100 HARI MENIKAH

100 HARI MENIKAH
Penyelamat dari Berlin


__ADS_3

POV Emil.


"Bolehkah aku memelukmu?"


"Untuk yang terakhir,"


Palu hakim telah diketuk tanda berakhirnya hubungan kami, setelah ini, aku akan pergi jauh tanpa ada satu orang pun dari masa laluku yang akan dapat menemuiku, baik keluarga O'clan, maupun Namira.


Tapi hatiku tiba-tiba merasa sangat takut, saat Namira berdiri dari kursi melangkah beriringan bersama ibu hendak keluar dari ruang persidangan, aku menghentikannya, meminta untuk memeluknya satu kali lagi, yang terakhir kali, karena setelah ini, aku tidak akan dapat lagi menyentuh tubuh yang sangat kucintai itu.


Namira mengangguk memberikanku izin, aku merengkuh tubuhnya erat, mencium dalam aroma vanilla yang menjadi candu penciumanku. Hatiku berdebar dan terasa sangat sakit, aku menyerah dengan keadaan yang terus menekan kami berdua, saling menyakiti dan menyakiti lagi, aku berharap, setelah pergi meninggalkan Namira, melepaskan dirinya, dia akan hidup bahagia. Semoga.


***


Aku memutuskan tinggal di Bali, membuka kedai kecil dengan menu makanan Perancis, tidak ada perjuangan yang mudah, berkali-kali aku hampir menyerah andai tak teringat kalimat-kalimat Fabrizio yang meremehkanku dengan mengatakan aku pasti gagal jika tanpa ada nama O'clan yang tersemat di belakang namaku, dan aku akan membuktikan jika aku bisa tanpa bayang-bayang mereka.


Namun itu hanya bualan saja, nyatanya berusaha itu tidaklah mudah, sekedar untuk menyambung hidup saja sangat sulit, apalagi dulu aku yang terbiasa memegang jutaan dolar, kini harus pintar mengelola uang hanya dengan jumlah ratusan ribu.


3 bulan buka kedai yang selalu sepi rasanya aku ingin menutupnya saja, entah jadi apa aku setelah ini.


Dan malam ini, seperti biasa, kedaiku masih sepi. Hanya satu dua orang yang datang, lalu sepi kembali. Pendapatan tak menutupi modal.


Aku hendak menutup kedai saat jam sudah menunjukkan pukul lewat 12 malam. Namun tiba-tiba seorang wanita yang berlari sambil menggendong bocah kecil melewati kedaiku yang sudah setengah tertutup, aku melihatnya dari dalam.


Tak lama kemudian segerombol pria berpakaian lengkap setelan jas mengikuti, mengejar wanita berparas bule yang menggendong anak perempuan itu.


Sial, mereka dikejar penjahat, aku mengunci kedai. Keluar dari pintu belakang, aku hafal jalan yang akan dilewati wanita itu, hanya ada satu jalan yang nantinya akan buntu setelah belok ke kanan.


Aku menunggu di tepi jalan, dan benar, wanita itu berlari dari arah sana menuju jalan yang sudah kuperkirakan.


"Aaaahh!"


"Sssuuttt!"


Aku menarik tangannya dan membungkam mulutnya memintanya untuk diam. Kami bersembunyi di balik dinding kedai lain.


Wanita itu sangat cantik, memiliki manik hazel yang tajam namun teduh, keringat membasahi wajahnya, dan nampak jelas ia sedang takut. Tubuhnya gemetar dan nafasnya terengah.


"Mom,,,," lirih anak perempuan yang berada dalam gendongannya.


"Sssttt," pinta wanita itu pada anaknya.


Kulihat wajah anak itu yang nampak pucat pasih, dia sakit, bahkan punggung tangannya berdarah, sepertinya itu bekas jarum infus yang dilepas paksa.


"Ikut aku," bisikku penuh penekanan. Ia mengangguk mengiyakan.


Kami bergerak mengendap menuju kedaiku, kupikir, di sana tempat yang tepat untuk bersembunyi. Namun tiba-tiba suara tembakan mengagetkan kami dan sontak menghentikan langkah kami.


"DOR DOR,,,,"


"Empphh," aku membungkam mulut wanita itu yang hampir saja berteriak dengan tanganku, suara tembakan terus bersahutan dan suasana ramai oleh teriakan-teriakan orang menggunakan bahasa Jerman.


