100 HARI MENIKAH

100 HARI MENIKAH
Nenek


__ADS_3

POV Namira.


Hatiku berdebar melihat layar monitor USG. Di sana kulihat calon bayiku yang awalnya sama sekali tak kuharapkan karena ia terlahir dari benih Leonel. Namun aku tak bisa membencinya. Membayangkan ia terlahir ke dunia saja sudah membuatku merasa sangat bahagia, aku menginginkannya sejak dulu, sejak awal menikah dengan Emil, dan Tuhan menganugerahi saat aku justru menjadi istri Leonel.


Yah, aku tak ingin menyalahkan Tuhan, bukankah segala yang ditakdirkan dan direncanakannya adalah yang terbaik bagi setiap hambanya? Dan karena dia aku juga bisa mengetahui seberapa besar cinta Emil padaku, apakah cinta Emil tulus atau hanya semu. Dan terjawab sudah semua ketakutanku yang kupendam seorang diri selama ini. Emil berusaha menerima anak ini dan tetap bertahan denganku.


"Saya tidak ingin membuat anda cemas, tapi," Dokter Karin yang memeriksa Namira menjeda.


"Ada apa, Dok?" tanya Namira khawatir. Ia takut sesuatu yang buruk terjadi dengan janinnya, pasalnya, mengingat selama dia mengandung, Namira selalu mengalami siksaan lahir dan batin dari Leonel.


"Di usia 13 Minggu kepala bayi seharusnya sudah mulai tegak, tapi anda tidak perlu khawatir. Kita lihat lagi perkembangannya nanti di Minggu ke 16."


"Apakah itu masalah yang serius, Dok?" hati Namira benar-benar gelisah.


"Saya sarankan, anda mulai memperhatikan kesehatan anda, mulai dari pola makan, nutrisi, vitamin, pola tidur, ikut senam ibu hamil, dan juga, pikiran anda, jangan sampai stres."


Namira mendengarkan, ia merasa sedikit takut dengan penuturan yang Dokter sampaikan, Emil tidak menemaninya karena ia harus ke rumah besar, nenek sakit parah. Dan Emil hanya mengantar Namira ke rumah sakit lalu pergi menjenguk neneknya.


"Selain itu, kondisi janin sangat baik, memiliki berat 55 gram, dengan panjang 9 cm, lengannya juga sudah mulai proporsional dengan bentuk tubuh, detak jantung, Air ketuban, kondisi plaseta, dan tali pusatnya semua dalam kondisi bagus." Dokter melanjutkan menerangkan.


Namira mengangguk mengerti. Ia bangun dan duduk setelah serangkaian pemeriksaan dilakukan, Dokter membersihkan sisa gel di perut Namira dengan tisu, lalu membuangnya ke dalam tong sampah.


Namira melihat ponsel, beberapa pesan dari Emil yang bertanya apakah pemeriksaannya sudah selesai? Karena Emil akan menjemputnya, dan membawa Namira datang ke rumah besar keluarganya. Tanpa Namira tahu, Emil telah menceritakan semuanya pada Fabrizio dan Daddynya.


"Minum ini dengan rutin sesuai resep yang saya berikan, sekali lagi saya tekankan, jangan stres, ibu hamil harus bahagia dan sehat. Agar janin yang tumbuh juga bahagia dan sehat."


"Terimakasih, Dok."


"Sama-sama, ibu Namira."


***


POV Author.


'Brak!'


Pintu mobil tertutup, Namira sudah berada di dalam mobil Emil, dan dengan perlahan, Emil mulai menjalankan kendaraan itu keluar dari halaman rumah sakit, kemudian melajukan dengan kecepatan sedang membelah jalanan kota Paris, menuju rumah besar.


"Bagaimana? Apa kat Dokter?" tanya Emil yang sedang menyetir.


Sejak keluar dari ruang periksa, Namira kepikiran akan kepala janinnya yang masih belum tegak, dan itu berputar bersamaan dengan bayangan perilaku Leonel selama ini yang menyiksa dirinya, semua itu terbayang berputar memenuhi benak Namira.

__ADS_1


Tak ada jawaban, Namira melamun dan ia tak mendengar Emil yang bertanya padanya, Namira sama sekali tak bergeming, raut wajahnya tak bisa menutupi kesedihan, dan kekhawatirannya.


Emil menangkap gurat berbeda itu, satu senyuman saja tak Namira tampakkan sejak keluar dari rumah sakit.


"Sayang?" Emil menyerukan nama Namira sekali lagi. Namira masih diam menunduk meremas kertas kecil dari Dokter.


"Sayang?" Emil menyentuh tangan Namira membuyarkan lamunan wanitanya.


"Ah?"


"Are you okay?" tanya Emil masih menggenggam tangan Namira namun pandangannya tertuju ke depan dan hanya sesekali kembali menoleh pada Namira.


