100 HARI MENIKAH

100 HARI MENIKAH
Datangnya Aretha, Mr. CEO dan Carol


__ADS_3

"Aretha,,,, Zio,,,," seru Emil yang terkejut dengan kedatangan mereka secara tiba-tiba.


"Hai uncle Emil!" sahut Aretha.


Aku sontak berlari menuju pintu utama. Menghampiri mereka.


"Iiihh,,,, kak Emil, ada aku juga di sini, kenapa yang disambut cuma Kak Aretha sama kak Zio, ih,,,, nyebelin." Carol menyerobot masuk mendorong tubuh Emil membuat aku dan dia hampir saja bertabrakan.


"Aahh,,,," jeritku tertahan.


"Kak Namira,,,," Aku hanya bisa mematung dan kaget saat Carol menyambar tubuhku untuk ia peluk, kulihat Aretha dan Mr. CEO memasuki rumah.


"Hai, aunty. Apa kabar?" seru Aretha mendekat ke arahku. Dan Mr. CEO mengikuti dari belakang.


"H-ha hai,,,," aku memaksakan senyumku agar berkembang, sebenarnya aku merasa sangat senang Aretha datang, tapi kurasa, ini bukan waktu yang tepat.


Carol melepas pelukannya pada tubuhku, lantas aku memeluk Aretha yang sudah terlebih dulu menyambarku, Tita berada di gendongan Mr. CEO.


"Hai, sayang,,,," aku mengambil alih Tita dari Mr. CEO setelah pelukanku dengan Aretha lepas.


Titaku, bayi kecil yang semakin cantik dan lucu, mengoceh di gendonganku seolah ia menyerukan kebahagiaannya bertemu denganku setelah sekian purnama menahan rindu.


"Wah,,,, Tita kelihatannya seneng banget bisa ketemu Aunty Nami, melupakan Aunty Carol nih,,,," Carol menggoda Tita dengan menowel pipinya berulang kali.


"Apa kabar?" tanya Mr. CEO pada Emil, kakak beradik itu saling berpelukan.


"Namira, kamu baik-baik saja?" tanya Aretha yang mencuri perhatian semua orang.


"Hah?" aku terkejut. Baru kusadari penampilanku yang sangat buruk.


Rambut amburadul karena tak kusisir, mata bengkak disertai lingkar panda, wajah sembab karena terlalu lama menangis, dan suaraku yang serak parau. Juga kuyakin pasti tubuhku saat ini bau.


"Iya, kakak terlihat,,,, buruk. Apa kakak sakit?" tanya Carol yang terlihat mengkhawatirkanku.


"Hah,,,, Ti-ti tidak, A-a aku baik-baik saja," kulirik Emil yang juga menatapku dengan tatapan yang sulit kuartikan. Entah apa yang dia rasakan melihatku seperti ini, tapi dia menatapku sangat dalam.


"Ah,,,, kalian baru saja datang, pasti lelah, duduklah dulu, biar kubuatkan minum," aku meminta mereka duduk, dan gerak-gerikku sangat aneh, aku bisa merasakannya dari cara Aretha menatapku.

__ADS_1


"Tidak perlu, aku bisa membuatnya sendiri. Kau,,,, pergilah mandi, kurasa kau butuh membersihkan diri." ujar Aretha, dalam tatapannya ada tanda tanya, juga ada rasa kasihan.


"He em, A-a aku akan kembali sebentar lagi." Aku memberikan Tita pada Aretha, lalu lekas masuk ke dalam kamar meninggalkan mereka di ruang tamu.


***


Usai membersihkan diri, aku memoles mukaku dengan make up look bold, berusaha menyamarkan buruknya wajahku yang tak terurus. Memakai setelan terbaik agar mereka melihatku cantik dan berpikir jika aku baik-baik saja.


Saat aku keluar dari kamar, kudengar mereka yang berbicara menyudutkan Emil, langkahku terhenti untuk mendengar apa yang mereka bicarakan sebelum memutuskan bergabung.


