100 HARI MENIKAH

100 HARI MENIKAH
Emil, aku datang...


__ADS_3

'Klek!'


Suara pintu dibuka.


Emil yang tengah memainkan ponselnya, berbaring di atas ranjang rawat pasien menoleh ketika mendengar suara tersebut, dan muncullah sosok wanita yang selama ini begitu dekat dengannya, selalu bersamanya, bahkan mereka pernah menjadi partner men.de.sah bersama, Sexyola.


"Kau?" lirih Emil tertahan, menurunkan tangan yang memegang ponsel, ia yang berniat membalas pesan dari Namira menghentikan aktifitasnya itu.


"Bagaimana kabarmu?" tanya Sexyola mengabaikan tatapan Emil yang berbeda, sebuah tatapan yang? Sungkan? Entahlah, tapi Emil menatapnya dengan cara yang berbeda, tak seramah biasanya.


Sexyola menaruh bingkisan buah di atas nakas dekat ranjang pasien, ia lantas melihat ke arah Emil yang memalingkan muka darinya, menatap lurus ke depan, seolah mengabaikan kedatangannya, namun Sexyola tahu, Emil tidak mungkin setega itu pada dirinya, biar bagaimanapun, mereka pernah sangat dekat, dalam waktu yang sangat lama.


"Kau tahu aku di sini?" tanya Emil terdengar datar.


Sexyola hanya mengangguk-angguk. Lalu melihat layar ponsel Emil dalam genggaman yang masih menyala, menampakkan sederet pesan yang ia yakin itu kontak Namira melihat foto profilnya. Ia lantas menghembuskan nafas kasar, mencoba mengusir sesuatu yang tiba-tiba hinggap menyesakkan dada. Sexyola tidak terima dicampakkan.


"Boleh aku memelukmu, Emil? Aku merindukanmu, meski bukan sebagai partner bermain, tapi kau adalah temanku," lirih Sexyola terdengar menyedihkan, yah, Sexyola memang merasa sedih, biar bagaimanapun, Emil yang terbaik baginya, tapi Emil justru jatuh cinta pada Namira dan mengabaikannya.


Emil melihat sexyola yang hanya menunduk, mata wanita itu tampak merah seperti ingin menangis.


"Maafkan aku, jika aku menyakiti perasaanmu, aku tidak pernah menyangka jika kau bisa jatuh cinta,"


Terdengar tawa kecil dari Sexyola menanggapi ucapan Emil padanya.


"Hey, aku juga manusia." Sexyola mendongak sambil tersenyum. Mata yang tadi mengembun sudah mulai terlihat cerah.


"Kemarilah, aku juga meridnukanmu, maafkan aku karena harus mengakhiri hubungan kita," Emil merentangkan kedua tangannya dan Sexyola lekas menyambut pelukan itu, mereka saling memeluk hangat.


"Maaf, karena aku tidak bisa bersama denganmu lagi, aku benar-benar mencintai Namira, aku sangat mencintainya, hanya dia, dan aku ingin menjaga diri untuk Namira," ucap Emil tegas, tak ingin jika sampai ini semua menjadi sebuah salah paham antara dirinya dan Sexyola.


"Yeah, aku tahu, aku juga minta maaf karena telah membuat keruh hubungan kita."

__ADS_1


Emil mengangguk menanggapi ucapan Sexyola yang terdengar tulus, setelah itu mereka saling melepaskan pelukan, dan kembali memulai hubungan pertemanan yang menghangat.


Emil dan Sexyola melanjutkan obrolan.


"So, kamu melakukan operasi ini untuk bisa mendapatkan keturunan?" tanya Sexyola saat menyuapkan buah apel yang tadi di belinya setelah ia kupas dan potong kecil-kecil.


"Iya, aku ingin segera memiliki anak, sebagai penyempurna hubungan rumah tanggaku dengan Namira," Emil menerima suapan buah apel dari tangan Sexyola.


Sexyola mencoba terus tersenyum meski sungguh hatinya serasa ditumbuk dan perasaannya terbakar, ia tak boleh merusak hubungannya dengan Emil yang baru saja diperbaiki.


"Well,,,, aku doakan kalian akan memiliki anak-anak yang lucu-lucu dan pintar."


"Thankyou, Yola, kau memang teman yang terbaik." Emil senang karena Sexyola akhirnya bisa menerima hubungannya dengan Namira. Biar bagaimanapun, saat kemarin mereka berselisih, Emil merasa tidak tenang dan tidak nyaman, karena Sexyola juga salah satu orang yang penting dalam hidupnya, dia adalah support system' terbaik selama ini.