Ini adalah hal paling menakutkan yang pernah kualami, melihat seorang perempuan bersama anaknya yang lemah dalam pengejaran para penjahat bersenjata api.


"Mom, itu suara Bern!" lirih anak perempuan yang langsung diangguki cepat oleh ibunya.


"Iya, Nora sayang, Bern datang, kita akan selamat!" wanita itu memeluk erat anaknya yang ternyata bernama Nora.


Aku melihat haru mereka berdua, meski aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan, saat kami merasa sudah aman, tiba-tiba seorang pria muncul di ujung jalan dengan menodongkan senjatanya ke arah wanita yang berdiri di hadapanku ini, dia akan menembaknya.

__ADS_1


Aku tidak tahu kenapa aku berani melakukannya, aku hanya refleks menarik tubuh wanita itu merengkuhnya hingga aku yang menjadi tameng dari tembakan itu.


DOR,,,


Kurasakan sakit yang teramat di punggung kala timah panas itu menembus kulit dan bersarang di tubuhku.


"Aahhh," teriak wanita itu yang masih bisa kudengar, hingga penglihatanku mulai samar dan aku terjatuh, tak lagi mengingat apapun.


***


Saat aku bangun, aku sudah berada di dalam sebuah kamar mewah. Dengan posisi tengkurap, sebuah infus terhubung di punggung tanganku, begitupun sekantung darah.


Aku mengerjap, berusaha bangun.


"Kau sudah sadar?" tanya seorang pria berbadan tinggi tegap menggunakan bahasa Inggris, berwajah bule, dan begitu banyak tato di tangannya.


Aku tak menjawab, merasakan sakit yang teramat sangat.


"Punggungku rasanya sangat sakit sampai mati rasa," keluhku dengan bahasa Inggris.


Dia tersenyum, aku berusaha duduk dan dia membantuku.


Seorang wanita mendekat, wanita yang malam itu kutolong.


"Sayang, dia sudah sadar?" wanita itu bertanya pada pria bertato menggunakan bahasa Jerman, oke, itu artinya mereka warga negara Jerman.


"Terimakasih, karena telah menyelamatkan kami," ucap wanita itu tulus dengan suara lembut.


"Aku berhutang nyawa padamu," tambah pria bertato.


"Siapa kalian?" tanyaku menggunakan bahasa Jerman.


"Bukan, aku dari Perancis,"


Dia mengangguk.


"Siapa namamu?" kini wanita cantik itu yang bertanya.


"Aku Emil, dan kalian?"


"Aku Lea, Leanore Martinez, dan ini calon suamiku, Bernando Adoffo Lexandra," jawab wanita itu yang memperkenalkan dirinya dengan nama Lea.


"Kau bisa memanggilku Bern." sahut pria bertato.


Aku mengangguk.


"Bagaimana dengan gadis kecil itu? Di mana dia?" aku teringat dengan anak perempuan yang terlihat sangat pucat malam itu.


"Namanya Nora, dia putri kami, dia sedang sakit, dan kini dalam perawatan Dokter."


"Di sini?" dahiku mengernyit. Bingung.


"Tempat ini lebih aman dari pada Rumah Sakit," tegas Bern.


Aku mengangguk, meski tak begitu mengerti, sakit tapi di rawat di sebuah apartemen. Begitupun dengan diriku.


Aku mencoba meraih gelas di atas meja dan dibantu oleh Bern mengambilnya.


"Terimakasih," ucapku, kuteguk habis segelas air itu.

__ADS_1


"Bagaimana caraku untuk mengucapkan terimakasih? Kau sudah menyelamatkan dua nyawa orang yang sangat aku cintai, dengan apapun aku membalasnya, itu tidak akan cukup. Katakanlah jika kau menginginkan sesuatu," Bern berbicara dengan nada serius, ia mengelus dan mengecup tangan Lea berkali-kali di hadapanku, bisa kumengerti cinta di antara mereka, karena itu yang juga kurasakan pada Namira, mantan istriku.


Aku masih terdiam, tidak tahu mau menjawab apa, jelas aku sedang kesulitan keuangan saat ini, tapi itu sangat memalukan jika kita mengharap imbalan pada seseorang atas perbuatan baik kita, sedangkan aku bahkan hanya refleks melakukannya malam itu.


