hampir gila karena aku sangat merepotkannya, aku tak bisa berkonsentrasi pada pekerjaan, apa aku terbang saja dulu ke tanah air, pekerjaan kutinggal sebentar dan nanti baru kukerjakan.]
Sederet pesan yang Emil kirim pada Namira. Namira senyum-senyum sendiri membacanya, bukan hanya dirinya saja yang hampir gila karena rindu ini, tapi juga pria yang dicintainya pun merasakan hal yang sama.
[Jangan macam-macam, atau kau akan mendapat masalah, kau sudah berjanji pada keluargamu jika kau akan berubah dan lebih bertanggung jawab, buktikan itu agar aku bisa membanggakan kamu di depan mereka, ah,,,, ralat, jika kau bekerja keras, aku bisa belanja barang-barang mewah yang branded dan mahal.] emot ngakak tersemat diakhir pesan.
"Namira,,, kamu kenapa sih? Dari tadi senyum-senyum sendiri? Masih waraskan?"
Itu suara Yola, yang mengagetkan Namira saat membalas pesan dari Emil.
Namira hanya senyum cengir kuda, menutup ponsel lalu memasukkannya ke dalam tas, kembali memfokuskan diri dengan obrolan bersama teman-teman lamanya yang membahas skandal perselingkuhan para staf kantor.
'Emil di sana sedang apa ya?' tiba-tiba Namira tidak tenang, topik yang teman-temannya bicarakan sangat ekstrem, membuat Namira memikirkan bagaiamana dengan Emil di sana, bisakah dia setia dan menjaga diri untuk Namira?
***
__ADS_1
'Klek!'
Suara pintu dibuka.