
Emil membuka kemejanya, melempar ke sembarang arah, hingga tubuh atletisnya yang sangat terbentuk dengan otot-otot yang pas menjadi pemandangan indah netra Namira, namun Namira justru memalingkan muka tak ingin melihatnya.
Melihat Emil seperti ini terbayang dalam benak Namira saat Emil juga membuka baju di depan Sexyola, begitu dahsyatnya cemburu seorang wanita sampai pikirannya bisa sedetail itu membayangkan sesuatu.
Emil menjatuhkan kepalanya pada leher Namira, ia mengecupi seluruh kulit permukaan leher jenjang beraroma manis vanilla itu, menyesap, meninggalkan jejak kemerahan, tangannya bergerilya ke seluruh tubuh Namira, berusaha membuka kancing kemeja yang Namira kenakan.
Namira menahan diri sekuat tenaga agar tidak men.de.sah atau pun terpancing dengan permainan Emil meski tak dapat dipungkiri jika dirinya juga sangat merindukan sentuhan-sentuhan suaminya itu.
"Apa kau juga melakukan ini saat bersama Sexyola?"
DEG.
Emil berhenti, ia mendongak menatap sendu Namira yang menangis memejamkan mata.
"Berhenti mengatakan itu, sayang, sumpah demi apapun tidak ada yang seperti itu, aku tidak melakukan apapun dengan Sexyola."
"Bagaimana aku bisa percaya, Emil? Sedangkan aku begitu tahu tabiatmu, dan kalian adalah mantan partner ranjang? Lantas aku harus berpikir seperti apa? Jika Sexyola hanya mampir mandi di rumah kita begitu? Dan itu tengah malam saat istrimu tidak di rumah?" teriak Namira menatap tajam Emil.
Emil menunduk, memejamkan mata mencoba menenangkan diri, meredam naf.su yang sebenarnya sudah membumbung tinggi di ubun-ubun.
Emil memilih turun dari tubuh Namira, ia lantas duduk di tepian ranjang membelakangi istrinya. Terdengar helaan nafas kasar dari Emil, sedang Isak tangis Namira pun mulai mereda.
"Seperti apapun aku menjelaskannya, kau tetap tidak akan percaya, dan aku juga tahu aku salah. Tapi, kau tetap harus mendengarkanku kali ini, setelah itu, kau bebas dengan keputusanmu."
Namira mendongak menatap nanar Emil yang menoleh padanya, Emil mendekat, melepas tangan Namira yang ia ikat di atas dipan ranjang.
Namira mengelus pergelangan tangannya yang terasa sakit dan panas.
"Perusahan yang kutangani terancam mengalami kebangkrutan, itu semua akibat dari permasalahan saham dari keluarga Sexyola, aku harus berkerja keras untuk memperbaiki semuanya atau Fabrizio yang akan mengambil alih, dan aku hanya akan dipandang rendah, tanpa bisa mendongakkan kepala menjadi kebanggaan, itu juga akan membuatmu tidak bangga memiliki suami sepertiku," Emil menghela nafas kasar.
Namira hanya diam mendengarkan, mereka sama-sama menunduk menikmati setiap sakit yang mereka rasakan. Emil kembali duduk di tepian ranjang, menyambar kemejanya di lantai lalu memakainya.
__ADS_1
"Aku tidak begitu mengerti soal urusan pekerjaan, selama ini Sexyola yang membantuku menghandle semuanya, jadi, beberapa hari terakhir, setiap malam, Sexyola menginap di rumah kita karena aku memintanya untuk mengajariku, menjelaskan padaku, untuk materi esok hari. Dan itu sangat membantu, aku bisa menangani beberapa permasalahan, meski begitu, aku tahu aku salah, karena aku tak mengatakan itu padamu terlebih dulu, aku yakin jika aku mengatakan itu padamu, kau tidak akan setuju, bodohnya aku."
Namira melirik Emil yang telah usai memakai kembali kemejanya. Dan pria itu berdiri, menghadap Namira yang kembali menunduk, keadaan Namira sangat buruk, rambut, kemeja dan wajah yang nampak berantakan. Ia menyelimuti sebagian tubuhnya, menggenggam erat selimut itu.
"Aku tidak pernah menyentuh Sexyola, Namira, aku tidak pernah memikirkan itu sedikitpun, aku hanya merindukanmu, mencintaimu, menginginkanmu, jadi, kumohon berhenti berpikir untuk berpisah dariku." Emil duduk di dekat Namira, ia mencoba menyentuh wajah Namira atau sekedar ingin menyelipkan rambutnya ke belakang telinga, namun Namira lekas menepisnya cepat.
Emil menyerah.
"Baiklah, jika kau tidak bisa memaafkanku, jika kau tetap bersikukuh untuk kita tetap berpisah, aku,,,," Emil menjeda, bukankah itu rasanya sungguh sesak? Namira melihat Emil, menatapnya begitu tajam.