"Ah? I-i iya, i'm okay!"


"Bagaimana hasil pemeriksaan tadi?"


"Baik," jawab Namira lirih, hatinya berdenyut takut mengingat pernyataan Dokter tentang kepala janinnya yang belum nampak tegak.


"Syukurlah!" Emil melepas tangan Namira, ia harus segera kembali fokus pada kemudi mobil, karena jalanan lumayan ramai hari ini.


"Bagaimana dengan nenek?" kini giliran Namira yang bertanya.


"Dia sudah tidak makan selama dua hari, tidak mau di bawa ke rumah sakit, katanya rumah sakit hanya mengulur waktu dan dia merasa lebih sakit, dia hanya ingin berdiam diri di kamar kakek. Aku sangat menyesal karena selama ini pergi sedangkan dia begitu merindukanku karena hanya aku yang selalu mengingatkannya dengan mendiang kakek. Karena kemiripan kami."


'Seperti yang kulakukan selama ini,' lanjut Namira dalam hati.


"Iya, kau benar." Emil mengembangkan senyum manis sambil mengelus rambut Namira. Tapi Namira hanya diam tanpa reaksi balasan.


***


Nenek terbaring lemah di atas tempat tidur kamar mendiang kakek, cinta nenek untuk lelakinya itu memang luar biasa besarnya. Seringkali nenek mengatakan, jika Tuhan akan mencabut nyawanya, maka nenek menginginkan agar dia dalam keadaan berbaring di atas ranjang almarhum suaminya.


"Nek,,,," lirih Namira mengelus punggung tangan nenek yang sudah sangat keriput. Wanita tua itu lemah dan pucat.


Perlahan kedua mata Nenek terbuka, melihat Namira yang duduk di kursi dekat ranjang, dan Emil berdiri di sampingnya.


Dalam kamar Nenek juga ada Aretha dan Fabrizio, juga Daddy dan Mommy Di. Mereka semua berkumpul dalam perasaan mengharu biru.


"Namira," lirih Nenek sangt pelan, ia tersenyum melihat Namira yang datang menjenguknya. Setelah dua tahun lalu sampai saat ini mereka tak pernah saling bertemu.


***

__ADS_1


Hujan turun sangat deras, langit kota Paris benar-benar hitam oleh gulungan awan mendung.


Nenek dimakamkan di dekat kuburan Kakek.


Yah, setelah berbicara dengan Namira, Emil dan seluruh keluarganya, bahkan nenek sempat makan bubur, malamnya nenek menghembuskan nafas terakhir, dan pagi tadi nenek dimakamkan. Siangnya hujan lebat mengguyur seluruh kota Paris seolah ikut merasakan sedih atas kepergian Nenek.


Namira baru selesai mandi, ia meraih remote AC untuk mematikannya, hawa dingin begitu menyeruak, kemudian Namira menyalakan penghangat ruangan.


Ia hanya mengenakan bathrobe selutut dan kepala yang tergulung handuk.


Namira beranjak menuju lemari, mencari pakaian yang bisa ia kenakan dan ganti baju.


Cukup lama meninggalkan kamar mewah emil ini, namun nyatanya para maid merawat semua barang yang ada di dalamnya dengan sangat baik, termasuk baju Namira yang ditinggal di dalam lemari.


'Klak!' suara pintu dibuka, Emil datang.


Sontak Namira berbalik, cukup kaget dengan kehadiran seseorang yang masuk ke dalam kamar tanpa permisi, takut jika dia orang jahat, siapa lagi kalau bukan Leonel. Yah, Namira trauma.


"Kau baik-baik saja?" tanya Emil mendekat.


"Kau mengagetkanku," jawab Namira jujur.


"Maaf," ucap Emil.


Setelah itu Namira hendak melangkah ke dalam kamar mandi untuk berganti pakaian.


"Aku kedinginan," lirih Emil memeluk tubuh Namira dari belakang, ia melingkarkan kedua tangannya sempurna sampai depan perut Namira. Menjatuhkan kepala di bahu wanita itu.


Emil sangat sedih atas meninggalnya Neneknya tentu saja. Selain kehilangan, penyesalan karena sudah meninggalkannya pun masih menyelimuti hati kecilnya.


"Kau mau aku melakukan sesuatu?" tanya Namira.


"Untuk menghangatkan tubuhmu?" lanjutnya.


Emil mendongak, memutar tubuh Namira. Mereka saling menatap dalam penuh makna, kedua mata yang sama-sama merah menggambarkan betapa sedihnya mereka berdua.


"Bolehkah?" tanya Emil meminta ijin.


Namira mengulas senyum, setelah itu ia menaruh baju di tangannya kembali ke dalam lemari.


"He em," jawab Namira mengangguk. Dan senyum Emil seketika mengembang.

__ADS_1


***


__ADS_2