
Balkon tetaplah menjadi tempat ternyaman saat aku menyendiri dalam sepi, entah itu balkon kamarku di apartemen, ataupun kini saat aku berada di kamar mewah Emil. Balkon selalu menjadi saksi diamnya aku menikmati penderitaanku yang tak banyak orang tahu.
Aku selalu menangis di saat seperti ini. Meratapi kesunyian malam karena Emil kembali pergi, kemana lagi jika bukan bersenang-senang bersama Sexyola, atau Stevia, atau wanita lainnya, mungkin. Karena aku tidak tahu pasti tapi aku sangat yakin.
Aku menunduk sambil terisak, kedua mataku terpejam mencoba menahan tangisan namun aku gagal, kedua tanganku berpegangan erat pada dinding pembatas balkon mencari kekuatan agar mampu bertahan.
"Aku benci kamu, Emil. Aku benci." lirihku dari hati yang terdalam. Namun rasa lain yang juga singgah megah dalam hatiku tak mampu kuucapkan di saat aku merasa sangat sedih seperti sekarang ini.
Sebuah rasa indah yang membuatku menderita, sengsara, dan menanggung lara begitu parah, rasa cinta. Aku sangat mencintai Emil. Terlepas dia yang sudah menyakitiku begitu luar biasa, menghinaku, merendahkanku, dan mengkhianatiku. Rasa cinta itu masih saja tumbuh enggan berlalu.
"Aku sungguh membencimu, Emil. Benci, aku sangat benci padamu," kuulangi kalimat itu berharap dapat mengurangi rasa sakitku. Namun aku tahu, itu tidak akan pernah berhasil, hanya minuman yang bisa menyelamatkanku.
Yah, minum, aku butuh minum, tapi sekarang aku sedang berada di rumah besar keluarga O'clan. Aku tidak bisa minum di sini, aku harus mencari cara agar bisa keluar mencari minuman yang kubutuhkan.
Setelah memeriksa keadaan rumah dan memastikan aman, aku pergi menyelinap keluar dari rumah besar menggunakan mobil Emil, sepertinya Emil menggunakan mobil lain karena dalam garasi ada begitu banyak mobil mewah.
Kukendarai mobil Emil melaju dengan kecepatan tinggi menuju sebuah Club. Club? Ini adalah pertama kalinya aku akan menggila di luar sana, aku akan mengungkapkan pada dunia bahwa hatiku telah patah begitu parah, aku menderita dan aku tidak bahagia, lalu aku akan membuat diriku sendiri bahagia dengan caraku.
***
Aku duduk pada kursi yang menghadap meja bartender. Setidaknya 2 botol Soju di hadapanku telah kosong, dan satu botol yang tinggal setengah berada dalam genggaman.
Aku tidak mabuk, aku yakin aku tidak mabuk, aku masih sadar dan bisa melihat semua dengan jelas meski kepalaku terasa sangat berat dan ambruk di atas meja, kutuang minuman ke dalam gelas dengan posisi seperti ini.
Minumanku sudah tandas 3 botol tapi aku masih bisa mengingat betapa sakitnya hatiku pada Emil, aku berteriak, marah, mengumpat, menangis dan kemudian tertawa.
Banyak pria yang mendekatiku namun dengan mudah aku mengusir mereka karena aku mengancam akan memukul kepala mereka dengan botol minuman jika mereka tidak pergi.
Ponselku berdering, aku melihatnya karena getarannya membuat pahaku tidak nyaman, aku menyimpan ponsel di dalam saku celana jeans yang kupakai.
Emil Calling,,,,
"Hahahahaha,,,, dia meneleponku? Kenapa? Apa dia sudah pulang? Dan kehilangan mobilnya yang kucuri? Begitu?" Aku terbahak tak jelas, lalu kembali menangis dan memaki. Kutekankan, aku tidak mabuk, hanya terpengaruh sedikit saja oleh alkohol.
Kubiarkan dering telepon dari Emil itu hingga berhenti, lalu aku kembali menikmati minumku dan kuletakkan ponsel di atas meja.
'Drtt,,, drrtt,,,'
Emil kembali memanggil, aku berdecak kesal, kenapa saat aku yang mencoba bersenang-senang, dia malah terus menggangguku? Sedangkan saat dia yang bersenang-senang, aku tidak pernah mengganggunya. Ini tidak adil bukan?
Sudahlah, aku sudah menghabiskan tiga botol Soju, batas maksimal saat aku minum, apalagi aku masih harus menyetir untuk kembali pulang. Jam di layar ponsel juga sudah menunjukkan pukul 3 pagi, saatnya aku pulang.
