
Dinda memotret Ali dan Kina, saat keduanya sedang mencicipi makanan. Keduanya tidak sadar, sedang dijadikan objek keisengan teman temannya.
"Wah……serasi banget sih kalian, aku posting diakun instagram perusahaan ya?" canda Nila sambil menggeser geser layar ponsel dinda yang dipakai untuk memotret tadi, tak mungkin dia berani mengupload sembarangan di akun instagram resmi PT.Nice Food.
"Gila lu, digrup WA karyawan kantor saja Nil" usul Dinda. Ali mendelik mendengar kata kata kedua bawahannya.
"Jangan macam macam!" ucapnya tegas, memberi peringatan.
"Nggak apa lah bang. Mbak Kina, bang Ali itu sebenarnya suka sama mbak Kina,cuma…emm…emm… " Ali membekap mulut dinda yang ember.
Dia memang pernah bercerita, mengagumi Kina, sewaktu Ali dan Dinda mengobrol saat bertugas dikalimantan beberapa waktu lalu. Dinda sedang curhat tentang pacarnya dan Ali terbawa suasana, ikut ikutan curhat. Dia mengagumi Kina, tapi tak berani mendekati Kina, ada alasan yang tak mau dia sebutkan saat itu.
"Diam!" Ali berbisik pada Dinda dengan wajah mengancam. Dinda malah geli melihat wajah Ali.
"Mbak Kina, wajahnya begitu saja? Enggak merona atau malu malu gitu, masak tahu ditaksir cowok setampan kapten Ali kami nggak meleleh?" tanya Mila, menggoda Kina yang hanya tersenyum seperti biasa.
"Memang aku coklat dipanasin, meleleh" candanya. Membuat orang orang tertawa.
"Lebih manis dari coklat, iya kan bang Ali?!" Lagi lagi Ali melotot pada Dinda, ingin sekali melakban mulut Dinda yang seperti ember bocor itu. Ali jadi menyesal sudah curhat pada Dinda.
"Gimana ni mbak Kin, bang Ali, jadiin nggak? Jadiin lah ya!" sambung Mila.
"Alhamdulillah masih ada yang suka, mana ganteng lagi. Biar Allah yang menentukan, ya nggak bang Ali?" Ali meringis, menanggapi jawaban Kina. Dia jadi salah tingkah sendiri.
"Cccieee……" ucap semuanya dengan kompak.
"Kina, kalau nggak mau sama Ali, sama saya aja " kata Fakhrul, staf keuangan yang ikut membantu disana.
"Jangan dong, mbak Kina kan calon ibu kami, anak anak kesayangan Bang Ali. Mas, sama Nila aja" Nila mendelik, Fakhrul alias arul, merupakan mantan pacar Nila semasa SMA.
"Ehem…suara kalian berisik sekali, seperti rombongan anak Tk" Kata Okky, memasang wajah serius seperti biasanya. Semua diam dan menunduk. Jantung mereka deg degan, menghadapi bos besar.
"Maaf pak" ucap semuanya, saling menyikut dan saling menyalahkan sambil bisik bisik.
__ADS_1
"Sekarang beres beres, acara sudah selesai. Sudah jam makan siang, mari kita makan dulu"
"Baik pak" jawab semua dengan kalem, padahal hati mereka bersorak, mendapat traktiran dari bos besar.
Okky memilih meja panjang diruang VIP untuk makan siang karyawannya yang sudah bekerja keras. Berbagai makanan khas nusantara sudah terhidang. Semua makan dengan tenang, apalagi kalau bukan karena ada bos mereka. Berbicara dengan pelan, tanpa candaan heboh, bukan gaya anak anak muda itu.
"Ki, tolong dong" Okky menyodorkan kedua lengannya pada Kina yang baru kembali dari mencuci tangan.
Kina menggulung lengan kemeja panjang Okky sampai kesiku, semua yang disana melihat dengan tatapan tak percaya. Bosnya yang pendiam dan tegas, ternyata sangat lembut dan manja pada sekretarisnya. Tentu saja tak ada yang berani bertanya atau meledek, mereka menyimpan apa yang mereka lihat dimemori masing masing. Mungkin nanti atau entah kapan baru akan membahasnya dalam acara ghibah antar karyawan.
"Sudah" Kina menepuk kedua lengan Okky bergantian
"Makasih ya" Okky tersenyum manis.
Adinda yang matanya tak lepas dari keduanya dari tadi, sampai tidak konsen. Ingin menyendok nasi dipiringnya, dia malah menyendok sambal dan melahapnya.
