
Kulempar tas ke atas meja kaca yang rendah, lalu menjatuhkan diri pada sofa di depannya.
"Uuffhhh...." Bersandar pada punggung sofa, mendongak, meluruskan kaki yang kuangkat ke atas meja kaca itu. Lelah.
Meski menyenangkan karena aku sudah mulai mengenal beberapa teman di kantor, nyatanya saat sampai di rumah rasa lelah itu teramat sangat terasa. Punggungku, bahuku, kakiku, semua pegal dan kaku, juga kepalaku yang terasa berat.
"Ibu,,,, aku lelah...." keluhku hampir menangis, memejamkan mata membayangkan ibu yang memijit pundakku seperti dulu, saat aku sampai rumah sepulang kerja meski tak hentinya mantra terus keluar dari mulut ibu namun dengan penuh kasih ia tetap memijatku.
"Berhentilah jika kau tidak sanggup."
DEG.
Aku terperanjat, membuka kedua mata lebar, menarik kembali kakiku ke bawah, dan melihat Emil yang keluar dari kamar lalu duduk di sampingku.
"Kemari," ucapnya datar, menarik kakiku lalu ia tumpangkan di atas pahanya dan mulai memijitnya. Boleh aku jujur? Dia memijat dengan sangat baik, sangat enak.
"Apa yang kau lakukan?" kutarik kembali kakiku dan lekas berdiri. Ingat, dia adalah iblis ke.la.min yang sudah merendahkanku sampai dasar tanah. Tidak ada kebaikan apalagi ketulusan dalam hatinya, yang ada hanyalah naf.su, se.lang.kangan, dan ranjang. Apalagi tujuannya menyentuhku, memijitku jika bukan untuk semua itu.
Aku menatap Emil tajam, sebuah tatapan kesal, dan Emil hanya menatapku datar.
"Berhenti bekerja, aku tidak ingin kau jatuh sakit, itu akan menyusahkanku, dan aku tidak mau mendapat omelan dari keluargamu, ataupun dari keluargaku karena tidak bisa menjaga dirimu dengan baik."
"Tidak perlu repot-repot memikirkanku, kalaupun aku sakit, aku tidak akan menuntutmu, atau pun meminta pertanggung jawaban darimu, aku juga bisa menjaga diri sendiri, jadi kau tidak perlu khawatir." kuraih tas yang ada di atas meja dan berhambur pergi masuk ke dalam kamar.
'Brak.'
Hal yang sudah biasa terjadi, belum pulang kucari, tidak bertemu kurindu, tapi saat bersama, selalu pertengkaran yang terjadi.
***
Setelah mandi dan membalas beberapa pesan, aku merebahkan diri di ranjang. Kubiarkan rambutku yang masih basah tergulung handuk dan juga bathrobe yang masih menempel di tubuhku, aku terlalu lelah, malas untuk sekedar ganti baju, jadi membaringkan tubuh dan memejamkan mata menjadi pilihan terbaik.
"Tok tok!" suara pintu kamarku diketuk dari luar. Apa lagi sekarang? Baru juga memejamkan mata, pria Bastard itu sudah menggangguku.
'Klek!'
Kami berhadapan, namun aku mengalihkan pandangan, sangat enggan jika harus bertatap-tatapan dengan kedua bola mata hazelnya yang selalu membuatku terpikat.
"Hem?" tanyaku hanya berhem ria, mengisyaratkan sebuah tanya, 'Ada apa?'
"Hem!" jawabnya menggerakkan kepala sambil berlalu.
Mendapat tanggapan yang lebih menggelikan sontak membuatku melotot dan hampir saja memakinya andai ia tak secepat kilat berbalik pergi kembali ke ruang tamu.
Aku mengikuti langkahnya, ia duduk di sofa dan pintu utama terbuka. Gofood. Makanan pesananku telah sampai, ya Tuhan,,,, saking stresnya pikiranku aku sampai melupakan perutku yang lapar, dan tadi memesan makanan di applikasi langganan.
Kututup kembali pintu setelah kuterima pesanan dan membayarkan sejumlah uang.
Kulirik Emil yang nampak sibuk bermain ponsel. 'Haruskah aku menawarinya makan malam?' Tidak, sejak kapan kami begitu dekat hingga makan malam bersama.
