100 HARI MENIKAH

100 HARI MENIKAH
LEONEL


__ADS_3

Tak ada yang mengira jika pertengkaran kecil antara dua saudara itu akan berakibat sangat fatal, Emil tidak pernah marah sebelumnya, ia selalu menurut, mengalah dan menghormati Kakaknya, Fabrizio, namun sejak saat Mr. CEO membentak Namira di kantor waktu itu, batin Emil tergores sangat dalam, ia merasa tak berguna, tak bisa memberikan kebahagiaan dan kesempurnaan pada Namira seperti yang Fabrizio berikan pada Aretha, bahkan sekedar melindunginya saja Emil merasa tak mampu.


Dan rasa cemburu, begitu hebatnya dampak dari rasa itu hingga Emil benar-benar memutuskan untuk melepaskan Namira. Ia memilih mengakhiri semua, dan berhenti saling menyakiti seperti selama ini saat mereka bersama. Menjalani hidup masing-masing lebih baik, menurut Emil.


Selain itu, akibat terbesar dari serangkaian masalah itu adalah, Emil memutuskan untuk keluar dari O'clan, bukan hanya perusahaan, tapi Emil keluar dari rumah O'clan.


***


Ketukan palu tiga kali di persidangan pengadilan agama hari itu membuat kami menangis, yah, Emil telah menceraikanku, dan kami telah berpisah secara sah.


Tangis ibu terdengar paling keras menusuk relung hati, bisa kurasakan jika bukan hanya aku yang terluka, tapi ibu sepertinya merasakan sakit yang lebih parah.


Aretha keluar dari persidangan dengan isak tangis dikejar Fabrizio dari belakang, dan kuyakin mereka pasti akan bertengkar, karena aku.


Nenek dan Daddy melangkah pergi dengan hati mereka yang hancur dan air mata yang berlinang, sedangkan Mommy Di, dia menatapku tajam penuh kebencian.


"Kau tidak tahu terimakasih," bisiknya penuh penekanan sebelum pergi mengikuti langkah Nenek dan Daddy.


Hakim dan para perangkatnya yang tadi menduduki kursi meja hijau, satu persatu telah keluar, meninggalkan aku dan Emil yang masih duduk terdiam di kursi kami masing-masing.


Tak ada air mata yang membasahi pipi Emil, ia hanya menatap datar lurus ke depan, seolah mati, tapi hidup.


Beda halnya dengan aku yang terus meneteskan air mata meski aku tak terisak, aku hanya menangis dalam diam.


"Ayo, nak. Kita pulang," ibu mengangkat bahuku, tubuhku sangat lemas, aku merasa duniaku hancur seketika.


Kupejamkan mata sambil menarik nafas dalam lalu menghembuskannya perlahan, membiarkan linangan air mata mengalir, mencoba mengurangi rasa sesak di dada yang begitu menyiksa.


Kuusap wajahku yang basah, lalu mengangguk menanggapi ibu yang masih menangis.


Saat aku dan ibu berjalan melewati Emil, suara lirihnya yang parau menghentikan langkahku.

__ADS_1


"Bolehkah aku memelukmu?" suara Emil bergetar, air mataku kembali berjatuhan.


Ia berdiri, melangkah mendekatiku, ibu menutup mulutnya yang menangis kencang.


"Untuk yang terakhir," ucap Emil melanjutkan, setetes air matanya jatuh berlinang, aku mengangguk, dan Emil mulai mendekat, merengkuh tubuhku pelan, sangat pelan, seolah aku adalah benda rapuh yang sangat ia sayang. Namun ia tak mampu memilikinya.


Dapat kurasakan jantungnya yang berdebar-debar. Dan tubuhnya bergetar kami menangis saling berpelukan.


Aroma bvlgary yang menguar ini akan selalu tersimpan dalam ingatan, tidak akan pernah terlupakan, dan hari itu, adalah hari terakhir aku mencium aroma tubuh itu. Karena setelah Emil melepas pelukannya padaku, dan melangkah pergi, sejak hari itu, aku tak pernah lagi melihatnya, kami tak pernah lagi bertemu, dan bukan hanya aku saja, Emil pergi meninggalkan keluarganya, keluarga O'clan yang membesarkannya, tak ada yang tahu di mana dia berada, kemana Emil pergi, ia seperti telah dikremasi di hari perceraian kami.


***


2 tahun kemudian.


Aku berlari menapaki trotoar jalanan tengah malam, tanpa sandal, membiarkan kaki te.lan.jangku menyusuri dinginnya jalanan beraspal kota Paris.