"Kita masih mempunyai 15 hari perjanjian pernikahan,"
Kedua mata Namira semakin membulat saat mendengar Emil mengatakannya. Jadi, Emil masih mengingat perjanjian bodoh itu? Apa sekarang dia akan melepaskan Namira begitu saja? Hati Namira yang mulai luluh seketika memuncak oleh emosi.
"Kita pergi sekarang, kau kembali tinggal di apartemen bersamaku, jangan mencoba lari dari tanggung jawabmu."
"Emil,,,," lirih Namira sakit, Emil melirik Namira dengan sorot mata, tanya? Entahlah.
Keluarga besar? Apa itu artinya Aretha juga datang? Jika benar, bukankah itu bagus? Namira bisa bertemu dengan Aretha, ia butuh seseorang yang ia kenal yang mengerti dirinya dan menyayanginya saat ini, dan Aretha adalah orang yang paling tepat untuk bisa diajak bicara.
***
"Dor dor dor,,,, Namira,,,, buka pintunya,,,, dor dor dor...." Ardhan yang masih berada di luar pintu terus menggedor benda yang terbuat dari kayu itu, memukulnya sangat keras sampai tangannya terasa panas.
'Klek!' pintu terbuka, Emil yang membukanya.
"Brengsek!" Ardhan melayangkan pukulan dan dengan mudah Emil menahannya.
"Aaahh,,,," teriak Ardhan saat Emil meremas tangan itu dengan sangat kuat sampai wajah Emil menggeretak ketika melakukan itu, setidaknya ia bisa membalas sakit hatinya pada Ardhan karena mendekati istrinya.
Namira datang dengan membawa koper yang ia angkat lalu ia taruh di lantai, menarik pegangan koper bersiap menyeretnya.
__ADS_1
"Namira," seru Ardhan pelan karena ia menahan sakit pada tangan yang diremas Emil, santai, Emil melepas tangan Ardhan begitu saja, sebelum Namira melihatnya.
"Sudah siap, sayang?" tanya Emil begitu lembut, sengaja, ia harus menunjukkan pada Ardhan jika Namira hanyalah miliknya.
"He em," Namira hanya mengangguk.
"Namira, kau mau ke mana? Jangan bilang kalau kau akan kembali bersama pria breng.sek ini, aku sudah ceritakan padamu semuanya bukan? Jika aku sering melihat mereka bersama di apartemennya? Apa itu tidak cukup sebagai bukti jika mereka,,,, aaahh,,," Ardhan tak dapat melanjutkan kalimatnya karena Emil sudah terlebih dulu mencengkeram kerah bajunya dan mendorongnya hingga menabrak dinding.
"Jadi kau meracuni otak istriku, begitu?" geram Emil tertahan.
"Emil, lepaskan!" tegas Namira tak ingin dibantah.
"Uhuk uhuk uhuk."
Emil melepaskannya karena Namira yang meminta.
"Terimakasih karena sudah membantuku, Ardhan, terimakasih karena sudah menemaniku saat aku merasa tak memiliki siapapun di sini, tapi,,,, aku harus pergi sekarang, maaf." ucap Namira tulus, suara lembut itu entah kenapa terdengar begitu menyakitkan bagi Emil.
Kalimat Namira yang mengatakan saat ia merasa seorang diri dan tak memiliki siapapun, justru Ardhan yang ada untuk wanitanya, mengingatkan Emil pada sosok Sexyola yang memang selalu ada untuk Emil kapanpun dia membutuhkannya.
"Ayo," Namira melangkah, Emil mengambil alih kopernya.
"Namira," Ardhan berusaha mencegah tapi ia juga tidak bisa berbuat apa-apa, ia tahu Namira tak suka dipaksa. Dan perasaan Ardhan semakin kacau saat ia melihat leher Namira yang terdapat tanda kepemilikan di sana, sedang tadi di sana belum ada tanda itu, pikiran Ardhan tentu langsung tertuju pada hal yang iya-iya. Pasti mereka melakukannya tadi, sial, sungguh sial.
Namira dan Emil melangkah pergi dari sana, meninggalkan Ardhan yang menyimpan sakit hati, merasa begitu bodoh, menggedor pintu sambil berteriak seperti orang gila, sedang yang dikhawatirkannya malah enak-enakan di dalam, dan keluar bersama suaminya layaknya pasangan yang harmonis, lantas apa gunanya dirinya di sini selama itu tadi?
***
Emil terus berusaha merengkuh pinggang Namira meski berulang kali wanitanya itu menolak, menepis tangannya dengan kasar bahkan, tapi Emil tidak peduli ia kembali merengkuh dan memeluk tubuh Namira dengan sangat erat, hingga tubuh keduanya menempel sempurna saat mereka berada dalam lift yang bergerak turun. Senyum tipis Emil mewakili betapa senang perasaannya saat ini, ini adalah kesempatan keduanya sekarang, untuk memperjuangkan Namira kembali.
'Tuhan sudah mengontrak kita untuk menjadi suami-istri seumur hidup, jadi jangan berpikir jika semua ini hanyalah kontrak 100 hari menikah.'
__ADS_1
***