
Namira menemani Laurent berbelanja kebutuhan sehari-hari, mulai dari urusan dapur, kamar mandi, pembersih dan lain-lain.
Apartemen mereka terasa lebih hidup dan hangat setelah hubungan Emil dan Namira membaik, ditambah dengan Laurent yang akhirnya bekerja tetap membantu urusan rumah tangga mereka, membuat rumah tak begitu sepi.
"Biar aku yang bawa ini," Namira mengambil alih kantong belanjaan berisi sayur menambah banyaknya bawaannya saat mereka hendak memasuki lift. Dan Laurent membiarkannya, karena kedua tangan Laurent sendiri sudah penuh dengan belanjaan.
"Seharusnya kita belanja banyak seperti ini kalau Tuan libur bekerja, Nyonya. Setidaknya ada tenaga ekstra yang bisa membantu kita." celoteh Laurent disambut tawa kecil Namira.
"Biar aku yang bantu, sini." suara seorang pria yang juga memasuki lift mengambil barang yang di bawa Namira.
"Ardhan?"
"Kau baru sembuh, jangan terlalu lelah," ucap Ardhan mengembangkan senyum, pintu lift tertutup dan benda itu bergerak membawa mereka naik ke lantai atas menuju apartemen mereka.
Namira sedikit kaget dengan kedatangan Ardhan yang tiba-tiba, meski ini bukan pertama kalinya, tetap saja Namira merasa tidak enak.
Namira lantas mengambil beberapa kantong belanjaan yang ada di tangan Laurent agar beban asistennya itu sedikit berkurang.
"Bagaimana kepalamu? Apa masih sakit?" tanya Ardhan memecah keheningan.
"Tidak, sudah sembuh,"
"Iya, baguslah." Ardhan mengulas senyum tulus yang sangat manis, dulu, senyum itu selalu mampu membuat hati Namira berdebar, dan itu mengingatkan sedikit memory Namira tentang kebersamannya bersama Ardhan. Hanya saja, sekarang semua sudah berubah, ia mencintai Emil dan Namira kini hanya milik suaminya.
'Ting!' pintu lift terbuka, Laurent berhambur terlebih dulu menuju apartemen karena dia sudah tidak tahan dengan rasa pegal di tangannya. Sedangkan Namira dan Ardhan hanya berjalan santai.
"Kau belum menceritakan padaku bagaimana kamu bisa terluka, apa kamu jatuh? Atau?" Ardhan menjeda, langkahnya terhenti. Namira pun ikut berhenti, mendengarkan Ardhan.
"Apa itu ulah suamimu?"
"Tidak," sanggah Namira cepat.
"Itu tidak benar, aku,,,, mengalami kecelakaan mobil, dan terluka, bukan karena orang lain apalagi karena Emil, dia bukan pria seperti itu."
"Baguslah, aku selalu memikirkanmu, tentang luka yang kau dapatkan, aku takut, kamu mendapatkan luka itu karena tangan suamimu, mengingat betapa tegasnya dia waktu itu padaku, dan jika itu sampai benar, aku pasti merasa sangat bersalah, karena meninggalkanmu dan membuatmu jatuh ke pelukan pria yang salah."
"Kau tenang saja, aku sangat bahagia, lebih dari yang kamu kira, aku sangat mencintai Emil, dan Emil juga mencintaiku," jelas Namira tak ingin sampai ada salah faham di antara mereka.
Ardhan mengangguk mencoba mengerti, menenangkan hatinya sendiri yang terasa terusik.
"Baguslah, aku senang jika apa yang kamu katakan itu memang benar."
__ADS_1
Mereka telah sampai di depan pintu apartemen Namira yang pintunya sudah terbuka lebar, dari dalam Laurent nampak datang berlari kecil mengambil alih belanjaan yang di bawa Ardhan, lalu membawanya masuk ke dalam.
"Terimakasih, aku permisi." ucap Namira menunduk, lalu berjalan memasuki apartemennya dan hendak menutup pintu, andai Ardhan tak menghentikannya dengan memanggil nama Namira dan menahan daun pintu itu agar tidak tertutup.
"Namira,"
Namira menatap Ardhan dengan tatapan penuh tanya, sorot mata keduanya saling mengunci, seakan ia ingin mengatakan sesuatu namun Ardhan ragu.
"Ada apa?" tanya Namira pelan, melihat mata Ardhan yang berkaca-kaca, membuat hati Namira merasa bergetar.
"Aku masih mencintaimu,"
"Breng.sek,,,,!"
'Dugh dugh dugh.'
"Emil,,,,"
Entah sejak kapan Emil datang, melihat Ardhan berada di depan pintu apartemennya, melihat istri tercintanya dengan intens dan mendengar pernyataan cinta Ardhan pada Namira membuat darah Emil serasa mendidih, ia tak mampu mengendalikan diri dan langsung melayangkan pukulan bertubi pada wajah Ardhan.
