
Aku mengetik sambil menangis, menghapus, mengulang, memperbaiki, salah, lalu mengetik lagi dan menghapus lagi, begitu terus berulang-ulang.
Pikiranku kacau, konsentrasiku terpecah. Aku terus memikirkan Emil, apakah benar dia pergi menemui Sexyola seperti dugaanku? Jika benar, aku tak dapat membayangkan apa yang akan mereka lakukan. Membayangkan mereka melakukan 'itu' membuat hatiku hancur berkeping-keping.
"Emil,,,," aku menunduk, menyebut namanya lirih, entah seperti apa keadaanku saat ini, hampir 4 jam aku di ruang kerja seorang diri, mereview ulang berkas keuangan satu tahun terakhir O'clan Fashion, diiringi dengan deraian air mata yang terus berlinang, hati yang nyeri dan pikiran yang berat, sampai kepalaku rasanya sakit sekali.
Kulirik jam di ponsel, pukul 00.15.
Kubuka applikasi pesan, melihat kontak Emil yang tidak aktif sejak siang tadi. Di mana dia? Haruskah aku mencarinya? Tapi bukankah itu akan semakin merendahkan harga diriku di matanya? Tapi, tidakkah aku akan menyesal jika esok hari kami benar-benar akan berpisah? Dan bagaimana jika benar dia menemui Sexyola? Akankah aku dapat memaafkannya?
Aku mengusap wajah gusar berusaha berkonsentrasi pada pekerjaan, namun lagi-lagi aku gagal. Emil memenuhi seluruh isi pikiranku.
Aku tidak sanggup, kebodohanku mendorongku untuk mencari Emil, menemuinya dan membicarakan semuanya, bukankah setiap masalah solusinya hanyalah saling bicara dari hati ke hati?
Kutinggalkan pekerjaan yang menggunung setelah merapikan berkas-berkas itu, lalu mengambil kunci mobil di kamar dan segera berlari menuruni tangga menuju basement, mengeluarkan mobil, mengendarainya seorang diri membelah jalanan kota Paris tengah malam yang sepi lengang.
Tempat tujuanku adalah apartemen Sexyola, entah mengapa aku sangat yakin jika Emil ada di sana.
***
Kubunyikan bel pintu apartemen Sexyola dengan hati yang berdebar-debar dan jantung berlompatan, ya Tuhan,,,, aku pasti sudah gila, mencari suamiku ke rumah partner ranjangnya, tapi hatiku tak dapat menahan segala siksa batin yang mendera dan memaksaku untuk mencarinya, untuk membawanya kembali pulang bersamaku.
Tak butuh waktu lama pintu dibuka, Sexyola berdiri dengan gaya seksi dan manjanya, mengenakan gaun tidur tipis lingerie berwarna merah, sangat seksi dan menantang. Kuakui kesempurnaan tubuhnya itu sebagai seorang wanita.
Sexyola tidak bicara, dia hanya menatapku dengan sorot mata, remeh? Menertawakan? Entahlah.
"A-a aku,,,,"
"Benar kata Emil, kau tidak mempunyai kepercayaan sedikit pun terhadapnya,"
'DEG.'
Sexyola memotong kalimatku. Berseloroh sesuka hatinya seolah aku pasangan yang buruk karena tak mempercayai suamiku sendiri. Tapi bagaimana aku bisa percaya lagi padanya sedangkan berulang kali ia membohongiku?
"Apa dia di sini?" tanyaku segera, aku tidak peduli dengan pendapat Sexyola tentang diriku. Biar saja jika dia menganggapku bodoh, atau apapun.
"Menurutmu?" tantang Sexyola menyedekapkan tangan sedada sambil bersandar di daun pintu.
"Emil,,,," aku mulai berteriak, mendorong tubuh Sexyola, masuk dengan paksa, memalukan? Tentu, bahkan aku telah merendahkan harga diriku sendiri dengan melakukan ini. Tapi aku tak peduli, aku hanya ingin bertemu Emil dan mengajaknya pulang.
"Emil,,,," kubuka pintu kamar yang sudah sedikit terbuka.
'DEG.'
Kedua mataku melebar, seorang pria tidur telungkup di atas ranjang dengan posisi kepala menghadap ke arah lain, selimut yang menutup bagian tengah tubuhnya, menampakkan kaki hingga betisnya yang berbulu, dan bagian atas -punggung- pria itu yang terekspose sempurna.
__ADS_1
Tapi dia bukan Emil.
"Keluar dari rumahku, kau tidak diterima di sini." Sexyola datang, menatapku tajam penuh kebencian.
Aku menghembuskan nafas, lega.
"Maaf," ucapku tulus, menyadari kesalahan dan kebodohanku. Sexyola tak memberiku tanggapan, ia melenggang membukakan pintu untukku keluar dari apartemennya.
***
Di mana Emil berada? Jika bukan ke tempat Sexyola, kemana dia pergi? Kulajukan mobil menuju apartemen kami, jam sudah menunjukkan pukul 2, perjalanan yang kulakukan memang cukup memakan waktu, karena jarak satu tempat ke tempat yang lain lumayan jauh.
Saat sampai di apartemen, lampu padam, kunyalakan dan memeriksa ke dalam, kosong, Emil juga tidak datang ke apartemen. Lantas ke mana dia? Di mana Emil?
Aku keluar apartemen dengan lemas, mengusap wajah yang basah karena air mata yang terus menetes tak mau berhenti.