***


Dua Minggu kemudian.


Emil terdengar memohon dari sambungan telepon, Namira sudah marah-marah karena Emil belum juga bisa datang dan itu akibat pekerjaannya yang menumpuk.


Permasalahannya dengan keluarga Sexyola tidaklah main-main, banyak saham yang nilainya turun dan Emil harus bekerja keras untuk kembali menyeimbangkan semuanya. Agar perusahaan O'clan di Paris yang dikelolanya tidak sampai mengalami kerugian, atau Fabrizio yang akan mengambil alih dan dia tidak bisa menunjukkan pada semua jika dirinya juga bisa.


"Kau ingat? Kau juga mengatakan hal yang sama satu Minggu yang lalu, sudahlah, lupakan saja aku, tidak perlu memikirkanku, abaikan saja aku," celoteh Namira kesal, sungguh Namira sudah sangat rindu, ia begitu ingin bertemu dan bersama Emil, tapi meninggalkan ibunya juga seperti tidak mungkin.


"Sayang,,,, jangan bicara begitu, kau menyakiti hatiku, baiklah, tiga hari, tiga hari lagi aku pulang, okay?"


Emil tawar menawar, sangat berharap jika Namira mau mengerti. Terdengar Namira menghela napas kasar.


"Baiklah, tiga hari, aku akan menunggumu, hanya tiga hari,"


"Yess,,,, terimakasih, sayang,,,, baiklah, aku harus menutup teleponnya dulu sekarang, karena aku harus segera pergi, aku mencintaimu, aku merindukanmu, I love you, ummuah,,,, ummuaah,,, ummuaahh,,,,"

__ADS_1


Namira tersenyum lebar saat Emil memberikan kecupan teleportasi untuknya begitu banyak. Dan setelah itu suara 'tut tut.' menjadi tanda berakhirnya sambungan panggilan mereka.


"Dasar bodoh!" gerutu Namira kembali kesal karena sangat merindukan Emil.


Ibu datang meletakkan belanjaan di atas meja, Namira yang duduk di sofa ruang tengah lekas berdiri membantu.


"Ada baiknya jika kamu mendengarkan nasehat ibu kali ini. Pergilah, temui suamimu, sejatinya sebuah hubungan akan lebih indah jika pasangan itu selalu bersama, dan, pria itu tidak bisa dilepas terlalu lama seorang diri."


Saat ibu masuk rumah tadi, ia mendengar Namira yang berteriak sambil bertelepon, meski tak begitu mendengar jelas apa yang sedang dibicarakan putrinya, namun ia tahu jika itu pasti masalah tentang hubungan jarak jauh mereka.


"Tapi, Bu."


"Ibu baik-baik saja. Kau lihat kan? Sekarang ibu sudah bisa menjalani hidup ibu dengan baik, Aretha dan Tita juga sering datang, bahkan Tante Diana, ibu mertua kamu yang juga kakak ibu, dia juga mulai berubah, sering datang bersama Aretha menemui ibu. Banyak yang menjaga ibu dan sayang ibu di sini, sedangkan Emil? Di sana dia sendirian, pergilah, tidak baik pasangan yang baru menikah berpisah terlalu lama."


Mendengar penjelasan panjang lebar dari ibunya, senyum Namira mengembang.


"Aku sayang ibu,,,," Namira lekas memeluk ibunya erat, sangat erat.


"Sekarang bersiaplah, cari tiket tercepat, dan jangan lupa semua surat-surat pentingnya, pasport, dan yang lain."


"Iya," Namira melepas pelukannya.


"Aku ke kamar dulu, terimakasih, Bu." Namira mengecupi punggung tangan ibunya berkali-kali, ia sangat senang memikirkan jika esok hari ia sudah bisa bertemu dengan Emil, dan kedatangannya secara mendadak, ia akan memberikan kejutan pada suaminya, Emil pasti senang mendapati dirinya datang tiba-tiba.


***


Malam terasa panjang, Emil hanya mengirimkan ucapan selamat dan meminta Namira makan dan segera istirahat, setelah itu kontaknya tak lagi aktif. Saking sibuknya, mungkin.


Matahari pagi mulai menyingsing, Namira akan melakukan penerbangan pukul 8 pagi, butuh setidaknya 21 jam jarak tempuh sampai di Paris, dengan dua kali transit, dengan perbedaan waktu Indonesia lebih cepat lima jam. Jadi kemungkinan Namira bisa sampai di Paris pukul 12 malam.


'Emil, aku datang!'

__ADS_1


***


__ADS_2