
Masih terlalu pagi untuk seseorang membuat keributan di tempat umum. Tapi sepertinya Mika sudah tak sabar ingin meluapkan emosinya. Kemarin dirinya meminta surat referensi kerja melalui sambungan telepon dan pihak HRD menolak karena Mika di pecat secara tidak hormat.
Ruangan HRD sudah acak acakan karena kemurkaan Mika. Manager HRD, seorang wanita paruh baya tak bisa berbuat banyak, sedangkan staffnya yang lain belum ada yang datang, karena memang belum jam masuk kantor.
Dua satpam berlari tergopoh gopoh setelah menerima informasi keributan di ruang HRD. Okky yang baru saja datang kebingungan, melihat kepanikan satpam satpamnya.
"Pak, ada masalah apa?"
"Itu, pak direktur…" kalimatnya terhenti karena nafasnya terengah engah, maklum satpam yang dipanggil Okky sudah cukup berumur. "Ada yang ngamuk diruang HRD, katanya mantan pegawai disini" imbuhnya.
Okky buru buru lari meninggalkan satpam tadi, dengan kakinya yang panjang, Pak satpam kalah cepat, tertinggal jauh dibelakang Okky.
"STOP! Apa mau kamu, pagi pagi bikin keributan di kantor orang" Bentaknya pada wanita yang sedang merusak barang barang diruang itu.
Mika memandang Okky dengan sinis. "Pak Okky yang terhormat, pasti kamu kan yang menyuruh dia menolak permohonan surat referensi kerja saya, iyakan? Dasar perjaka tua!" Ia berusaha melempari Okky dengan benda benda yang ada didekatnya. Kedua satpam yang ada disana bersusah payah memegang tangan wanita yang terus berontak itu.
Okky bersedekap, "Surat referensi kerja? Kamu jangan lupa ya, kamu dipecat secara tidak hormat karena kelakuan kamu sendiri. Harusnya kemarin saya benar benar tuntut kamu supaya jera" dia tersenyum miring.
"Silahkan, saya nggak takut. Kamu lihat saja nanti, saya akan buat kamu menyesal sudah cari gara gara sama saya" Mika menarik tangannya yang dicekal oleh satpam dengan sekuat tenaga. Tenaga orang yang sedag murka benar benar luar biasa.
Brakk…!! Mika membanting kursi yang ada didekatnya dan melenggang pergi dengan emosi yang masih diubun ubun.
Sesampainya di lobi, amarah Mika semakin menjadi saat melihat Kina yang sedang berjalan sendirian. Kina tak menyadari bahaya sedang mengintainya, dia asik menyapa rekan rekan kerja yang berpapasan dengannya.
Mika mempercepat langkahnya, dia menarik lengan Kina dengan kasar. Kina yang tak siap, jatuh tersungkur.
__ADS_1
"Aaww…sshhh……" Kina meringis, lututnya nyeri.
"Bangun kamu, Brengsek! Semua gara gara kamu" Mika menarik hijab Kina bagian belakang, hingga gadis itu tercekik. "Dasar ja lang, gara gara ka…" ucapannya terhenti, saat Dinda tiba tiba memegang tangannya yang mencengkeram jilbab Kina. Kina menarik bagian depan jilbab, agar tak semakin kuat mencekik lehernya.
"Lepasin tangan kamu, atau aku akan mematahkannya?" tanya Dinda dengan nada mengancam.
Mika tersenyum miring, "Nggak usah ikut campur, awww…" Dinda menekan kuat kuat bagian bawah ibu jari Mika, hingga cengekraman tangan Mika dijilbab Kina terlepas. Kina mengambil oksigen banyak banyak, lehernya terasa perih.
Karyawan lain yang ada disitu, membantu Kina berdiri dan memunguti barang barang Kina yang jatuh. Kebetulan yang ada disana para karyawan wanita, jadi mereka tak berani melawan Mika tadi. Satpam yang berjaga juga masih berada diruang HRD bersama Okky.
Dengan sigap Dinda memutar tangan Mika, menguncinya dibalik punggung Mika, memelintirnya sedikit. "Sakit…" keluh Mika.
"Mau nglawan lagi?hmmm……"
"Nggak…ampun, ampun. Tanganku mau patah, aku nyerah!" Mika merintih kesakitan saat Dinda memelintirnya lebih kuat.