"Emil, berhenti!" Namira memegangi tangan Emil agar berhenti memukuli Ardhan terus menerus dan setelah Namira memeluk tubuhnya erat dan mengucapkan sederet kalimat, Emil akhirnya berhenti memukuli pria mantan kekasih istrinya itu.
Emil berhenti dengan dada naik turun dan nafas yang terengah, sedang Ardhan mengusap ujung bibirnya yang mengeluarkan darah segar.
"Aaahhh,,,, ada apa ini? Tuan? Nyonya?" teriak Laurent yang keluar setelah mendengar keributan.
"Dengar breng.sek, jauhi istriku atau aku benar-benar tidak akan melepaskanmu setelah ini." Emil menatap tajam Ardhan yang juga memberikan tatapan mengerikan, sebuah tatapan tidak terima, menantang dan terselip dendam.
"Emil, ayo masuk!" Namira menarik tangan Emil agar mengikutinya masuk ke dalam apartemen dan meninggalkan Ardhan.
'Brak!'
***
Masih kesal, Emil masih merasa sangat kesal dengan kejadian siang tadi saat ia pulang berniat melakukan makan siang bersama namun justru disambut dengan pemandangan yang membakar jiwanya oleh api cemburu.
"Kau tahu? Kau terlihat sangat,,,, mengerikan saat cemburu." celoteh Namira memijit bahu Emil yang tengah duduk di sofa ruang tamu dan Namira berdiri di belakangnya.
Emil masih menunjukkan ekspresi kesal sedang Namira terus mencoba mencairkan suasana.
"Kebanyakan, pria akan terlihat lucu dan menggemaskan saat mereka cemburu, tapi kenapa suamiku berbeda? Dia justru terlihat sangat tampan dan kerena saat cemburu. Membuat jantungku rasanya pindah ke lambung. Emmpph!" tanpa aba-aba, Emil berdiri memutar badannya, langsung me.lu.mat bibir Namira yang seksi dan lembut.
__ADS_1
"Emmpphh,,, Emil...." teriak Namira saat Emil melepaskan tautan bibir mereka.
"Kau harus melahirkan banyak anak-anak Emil O'clan agar kau tidak memiliki kesempatan untuk tebar pesona dengan para pria ja.lang apalagi si mantan."
"Aahh,,," Emil menggendong tubuh Namira seperti karung beras membawanya masuk ke dalam kamar, menutup rapat pintu dan menguncinya agar aman, setelah itu, hanya de.sa.han, e.ra.ngan, dan le.nguhan yang terdengar dari dalam kamar Namira atas aktivitas mereka.
"Aahh,,, aahh,,,, nnngghh,,,, Emil,,,"
"Aahh,,,, sayang,,,,"
Di depan pintu kamar Namira, Laurent yang tidak sengaja mendengar saat lewat langsung mematung, rasanya Laurent ingin menangis dan berteriak. Seluruh bulu kuduknya berdiri ngeri.
"Mama,,,, anakmu di dewasakan oleh majikannya." lirih Laurent sambil terbengong.
"Aaiih,,,, kenapalah mereka ini? Apa harus buat anak pada jam segini?" Laurent melihat jam yang ada di dinding, menunjukkan pukul 3 sore.
"Lagi pula, ada aku di sini yang bisa mendengar teriakan mereka, kalau teriakannya saja sekeras itu, bagaiamana dengan permainannya? Pasti brutal sekali, hi hi hi,,,," Laurent terkikik geli membayangkan gaya apa saja yang dipakai kedua majikannya saat ber.cinta.
"Aahh,,,,,!"
"Aaahhh!"
Nafas Emil terengah, ia tersenyum puas di atas tubuh Namira yang ditindihnya.
"Senang?" tanya Emil yang mendapat anggukan pelan dari Namira sambil tersenyum.
"Puas?"
"He em,"
"Tapi jangan berpikir jika ini sudah berakhir, ini baru permulaan, sayang,"
"Aahh,,,, Emil,,,"
Emil kembali menggerakkan miliknya di dalam Namira yang baru saja mencapai pelepasan.
"Aah,,,, Namira,,, kau sangat lezat, Baby.... F.u.ck." ceracau Emil saat ia kembali bergerak maju mundur dengan tempo cepat membuat tubuh Namira ikut bergerak naik turun seiring dengan desakan Emil ke dalam tubuhnya.
Laurent berhambur pergi dari sana untuk meneruskan pekerjaannya melipat pakaian, bisa-bisa Laurent ikut gila jika terus mendengar sepasang pengantin baru yang sedang gila-gilanya itu terus beraktifitas membuat bayi.
***
__ADS_1