"Apa kau semiskin itu? Sampai kau tak mampu untuk menyewa jasa assisten?" ujar Mr. CEO pada Emil yang lebih terdengar seperti omelan seorang kakak pada adiknya.


"Tahu nih, kak Emil, masa istrinya disuruh apa-apa sendiri? Sampai tumpukan setrikaan menggunung begini," Okay, aku tahu yang mereka pikirkan.


"Kau suami yang buruk Emil, gadis cantik seperti Namira nampak lebih buruk dari seorang assisten saat berada di tanganmu," Mr. CEO masih memarahi Emil, dan Emil hanya diam sama sekali tak menanggapi.


Aku memutuskan untuk menghampiri mereka, bergabung agar keributan kakak adik itu terhenti.


"Aku senang kalian datang, ini kejutan yang menyenangkan." ucapku sembari mengembangkan senyum.


Aretha tengah menyetrika bajuku, dan dia hanya diam, aku tahu, dia memikirkan sesuatu.


"Hahahaha,,,, maaf, aku memang pemalas, dari dulu paling tidak suka mengerjakan pekerjaan rumah, aku tidak bisa berubah menjadi lebih baik." ucapku sambil tersenyum kaku di hadapan mereka yang duduk di sofa, Mr. CEO dan Carol menatapku kasihan, sedangkan Emil hanya menatap lurus ke depan dengan ekspresi datar tanpa melirikku.


Tiba-tiba Aretha memelukku, aku yang tersentak hampir saja menjatuhkan setrikaan panas itu dari tanganku, Aretha memelukku erat, sangat erat, dan dia menangis.


"Hei, kenapa menangis?" Aku bingung, berusaha mencairkan suasana nampaknya bukan keahlianku.


Carol dan Mr. CEO mendekat, Carol mengambil alih setrikaan dari tanganku untuk ia letakkan di meja, lalu mematikannya. Sedangkan Mr. CEO meraih tubuh Aretha untuk masuk ke dalam pelukannya.


Aretha memeluk suaminya seakan meminta perlindungan, dan dengan sangat lembut Mr. CEO mengelus punggung serta rambut Aretha. Cinta tulus mereka yang besar sangat kentara.


Well, bolehkah aku cemburu? Aku juga ingin dicintai seperti itu.


Aku hampir menangis namun kutahan, menarik nafas dalam lalu menghembuskannya perlahan mengurangi rasa sesak di dada.


"Maafkan adikku, dia tidak bisa mengurus saudarimu dengan baik," lirih Mr. CEO terdengar menyesal.

__ADS_1


"Kak Namira tenang saja, aku akan mengadukan kak Emil pada nenek dan Daddy, biar saja nanti dia kena marah, membiarkan istrinya lelah bekerja mengurus rumah tangga." celoteh Carol memeluk tubuhku manja, aku tersenyum, ada rasa senang di hatiku menerima begitu banyak cinta dari orang luar, meski tak kudapat sedikitpun cinta itu dari suamiku. Pria yang kucintai.


"Oh,,, ayolah,,,, kalian salah paham, Emil tidak memperlakukanku buruk, dia sangat baik," Emil mendongak menatapku saat aku mulai bicara mencoba sekali lagi mencairkan suasana.


"Kami memakai jasa asisten satu Minggu sekali, aku yang memintanya begitu," aku menarik Carol untuk duduk di karpet lantai, Tita tengah bermain sendiri di sana, bayi pintar itu nampak mulai belajar berdiri berpegangan pada sofa atau kaki Emil yang duduk di sofa.


Aku menghampiri Tita uang berdiri dengan pegangan lutut Emil, menciumi wajah imutnya beberapa kali, lalu menoleh pada Aretha dan Mr. CEO yang masih berdiri di belakangku.