Berlari, hendak menubruk tubuh Kina. Dinda dengan sigap menangkap tubuh Mika dan membantingnya kelantai. Brruugg…!! Mika memekik kesakitan, seluruh badannya terasa nyeri.
Satpam segera mengamankan Mika, Okky sudah memghubungi pihak kepolisian. Kina segera dilarikan kerumah sakit, wajahnya terlihat pucat, tubuhnya gemetaran, dia sangat syok. Okky yang menemani dan mengantarnya kerumah sakit.
……
Setelah dilakukan pemeriksaan, tidak ada luka dalam maupun luar yang serius. Hanya leher Kina yang memar dan kemerahan karena tercekik dengan kuat tadi. Kina diijinkan pulang, tak perlu perawatan dirumah sakit. Dia akan kembali kerumah sakit besok, untuk visum. Menunggu surat perintah dari kepolisian.
Okky memandang wajah pucat Kina, yang kini duduk disampingnya didalam mobil. "Ki, maaf ya, semua gara gara saya" meraih tangan Kina yang ada dipangkuan, menepuk punggung tangan itu dengan lembut.
__ADS_1
"Kenapa gara gara Pak Okky?"
Okky menghela nafas, "Gara gara saya pecat dia dan perusahaan menolak memberinya surat referensi kerja, dia jadi bertindak brutal sama kamu"
"Bapak memecatnya kan juga karena kesalahan dia sendiri. Bapak tidak perlu merasa bersalah. Lagi pula saya tahu kok, mbak Mika sudah lama menyimpan dendam sama saya" Bahu kina merosot, dia merasa sedih saat mengatakan itu.
"Saya tahu, dia iri karena saat itu Bu Lastri lebih memilih kamu sebagai penggantinya, dibandingkan keempat kandidat lain yang merupakan senior kamu. Bu Lastri itu sudah bekerja lama dengan ayah, beliau juga yang membimbing saya saat awal awal memegang perusahaan. Makanya saya sangat mempercayai beliau, beliau pasti memilihkan yang terbaik untuk saya. Pengalaman itu tak pernah bohong, insting Bu Lastri sangat tajam dalam menilai seseorang. Makanya beliau memilih kamu, walaupun kamu anak baru. Beliau sudah memperhatikan kamu sejak kamu magang dikantor"
"Memang Bu Lastri menilai saya seperti apa saat itu, pak?"
"Secara skill, kamu memang satu level dibawah kandidat lain saat itu. Kata Bu Lastri, itu hanya soal pengalaman. Tapi dibanding yang lain, kamu itu paling jujur dan tulus"
Wajah Kina merona, "Wah…saya jadi tersanjung.hehe" ia tersenyum malu-malu.
Okky mengenggam tangan Kina yang sedari tadi ditepuk tepuknya, menatap mata Kina dalam. "Dan kamu paling luar biasa dimata saya" Ucapnya penuh rasa bangga.
Kina tersenyum, "Terima kasih" hanya itu yang dia ucapkan. Dia tak mau berkata apa-apa, takut membuat Bosnya salah paham. Bukan dia terlalu percaya diri, dia tahu Okky masih mencintainya dan masih mengharapkan dirinya.
Kina memaksa kembali kekantor, banyak pekerjaan yang harus dia selesaikan bersama timnya. Dia tahu perusahaan sedang terpuruk, dia dan tim harus segera bertindak, merealisasikan program program yang sudah disusun satu persatu.
Okky juga sudah menyuruh Ali mengirim pemberitahuan meeting, pada seluruh pimpinan, dari pabrik hingga cabang PT.Nice Food. Mereka harus segera mengambil sikap, untuk kelangsungan perusahaan. Okky tak boleh gegabah dan menentukan kebijakan sendiri.
……
Ibu Suri sedang uring uringan, Okky susah sekali diminta meluangkan waktu untuk mengurus pernikahannya sendiri. Dia tak pernah hadir saat ada pertemuan dengan pihak WO, menyerahkan sepenuhnya pada Ibu Suri dan Erika. Alasannya selalu sama, dia sedang sibuk. Ibu Suri yang tak tahu masalah yang menimpa perusahaannya, jadi berfikir Okky hanya cari cari alasan saja.
__ADS_1
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