Club? Satu tempat melintas di benakku, Club, mungkinkah Emil datang ke Club malam? Ada satu Club yang menjadi tempat favoritnya seja dulu, saat dia bersama Sexyola, apa dia ke tempat itu?
Aku segera berlari, memasuki lift turun ke lantai dasar, menuju basement dan melajukan mobil dengan kecepatan tinggi, ya Tuhan,,,, kumohon pertemukan aku dengan Emil, aku tidak sanggup jika harus seperti ini.
30 menit perjalanan dan aku sampai, sebuah Club yang sangat ramai dengan para pengunjung yang bersenang-senang, bau alkohol menguar memenuhi penciuman. Beberapa pasangan yang bercinta sesuka mereka di tempat terbuka, atau sekedar berciuman dan meremas da.da.
Kuabaikan tatapan satu dua orang saat aku datang yang melihatku dengan tatapan sinis, aku terus masuk, menuju Bartender.
"Bisakah kau membantuku?" tanyaku deg-degan.
"Kau mengenal orang ini?" aku menunjukkan foto Emil yang ada di ponselku.
Dia tak menjawab, menatapku dengan tatapan yang dapat kumengerti, dia mengenal Emil.
"Aku,,,, aku istrinya. Aku sedang mencarinya," ucapku tertunduk lesu, malu.
"VVIP A+ room." ucap Bartender itu, lalu ia meninggalkanku kembali melayani pengunjung mabuk yang berteriak untuk menuangkannya cocktail.
"Terimakasih," teriakku yang tak ditanggapi, aku tahu, ini menyalahi aturannya sebagai karyawan, tapi mungkin karena melihatku yang sangat kacau, Bartender itu kasihan padaku.
VVIP A+ room, tentu aku sangat mengerti, dulu aku juga pecinta tempat seperti ini, peminum, Club adalah taman hiburan bagiku, sampai aku memutuskan untuk berhenti dan berusaha menjadi lebih baik. Demi Emil.
Aku menaiki lift menuju lantai atas, tiap satu lantai aku berhenti, memeriksa satu pintu ke pintu lain. Lelah? Sangat. Tapi aku tidak peduli dengan diriku sendiri, aku hanya memikirkan Emil, katakan aku gila, karena aku sangat mencintainya meski ia sudah menyakitiku berkali-kali.
Aku sampai di lantai tiga. Beberapa pintu bertuliskan VVIP +, hingga kutemukan pintu yang kucari, VVIP A+.
Kubuka pintu itu dan kulihat isi di dalamnya, Emil duduk di sofa dengan 3, bukan, 4 wanita yang menemaninya, dua berada di sisi kanan dan kiri, satu di belakang, dan satu lagi menari ero.tis di depannya, mereka berkostum kelinci menunjukkan seluruh tubuhnya yang seksi.
Emil nampak terkejut saat aku datang, beberapa botol minuman di atas meja di hadapan Emil masih utuh, apa itu artinya dia tidak meminum minuman itu? Dia tidak menyentuhnya?
__ADS_1
"Namira,,,," Emil berdiri. Tegak. Kaget.
Aku berjalan cepat, menarik para ja.lang yang mengelilinginya.
"Pergi kalian!" teriakku marah.
Wanita-wanita itu tak bergeming dan justru berpegangan pada tubuh Emil.
Dadaku naik turun dengan nafas yang memburu. Menatap nyalang Emil yang juga menatapku dengan sorot mata dalam. Rupaku pasti buruk sekali, mata bengkak, merah, wajah sembab dan basah karena air mata dan keringat.
"Apa yang kau lakukan di sini?" Emil yang bertanya, aku menelan saliva kasar, perlukah pertanyaan macam itu ia tanyakan?
"Bodoh, tentu aku mencarimu!"
"Untuk apa? Kau berubah pikiran? Tidak melanjutkan bersenang-senang dengan Fabrizio?"
"Cukup Emil!" bentakku marah.
Kulirik botol minuman di atas meja, lama tidak menyentuh barang haram itu membuatku sangat menginginkannya, hanya minuman yang bisa menenangkanku. Sejak dulu, dan aku membutuhkannya sekarang.
"Namira!" teriak Emil saat aku meraih botol dan langsung menenggaknya setengah.
"Hentikan!" bentak Emil merebut paksa minuman yang kuminum, hingga minuman itu tumpah mengenai dada dan tubuhku.
Aku kembali meraih satu botol yang lain dan menenggaknya, kali ini Emil merebutnya lalu melemparnya hingga membentur dinding.
"Aaahh!" teriak para wanita ja.lang saat botol itu pecah.
Mereka berhambur keluar meninggalkan aku dan Emil yang bersitegang.
Air mataku banjir, hatiku sakit, kenapa harus seperti ini?
"Aku membencimu," lirihku terjeda. Emil menangis, air matanya luruh satu persatu dengan posisi diam menatapku nanar.
"Tapi aku juga mencintaimu," lanjutku menuntaskan kalimat yang memang seharusnya kukatakan.
Emil terdiam, begitupun denganku yang menunggu agar ia memberikanku tanggapan.
"Kita akhiri saja hubungan kita, aku sudah memikirkan semuanya, berhenti saling menyakiti, dan kita jalani hidup tanpa saling mengenal."
"DEG!"
***
ðŸ˜
__ADS_1