30 Hari Menjemput Jodoh

30 Hari Menjemput Jodoh
Keajaiban Air Wudhu


__ADS_3

Okky merogoh saku celananya, mengambil ponsel yang sedari tadi tak disentuhnya. Ternyata dia lupa mengaktifkan ponselnya, pantas saja dia bisa mengobrol santai dengan ibu pemilik panti asuhan. Jika ponselnya aktif, pasti bundanya sudah menghubunginya. Apalagi dia belum melapor perihal perjodohan yang gagal dengan gadis remaja bernama siska, yang membuatnya terpaksa mentraktir segerombolan remaja rakus.


Sementara itu, Kina yang duduk disebelahnya sedang sibuk dengan fikirannya sendiri. Hingga tak sadar, bosnya sedari tadi memandangi wajahnya.


"Mikirin siapa?" tanya Okky, masih menatap wajah Kina lekat.


"Enggak ada pak, hehe" Kina meringis.


"Lapar nggak ki? Makan dulu yuk, saya traktir seafood, ya? " Bosnya ini hafal betul makanan kesukaan Kina.


"Nggak mau ah pak"


"Lho, kenapa?"


"Nggak mau nolak maksudnya, mayan makan gratis. Hemat pangkal kaya. Saya yang hemat, bapak yang kaya" candanya, membuat bosnya tertawa.


Mobil melaju dengan santai, menikmati panasnya ibu kota. Tapi mereka tak merasakan, karena terselamatkan sejuknya AC mobil. Kina meminta Okky berhenti di sebuah masjid, dipinggir jalan. Karena sudah masuk waktu dzuhur.


Kina menenteng tas kecil, berisi mukena. Dia tak berani menyuruh ataupun bertanya pada bosnya, apakah akan melaksanakan ibadah shalat dzuhur juga. Kina tahu, Okky tak pernah melaksanakan kewajibannya. Tapi ia merasa tak pantas menghakimi apa yang menjadi pilihan bosnya, Kina juga tak pernah sok menasehati dan merasa lebih baik karena ia tak pernah meninggalkan shalat lima waktu. Pahala dan dosa, biarkan jadi urusan Allah.


Namun, rupanya Okky merasa malu dalam diamnya. Melihat sekretarisnya masuk kemasjid, ia ikut masuk ke tempat khusus jamaah laki laki. Sebelumnya ia berwudhu terlebih dahulu. Shalat berjamaah akan segera dimulai, Okky sudah menempatkan diri dishaf yang masih kosong.


Tiba tiba dadanya terasa bergemuruh saat mengangkat kedua tangannya dan mengucapkan Allahu akbar, untuk pertama kalinya. Entah berapa tahun dia telah meninggalkan Tuhannya. Air matanya menetes begitu saja. Ada rasa sedih yang tak mampu ia jelaskan.


Satu persatu jamaah meninggalkan tempat. Okky masih duduk mematung, merenungi hidupnya yang bergelimang harta, tapi tak ada kenyamanan batin didirinya. Selama ini dia menjalani semua karena rasa tanggung jawab, bukan karena keikhlasan.


Kina tersenyum lebar saat melihat Okky keluar dari masjid dengan rambut yang masih sedikit basah. Menatap laki laki yang tiba tiba saja terlihat lebih tampan beberapa kali lipat dari biasanya.

__ADS_1


"Kenapa nyengir, nggak pernah lihat pria tampan keluar dari masjid?"


"enggak, masak iya, saya nunggu jamaah laki laki ganteng yang nggak saya kenal, keluar dari masjid"


"Jadi, kamu mengakui ketampanan saya nih?"


"Emang ada yang pernah bilang bos saya ini nggak tampan? Apalagi habis kena air wudhu begini, masya Allah, ganteng banget" katanya sambil mengacungkan jempol.


Okky tak menyangka, akan mendapat pujian dari skretarisnya. Diapun jadi salah tingkah sendiri. Padahal Kina biasa biasa saja, hanya berkata jujur tanpa modus apapun.


Setelah drama puji memuji usai, mereka melanjutkan perjalanan menuju restoran seafood langganan Kina. Tak jauh, mungkin hanya membutuhkan waktu lima belas menit. Okky melajukan kendaraan roda empatnya, dengan perasaan berbunga bunga. Berkali kali melirik Kina yang sedang berkirim pesan dengan seseorang. Wajahnya nampak serius, terlihat dari keningnya yang berkerut sedari tadi.