"Huuuhhh......hhhaaahhh.......pedes!Ibu…Allahu akbar…" berteriak teriak heboh sendiri, mengibas ngibaskan tangannya didepan mulut.
"Makannya jangan jelalatan" Ali memarahi Dinda dengan pelan. Dinda cemberut, sudah kepedesan masih kena marah kapten galaknya.
"Nggak sengaja bang…ihhhh, masih pedes" merengek seperti anak kecil.
Kina menyodorkan buah potong. "Suapin gih bang, biar nggak salah comot lagi. Anak kamu itu emang ada ada aja" Ali hanya tersenyum dan meraih piring yang diangsurkan Kina.
"Makasih bu Oki…na putri" kata Dinda, menggoda Kina. Tapi matanya melirik Okky, takut bosnya marah. Okky asik makan, pura pura tidak dengar. Padahal dia senang, perbuatan sederhananya meminta Kina menggulung lengan, membuat orang orang disana tau jika ada sesuatu antara Kina dan dirinya.
……
Usai makan siang dan sholat dzuhur, mereka kembali ke perusahaan. Menuntaskan jam kerja hari itu. Okky memanggil Ali dan Kina keruangannya bersama sama. Dia sudah memutuskan akan menukar posisi mereka.
Okky sudah menawarkan jabatan Manager pada Kina, tapi Kina menolak, dia tak mau menggeser posisi karyawan lain. Semua manager di perusahaan Okky adalah orang orang lama, yang begitu setia mengabdi di perusahaan. Sudah melewati naik turunnya perusahaan.
"Bagaimana Li, kamu bersedia?" tanya Okky. Mereka baru saja membahas masalah bertukar posisi. Okky tak menjelaskan masalah yang terjadi secara keseluruhan, hanya yang penting penting saja. Dia tak mau, masalah keluarganya keluar.
__ADS_1
Ali juga tipe orang yang peka dan tak banyak bertanya. Dia paham, ada sesuatu yang terjadi dibalik keputusan Okky. Tapi dia tak mau ikut campur.
"Saya bersedia pak, hanya saja saya akan merepotkan karena saya tidak punya basic sekretaris "
"Tidak apa, nanti kalian bisa saling membantu"
"Baik pak, saya akan berusaha sebaik mungkin"
"Bagus…mulai besok kalian resmi bertukar posisi. Kamu boleh kembali bekerja"
"Baik pak, permisi" Ali membungkuk memberi hormat. Lalu mengangguk dan tersenyum pada Kina. Kina membalas hal yang sama.
Setelah Ali keluar dari ruanganya, Okky menghampiri Kina yang masih duduk di sofa. Menarik tangannya hingga gadis itu berdiri. Memeluknya denga erat dan menjatuhkan dagunya dipundak Kina.
Kina mematung, tak membalas pelukan bosnya. Dia terlalu bingung harus berbuat apa. Perlahan lahan, Okky mendorong tubuh Kina hingga terpentok pelan kedinding kaca. Tangan Okky melindungi punggung Kina.
"Pak, bisa dilepas…" kata Kina, mulai merasa tidak nyaman.
Kreppp…!! tirai penutup dinding kaca sudah tertutup rapat. Ceklek…!! pintu ruangan juga terkunci. Semua dilakukan Okky dengan satu tangan. Kina berusaha mendorong tubuh Okky, Okky memundurkan sedikit tubuhnya, namun kedua tangannya mengunci Kina.
Mata Kina mengerjap, "Pak, bisa mundur sedikit?" Okky memundurkan sedikit kakinya, hingga tubuhnya jadi condong kedepan, tubuhnya menjauh tapi wajah mereka semakin dekat. "Bukan begini juga maksud saya pak" kata Kina yang mulai gemetaran.
Okky menatap manik mata Kina, "Lalu saya harus bagaimana?" tanyanya dengan suara pelan.
"Bisa minggir sebentar? Sa…saya, saya tidak nyaman dengan posisi ini. Tolong jangan macam macam, pak" kata Kina. Nada bicaranya seperti orang memohon. Demi apapun dia takut, Okky melakukan hal yang tidak tidak padanya. Apalagi dia sudah tahu perasaan Okky, bisa saja pria itu nekat.
"Satu macam saja, Kina" Okky tersenyum, menatap bibir Kina.
"Saya tidak bercanda pak!" Bentak Kina dengan suara bergetar, air matanya mulai berjatuhan.
Okky menangkup pipi Kina dengan kedua tangannya. Kina semakin terisak, dia benar benar ketakutan. Okky tak pernah berbuat kurang ajar padanya selama dia mendampingi laki laki itu sebagai sekretaris.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
__ADS_1