100 HARI MENIKAH

100 HARI MENIKAH
Obrolan


__ADS_3

Seperginya Bern dan Jho dari apartemen Emil untuk kembali pulang ke Berlin. Hunian itu nampak lengang karena Namira kembali tidur dan beristirahat. Hingga malam tiba.


Emil memasak di dapur untuk makan malam mereka, menu Foie Gras dan Beef Burguignon telah tersaji di meja makan.


Saat ia menata kedua makanan itu, tiba-tiba dua tangan cantik melingkari pinggangnya sampai ke depan perut, dan Emil merasakan seseorang bersandar di punggungnya.


"Hei, kau sudah bangun?" Emil ingin membalikkan badan dan menatap wajah cantik Namira, namun Namira merengkuhnya erat, mencari ketenangan di sana, jadi Emil membiarkannya saja sambil menuang vodca ke dalam dua gelas yang tersedia.


"Maaf, aku merepotkanmu dan kau malah harus mengurusku."


"Sssttt,,,, jangan bicara begitu." Emil berbalik, menarik tubuh Namira untuk duduk di pangkuannya, karena Emil mendudukkan diri sendiri di atas kursi.


Namira hanya mengenakan kemeja putih milik Emil tanpa pakaian dalam. Lebih nyaman, apalagi banyak luka di tubuhnya.


Namira melingkarkan kedua tangannya di leher Emil, dengan manja ia menjatuhkan kepalanya di dada bidang Emil yang terbalut kaos oblong berwarna putih.


Senyum Emil mengembang, mengacak halus rambut Namira, mengecupinya berkali-kali. Namira mendongak. Wajah cantiknya masih sangat sendu, dengan kedua mata bengkak, dan beberapa lebam yang masih terasa sangat sakit.


"Cium aku," pinta Namira.


'Cup!' Emil mendaratkan kecupan di kening wanitanya. Tapi Namira justru merengut manja.


"Di bibir," lirih Namira semakin manja.


"Tidak, kau sedang sakit, aku tidak mau memulai sesuatu yang tak bisa kuakhiri, justru itu akan menyiksaku, aku tidak mau menyakitimu, tunggu sampai kau sembuh." tolak Emil secara halus, sambil membelai pipi Namira lembut.


"Hanya sebuah ciuman." rengek Namira.


'Cup!' lagi, Emil mendaratkan kecupan kilat di bibir Namira.


"Kau merasa jijik padaku?" over thinking, bukankah wanita .emang seperti itu? Atau hanya Namira saja?


"Namira!" suara Emil meninggi. Namira hendak bangun dari pangkuan Emil namun dengan cepat Emil menahannya agar wanitanya tidak berpindah.


"Jangan pernah mengatakan itu, dan jangan pernah berpikiran seperti itu, sudah cukup ego kita juga kesalah pahaman yang terjadi kemarin hingga membuat kita sama-sama menderita." sorot mata Emil begitu tajam, seolah ia ingin meluapkan segala rasa yang terpendam begitu dalam untuk Namira.


Namira menunduk, Emil mengangkat dagunya. Kembali mengecup pelan dan sangat lembut bibir Namira. Membuat tubuh keduanya merasakan aliran yang menggetarkan peredaran darah dan seluruh jiwa.


"Aku sangat mencintaimu apapun keadaanmu, orang-orang yang menyentuhmu kemarin hanyalah kuanggap anjing liar yang kurang ajar, tidak ada hubungannya dengan dirimu ataupun tubuhmu, bagiku, kau tetaplah Namiraku yang bersih." Emil menarik pelan tengkuk Namira agar kembali bersandar di dadanya.


"Maafkan aku, yang dulu begitu kejam mengataimu ini dan itu, sungguh, aku menyesalinya, dan saat aku mengatakannya, batinku sendiripun merasakan luka maha dahsyat. Aku tahu aku salah dan bodoh, karena itu kumohon maafkan aku."

__ADS_1


Namira menelusupkan wajahnya semakin dalam, Isak tanginya mulai pecah hingga bahunya bergerak naik turun karena bergetar.


"Terimakasih, karena sudah bertahan sampai sejauh ini." ungkap Emil tulus.


Emil mengecup halus tangan Namira berulang kali. Ia begitu bersyukur atas keberadaan mereka saat ini. Emil akan menjaga hubungan mereka dengan sebaik mungkin. Semua yang terjadi kemarin adalah sebuah pelajaran berharga yang mendewasakan dirinya.


"Makan? Hmm?" tawar Emil bersuara seksi, hanya dengan mendengar nada bicara Emil seperti itu sudah mampu menggetarkan hati Namira. Mleyot mata anak jaman sekarang.


Namira mengangguk sebagai jawaban atas ajakan Emil untuk makan.


"Suapin." rengek Namira lirih.


Emil semakin mengembangkan senyum manisnya dan mengangguk pelan.


"Siap, Madam, cup!"


***


Leonel? Bagaimana nasibnya? Sekeras apapun Bern menekan baji.ngan itu, ia tidak akan mengaku dan hukum tidak akan bisa menjeratnya.