"Aku ini pengangguran, asal kalian tau, sehari semalam aku hanya menyibukkan diri dengan rebahan, menonton film Korea kesukaanku, dan aku menangis karena filmnya yang memang menguras air mata, kau tahu kan Aretha? Aku ini sangat malas mandi, jadi, apa yang kalian lihat tadi itu bukan seperti yang terlihat, semua baik-baik saja, aku,,,, bahagia hidup bersama Emil." kuberanikan diri memegang tangan Emil, menatapnya penuh harap agar sandiwara kami dilanjutkan saat di depan mereka. Sandiwara sebagai pasangan yang bahagia.


Aku tidak mau jika Aretha sampai berpikir yang tidak-tidak, dia pasti akan sedih jika melihatku menderita.


"Benarkah itu?"mata Carol menyipit, seolah memastikan apa yang barusan kukatakan adalah kebenaran.


"Tentu saja adik manis,,,," kucubit gemas hidung mancungnya saat berdiri, melepas tangan Emil yang tadi sempat kugenggam, dan kami tertawa, setidaknya Carol tertawa dan aku tersenyum senang.


***


Di sini kami berada, di dalam mobil Emil yang melaju dengan kecepatan sedang menuju rumah besar O'clan yang ada di Paris.


Emil menyetir, dan aku duduk di sampingnya, saatnya kami mulai untuk bersandiwara. Sedangkan Aretha, Mr. CEO dan Carol mereka menaiki mobil lain dan sudah melaju terlebih dulu.


"Kami semua datang ke Paris untuk memperingati hari meninggalnya Kakek, yang akan diadakan di rumah besar Paris, nomor telepon kalian sama-sama tidak bisa dihubungi, jadi kami diminta nenek untuk menjemput kalian ke apartemen kalian." Ucap Carol saat kami masih di apartemen tadi.


"Nenek juga mengatakan jika kita semua harus berkumpul beberapa hari di rumah utama, untuk menghormati kakek dan agar kakek merasa senang karena anak cucunya sudah hidup bahagia bersama, jadi Kak Namira sekalian bawa baju ganti," begitu yang Carol jelaskan, kami akan tinggal beberapa hari di rumah besar, dan itu membuatku merasa,,,, entahlah.


Hubunganku dan Emil sangat buruk saat ini, tapi kami dipaksa keadaan untuk terlihat romantis saat di depan orang, dan yang membuatku sangat gugup adalah, kami yang akan tidur dalam satu kamar. Ya Tuhan,,,, aku tidak bisa membayangkan setiap malam harus bersama dengan Emil, entah pertengkaran seperti apa yang nanti akan terjadi di antara kami, aku hanya berharap, keluarga besar tidak mengetahui buruknya hubungan kami.


"Emil," kuberanikan diri untuk mulai bicara. Tak ada tanggapan darinya, tapi aku tidak peduli, aku harus memperingatkannya tentang perjanjian kami.


"A-a aku harap, kita bisa bersandiwara dengan baik di depan keluarga, kau masih ingat,,,," ucapanku terjeda. Karena Emil angkat bicara.


"Kau tenang saja, tidak perlu khawatir, aku memang tidak sepandai dirimu saat bersandiwara, tapi kupastikan mereka akan percaya melihat kita sebagai pasangan yang bahagia." jawab Emil yang menyelipkan sindiran besar terhadapku, andai aku tak mengingat tujuan kami saat ini menuju rumah besar dan akan tinggal di sana selama beberapa hari, mungkin kalimat Emil tadi sudah cukup efektif untuk memancing keributan di antara kami.


Aku menghela nafas kasar, mencoba mengabaikan sakit hatiku atas ucapan Emil, memilih melihat ke luar jendela mobil dan memalingkan muka, sedangkan Emil hanya menatap lurus ke depan.


"Kau bahkan sangat pandai berakting menangis, Nami. Kau pantas mendapat award sebagai the best aktris." cibir Emil diiringi senyum sinis yang membuatku mengepalkan tangan menahan amarah.

__ADS_1


***


__ADS_2