Kubawa masuk makananku dan membukanya di pantry dapur.
__ADS_1
"Shhh,,,, aku sangat lapar!" kugosok kedua tanganku yang terasa dingin, entah karena cuaca, pendingin ruangan, atau karena aku baru selesai mandi. Kedua tanganku sangat dingin.
Aku melahap makananku dengan rakus, dua buah burger king size, serta sekotak pizza berukuran mini. Lebih dari cukup untuk mengenyangkan perutku malam ini.
Saat sedang asyik makan, Emil ke dapur, menuang air putih lalu meminumnya. Haruskah aku menawarinya?
"Apa,,, kau sudah makan?" tanyaku ragu. Oh Tuhan,,,, aku pasti sudah gila menanyakan itu.
"Belum." jawabnya singkat lalu duduk di kursi sebelahku. Melihat kotak pizza yang terbuka.
"K-ka kau bisa mengambilnya jika kau mau,"
Dan langsung saja, setelah mendengar ucapanku Emil lekas menggeser kotak pizza ke hadapannya, lalu mengambil sepotong dan melahapnya.
Okay, untuk pertama kalinya setelah hidup bersama selama satu bulan lebih dalam satu naungan atap yang sama, akhirnya kami makan malam bersama.
Kuabaikan kedekatan kami dan kembali menikmati burgerku yang satunya.
"Jauhi Patricia."
"Uhuk, uhuk."
Emil menyodorkan segelas air putih di hadapanku, kuterima dan meminumnya, lega.
Aku melihat Emil dengan tatapan penuh tanya, namun pria itu hanya berekspresi datar dengan melahap potongan pizza kedua tanpa melihatku.
"Kenapa?" tanyaku acuh tak acuh, seolah tak peduli akan perintahnya, kembali menggigit burger.
"Dia wanita yang baik, aku menyukainya, kenapa aku harus menjauhinya tanpa alasan," Emil hanya diam tak menanggapi, ia berdiri usai minum, berniat pergi meninggalkanku begitu saja.
"Apa karena dia adalah salah satu koleksi wanitamu?"
Berhenti, langkah Emil terhenti di sana, tidak berbalik juga tanpa pergerakan. Aku turun dari kursi tinggi pantry, lalu berjalan mendekat ke arahnya.
"Benarkah itu? Patricia mengatakan jika dia memiliki seorang anak, di luar nikah, karena kekasihnya tak mau menikahinya, tapi mereka masih berhubungan baik, apa pria yang dimaksud Patricia itu adalah kau?" percayalah, meski aku nampak biasa saat menanyakan itu pada Emil, namun nyatanya jantungku berdegup sangat kencang, dan hatiku sendiri terasa nyeri, bahkan aku merasa takut mendengar jawaban yang akan Emil berikan.
Emil menatapku datar, ya Tuhan,,,, dia bukan seperti Emil yang dulu kukenal, Emil sekarang sangat jauh berbeda, ia terlalu datar tanpa ekspresi, terkadang aku merasa tidak mengenalnya sama sekali.
"Kenapa diam? Apa itu benar? Patricia juga begitu memaksa untuk makan di sana, dia bahkan secara terang-terangan mengatakan jika OC Restoran adalah tempat makan favoritnya, katakan padaku, Emil. Apa Patricia adalah wanitamu? Dan anaknya adalah anakmu?"
'Pletak!'
"Auuww,,,, Emil...."
Sebuah jitakan melayang bebas mengenai keningku, Emil pelakunya. Aku mengernyit menahan sakit sambil menggosok titik yang terasa sakit.
"Bagaimana aku bisa menjadi ayah dari anaknya jika dia bahkan tidak mencintai seorang pria."
"What?"
"Dia lesb.i." Mataku membola sempurna. Benarkah yang Emil katakan?
__ADS_1
Emil kembali melangkah, refleks aku menarik tangannya karena aku belum puas bicara dan ingin tahu lebih banyak. Namun yang kulakukan adalah sebuah kesalahan, karena Emil justru menarik tanganku kuat hingga tubuhku menabrak tubuhnya dan tangan Emil melingkar sempurna. Handuk yang menggulung rambut terjatuh membuat rambut panjangku yang sedikit bergelombang terurai bebas.