Yah, setelah perceraian kami, aku sempat menetap bersama ibu di rumah lama kami, tapi ibu jatuh sakit dan selang satu tahun kemudian, ibu meninggal, hidupku ibarat sebatang kara, tangisan adalah sahabat sejati yang setia menemani. Dan aku memutuskan untuk kembali ke Paris. Menghubungi Ardhan.


Ardhan, nama mantan yang kini menjadi sahabatku, ia tahu aku tidak bisa lagi mencintainya, lalu ia memutuskan untuk menikah dengan seorang perempuan teman kerjanya.


Namanya Leonel. Seorang CEO LP Industry, yang bergerak dalam memproduksi tas, sepatu, ikat pinggang, dan baju, dimana brand LP adalah brand yang dieluh-eluhkan dan ternama di kancah dunia.


Leonel adalah pria asli Prancis, berbadan tinggi, dengan bentuk tubuh yang bagus, tampan, dan dia adalah sebuah gambaran kemewahan.


Kekayaannya tercatat sebagai orang terkaya ke tiga di Paris.


Singkatnya kami saling berkenalan, merasa cocok dan kami memutuskan menikah. Yah, aku menikah setelah 2 tahun hidup sendiri. Dengan seorang CEO kaya raya, Mr. Leonel.


Hidupku berubah 180⁰ semenjak aku menikah dengannya, harta, kemewahan, nama besar, dan kemasyhuran kudapatkan, tapi, apakah aku bahagia?


Aku terus berlari, tak tahu harus ke mana, mencoba lari dari kejaran para anjing Leonel, pria-pria yang bertubuh kekar dan besar, berpakaian setelan jas hitam lengkap dengan senjata mereka yang tersembunyi.

__ADS_1


Aku harus pergi, aku harus kabur, aku tak ingin lagi tinggal di mansion mewah bak istana itu dengan segala kemewahannya, sedangkan hidupku hancur tanpa sisa.


Tak ada cinta, tak ada kebahagiaan, tak ada kasih dan sayang, Leonel adalah seorang psikopat, dan dia mengurungku seperti peliharaan pribadinya. Memperlakukan lebih rendah dari binatang saat kami di rumah, dan memperlakukanku bak ratu ketika di depan khalayak umum seolah dia adalah orang baik seperti dewa.


Tak ada yang tahu betapa tersiksa dan menderitanya hidupku bersama seorang Leonel CEO LP.


Kekerasan, baik secara fisik maupun mental, setiap saat kudapatkan. Leonel tak segan-segan mengangkat tangannya padaku, mengumpat mengucapkan kata-kata kotor dan kasar, dan bahkan ia melakukan hubungan in.tim dengan wanita ****** di hadapanku, itu semua ia lakukan semata untuk memuaskan fetish-nya. Benar-benar gila.


Dan hari ini, aku berusaha kabur sekali lagi karena kegilaannya sedang kumat, ia ingin bercin.ta dengan membawa pria lain yang menjamah tubuhku terlebih dulu di hadapannya, lalu kami bermain bertiga.


Tidak, aku tidak bisa melakukannya, aku bukan anjing yang bisa melakukan perbuatan kotor dan hina serendah itu. Lebih baik aku mati dari pada ikut gila sepertinya.


Dengan segala keberanian yang kukumpulkan, aku meraih senjata api salah seorang bodyguard, mengacungkan pada mereka, menerobos gerbang utama yang mewah tinggi menjulang, dan kabur dari neraka yang tersembunyi di dalam istana mewah itu.


"Nyonya, berhenti!" teriak salah seorang bodyguard yang terus mengejarku, aku tahu, jika mereka tak dapat menangkapku, maka nyawa mereka taruhannya. Tapi aku tidak bisa membantu, aku sendiri ingin terlepas bebas dari cengkraman iblis Leonel.


Perutku sangat sakit, aku merasakan kram yang hebat, ini terjadi setiap kali aku berlari, tapi aku tidak boleh menyerah, aku harus tetap berlari, jangan sampai mereka menangkapku dan membawaku kembali ke neraka itu, aku tidak mau.


'Ciitt,,,,'


"DUGH!"


"Aahh,,,,!"


Aku menabrak mobil yang berhenti mendadak. Tubuhku tersungkur, aku jatuh, kepalaku membentur jalan beraspal dengan sangat keras.


Mataku gelap, sakit, sangat sakit, aku sudah menangis dan masih memejamkan mata merasakan sakit yang teramat sangat di kepala dan tubuhku.


Kurasakan seseorang yang menggendong tubuhku ala bridal, lamat-lamat pandanganku kudapatkan kembali.


"Leonel," lirihku lemah.

__ADS_1


"Maaf," kudengar seruan lirih itu dari Leonel yang membawaku masuk ke dalam mobilnya. Setelah itu aku tak ingat lagi. Aku tak sadarkan diri.


***


__ADS_2