"Okay, baiklah suamiku, istrimu ini akan pulang sekarang," gerutuku mematikan panggilan dari Emil tanpa mengangkatnya terlebih dulu.
Aku sadar jalanku sedikit gontai, mungkin aku sedikit mabuk, yah, hanya sedikit. Kumasukkan ponsel ke dalam saku celana dan kuambil kunci mobil, berjalan ke arah area parkir dengan kepala yang terasa berat. Lalu masuk ke dalam mobil dan melajukannya cepat agar segera sampai di rumah besar.
__ADS_1
'Brak!'
'Berreemm!'
***
Can you feel where the wind is?
(Dapatkah kamu rasakan dimana angin berada?)
Can you feel it through
(Dapatkah kamu rasakan hembusannya)
All of the windows
(Melalui jendela-jendela)
Inside this room?
(Di dalam ruangan ini?)
‘Cause I wanna touch you baby
(Karena Aku ingin menyentuhmu sayang)
(Dan aku ingin merasakanmu juga)
I wanna see the sunrise
(Aku ingin melihat matahari terbit)
On your sins just me and you
(Di atas dosa-dosamu hanya aku dan dirimu)
Light it up, on the run
(Nyalakan, dalam pelarian)
Let’s make love tonight
(Mari bercinta malam ini)
Make it up, fall in love, try
__ADS_1
(Lakukan, jatuh cinta, cobalah)
But you’ll never be alone
(Tetapi kamu tidak akan pernah sendiri)
I’ll be with you from dusk till dawn
(Aku akan bersamamu mulai dari terbit fajar hingga terbenam matahari)
I’ll be with you from dusk till dawn
(Aku akan bersamamu mulai dari terbit fajar hingga terbenam matahari)
Baby, I am right here
(Sayang, Aku ada di sini)
I’ll hold you when things go wrong
(Aku akan menggenggam dirimu saat sesuatu tidak berjalan dengan baik)
I’ll be with you from dusk till dawn
(Aku akan bersamamu mulai dari terbit fajar hingga terbenam matahari)
I’ll be with you from dusk till dawn
(Aku akan bersamamu mulai dari terbit fajar hingga terbenam matahari)
Baby, I am right here
(Sayang, Aku di sini)
Sebuah lagu dari Zayn yang berjudul Dusk till down menemani perjalananku. Aku pun berteriak mengikuti lirik demi lirik dalam lagu itu, mengabaikan getaran yang kurasakan pada paha karena ponselku kembali berdering, pasti Emil.
Aku merogoh ponsel itu karena tak tahan lagi, akan kumaki dia dan aku akan menghajarnya bila bertemu nanti.
Kulihat layar ponsel yang menyala, benar, itu Emil. Dasar maniak, saat aku yang tidak berada di rumah jam segini dia begitu heboh menghubungiku terus menerus, tapi jika itu dirinya yang tidak berada di rumah, maka semua dia anggap baik-baik saja, tanpa memikirkan hatiku yang patah begitu parah, oh, mungkin karena saat ini kami tengah tinggal bersama keluarga besar O'clan di rumah mewah bak istana itu, dan Emil tak ingin keluarganya tahu jika aku bukanlah menantu idaman untuk keluarganya, seorang wanita yang suka minum hingga mabuk, atau karena mobilnya yang kucuri ini? Aaahh,,,, sepertinya aku benar-benar mabuk, kenapa aku memikirkan begitu banyak hal hanya untuk menerima telepon darinya?
Aku hendak menggerakkan jari jempol pada layar ponsel untuk menggeser panel hijau ke atas, namun gerakanku terhenti ketika sinar lampu tiba-tiba sangat menyilaukan mata, membuatku kehilangan fokus dan kendali, diiringi dengan suara klakson dari sebuah truk besar dan tiba-tiba semua menjadi samar setelah sebelumnya kudengar sebuah suara tabrakan yang menghantam mobil yang kutumpangi sangat keras.
Semua terjadi dengan tiba-tiba.
Aku tak dapat mendengar apa-apa, hanya ada suara dengungan yang sangat memekakkan telinga, kurasakan cairan kental itu melewati mata hingga menetes ke hidung dan mulutku, pandanganku mulai buram dan ada ayah yang tersenyum di sampingku, ayah? Kenapa ayah tiba-tiba ada di sini? Dan dia duduk di jok sebelahku? Sedang apa dia? Kapan dia datang?
__ADS_1
"Ayah,,,," lirihku lemah. Ayah tak menjawab, hanya tersenyum hangat padaku. Ia lantas merentangkan tangan, dan aku menjatuhkan diri ke dalam pelukan ayah, lalu aku tertidur dengan tenang dalam pelukannya.
***