Ternyata kebahagiaan Okky tak luntur dimakan waktu. Sesampainya di restoran, wajahnya masih berbinar binar. Tiba tiba terbersit di fikirannya, kalau sehari shalat lima waktu. Berarti dia akan berwudhu lima kali, maka Kina akan memujinya ganteng selama lima kali sehari. Membayangkan saja sudah membuatnya senang, apalagi sampai kejadian.


Kina menjentikkan jarinya didepan wajah Okky. "Pak Okky, bapakkk…hallo, assalmu'alaikum" berusaha menyadarkan bosnya dari lamunan.


"Bapak baik baik saja kan?" Tiba tiba Kina teringat tentang perjodohan Okky dan Dela, apa jangan jangan bosnya bahagia karena hal itu. Tadi sewaktu di panti asuhan, Okky mengobrol dengan ibunya Dela cukup lama.


"Alhamdulillah…" jawabnya, tangannya mulai sibuk dengan hidangan dihadapannya. Begitu juga dengan Kina, mulai menikmati makan gratisnya.


"Aneh ih pak Okky, lagi bahagia ya?"


"Banget" jawabnya dengan cepat dan mantap, alisnya naik turun. Kina tersenyum dan menggelengkan kepala.


"Pak, Tadi bapak ngobrol apa saja sama ibunya mbak Dela?"


"Cuma bahas masalah anak anak panti aja, sepertinya mereka lagi ada masalah deh Ki, tapi ibu panti nggak mau cerita terus terang, cuma ngasih kode kode saja. Mana saya paham, tapi yasudahlah, mungkin masalah internal panti asuhan. Kita doakan masalah mereka cepat teratasi"

__ADS_1


"Aamiin ya robbal alamin…" Kina menengadahkan kedua tangannya dan hampir mengusap telapak tangannya yang berlumuran bumbu seafood kewajah. Untungnya Okky dengan sigap, menangkap pergelangan tangannya. Mereka tertawa bersama, ada saja hal lucu yang terjadi saat mereka bersama.


Di panti asuhan, Dela, ibunya dan seorang pria yang sangat dicintainya, sedang berdiskusi serius diruang tamu rumah sekaligus panti asuhan. Pria bernama Bagas itu, menatap iba pada wanita tercintanya yang wajahnya berderai air mata. Ketiganya nampak putus asa.


"Del, semua terserah kamu saja, Ibu tidak memaksa nak. In Sha Allah ada jalan lain" kata Ibu dengan lembut. Mengusap punggung Dela yang yang duduk disampingnya.


"Tapi waktunya sudah mepet bu, Dela nggak bisa melihat adik adik terlunta lunta, hidup mereka sudah cukup tidak beruntung" ia menutup wajahnya dan semakin terisak.


Bagas menghela nafas, "Semua salahku Del, andai saja aku ini mau lebih berusaha keras, aku pasti bisa bantu kamu, ibu dan adik adik" kata Bagas lirih, matanya yang sendu tak lepas dari wajah kekasihnya.


"Ya Allah, ibu nggak sanggup melihat kalian berpisah. Maafin ibu ya gas, ibu sayang sama kamu bagas"


"Bukan salah ibu, semua sudah takdir, kita serahkan sama Allah. Sudah Dela, jangan menangis lagi, aku nggak sanggup lihat kamu begini"


"Aku mau minta tolong mbak Kina saja, mbak Kina janji mau bantu aku"


"Tapi…Kina itu hanya sekretaris nak Okky, mana mungkin dia…"


"Dia harapanku satu satunya bu, jika dia tidak bisa membantu, maka aku…" kepalanya tertunduk.


Dela tak sanggup meneruskan kata katanya, Dia pergi meninggalkan Ibu dan Bagas yang sama bingungnya dengan dirinya. Dela mengunci kamarnya, dia ingin menenangkan diri.


Jika dibandingkan dengan Okky, Bagas memang jauh dibawahnya. Secara fisik, jabatan, kekuasaan, harta, Okky jauh melampaui Bagas. Bagas adalah penghuni pertama, dipanti asuhan yang didirikan ayah Dela. Tapi hati Dela sudah terpatri begitu kuat dihati Bagas. Laki laki sederhana, penuh perhatian dan kasih sayang.


Bagas mampu mengisi kekosongan dihati Dela, setelah ayahnya meninggal. Laki laki yang tumbuh bersama dengannya sejak kecil itu, selalu melimpahinya dengan kasih sayang, selalu ada untuknya. Nama Bagas sudah terukir dihati Dela, begitupun sebaliknya.


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻

__ADS_1


__ADS_2