Well, Emil memelukku, dan aku berada di dalam pelukannya.
Detak jantungku berdegup kencang, ada debaran aneh yang sudah sangat kutahu bahwa ini adalah getaran cin.ta, dan,,,, naf.su.
"Emil,,,," semenjak menikah aku terlalu banyak berteriak, itu pun meneriakkan namanya. Kudorong kuat dada Emil hingga aku dapat terlepas.
"Dia mengincarmu, menjauhlah darinya. Kau memiliki riwayat buruk dengan efek obat pe.rang.sang, aku tidak mau dia memberikan itu padamu," ucap Emil membuatku semakin bingung dan penasaran.
"Apa maksudmu?"
Emil menarikku, masuk ke dalam kamarku. Kami terus berjalan sampai di balkon tempat favoritku saat menyendiri. Melihat pemandangan Paris di malam hari yang masih ramai dengan orang-orang dan kendaraan yang berlalu-lalang.
"Emil, jelaskan. Aku tidak akan marah jika dia memang kekasihmu, dan bahkan jika anaknya itu adalah anakmu, tapi jangan menuduhnya yang bukan-bukan, kasihan Patricia, terlebih anaknya," Bohong, mana mungkin aku baik-baik saja? Yang ada pasti aku merasa patah begitu parah.
"Anak itu tidak pernah ada,"
"Hah?"
"Anak yang dibicarakannya, itu tidak ada, dia hanya mengarang cerita untuk melancarkan aksinya, Sexyola adalah mantannya."
"Apa? Aku tidak percaya, Sexyola wanita normal, bagaimana dia bisa menjadi mantan Patricia?"
"Sexyola itu jenis omnivora, dia pemakan segala."
"What? Aku masih tidak percaya, Patricia bahkan suka datang ke OC Restoran, untuk apa dia datang ke sana jika bukan untuk bertemu denganmu?"
"Kau salah, Patricia mendatangi OC Restoran untuk bertemu Sexyola, bukan diriku, 35% saham OC Restoran adalah milik keluarga Sexyola, dan Sexyola bekerja di sana sebagai manager. Patricia datang ke sana pasti memiliki suatu rencana, entah itu untuk memancing Sexyola agar cemburu padanya, atau dia memiliki rencana padamu,"
Aku terpaku, sangat terkejut dengan semua penjelasan yang Emil katakan.
"Aku tidak tahu kau makan siang di sana bersama Patricia jika bukan Sexyola yang memberitahuku, dia menghubungiku saat melihatmu datang bersama Patricia."
Aku masih terdiam, terlalu terkejut dengan kenyataan yang cukup gila menurutku.
"Jika kau tidak percaya, kau bisa menanyakannya pada Sexyola, dulu kami adalah teman satu sekolah, selain Sexyola, Patricia juga memiliki kekasih wanita lain, karena Sexyola tidak hanya fokus pada dirinya, melainkan mengejar Zio, dan,,,," Emil menjeda. Kutatap dalam mata hazel itu, meyakinkannya jika aku siap mendengarkan.
"Dan bermain denganku," lirih Emil pelan.
Sumpah demi Tuhan, meski aku sudah tahu kenyataan itu, hatiku tetap serasa ditikam. Dengan segera kuputus pandangan kami yang bertaut, lalu melangkah masuk ke dalam kamar. Jangan sampai Emil melihat mataku yang mulai berkaca-kaca.
"Pergilah, aku ingin istirahat!" ucapku dengan suara yang mungkin terdengar bergetar, dan aku benci ini, menjadi lemah karena cinta.
"Aku hanya ingin kau baik-baik saja, Nami. Tidak akan kubiarkan seorang pun menyentuh tubuhmu meski pun itu sesama wanita,"
Pyar,,,,
Bisa kalian dengar gelanyar dahsyat dalam hatiku?
Emil melangkah menuju pintu, dan sebelum dirinya benar-benar keluar, ia berhenti. Namun tak ada yang terjadi ataupun ia katakan, bahkan untuk sekedar ucapan selamat malam, pintu itu kemudian ia tutup rapat melenyapkan tubuhnya dari pandangan. Emil pergi begitu saja. Tak peduli dengan air mataku yang sudah berlinang.
__ADS_1
***