Karena itu, dengan sangat terpaksa Bern menyerahkan tubuh Leonel pada Agosto, adiknya yang tak berperasaan sebagai hadiah. Tentu setelah ia berjaya memaksa Leonel menceraikan Namira. Menandatangani surat yang Bern tinggalkan sebagai hadiah kecil untuk Emil, agar ia dapat menikahi wanita pujaannya.


***


"Bagaimana kabar Robin?" tanya Namira sambil memainkan jemarinya di atas dada Emil. Ia berbaring menyamping menghadap tubuh Emil yang terlentang.


"Dia terluka parah, sangat parah. Tapi aku bersyukur, operasi yang dijalani sukses, semoga ia bisa segera sembuh dan pulih kembali, tulang kakinya patah. Dan ada masalah dengan penglihatannya. Karena otaknya sempat mengalami penggumpalan darah. Entahlah, aku tak begitu mengerti, tapi Dokter yang menjelaskannya mengatakan seperti itu." jelas Emil membuat Namira bangun dari tidurnya, menatap dalam Emil yang nampak sedih.


"Kalau begitu, kenapa kau tidak menemaninya?"


"Aku tidak bisa, sayang! Kau lebih membutuhkanku di sini,"


"Tapi Robin sudah banyak berkorban."


Emil mengehela napas kasar.


"Dokter juga belum mengijinkan orang datang mengganggunya. Sudah ada istri dan orang-orangku yang menjaganya."


Namira terdiam. Istri? Ia baru tahu jika Robin ternyata sudah memiliki istri.


"Kau jangan khawatir, jika kondisimu sudah membaik, aku pasti akan membawamu untuk menjenguk Robin, karena aku juga berhutang nyawa padanya, dan aku harus berterimakasih langsung padanya."

__ADS_1


Namira mengangguk antusias. Emil menariknya kembali untuk berbaring di sampingnya, dan Namira meringkuk menyamping berbantalkan lengan Emil.


"Kau tahu, selama di tempat tersembunyi itu, aku merasa sangat takut, aku tidak takut dengan kematian, tapi aku takut para bajingan itu menyentuhku, aku takut pergi sebelum mengatakan padamu jika aku sangat mencintaimu."


"Ssstt,,,, jangan bicarakan itu lagi, hatiku terluka mendengarnya, maaf karena aku selalu terlambat." balas Emil.


"Aku sendiri seperti orang gila, mengetahui kau tak lagi berada di mansion baji.ngan itu, membuatku lebih takut lagi, aku begitu takut tak lagi bisa bertemu denganmu, sungguh demi apapun aku sangat takut." lanjut Emil menggenggam erat tangan Namira.


"Semua menjadi sangat kacau tiba-tiba. Aku tak menyangka ba.jingan itu memanipulatif semuanya dengan mudah. Bukti yang ku kumpulkan dengan taruhan nyawa ia patahkan begitu saja, menghadirkan pakar telematika dan menyatakan jika bukti-bukti itu palsu, karena editan semata."


"Lantas, bagaimana kau bisa datang ke tempat persembunyian? Dan pria itu? Pria yang datang membantu, kau dan dia?"


"Aku sudah pernah menceritakannya padaku, namanya Bern. Yang waktu itu, putri kecilnya, Nora. Yang kutolong secara tak sengaja."


"Dan istri cantiknya. Aku lupa namanya." tambah Namira.


Emil terkekeh.


"Namanya Lea, Leanore. Kau cemburu?"


"Yah, aku harus mengakuinya, entah berapa kali kau mengatakan betapa cantiknya dia dalam setiap kalimat ceritamu." Namira kesal mengakui perasaannya. Tapi Emil harus memahami perasaanya.


"Cup.... Cup...." Emil mengecupi kepala Namira berkali-kali.


"Ada begitu banyak wanita cantik di dunia ini, Sayang. Bahkan artis di bawah naunganku juga sangat cantik-cantik, tapi percayalah, kecantikan mereka hanya terletak di mataku, tak ada yang mampu menembus ke dalam hati yang sudah terisi penuh oleh namamu."


Senyum Namira mengembang.


"Aku sangat mencintaimu," lanjut Emil.


"Kau sangat pandai bicara sekarang, kemana Emil yang hanya bicara seperlunya dan dikit-dikit marah?"


"Aku sudah membunuhnya, Emil yang semarang akan selalu bicara dan mendengarkanmu juga, beberapa hal perlu dibicarakan, dan beberapa hal ada yang harus dipendam, tapi aku memilih sebuah keterbukaan terhadap pasangan adalah pilihan yang terbaik."


Namira sangat senang mendengar semua untaian kata Emil, prianya benar-benar telah berubah, Emil yang sekarang adalah Emil yang dewasa dan bijaksana.


"Aku mencintaimu," Namira merengkuh tubuh Emil, memejamkan kedua mata menikmati kebersamaan mereka. Seolah tak rela jika waktu akan berlalu, ini terlalu indah setelah semua kesulitan yang kemarin mereka lalui bersama.


"Aku lebih mencintaimu lagi." balas Emil.


***

__ADS_1


__ADS_2