"Kami harus segera pergi dari tempat ini, di sini bukan tempat kami, kami harus segera kembali ke Jerman." Lea yang berbicara, aku mendongak menatapnya, lalu berpindah pada Bern.


"Bisa aku ikut dengan kalian?"


Bern mengernyit atas permintaanku.


"Berikan aku pekerjaan, Kedaiku sepi, aku bangkrut, dan aku butuh uang." ucapku terang-terangan.


Bern mengulas senyum, lalu mengangguk.


"Ikutlah bersama kami."


***


Bern, dia bukanlah orang sembarangan, ternyata dia adalah seorang ketua mafia dari jaringan mafia klan Dark Sky yang berpusat di kota Berlin, Jerman.


Aku bekerja sebagai pengurus utama perusahaannya yang bergerak di bidang tekhnologi, namun satu bulan kemudian, ia memutuskan untuk keluar dari jaringan Mafia itu dan memilih hidup layaknya manusia normal bersama keluarga kecilnya setelah menikah dengan Lea dan mengurus Nora anak mereka.


Agosto Adoffo, adiknya, menggantikan dirinya menjadi ketua mafia. Dan aku tidak ada hubungannya dengan dunia gelap mereka.


Satu tahun berlalu, aku memilih kembali ke Paris dan membangun perusahaanku sendiri, sebuah PH EN Entertainment yang menaungi beberapa artis dan model. Hidupku terfokus pada pekerjaan, kesuksesan, tak ada waktu bermain ranjang, dan aku hanya mengingat Namira saat menjelang tidur, karena selebihnya aku sibuk bekerja. Merindukan Namira dalam sunyinya malam. Berharap ia datang dalam mimpiku, untuk mengobati rasa rinduku.


"Namira, aku akan mencarimu setelah ini."


Yah, aku memutuskan untuk kembali dengan Namira jika aku sudah sukses nanti, jika aku telah berhasil membuktikan bahwa aku bisa dan membanggakannya, tak ada satupun wanita yang bisa menarik perhatianku, aku hanya mencintai Namira, hanya dia.


Beberapa bulan berlalu, EN Entertainment mulai dipertimbingkan di kancah dunia hiburan, setelah penyanyi pendatang baru dari PH kami memenangkan award berkali-kali, mengangkat nama besar EN Entertainment.


Aku memerintahkan Robin untuk mencari keberadaan Namira, cukup mudah. Ia bekerja pada sebuah perusahan yang sama dengan tempat kerja Ardhan, mantan kekasihnya yang sangat kubenci. Namun Robin mengatakan jika Ardhan sudah menikah, dan mereka kini hanya berteman saja.


Mendengar kabar itu, tentu aku sangat senang, Namira masih setia dengan kesendiriannya, bukankah itu membuktikan jika dia masih mencintaiku?


aku berencana akan segera menemui Namira, melamarnya, mengajaknya menikah dengan sungguh-sungguh, tanpa adanya kontrak bodoh menikah 100 hari, namun, tiba-tiba Robin membawa kabar yang membuat duniaku kembali serasa runtuh. Namira menikah.


Hancur, sekali lagi kenyataan hidup memporak porandakan diriku, andai aku tak mengingat betapa keras dan sakitnya perjuanganku bisa sampai pada titik ini.


Baiklah, Namira telah menikah, aku akan merelakannya asal dia bahagia. Biarlah hidupku kini sendiri dalam sepi. Tujuanku sejak awal hanya ingin melihat Namira bahagia, jika bukan bersamaku, maka aku ikhlas melihatnya bahagia dengan lelaki pilihannya.


***


"Lantas, bagaimana kau bisa tahu jika aku tidak bahagia?" tanya Namira yang masih menjatuhkan kepalanya di bahuku. Dan tangan kami saling bertaut.


Deru ombak pantai mengiringi kebersamaan kami.


"Sir, saatnya kita kembali." Robin mengintrupsi.


"Waktu kita habis, bersabarlah." Aku mengecup bibir Namira lembut, memberikannya ciuman manis terdalam sebelum akhirnya dia harus kembali ke area pesta bersama dengan Robin.


Namira sesekali melirik ke belakang, melihatku yang berdiri menatapnya sedih.


"Kuharap kisah kita bisa berakhir seperti Tuan Bern dan Nona Lea, Namira."


***


Ada yang ingat Bernando sama Leanore?

__ADS_1


__ADS_2